My Rey

My Rey
Elang


__ADS_3

Ghani menatap layar MacBook nya. Sama dengan layar monitor di PC besarnya.


Panji Elang Samudera.


Ghani berhasil mendapatkan paspornya yang memakai paspor Inggris. Jeremy, kamu benar-benar cerdas memakai nama Indonesia mu.


Bahkan foto paspornya pun Ghani mendapatkannya. Damn! Wajahnya pun dingin!



Panggilan dari Joshua membuat Ghani menerimanya.


"Panji Elang Samudera!" seru keduanya berbarengan.


"Whoah!"


"Apa kamu bisa menyelidiki dia dimana bro?" tanya Ghani kepada Joshua.


"Akan aku coba G tapi aku nggak yakin bisa mendapatkan Jeremy secepatnya. Karena kita tahu mereka pintar menyamar dan membaur."


"Dengan nama seunik itu, tidak akan sulit mencarinya kecuali dia mengganti identitas lagi. Tapi nama tengahnya sama-sama berunsur elang J. Tak heran dia memakai nama Dark Eagle."


"Hati-hati G, dia psycho."


"I know."


***


"Siapa? Panji Elang Samudera?" tanya Duncan keesokan harinya ketika Joshua memberikan laporan bahkan Abian pun melongo. Abian merasa insecure kalah dengan Ghani dan Joshua.


"Namanya antik bro" sahut Abian.


"Makanya aku harus tahu elang dengan bahasa lainnya karena biasanya sebagai orang narsistik, pasti ada satu titik dia pakai sebagai identitas dirinya agar dikenal. Kalau aku lihat, elang adalah kuncinya" papar Ghani dengan yakinnya.


"Kamu bergabung dengan BAU ya G?" tanya Duncan.


"BAU?" tanya Gozali.


"Behavioral Analysis Unit, departemen yang menganalisis dan mempelajari perilaku pelaku kejahatan berdasarkan tanda-tanda yang ada, untuk memahami pola pikirnya dan menemukan mereka" jawab Ghani.


"Keren! Aku nggak heran kalau Ghani masuk sana, soalnya Tante Dara kan lulusan psikologi meskipun Ghani masuk Harvard Law School" kekeh Joshua.


"Dia mah kebanyakan baca Sherlock Holmes" gelak Gozali.


"Berkat itu malah kita bisa menemukan, Goz" senyum Duncan.


"Well aku akan mencari info tentang Panji Elang Samudera ini guys. Nanti kita kabar-kabari" sahut Gozali.


"Hati-hati Goz. Kamu sudah kehilangan anak buah dan nyawamu hampir melayang. Ingat Maira, ingat mama dan papa" ucap Duncan.


"Absolutely D. Aku akan lebih berhati-hati."


"Kalau instingmu mengatakan it's bad, just walk away Goz" timpal Ghani.

__ADS_1


"Akan aku ingat itu G."


***


Gozali melihat foto paspor milik Panji Elang Samudera. Benar kan dia bukan orang Indonesia ataupun Korea seperti Joshua.


Gozali mulai menscanner foto itu dan berusaha mencari dengan search engine yang dia miliki seperti saran Joshua dan Abian untuk memilikinya.


Akan aku dapatkan kau setelah kau menembak klienku tanpa berkedip dan menembak kakiku!


Pasca kejadian itu, Gozali masih harus memakai kruk untuk berjalan karena bekas operasinya masih terasa sakit.


Brengseeeekkkk! Dasar mafia!


***


Duncan menatap John dan George yang melongo mendengarkan hasil penyelidikan para pria-pria klan Pratomo, Blair, Akandra, Smith dan Giandra.


"Kalian gila!" umpat John.


"Oom, kami hanya mencari tahu, syukur bisa menangkapnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Gozali, Mark dan anak buahnya. Aku tidak peduli dengan politis bajin**gan itu karena menurutku dia memang pantas mati! Tapi tidak dengan keluargaku!" Duncan emosi mengingat bagaimana Rhea langsung pingsan dan mama Dara menangis karena Gozali hampir mati.


"Apakah kalian yakin bisa menemukan?" tanya George.


"Aku tidak tahu karena Gozali akan bekerja diam-diam. Dia tidak mau kita tampak mencolok mencari nya. Aku yakin si Jeremy sudah tahu kita mencarinya tapi kami sepakat untuk berhenti sampai disini sementara agar dia menurunkan tingkat kewaspadaannya."


John mengusap wajahnya dengan lemas. "Aku berjanji dengan tuan Duncan McGregor untuk menjagamu, D dan aku akan berusaha sekuatnya menjaga dengan nyawaku untukmu, Rhea dan calon anakmu."


"Aku rasa Voldemort akan menjewermu, D" senyum John.


"Damn! Aku kangen kakek Voldemort ku" ucap Duncan.


***


Edward memandang Bryan dan Bram yang memberikan laporan dari Abian, Ghani dan Joshua.


"Ini anak-anak yang dapat?" tanya Edward. Meskipun anak dan keponakannya sudah dewasa tapi Edward tetap menganggapnya anak-anak.


"Yes boss."


"Gila! Kalau Voldemort masih hidup pasti dia akan tertawa bangga" kekeh Edward.


"Duncan sudah mengantisipasi keamanan di New York meskipun kecil kemungkinannya klan McCloud berani datang kesana tapi mereka tetap waspada. Steve bahkan langsung menaikan parameter keamanan di rumah D" ucap Bryan.


"Hhmmm. Rhea memang tidak bisa bela diri tapi dia wanita yang berani dan nekad sama seperti Dara kalau sudah kepepet." Edward menatap wajah Panji Elang Samudera aka Jeremy Eagle McCloud.


"Berapa umurnya?" tanya Edward.


"25 tahun."


"Se Ghani?" Edward menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gila!"


Bryan terbahak. "Boss apa nggak ingat pertama kali membunuh orang? Umur berapa itu boss?"

__ADS_1


Edward mendelik. "Tapi orang itu pantas mati! Berani-beraninya mau mem*perkosa wanita difabel!"


"Tetap saja boss kau membunuh orang di usia 14 tahun." Bram tersenyum.


"Jangan sampai Yuna dan Duncan tahu akan hal ini!"


"Mrs Blair memang tidak tahu tapi Duncan sudah tahu boss!" cengir Bryan.


"Brengseeeekkkk!" Edward mengusap wajahnya kasar.


***


Duncan membolak-balikkan halaman berkas laporan kejahatan klan McCloud yang dia hack dari Scotland Yard dan MI6. Meskipun tidak menunjukkan kemampuannya di depan saudara-saudaranya, Duncan juga termasuk seorang hacker. Bakatnya jarang dipakai kalau memang tidak penting sekali dan kini kondisi yang membuatnya harus menggunakan keahliannya.


"Abang" panggil Rhea sambil mengetuk pintu ruang kerja Duncan.


Duncan bergegas membereskan semua berkas yang ada di meja kerjanya. "Apa sayang" jawab Duncan.


Rhea membuka pintu ruang kerja suaminya.


"Ayo bobok, jangan kerja terus. Abang tuh semenjak bang Gozali kena musibah, sibuk terus sama mas Ghani, bang Joshua dan kak Abian."


Duncan tersenyum. "Bumil cemburu nih ceritanya?"


"Sepi tahu nggak ada yang nemenin bobok soalnya abang malah asyik di ruang kerja." Rhea memanyunkan bibirnya.


"Kesepian Bu?" godanya lagi. Rhea mengangguk.


Duncan merasa gemas melihat istrinya yang tampak imut kalau sedang merajuk. Tubuh kekarnya pun berdiri dari kursi kerjanya. Hanya sekali angkat, Duncan langsung menggendong Rhea yang sekarang mirip seekor koala.


"Istri siapa sih yang gemesin gini?" goda Duncan sambil membawa Rhea masuk ke dalam kamarnya lalu menutupnya.


"Istrinya Duncan Sherlock Blair" cengir Rhea.


"Well, Mrs Blair. Apakah si boy sudah siap ditengok papinya?" tanya Duncan sambil melucuti baju tidur Rhea.


"Me and baby are yours, Mr Blair."


"I do really like that!" Duncan mencium bibir Rhea.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Jangan lupa baca novel baruku Yeeee. Muaaaccchhh 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2