
Dokter Alexandra Cabbot turun dari kursi saksi dan berjalan menuju pintu keluar ruang sidang pengadilan yang berada diantara barisan kursi antara kubu penuntut dan yang dituntut.
Ketika Alexandra berjalan, Joseph Miller yang tidak terima putra kesayangannya dibilang pecandu dan alkoholik, berusaha menyerang Alexandra namun Ghani yang melihat gelagat tidak baik dari pria itu langsung maju menarik Alexandra dalam pelukannya dan akibatnya Ghani yang terkena pukulan di kepalanya. Seketika Ghani merasa pusing lalu terjatuh dan ambruk menimpa Alexandra. Rupanya Joseph Miller hendak memukul dokter cantik itu menggunakan knuckle.
Sidang pun menjadi ricuh dan Joseph Miller langsung ditahan Raymond Ruiz dan James Park karena menyerang seorang polisi. Abi dan Duncan langsung mengecek Ghani yang bagian belakang kepalanya berdarah akibat terkena pukulan.
Dokter Alexandra segera menghentikan pendarahan di kepala Ghani menggunakan saputangannya hingga petugas medis datang dan Ghani dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.
Setelah semuanya tenang, Abi dan NYPD mengajukan tuntutan penyerangan terhadap putra dan anggota kepolisian kepada Joseph Miller secara pribadi dan instansi.
Hakim Rachel Woods pun memutuskan untuk membebaskan semua tuduhan dan tuntutan dari Joseph Miller karena cacat hukum apalagi penuntut harus menjalani hukuman.
Sam Denver sangat bersyukur akhirnya bebas meskipun harus cacat seumur hidup namun para bossnya sangat memperhatikan dirinya. Apalagi Stephen dan Neil Blair berusaha untuk menuntut tunjangan untuk Sam.
Publik yang mengetahui kasus penyerangan Joseph Miller di ruang sidang ditambah dia membawa senjata, semakin menyerukan pemecatan dirinya ke City Council.
Abi, Edward, Duncan, Stephen dan Neil tidak terlalu memusingkan urusan pemecatan Joseph Miller yang penting adalah nama Sam Denver bersih dan tuntutan mereka dikabulkan.
Joshua dan Abian kembali ke Tokyo dan Boston pada hari itu juga setelah mengetahui Ghani baik-baik saja.
***
Dokter Alexandra Cabbot masih menunggu Ghani yang belum sadarkan diri akibat pengaruh bius setelah tadi dokter harus memberikan empat jahitan akibat robek terkena knuckle. Mendengar suara langkah kaki, dokter itu menoleh ke arah pintu.
Abi pun masuk ke dalam ruangan rawat Ghani sambil tersenyum kepada Alexandra.
"Selamat sore dokter Alexandra, perkenalkan nama saya Abimanyu Giandra, ayah dari Ghani" ucap Abi sambil mengulurkan tangannya yang disambut oleh Alexandra.
"Senang bertemu dengan Mr Giandra. Saya Alexandra Cabbot."
"Sayang sekali kita harus bertemu dengan situasi seperti ini." Abi menatap wajah Alexandra yang ayu.
"Saya yang berterima kasih pada Giandra yang sudah menolong saya tadi" kata Alexandra yang masih melihat Ghani yang terlelap.
"Ghani atau G."
Alexandra menatap Abi. "Excuse me Mr Giandra?"
"Panggil saja Ghani atau G. Itu panggilan dia di rumah" senyum Abi.
Alexandra hanya mengangguk.
Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh. Tampak Sam Denver datang dengan didorong Neil Blair.
"Pak Abi." Abi pun berdiri dan menyalami Sam.
__ADS_1
"Maafkan saya Sam, membuat kamu seperti ini." Abi pun berlutut sambil memandang Sam sedih.
Sam hanya memegang tangan Abi. "Bukan salah pak Abi tapi ini sudah takdir. Nona Rhea sudah kembali ingatannya pak?"
"Alhamdulillah sudah mulai ingat tapi belum boleh bermain piano dulu sampai bahunya benar-benar sembuh."
Sam menangis. "Syukurlah. Saya benar-benar takut nona Rhea kenapa-kenapa." Abi lalu memeluk Sam.
"Yang penting kalian berdua selamat, Sam." Kepala Sam pun mengangguk. Abi meleraikan pelukannya dan berdiri lalu mengusap bahu Sam.
"Saya mengantar Sam dulu Oom" pamit Neil.
"Hati-hati Neil. Daddymu kemana?" tanya Abi.
"Daddy dan Oom Edward masih mengurus tuntutan ke Joseph Miller untuk diajukan ke pengadilan perdata untuk ganti rugi Sam dan pidana untuk penyerangan Ghani dan dokter Alexandra."
***
Duncan selesai menelpon Rhea yang mengabarkan bahwa Sam terbebas dari semua tuntutan namun malah mas-nya yang terluka karena melindungi seorang dokter cantik.
"Awas tuh mas Ghani nanti bucin sama dokternya" kekeh Rhea saat tadi ditelpon oleh Duncan.
"Kayak Abang ke kamu ya Rey" gelak Duncan menggoda gadisnya.
"Abang mah overload bucin ke Rhea!" cebiknya yang membuat Duncan tertawa.
Kini Duncan masuk ke dalam kamar rawat Ghani dan terkejut melihat dokter cantik itu masih disana.
"Oh, Mr Giandra tadi katanya ke kafetaria mencari makanan. Lapar tadi bilangnya."
"Baik. Terimakasih." Duncan hendak keluar ruangan Ghani segera menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan dokter Alexandra.
"Saya ikut senang tunangan anda kembali sehat Mr Blair."
Duncan menoleh ke arah Alexandra dan tersenyum tipis. "Terimakasih." kemudian pria itu keluar mencari Abi.
***
Ghani merasa kepalanya sakit dan hidungnya mencium bau antiseptik khas rumah sakit dan harum parfum green tea yang lebih dominan.
Pelan-pelan dia membuka matanya dan betapa terkejutnya Ghani ketika melihat dokter Alexandra Cabbot yang punya mulut pedas melebihi cabe dragon's breath berada di sampingnya sedang asyik membaca novel.
"Dokter C?" bisik Ghani.
Alexandra menoleh dan tersenyum tipis melihat Ghani sudah sadar.
"Gimana perasaanmu?" tanya Alexandra.
"Pusing" ucap Ghani pelan.
"Wajar. Anda harus menerima empat jahitan."
__ADS_1
Ghani mendelik. "Hah? Empat jahitan? Gara-gara knuckle?"
Alexandra mengangguk. "Terimakasih sudah melindungi saya."
"Sama-sama dokter."
Abi dan Duncan masuk ke dalam ruangan Ghani sambil membawa sekotak pizza.
"Makan dulu dok. Saya tahu anda belum makan. Anak saya tidak usah ditungguin, dia bakalan sehat kok" goda Abi yang membuat Ghani cemberut sedangkan Duncan hanya tersenyum geli.
"Gak usah senyum-senyum gitu bang!" omel Ghani sebal.
"Benar kan? Kalau G sudah mulai marah, berarti sudah mendingan" kekeh Abi yang hanya dijawab anggukan oleh Alexandra.
***
Usai makan pizza, Alexandra pun berpamitan. Abi dan Duncan menawarkan untuk mengantarkan dokter cantik itu namun ditolak.
"Saya membawa mobil sendiri kok Mr Giandra, Mr Blair. Don't worry, sudah terbiasa." Alexandra mulai membereskan bawaannya.
"Are you sure Dokter C?" tanya Ghani.
"Biasanya juga saya ke kamar mayat berangkat sendiri juga. Siapa yang suka kirim mayat korban pembunuhan malam-malam?" pelotot Alexandra.
"Hei, bukan aku yang kirim ke kamar mayat ya! Salahkan itu para pembunuh kenapa harus bunuh orang malam-malam! Emang enak baru saja tidur langsung dapat panggilan ke TKP?" balas Ghani.
Abi dan Duncan hanya menyaksikan pertengkaran mereka berdua sambil ngemil kentang goreng.
"Bilang sama calon pembunuh, suruh siang saja kalau mau ambil nyawa orang!"
"Kalau aku tahu siapa calon pembunuh, dunia aman sejahtera! Tahu nggak!" omel Ghani.
Kedua orang itu saling memandang dengan sengit lalu saling membuang muka.
Abi dan Duncan melongo melihat sikap kedua orang itu.
"Kalian kapan pacarannya?" tanya Duncan usil.
"Haaaahhhh?" seru Ghani dan Alexandra.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok maning.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1