
"Keluarga besar Ludwig terlalu materialistis, selalu menilai segalanya dari harta dan jabatan. Mereka berpikir Pierre hanyalah Dokter biasa, tanpa ia ketahui jika putraku adalah pewaris tunggal dari segala bisnisku nantinya, termasuk rumah sakit ini." jelas Tuan Spencer. Ia tak perlu menutupi semuanya dari Madeline, terlihat dari wajah Madeline yang begitu terkejut saat ini.
Bagaimana tidak? Apartment yang di tinggali oleh Pierre tidak semewah milik para sepupunya, terlihat begitu biasa saja namun tetap luas. Dan tak hanya itu, kendaraan yang Pierre gunakan juga bukanlah keluaran terbaru, hanya mobil seri lama namun edisi terbatas. Hal itu tentu saja membuat Madeline berpikir jika Pierre membeli itu semua dari hasil jerih payahnya sebagai Dokter, tanpa ia ketahui lebih dalam lagi jika suaminya itu adalah sang pewaris.
"Dan tak hanya itu, keluarga Ludwig juga begitu hedonisme, sering kali pamer barang branded untuk menunjukkan jati diri mereka."
"Pierre sudah sering kali di hina karena hanya seorang Dokter onkologi biasa, dan di nilai tak mampu mencukupi mereka dengan materi. Hal itu sungguh melukai harga diri Pierre sebagai penerus dari keluarga Spencer."
"Dan dari sejak itu, Pierre terus mendesakku untuk segera melakukan pengangkatan untuknya." Tuan Spencer banyak bercerita dengan Madeline, wanita itu begitu fokus mendengar segala penjelasan mertuanya itu.
Madeline mengerti alasan di balik tuan Spencer terus menolak saat Pierre memintanya untuk segera mengangkat dirinya menjadi direktur, semua ada kaitannya dengan masa lalu pria itu.
"Lalu kenapa kalian tak menyetujui hubungan Yara dan Pierre, apa hal lain yang kalian ketahui?" tanya Madeline dengan tatapan menyelidik.
Tuan Spencer kembali menganggukan kepalanya,"Banyak hal yang aku ketahui tentang Yara, termasuk ia berselingkuh dengan Alois saat masih berhubungan dengan Yara." jawabnya.
Madeline menganga lebar saat mendengar hal itu,"Se-selingkuh?" tanyanya dengan terkejut.
"Benar, nak. Yara tak sebaik yang kau lihat. Wanita itu bisa menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan." jawabnya dengan jujur.
__ADS_1
Madeline terdiam, sungguh! Semua ini ada di luar perkiraannya, ia pikir tuan Spencer menolak Pierre untuk menjadi Direktur ini karena pria itu tidak bisa memberikan dirinya cucu.
Namun teryata salah, Pierre memang sengaja di perlambat kenaikan jabatannya sebagai direktur karena saat itu masih berhubungan dengan Yara.
"Aku benar-benar tahu akan hal ini, Dad." jawab Madeline.
"Kau sudah mengerti bukan alasan dari semua ini?" tanya Tuan Spencer untuk memastikan.
Madeline menganggukan kepala,"Mengerti, Dad."
"Terima kasih sudah mengobati rasa penasaranku." imbuhnya lagi.
"Tapi kau tak perlu khawatir, nak. Aku merestui hubunganmu dengan putra. Aku dulu selalu berharap putraku memiliki pasangan dari keluarga baik-baik dan menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya." Tuan Spencer kembali membuka suara setelah membasahi tenggorokannya dengan air mineral yang ia bawa kemanapun di saku jas putihnya.
"Dan tak hanya itu, aku akan memberikan jabatan Direktur untuknya jika saat itu tiba." sambungnya lagi.
"Kapan, Dad?" tanya Madeline. Bukan ia terlalu menilai Pierre dengan harta, hanya saja ia ingin memastikan kapan suaminya akan dapat hak nya sebagai pewaris tunggal.
"Saat ia sendiri sudah bisa meyakinkan dirinya jika masa depannya jauh lebih berharga dari masa lalu,"
__ADS_1
"Kau mengerti maksudku, nak?" tanya Tuan Spencer.
Madeline tentu mengerti, mertuanya hanya ingin Pierre lepas dari bayang-bayang Yara dan membuka lembaran baru dengan dirinya.
"Mengerti, Dad."
Tuan Spencer mengulas senyum,"Aku memiliki permintaan padamu, Madeline."
"Apa?"
"Jika nantinya suamimu berbuat salah, berjanjilah untuk selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi. Apa kau bisa nak?" pintanya dengan penuh harap. Ia tak bisa membayangkan hubungan anak dan menantunya akan hancur.
Madeline tampak berpikir, entah kenapa ucapan Tuan Spencer begitu ambigu di telinga. Seperti ada yang di sembunyikan darinya. Namun, dengan pendirian yang kuat. Madeline harus mengatakan hal ini.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap bertahan di hubungan rumah tanggaku dan Pierre, Dad. Namun ada beberapa yang tak bisa aku terima jika nantinya suami melakukan hal ini padaku, Dad." jawab Madeline.
"Apa itu, nak?" tanya Tuan Spencer dengan penasaran.
"Jika suamiku berselingkuh. Hal itu takkan termaafkan bagiku," ucap Madeline dengan lantang.
__ADS_1