
"Kamu habis nangis?" tanya Gozali.
Ayame hanya menatap Gozali lalu menggeleng.
"Nggak kok." Ayame menunduk.
"Nggak usah bohong, nona Ayame."
Ayame menatap pria tampan di hadapannya.
"Kamu merasa sedih melihat Eiji dengan Maira?" Gozali menatap wajah cantik di hadapannya.
"Nggak kok." Ayame memandang ke arah ruang makan yang terdapat keluarga Giandra, Blair, Reeves dan Arata.
"Nona Ayame, maukah bekerja sama dengan saya untuk merebut incaran kita masing-masing?" bisik Gozali.
Ayame memandang Gozali tidak percaya pria itu ternyata menyukai Maira.
"Mr Gozali, anda menyukai Maira?" bisik Ayame.
Gozali tidak menjawab namun memandang arah tempat Eiji dan Maira duduk.
"Saya belum tahu tapi saya tidak suka melihat Eiji bersama Maira."
Begitu juga aku. Rasanya nyesek melihat Eiji mesra dengan Maira bahkan dengan santainya mengusap kepala gadis itu.
"Bagaimana penawaran saya nona Ayame?"
Ayame akhirnya mengangguk.
"Bagus! Kita sepakat."
***
Ayame kembali ke meja makan dengan perasaan lebih tenang setelah Gozali mengajak untuk merebut Eiji dan Maira.
"Kok lama tadi di kamar mandi?" tanya Dara.
"Iya Tante. Maaf agak lama." Ayame lalu duduk di kursinya semula namun sudah ada Abi duduk di posisi ujung meja sesuai posisinya sebagai kepala keluarga.
"Ayame menginap dimana?" tanya Abi.
"Saya sudah diberikan hotel oleh pihak Yamaha kok Oom."
"Besok Rabu resital nya dimana Ji?" tanya Abi ke Eiji.
"Balai resital Kertanegara, Oom" jawab Eiji.
"Ayame nginap dimana?" tanya Dara.
"Di Grand Dhika Iskandarsyah, Tante" jawab Ayame.
"Goz, nanti kamu antar Ayame ke tempatnya menginap ya" pinta Abi kepada Gozali yang baru saja ikut bergabung dan duduk di sebelah Eiji.
"Baik pak" jawab Gozali patuh.
Eiji dan Maira hanya saling memandang.
__ADS_1
***
Gozali dan Ayame sudah berada di dalam mobil Rubicon hitam milik pria itu. Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan sampai Gozali bertanya tentang Eiji.
"Sudah berapa lama menjadi manajernya Eiji?" tanya Gozali.
"Hampir dua tahun ini" jawab Ayame.
"Apa anda..."
"Mr Gozali, kita tidak sedang bekerja. Bagaimana kita saling memanggil dengan informal? Saya memanggil anda Abang dan anda bisa memanggil saya dengan Aya. Sepertinya saya lebih muda dari anda."
"Kamu umur berapa?"
"Saya 23 tahun."
"Eiji?"
"Eiji 25 tahun."
"Berarti lebih tua aku setahun dan dia seumuran Ghani" gumam Gozali.
"Ghani itu siapa?" tanya Ayame.
"Ghani itu adikku, kakaknya Rhea."
Ayame mengangguk. "Tadi kok saya tidak melihat?"
Gozali tersenyum. "Ghani tidak di Jakarta, dia tinggal di New York menjadi polisi detektif di NYPD sesuai dengan cita-citanya."
Ayame memandang Gozali yang selalu melembut matanya jika membicarakan kedua adiknya.
"Entah saya tidak tahu kapan mulai suka dengan Eiji." Ayame menoleh ke Gozali. "Kalau Abang?"
"Maira? Aku juga tidak tahu karena awalnya yang aku suka adalah Rhea."
Ayame terkejut. "Abang jatuh cinta dengan adik Abang sendiri?"
Gozali tersenyum tipis. "Rhea bukan adik kandungku. Yang bersaudara kandung cuma Ghani dan Rhea. Aku hanyalah anak angkat bapak Abi dan ibu Dara."
Wajah cantik Ayame menatap tidak percaya.
"Orangtuaku meninggal karena dibunuh perampok dan aku saja yang selamat. Dulu aku menjadi sahabat Ghani sejak di TPQ lalu bapak membiayai sekolahku tapi tragedi terjadi akhirnya aku diadopsi resmi sama bapak dan ibu. Jadi aku dan Rhea tidak ada hubungan darah."
"Tapi Rhea memilih Duncan Blair?"
"Bukan, bang Duncan sudah mengklaim Rhea sebelum adikku lahir."
Ayame tidak percaya. "Jadi Duncan selama ini memilih menunggu Rhea besar?"
"Hu um. Pas Rhea kecelakaan dan mengalami amnesia, aku sempat ingin merebut dari bang Duncan cuma bapak menasehati ku agar bisa Legawa agar tidak terjadi perang saudara."
Gozali tertawa miris. "Dan disaat aku mulai membuka hati, ternyata incaranku malah dekat dengan pria lain."
Ayame tersenyum getir. "Aku cemburu melihat Eiji memperlakukan Maira."
Gozali tersenyum melihat Ayame. "Aku juga. Aku bahkan belum sempat mengelus kepalanya tapi Eiji sudah melakukan."
__ADS_1
Keduanya tertawa. "Kita sama-sama memendam perasaan yang belum sempat kita sampaikan ke incaran kita." Gozali menatap Ayame.
"Mari kita mulai misi merebut incaran!" Ayame mengangguk yakin.
Gozali tertawa melihat gadis itu penuh dengan tekad.
***
Abi menatap kelima orang di hadapannya. Hatinya kesal luar biasa melihat keusilan anak dan keponakannya meskipun tidak ada hubungan darah, kecuali Maira.
"Jadi kalian membuat strategi mengajuk perasaan Gozali dan Ayame?" tanya Abi.
"Iya Dad."
"Iya Oom."
"Hasilnya?"
"Tadi aku melihat kak Ayame seperti habis menangis, Dad. Gegara kak Eiji tadi akting bagus" ucap Rhea.
"Eiji, Oom nggak mau tahu. Kamu sudah membuat Ayame mengeluarkan air mata karena ulahmu, jangan membuatnya menangis lagi!"
Eiji hanya menunduk. Aku juga tidak mau membuat Aya menangis Oom tapi dengan begitu aku jadi tahu kalau dia cemburu.
"Aku cuma ingin tahu bagaimana perasaan Aya ke aku, Oom" bela Eiji.
"Kalau kamu ingin tahu, dekati dia, ajak berkencan bukan malah bikin drama gak jelas gini. Maira juga!" Abi merasa dirinya langsung auto pening menghadapi keponakannya.
"Maira sudah bilang sama bang Gozali kalau Mai sudah suka sama dia sejak Mai usia 16 tahun. Mbak Rhea yang tahu. Tapi, Mai kan malu kalau mulai duluan karena takut bang Gozali lagi suka sama cewek lain, Mai kan nanti patah hati." Maira lalu menunduk setelah memaparkan isi hatinya.
Abi dan Dara hanya saling memandang.
"Oom, ini salah Javier karena Javier yang sudah membuat strategi mengajuk hati incaran" jawab Javier. "Mereka cuma mengikuti saja drama Korea abal-abal ini."
"Duncan! Kamu kan yang paling tua disini! Kenapa malah mendukung adikmu?" Abi mendelik ke arah calon menantunya.
"Kalau nggak gitu kan nggak tahu Oom. Mereka berempat beda denganku yang langsung terang-terangan bilang mau Rey dan Rey pun mau denganku. Mereka ini butuh di push meskipun caranya salah tapi aku yakin, hasilnya akan baik. Terkadang untuk mengetahui apakah orang yang kita suka memiliki perasaan yang sama, harus melalui jalan yang sulit dulu." Duncan tersenyum. "Seperti mom dan dad, sampai dad rela kehilangan mobilnya demi mendapatkan mom meskipun mom judesnya minta ampun."
Abi hanya menghela nafas panjang karena dia sendiri juga tahu dulu berusaha keras mendapatkan cinta Dara.
"Anak-anak, Tante harap hubungan asmara kalian akan berakhir sesuai dengan yang kalian harapkan. Dan Eiji, benar kata Oom Abi, jangan membuat Ayame menangis lagi ya." Dara menatap lembut kepada semua keponakannya.
"Tante mendukung rencana ini kah?" tanya Eiji.
"Tante sangat mendukung kalian mengejar cinta orang yang kalian sayang. Semoga mereka pun merasakan hal yang sama dengan kalian."
"Aamiin."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Eniwaiii author bis kehujanan mana banjir pulak jalanan, hujannya aduhai. Semoga nggak flu ajah.
Soal Edward dan Yuna, wait ya. Insyaallah Up nanti.
Thank you for reading
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️