
Makan malam yang di adakan oleh keluarga Eduardo, adalah bentuk dari rasa syukur mereka karena sebentar lagi akan memiliki seorang cucu.
"Kau sudah di beri kabar oleh Piero atau Abella?" tanya Raiden yang berada di samping Madeline.
Madeline mengangguk, sebelumnya ia memang sudah di kasih tahu kabar bahagia itu oleh Abella. mendengar hal itu tentu Madeline sangat senang dan antusias, sepupunya kini akan memiliki seorang anak.
"Sudah! Dan aku bahagia mendengar kabar itu," jawab Madeline.
Raiden menatap intens ke arah Madeline, ia melihat sepupunya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa, Rai?" tanya Madeline yang melihat Raiden menatapnya.
Raiden menggelengkan kepala,"Tidak! Sepertinya kau kurang istirahat? Apa jadwal operasi di rumah sakit tempatmu bekerja tengah padat?" tanyanya sambil menatap wajah Madeline yang terlihat lelah, ditambah kantung matanya yang menghitam.
Madeline yang mengerti kekhawatiran sepupunya lantas menjawab,"Dalam dua Minggu terakhir, jadwal operasi sedang padat. Apalagi hari ini aku abis melakukan bedah pada pasien yang tengah hamil," jelasnya.
Semua yang ada di ruang makan menatap Madeline dengan bangga. Tak jarang pula pujian Madeline dapatkan dari keluarganya.
Sementara Pierre, pria itu hanya menjadi pendengar saja. Tak ikut bergabung dalam pembicaraan, tetapi ia sesekali menanggapi agar tidak terasa asing.
"Ayo makan, setelah ini baru kita berbincang," ajak Mommy Audy yang seakan menyudahi pembicaraan.
Semua yang ada di ruangan menurut, Mommy Audy tampak tengah menyiapkan makanan di piring suaminya. Melihat hal itu, membuat Madeline melakukan hal yang sama pada Pierre.
__ADS_1
"Sini, piringmu," pinta Madeline.
Pierre memberikan piring miliknya pada Madeline, mereka berlaku sebagai suami-istri sesungguhnya saat ini.
"Cukup?" tanya Madeline sambil memperlihatkan porsi naik yang ia ambilkan.
Pierre mengangguk,"Lebih dari cukup,"
Madeline langsung menyendok lauk ke piring milik Pierre,"ini." ujar Madeline sambil memberikan piring yang berisi makanan kepada Pierre.
"Thank's." jawabnya sambil menerima piring miliknya dari tangan Madeline.
Suasana makan malam di mansion Eduardo tampak sunyi, hanya suara alat makan saja yang saling beradu.
Hingga beberapa waktu lalu, acara makan malam kini telah selesai. Baik Madeline dan keluarga besar yang lain memutuskan untuk berbincang di ruang tengah yang ada di mansion.
"Dua hari lagi kami semua akan berangkat ke Milan, untuk menjenguk Abella dan Piero, apa kalian ingin ikut bersama kami?" tanya Mommy Audy pada Madeline dan Pierre.
Madeline dan Pierre hanya bisa saling bertatapan, seakan keduanya meminta kesepakatan. Namun hal itu segera di jawab oleh Madeline.
"Maaf, Aunty. Sepertinya aku dan Pierre tak bisa ikut. Dalam waktu beberapa hari kedepan kami tak bisa meminta libur, karena banyaknya pasien yang membeludak," ungkap Madeline yang merasa tak enak hati, tetapi kewajiban keduanya sebagai Dokter membuatnya harus segera ambil keputusan.
"Tetapi kalian semua jangan khawatir, jika next time aku memiliki waktu, aku akan ikut bersama kalian," sambung Madeline yang berusaha menenangkan keluarganya.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga tampak terdiam, begitupun dengan Daddy Garry yang tampak terlihat belum membuka suara.
"Apa kau tak bisa mengajukan cuti, Maddy?" tanya Daddy Garry pada putrinya. Pria paruh baya itu begitu merindukan putrinya yang kini telah menikah.
Meski Madeline telah menikah, Daddy Garry lebih memilih untuk tetap tinggal di mansion Eduardo daripada harus mengikuti putrinya.
Bukan tanpa sebab, karena pernikahan Madeline dan Pierre adalah sebuah paksaan. Dan Daddy Garry tak ingin membuat keduanya tak nyaman hanya karena dirinya memilih mengikutinya.
Madeline menggelengkan kepala seraya menatap wajah Daddy Garry,"Tidak bisa, Dad. Dalam satu bulan terakhir ini banyak sekali jadwal operasi yang menunggu."
"Jika kalian ingin ke Milan, sampaikan permohonan maafku pada Abella dan Piero. Mungkin next time aku akan ke sana sendiri," Madeline hanya bisa mengucap maaf karena tak bisa ikut keluarganya ke Milan.
Semua yang ada di ruang tengah hanya bisa menelan rasa kecewa mereka, tapi mereka juga tak bisa memaksa Madeline untuk ikut bersamanya.
"Baiklah, kami memaklumi kesibukanmu, Maddy. Selalu jaga kesehatanmu, jangan sampai kau sakit karena kelelahan," pesan Daddy Garry.
Mendengar ucapan Daddy Garry membuat Madeline meringis, dirinya saja sampai saat ini hanya makan dua kali. Padatnya kegiatan Madeline, membuatnya lupa untuk mementingkan diri sendiri.
"Jangan sampai kau memikirkan nyawa orang lain, sedangkan dirimu kau abaikan," ujar Raiden.
Mendengar jawaban sepupunya membuat Madeline terbungkam, ucapan itu begitu kena di hatinya.
"Siap tuan Raiden Eduardo." ucap Madeline sambil memberikan sikap hormat pada sepupunya.
__ADS_1
Melihat hal itu, membuat Raiden gemas. Pria itu mengacak-acak pucuk rambut Madeline. Hal itu tentu menjadi sorotan Pierre. Pria itu terus menatap ke arah Madeline dengan tatapan yang sulit di artikan.