
Kedua netra Pierre membola kala mendengar permintaan Madeline.
"Maksudmu, kau ingin kita menyelesaikan pernikahan ini, begitu?" tanya Pierre.
Madeline mengangguk,"Benar sekali! Kurasa kalau kita terus jalani juga percuma, jika kau tau masih terus seperti ini. Terjebak dengan masa lalu mu sendiri tanpa ingin keluar dari sana," jawabnya.
Tak ada perempuan yang ingin di posisi Madeline, wanita itu hanya ingin menyelamatkan diri dari segala rencana yang Pierre buat demi menyelamatkan harga diri pria itu. Terdengar egois, bukan? Namun seperti itu Pierre adanya.
Dan yang rugikan pada akhirnya adalah Madeline, wanita itu tidak salah. Pierre yang menarik dirinya ke dalam hidup pria itu.
"Aku memang tak mendengar semua pembicaraanmu dengannya, hanya saja melihat seberapa intim kalian berbicara membuat aku bisa menilai jika sepertinya itu adalah pembicaraan serius," imbuhnya.
Pierre menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan Madeline dengan penjelasan darinya.
"Madeline, listen! Apa yang kau bicarakan memang benar adanya. Apa tak bisa ini semua di selesaikan dengan cara lain, kita baru memulai, Madeline."
"Karena baru memulai, alangkah baiknya kita mengakhiri saja, sebelum salah satu dari kita terluka. Aku dan kau bisa menjalani hidup masing-masing tanpa status. Kita bisa kembali ke jalan kita sendiri,"
__ADS_1
"Aku seorang wanita, Pierre. Sekeras apapun sifatku tetap saja aku memiliki hati yang lemah jika urusan seperti ini. Tak ada wanita yang ingin berbagi, Pierre." sambungnya.
Pierre bungkam, ucapan Madeline mampu mengoyakkan hatinya. Di saat dirinya belajar membuka hati untuk Madeline, hadirnya Yara seakan menjadi pengacau.
"Beri aku satu kesempatan, Madeline. Kumohon."
lihatlah! Pada akhirnya Pierre meminta sebuah kesempatan. Membuktikan pada Madeline bahwa ia mampu membuka hati dan memulai lembaran baru dengan Madeline.
"Kau tahu persis perasaanku pada Yara bukan, kurang lebih empat tahun lamanya aku menjalin hubungan dengannya, bukan waktu yang singkat aku lalui bersama dirinya. Meski dirinya telah mengakui jika bermain di belakangku saat itu." ucapnya dengan panjang lebar.
"Beri aku satu kesempatan, aku takkan menyia-nyiakan hal itu. Dan bantu aku juga melupakan Yara. Ku mohon," Pierre memohon kepada Madeline.
Padahal tak pernah seperti ini, namun entah mengapa ia sampai rela melakukan hal itu di hadapan Madeline.
"Untuk melupakan Yara aku tak bisa membantumu, Pierre. Yang bisa melakukan itu semua adalah dirimu, kau pasti mampu melakukan hal itu jika kau ingin."
"Sebenarnya dari awal aku tahu kau sering memantau Yara, sering mencari tahu tentangnya. Aku kira kau ingin memastikan hidupnya bahagia, namun ternyata salah."
__ADS_1
"Yara begitu mendominasi dirimu, aku pikir kau mengajakku menjalin hubungan baru karena sudah merelakan wanita itu, nyatanya aku salah."
"Kau tak mampu melakukan hal itu. Jadi, bisa aku simpulkan bahwa kau memilih terjebak dengan masa lalumu dan membiarkan semuanya berlalu tanpa berusaha sedikitpun." sambungnya dengan tersenyum masam.
Pierre hanya tertunduk, tak berani menatap Madeline,"Apa itu menyakitkan bagimu, Madeline?" tanyanya.
Madeline menatap wajah Pierre,"Bagaimana jika kita tukar posisi?" Madeline membalikkan pertanyaan.
Pria itu hanya menggelengkan kepala, untuk membayangkan seperti Madeline dirinya memang tak sanggup. Meski keduanya menjalin sebuah pernikahan tanpa cinta, namun tetap saja bagi Madeline sama saja seperti tak di hargai.
"Madeline... Kumohon beri aku satu kesempatan lagi. Aku takkan mengulangi keselahanku lagi," pintanya dengan penuh permohonan.
Pierre terus memohon kepada Madeline yang terdiam, wanita itu tampak memikirkan ucapan Pierre yang memintanya untuk memberikan kesempatan kedua.
Lagipula bukankah manusia bukan mahluk sempurna? Jadi apa salahnya jika Madeline memberikan kesempatan, jika pria itu kembali mengulangi kesalahan yang sama, barulah dirinya mengambil keputusan demi menyelamatkan hidupnya.
"Aku akan mempertimbangkan hal itu, buktikan padaku jika kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, Pierre." ucap Madeline setelah berperang dengan pikirannya.
__ADS_1