
Sejak Perdebatan semalam dengan Madeline, timbul rasa bersalah dalam diri Pierre. Ia benar-benar pria tak punya pikiran, Bisa-bisanya setelah perdebatan dengan Madeline ia justru menghubungi Yara daripada menyelesaikan semua kekacauan yang telah ia buat.
Di tambah dengan sikap acuh Madeline yang membuat Pierre begitu terusik, tak biasanya Madeline seperti itu. Madeline biasanya selalu hangat kepadanya, membuat sarapan dan membawakan bekal untuknya.
Tapi sekarang, lihatlah! Jangankan bekal, sapaan selamat pagi saja tidak Pierre dapatkan. Pierre seperti ada yang kurang saat ini, namun ia mencoba memaklumi semuanya. Mungkin terlalu sulit untuk Madeline menerima kenyataan ini.
"Bisa g*la aku jika seperti ini terus." kesal Pierre.
Sikap Madeline kepadanya sudah cukup membuat harinya berantakan, membuat Pierre memutuskan untuk pergi ke cafe yang ada di depan rumah sakit. Cafe yang sering di kunjungi Madeline ketika sedang di landa mengantuk karena shift malam.
Pierre duduk di sudut pojok ruangan di temani segelas kopi dan kue jahe yang menjadi teman kali ini. Pierre terus bolak-balik memeriksa ponsel miliknya, berharap Madeline akan menghubungi dirinya kali ini.
Tapi lagi dan lagi semua itu nihil, ia terlalu gengsi meski hanya untuk meminta maaf. Meski secara sadar Pierre tahu jika semua ini adalah salahnya.
Ponsel Pierre berbunyi di saat ia menyesap kopinya, dengan segera ia langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
"Aku pikir Madeline," dengan malas Pierre mengangkat panggilan telepon dari Yara.
"Ada apa?" tanya Pierre dengan malas. Entah kenapa sejak bersitatap dengan Madeline, di tambah dengan sikap acuh wanita itu membuat Pierre seakan tak bertenaga. Bahkan, untuk sekedar mengangkat panggilan telepon dari Yara saja malas.
"Kau dimana? Kenapa tidak membalas pesanku? Apa kau sedang sakit?" Yara terus mencecar Pierre dengan berbagai pertanyaan. Sejak keduanya menjalin hubungan, Yara jadi semakin posesif kepada Pierre. Dan tak jarang juga wanita itu menguasai ponsel Pierre dengan dalih agar tidak menggangu kebersamaan mereka.
Pierre menghela napas dengan panjang, ia sedang tak memiliki tenaga untuk berdebat. Sudah cukup tenaganya terkuras karena perdebatan dengan Madeline.
"Aku sedang beristirahat di cafe, ada apa?"
"Kenapa kau begitu ketus sekali kepadaku, padahal semalam kita masih bermesraan meski melalui panggilan suara." Suara Yara terdengar begitu lirih, ia merasa ada yang beda dengan Pierre.
Pierre terdiam, ia tak mungkin mengatakan jika Madeline mengetahui hubungan mereka. Itu sama saja menambah masalah untuknya.
"Aku hanya sedang banyak pikiran saja, tak oerlu khawatir." jawabnya dengan singkat.
__ADS_1
Tak terdengar suara Yara di sana, namun Pierre tak ambil pusing. Siapa tau wanita itu kembali tertidur.
"Tunggu aku di sana, aku akan segera menyusulmu." Setelah itu Yara mematikan sambung teleponnya.
Lagi, hanya menghela nafas panjang yang Pierre bisa lakukan. Ia begitu lelah dengan masalah yang di dalangi olehnya sendiri. Apa dirinya terlahir sebagai problematik, hingga harus di selimuti dengan berbagai masalah? Rasanya ingin sekali teriak dengan keras. Mengeluarkan sesak di dadanya.
"Damn! Kenapa hidupku semakin rumit saja." Rutuk Pierre. Pada akhirnya, ia pun terjebak dengan rencana yang ia buat sendiri.
Bermaksud menjebak Madeline demi menyelamatkan harga dirinya, namun Pierre justru di hadapkan dengan masalah yang ia sendiri tak mampu cari jalan keluarnya.
"Aku tak bisa memilih salah satu dari kalian, begitupun dengan Madeline yang merupakan istriku. Tapi aku juga tak sanggup harus kehilangan salah satu, terdengar egois memang dan aku akui itu." Pierre terus bermonolog sambil memakan kue jahe miliknya.
Sekitar kurang lebih setengah jam lamanya Pierre di cafe, Yara pun datang dengan pakaian santai yang membalut tubuhnya rampingnya.
"Hai sayang, maaf membuatmu menunggu." Yara berjalan menghampiri Pierre, ia mendekati pria itu dan mencoba mengecup wajah Pierre.
__ADS_1
Melihat apa yang ingin dilakukan oleh Yara kepadanya, membuat Pierre langsung memalingkan wajah.
"Jangan seperti ini, aku tak ingin rekan kerjaku akan salah paham dengan semua ini."