
Permintaan Daddy Garry membuat keduanya terhenyak. Bagaimana keduanya bisa memiliki anak, jika mereka tidur saja terpisah. Di tambah dengan ucapan Pierre yang takkan menyatu dengan Madeline.
Melihat reaksi keduanya, membuat Daddy Garry mengerti. Namun ia juga tak bisa memaksakan atau menekan putrinya. Bagi Daddy Garry, yang terpenting putrinya dan Pierre saling membuka hati dan mencintai satu sama lain.
"Kenapa diam? Apa kalian hanya ingin hidup berdua tanpa kehadiran seorang anak?" pancing Daddy Garry dengan menahan senyum.
Melihat raut wajah Madeline dan Pierre yang terlihat tegang membuat pria paruh baya itu mengulas senyum tipis.
Pierre tersadar,"Tentu ingin, Dad. Tetapi tidak untuk saat ini, kita berdua sedang dalam proses pendekatan. Bukan begitu, Madeline?" Alibi Pierre sambil menyenggol bahu wanita itu hingga membuatnya tersadar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Madeline,"Ah iya, benar Dad. Apalagi kita sedang sibuk dengan beberapa jadwal operasi akhir-akhir ini," Madeline juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya, dalam kamus Madeline berbohong adalah hal yang paling ia hindari. Namun untuk kali ini, sepertinya sedikit berbohong juga tidak masalah.
"Bukankah sebentar lagi kau akan memiliki cucu, Dad. Jadi bisakan setelah ini kau mulai pensiun," ujar Madeline. Cucu yang Madeline maksud adalah anak dari Abella dan Piero.
Daddy Garry menggelengkan kepala,"Dia adalah keturunan Eduardo, bukan Marshall ataupun Spencer," jawab Daddy Garry.
Madeline kembali terdiam, hingga akhirnya Pierre membuka suara setelah beberapa saat ia menjadi pendengar.
"Kita bisa membahas hal itu lain waktu, Dad. Yang terpenting, saat ini kau harus segera sehat," ucap Pierre.
Pierre ada benarnya juga, lebih baik fokus pada pemulihan pasca sakit terlebih dahulu. Setelahnya, baru mereka membahas tentang cucu. Meski tak dapat di pungkiri oleh Pierre hal itu takkan terjadi.
"Kau benar, Pierre. Dad terlalu banyak permintaan pada kalian," jawab Daddy Garry.
"Hal itu wajar, Dad. Orang tuaku juga berkata hal yang sama sepertimu. Namun menjadi orang tua harus siap semuanya, baik dari finansial maupun mental,"
"Maka dari itu, kami memilih menundanya terlebih dahulu," sebenarnya itu semua hanya alasan saja, karena sampai saat ini keduanya memang tidak ada arah untuk memiliki keturunan. Jangankan keturunan, perasaan keduanya saja masih abu-abu.
Daddy Garry mengangguk, ucapan menantunya ada benarnya juga.
"Baiknya kalian saja kalau untuk itu," jawabnya.
Daddy Garry menoleh ke arah Madeline.
"Maddy," panggilnya.
__ADS_1
"Ya,"
"Malam ini kau menginap di mansion?" tanya Daddy Garry. Ia sangat merindukan putrinya, berjauhan dengan Madeline kurang lebih hampir dua bulan lamanya membuat dirinya seperti orang tak tahu arah dan memilih memfokuskan diri dengan bekerja hingga sakit seperti ini.
Madeline mengangguk, ia juga merindukan mansion yang menjadi saksi tumbuh kembang dirinya.
"Tentu, aku juga sudah izin dengan suamiku. Benarkan Pierre?" tanya Madeline.
Pierre hanya mengangguk sekilas, lalu netranya menatap sekeliling kamar yang berisi foto kebersamaan Madeline bersama keluarga besar Eduardo dan Daddy-nya.
Kamar Daddy Garry memang di kelilingi dengan berbagai figura mulai dari foto pernikahan dengan mendiang istrinya, Madeline yang masih bayi hingga beranjak dewasa. Semua ada di kamar Daddy Garry.
"Benar, aku juga akan menginap disini bersama Madeline," jawabnya hingga membuat kedua netra Madeline membola.
Terkejut? Sudah pasti. Bukankah Pierre tidak ikut bersamanya? Lantas, kenapa sekarang ingin ikut menginap di mansion Eduardo? Benar-benar sulit di tebak Pierre ini.
Madeline melotot, menatap Pierre yang seakan meminta penjelasan.
"Apa maksudmu?" tanya Madeline tanpa bersuara.
"Aku akan ikut menginap bersamamu disini, aku suamimu. Bukankah sebagai suami harus selalu menemani istrinya kemanapun pergi?" tanya Pierre dengan suara lantang dan tatapan seakan mengejek Madeline.
Madeline sampai mengepal tangan karena kesal. Ia sengaja berbicara tanpa suara agar Daddy Garry tidak mendengar pembicaraan mereka, lalu dengan lantangnya Pierre berbicara seperti itu.
"Menyebalkan," desis Madeline.
Pria itu hanya acuh, tak memperdulikan Madeline yang tengah kesal kepadanya.
Melihat hal itu, membuat Daddy Garry bertanya-tanya.
"Kalian kenapa?" tanya Daddy Garry yang menatap satu persatu anak menantunya yang terlihat tengah Bertengkar.
Saat Madeline ingin buka suara menjawab pertanyaan Daddy-nya, langsung di sela oleh pierre.
"Tidak, Dad. Madeline tak mengizinkan aku untuk ikut menginap bersamanya di mansion ini. Katanya aku banyak makan, sehingga nanti bisa menghabiskan porsi makan di mansion ini. Dan tak hanya itu, Dad. Madeline juga tidak menungguku saat ia ke mansion ini," jelas Pierre yang sengaja melebih-lebihkan ucapannya. Ia sengaja, ingin balas dendam kepada Madeline yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan kaleng sarden.
__ADS_1
Madeline membelalakkan matanya dengan tak percaya, ucapan yang pernah ia katakan di adukan oleh Pierre di hadapan Daddy-nya.
"Kau!" geram Madeline.
Pierre hanya acuh, hanya tersenyum smirk menatap Madeline. Sedangkan Daddy Garry, pria paruh baya itu menatap putrinya yang seakan meminta penjelasan.
"Maddy, apa itu semua benar?"
"Apa Dad pernah mengajarkanmu seperti itu pada suamimu?" Daddy Garry terus mencecar dirinya hingga terpojokkan.
"Ti-tidak seperti itu Dad maksudku ta-tapi...," Madeline terbata-bata menjelaskannya.
"Tapi apa?"
Madeline yang tak mampu menjawab pertanyaan Daddy-nya langsung keluar dari kamar, menuju kamar miliknya yang berada di lantai dua. Meninggalkan Pierre yang masih bersama Daddy-nya.
Melihat Madeline pergi, membuat Pierre berniat menyusulnya.
"Aku menyusul Madeline dulu, Dad." pamit Pierre yang berlalu meninggalkan kamar Daddy Garry.
Madeline yang kepalang kesal mengabaikan Pierre yang terus memanggil namanya. Memang Madeline akui dirinya pernah mengatakan hal itu, hanya saja itu sebuah candaan.
Tak hanya itu, perihal tentang ke mansion Madeline pun sudah membicarakan hal itu pada Pierre. Namun pria itu tak ada jawaban, hingga membuat dirinya berpikir bahwa Pierre tak ingin ikut dan membuatnya berangkat seorang diri ke mansion Eduardo.
"Madeline, tunggu!" seru Pierre sambil mempercepat langkah kakinya mengejar Pierre.
Wanita itu seakan menulikan telinganya, mengabaikan Pierre yang masih berusaha mengejar dirinya.
Hingga saat wanita itu sampai di depan kamar miliknya, ia langsung menutup rapat pintunya. Namun Pierre tak kalah cepat darinya. Hingga mampu menahan pintu dengan kakinya.
"Tunggu!" kata Pierre sambil melangkahkan kakinya memasuki kamar Madeline.
Madeline yang tak bisa lagi membendung kekesalannya pada Pierre membuatnya langsung berucap.
"Apa maksudmu seperti ini? Apa kau tengah cari muka dengan Daddyku, begitu, huh." kesal Madeline sambil melepas jas putih yang membalut tubuhnya, mengabaikan Pierre yang terdiam.
__ADS_1
Pierre hanya tersenyum miring,"Kenapa? Tak terima, begitu? Bukankah semua yang aku bilang adalah kebenaran?" tanya Pierre dengan santai.