My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 51 - Problematika Pierre


__ADS_3

Madeline langsung terdistraksi ketika mendengar permintaan Pierre yang terlihat tak ingin di rugikan dalam hal ini. Madeline tahu, itu memang sudah seharusnya Madeline lakukan sejak awal.


Namun untuk kali ini berbeda, kenapa? Karena keduanya menikah bukan saling cinta, dan di antara kesepakatan yang telah mereka buat, tidak ada keharusan untuk Madeline melayani Pierre untuk kebutuhan biologis.


"Kenapa kau mempersulit ini semua, Br***sek! Aku punya salah apa padamu." raung Madeline sambil berjalan mendekati Pierre, memukuli tubuh pria itu dengan seluruh tenaga yang ia miliki.


"Kau benar-benar problematik, Pierre!" imbuhnya dengan suara keras.


Pierre menulikan telinga, mengabaikan segala makian Madeline. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, tak terbesit dalam pikiran Pierre untuk mengakhiri semuanya. Pierre masih ingin menjalani pernikahan dengan Madeline, hanya saja saat ini ia membutuhkan waktu untuk berdamai dengan masa lalunya.


"Bagaimana? Apa kau siap?" Tanpa Pierre sadari, ia kini tengah berusaha melanggar ucapannya sendiri.


Madeline langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat,"Tidak akan aku berikan padamu! Aku hanya akan memberikan itu pada pasangan yang aku cintai nantinya." putus Madeline.


Pierre langsung menyunggingkan senyum, sambil mengelus kepala Madeline dengan lembut.


"Bagus! Itu adalah jawaban yang memuaskan untukku." jawabnya.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu, setelah aku pulang shift kita Dinner malam ini." Sambungnya, lalu Pierre melangkahkan kakinya keluar unit apartment dan meninggalkan Madeline yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Madeline tak menyangka hidup yang ia jalani haris se-dramatis ini, tentang percintaan yang baru ia jalani dengan Pierre harus berjalan seperti ini. Tak sesuai dengan yang ada di pikirannya.


"Kenapa harus sesulit ini." lirih Madeline. Untungnya hari ini ia sedang meliburkan diri, jadi ia bisa beristirahat sejenak.


Madeline bingung harus berbuat apa, hingga membuat dirinya memilih untuk menghubungi sepupunya yang berada di Milan. Meminta solusi atas permasalahan yang ia alami.


Jika di Los Angeles saat ini pukul dua siang, itu artinya di Milan pukul sebelas. Persetan jika Madeline akan kena omelan dari Piero yang saat ini tengah di landa kehamilan simpatik.


Madeline mencari nomer sepupunya, mencoba menghubunginya memalui sambungan telepon.


"Beri aku masukan, aku sedang bingung saat ini." ucap Madeline dengan suara lemah.


Ia tak mendengar jawaban dari sepupunya, hanya mendengar suara orang yang sedang mual muntah saja yang terdengar. Andai saat ini dirinya tidak sedang kalut, Madeline ingin sekali menertawakan sepupunya itu.


Terlalu cinta dengan istrinya, membuat sepupunya harus mengalami hal itu.

__ADS_1


"Bingung kenapa?" tanya Piero setelah terjeda sejenak.


Lalu mengalirlah sebuah cerita dari bibir Madeline, kejadian saat dirinya memergoki Pierre yang sedang bersama Yara dan juga tentang Pierre yang tak ingin menceraikan dirinya.


sementara Piero, pria itu hanya menjadi pendengar setia saja. Ia membiarkan Madeline menceritakan semuanya, barulah setelahnya Piero mengungkapkan pendapatnya.


"Maddy, pernikahan bukan sebuah ajang perlombaan. Menikah adalah hubungan sakral, berkomitmen untuk hidup bersama hingga maut yang memisahkan."


"Jika dari awal kau tak menginginkan hal itu, harusnya kau menolak. Tak perlu terikat pernikahan dengan orang yang masih terikat dengan masa lalunya, itu hanya akan membuatmu sakit karena hanya menjadi bayangan saja." imbuhnya.


Madeline hanya bungkam, wanita itu sama sekali tak bersuara sepatah katapun. Harusnya saat itu ia menolaknya, tak perlu mengikuti kesepakatan konyol yang tawarkan oleh Pierre.


"Aku harus apa, Piero. Aku tak bisa seperti ini terus?" keluh Madeline.


Piero tampak berpikir, menurutnya cukup dirinya saja yang bodoh karena cinta. Jangan sampai sepupunya mengalami hal sama seperti dirinya, Madeline masih terlalu dini untuk mengalami sakit hati karena cinta.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucapnya.

__ADS_1


"Apa?"


"Kau sudah mulai mencintainya?" tanya Piero lagi.


__ADS_2