
Pierre yang ditanya pun langsung gelagapan, ia bingung harus mengatakan apa. Terlihat dengan jelas bahwa Pierre baru saja membuang makanan yang di buat oleh Madeline untuknya.
Ini adalah kali kedua Pierre membuang isi bekalnya, dan hal itu tentunya tak di ketahui oleh Madeline.
"Pierre, kau sedang apa?" Ulang Madeline. Karena pria itu sejak tadi terdiam dan tak bersuara.
Pierre pun berjengkit, ia kembali menatap Madeline.
"Aku baru saja makan ikan, kebetulan ada tulangnya." Alasan Pierre.
Madeline menatap Pierre dengan intens, dan menatap wajah Pierre yang membuang muka.
"Aku tahu kau berbohong, Pierre." gumam Madeline di dalam hati.
Madeline tersenyum samar,"Ikan darimana? Aku hari ini tidak memasak ikan untukmu?" tanya Madeline.
Pierre kembali menelan salivanya, ia seperti orang yang sedang tertangkap basah kali ini. Namun bukan Pierre jika tak mampu memberikan alasan yang mampu membungkam Madeline.
"Kebetulan aku tadi memesan ikan karena sedang ingin makan ikan, jadi ada tulangnya." alibi Pierre.
Kini gantian Madeline yang terdiam, wanita itu tahu jelas jika Pierre sedang berbohong. Tapi kenapa ia seakan buta melihat hal itu, mencoba mempercayai Pierre meski semua bukti sudah terpampang dengan sangat jelas di matanya.
Ternyata benar kata orang jika kita mulai mencintai orang, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai walaupun itu salah kita masih tetap menganggap benar meski harus menahan sedih dan kecewa.
"Mungkin besok aku akan membuatkan ikan untukmu." ucap Madeline yang langsung di balas anggukana oleh Pierre.
__ADS_1
"Ayo masuk, kau harus segera bersiap bukan?" tanya Pierre.
Madeline mengangguk,"Benar, tapi tadi ada sedikit kendala di luar dan aku harus memastikan sesuatu."
"Kendala apa?" tanya Pierre dengan penasaran.
"Aku melihat ada yang mencurigakan dan terkesan di tutup-tutupi. Maka itu aku harus memastikan hal tersebut. Ya bisa di bilang semacam sebuah pengkhianatan." jawab Madeline hingga mampu mengusik Pierre.
Pierre merasa tersindir dengan apa yang di ucapkan dengan Madeline,"Apa maksudmu?" tanya Pierre dengan nada suara yang terdengar berbeda.
Madeline mengulas senyum sangat tipis, lalu menatap Pierre,"Ya aku sedang mencari tahu tentang orang terdekatku yang diam-diam berkhianat di belakangku."
"Apa menurutmu aku salah? Apa aku berlebihan?" tanya Madeline.
Pierre menggelengkan kepala,"Tidak! Tapi tidak seperti biasanya kau seperti ini. Biasanya kau cuek."
"Oh iya, aku mendengar nada bicaramu berbeda, apa ada yang kau sembunyikan dari aku?" tanya Madeline.
Wajah Pierre semakin pias, ia tak mampu menjawab pertanyaan Madeline yang secara tak langsung sedang membuka rahasianya.
"Ah tidak, bukan apa-apa." elak Pierre.
Pria itu langsung menarik tangan Madeline dan berjalan menyebrangi zebra cross untuk kembali ke rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Jangan banyak memikirkan hal yang bukan menjadi ranahmu, itu akan membuatmu pusing nantinya" ucapnya dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Madeline menggelengkan kepala, tidak membenarkan pendapat Pierre.
"Bagaimana jika aku bilang ini adalah ranahku? Apa kau akan percaya?" tanya Madeline.
Pierre merasa madeline sudah mulai tak fokus, jadi pembicaraan semakin bercabang.
"Kau bebas untuk melakukan apapun Madeline, namun untuk saat ini ada baiknya kita kembali ke rumah sakit, karena jam kerja akan segera berlangsung." Pierre melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Kurang dari lima belas menit lagi jam kerjanya sudah habis, dan berganti Madeline yang mulai bekerja.
Madeline hanya tersenyum datar, ia benar-benar tak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan saat ini. Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu.
Sesakit inikah mencintai, jika memang Pierre masih berhubungan dengan masa lalu kenapa harus membuat kesepakatan dengannya tentang menjalani hubungan baru? Bukankah itu secara tak langsung menyakiti Madeline.
Entahlah, Madeline memilih untuk menghilangkan pikiran negatif tentang Pierre. Ia memilih untuk mencoba fokus mengingat akan ada jadwal operasi besar malam ini.
"Jika nanti kau pulang, jangan lupa makan, aku sudah siapkan semua di meja makan." pesan Madeline.
Pierre hanya menganggukan kepalanya,"Baiklah, terima kasih," jawabnya.
Pierre langsung berlalu meninggalkan Madeline yang saat ini masih berdiri di depan pintu ruangan milik wanita itu.
Begitupun dengan Madeline, ia menatap kepergian Pierre sambil menitikkan air mata. Namun tak berlangsung lama ia menghapus air matanya.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Pierre. Apa salah yang telah aku lakukan padamu." gumam Madeline sambil memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
Madeline langsung masuk ke dalam ruangan kerja miliknya, menaruh tas serta mengganti pakaian khusus bedah miliknya. Ia harus melupakan kesedihan yang menderanya, dan memfokuskan diri pada bedah malam ini.
__ADS_1
"Semangat Madeline! Lupakan kesedihanmu, ingat! Masa depan cerah menantimu." Madeline langsung berjalan meninggalkan ruangan kerja miliknya menuju ruang operasi. Dirinya sudah di tunggu dengan rekan dokter lainnya yang ikut bergabung dalam bedah ini.