
Madeline baru saja selesai bekerja, ia merentangkan kedua tangannya tanda hari yang ia lalui begitu berat.
Entah kenapa, ia terus saja memikirkan Pierre. Ya, suaminya. Madeline merasa seperti ada yang berbeda dengan Pierre, pria itu seperti orang yang tengah jenuh saat ini.
Madeline tak mengetahui alasan di balik semua itu. Seingat Madeline, suaminya itu begitu menginginkan posisi direktur.
"Apa lebih baik aku menghubungi Pierre saja, dan aku ajak dia untuk berjalan-jalan ke taman?" pikir Madeline.
Wanita itu langsung mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, lalu mencoba menghubungi Pierre. Namun tak ada jawaban dari pria itu.
"Tumben sekali aku hubungi tak di angkat." gerutu Madeline. Ia terus menghubungi ponsel Pierre hingga tak lama nomor telepon Pierre tak bisa lagi ia hubungi.
"Oh god! Bisa-bisanya dia mematikan ponselnya di saat aku mencoba menghubunginya." kesal Madeline.
Tak ada hari yang menyebalkan bagi Madeline selain hari saat dirinya harus berurusan dengan Pierre. Pria itu benar-benar menguji kesabaran Madeline kali ini.
"Lihat saja kau di apartment nanti, Pierre!" geram Madeline.
Madeline terus mencaci-maki Pierre meski pria itu tak ada di hadapannya, hingga membuat seorang pria paruh baya dengan seragam sama seperti Madeline berjalan menghampirinya.
"Madeline." panggil pria paru baya itu sambil menepuk bahunya.
Sontak hal itu membuat Madeline menoleh,"Direktur Spencer...," cicitnya.
Pria paruh baya itu mengulas senyum tipis ke arah Madeline. Jika Madeline amati dengan sekilas, senyum tuan Spencer seperti milik Pierre.
Hanya yang berbeda, Tuan Spencer begitu care dengan orang terdekat. Berbeda dengan Pierre yang sedikit acuh.
__ADS_1
"Panggil aku Daddy, nak. Kau adalah anakku." pintanya.
"Iy-iya, Dad." jawab Madeline dengan terbata-bata.
"Dad perhatikan sejak tadi kau terus berdiri di sini, apa kau perlu sesuatu?" tanya tuan Spencer dengan perhatian.
Madeline hanya menggelengkan kepala,"Tidak, Dad. Aku baru saja selesai bedah." jawabnya dengan jujur.
"Apa Dad mencari Pierre?" tanya Madeline.
Namun Tuan Spencer hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala dan tak lama kemudian pria itu bersuara,"Tidak, bukankah hari ini dia libur?"
"Benar, Dad." jawabnya sambil mengulas senyum tipis.
Tuan Spencer sekitar yang terlihat sepi, hanya ada dirinya dan juga menantunya saja di depan ruang bedah.
"Ikut? kemana Dad?" tanyanya.
"Ada yang ingin Dad bicarakan padamu, ikutlah sebentar saja." pintanya dengan penuh desakan.
Madeline sedikit ragu, bukan tanpa sebab. Ini adalah kali pertama dirinya berbicara empat mata dengan Tuan Spencer yang notabenenya adalah ayah mertuanya.
Tentu hal ini membuatnya gugup, tapi untuk menolak juga bukanlah pilihan yang bagus hingga membuatnya terpaksa menurutinya.
"Baiklah," putusnya.
Madeline dan Tuan Spencer berjalan menuju taman, ia tak ingin membuat menantunya tak nyaman jika harus berbicara di ruangannya.
__ADS_1
Toh, yang di bicarakan kali ini bukanlah tentang pekerjaan. Jadi, sebisa mungkin harus mencari suasana yang nyaman.
***
Berbeda dengan Pierre dan Yara, setelah keduanya meresmikan perselingkuhan mereka. Keduanya memutuskan untuk meninggalkan restoran dan berjalan-jalan mencari tempat yang nyaman untuk mereka kunjungi.
Namun semua itu tak berjalan mulus, ponsel Pierre terus berdering. Istri dari pria itu terus saja menelpon, hingga membuat suasana hati Yara hancur.
"Sebentar, aku angkat telepon Madeline dulu," izin Pierre pada Yara.
Baru saja Pierre ingin menekan layar ponselnya, Yara langsung merebut paksa ponselnya.
"Aku tak mengizinkan, Pierre. Jika sedang bersamaku, tak ada waktu bagimu untuk mengangkat panggilan dari wanita lain." ujar Yara langsung memasukkan ponselnya ke dalam sling bag miliknya.
Pierre sampai tercengang melihat Yara yang begitu posesif padanya,"Aku hanya mengangkat panggilannya sebentar, Yara."
Yara menggelengkan kepala,"Sekali tidak, tetap tidak Pierre."
Di sela perdebatan keduanya, ponsel Pierre terus berbunyi hingga membuat Yara harus mematikan ponsel pria itu dan memberikan ponsel yang telah mati itu kepada Pierre.
"Aku sudah matikan, dan aku bisa pastikan wanita itu tidak menggangu kebersamaan kita." ucapnya dengan enteng.
Pierre hanya bisa menghela nafas berat, ia benar-benar merasa bersalah pada Madeline. Mungkin, saat itu Madeline sedang menunggunya dan ia justru menghabiskan waktu dengan wanita lain.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ujar Yara.
Pierre kembali melajukan mobilnya, menuju sebuah taman yang letaknya tak jauh di pusat kota. Keduanya memilih menghabiskan waktu ke tempat yang mereka sering kunjungi, sekaligus bernostalgia di sana.
__ADS_1