
Kaia dan Rhett memutuskan untuk tinggal di penthouse Rhett karena dekat ke kantor MB Enterprise dan kantor cabang O'Grady yang sengaja dibuka oleh Rhett di New York supaya tidak jauh-jauh dari istrinya meskipun dia masih pergi ke Boston dan Dublin. Terkadang Kaia menemani dirinya ke kedua kota itu, terkadang tidak karena Kaia semakin disibukkan dengan proyek Boeing nya.
Setiap hari suami istri itu selalu menyempatkan sarapan berdua dan Rhett sangat menyukai semua masakan Kaia bahkan sekarang dia ikutan suka teh wasgitel.
Tanpa terasa keduanya sudah menikah selama lima bulan dan Kaia sendiri belum ada tanda-tanda hamil namun Rhea dan Duncan tidak terlalu meributkan. Memang dulu Rhea langsung hamil Kaia tapi dia tidak masalah jika putrinya belum hamil hingga sekarang.
Pagi ini Kaia pulang menginap di mansion kedua orangtuanya karena Rhett harus ke Dublin untuk mempresentasikan beer dan whisky nya ke Aidan sesuai dengan janjinya.
"Rhett lama di Dublin kah kira-kira, sayang?" tanya Rhea kepada putrinya yang sedang menikmati sandwich isi tuna buatan maminya.
"Katanya sih seminggu soalnya Aidan kan riwil dan teliti bocahnya kalau soal kwalitas makanan dan minuman. Yakin deh bakalan ribut tuh berdua" jawab Kaia sambil tersenyum.
Levi sudah kembali ke Tokyo setelah Eiji akhirnya mengalah untuk menjual perusahaan manajemen artisnya. Levi pulang karena harus menandatangani berkas penjualan sebab Eiji sudah memindahkan semua atas namanya ke putra satu-satunya.
"Levi katanya sesudah urusan di Tokyo selesai, mau kembali lagi ke New York" ucap Rhea.
"Dia memang passionnya di penelitian sih mi. Kemarin dia malah membuat terobosan baru di mesin Kaia yang membuat pihak Boeing semakin percaya kepada Giandra Otomotif Co. Jadi Oom Eiji mengalah deh sama bang Toyib" kekeh Kaia.
"Kak Eiji tuh memang deh! Anak ganteng gitu kok dibilang bang Toyib!" sungut Rhea.
"Siapa yang ganteng Rey?" tanya Duncan dengan nada dingin.
"Levi itu lho bang. Kak Eiji tuh kok seenaknya manggil anak ganteng gitu bang Toyib?" jawab Rhea apa adanya.
"Jadi Abang sekarang nggak ganteng?" mata biru Duncan menyipit menatap Rhea.
"Astaghfirullah Abang! Muji ponakan sendiri nggak boleh?" kekeh Rhea. "Bagi Rhea, paling ganteng tetap Abang lah mau sampai kapanpun."
"Ya Allah, orangtuaku kok lebay gini ya?" keluh Kaia sambil memegang kepalanya.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Rhea melihat perubahan wajah putrinya.
"Nggak tahu mami, abis maem sandwich kok eneg ya" keluh Kaia. Wajahnya menjadi memucat dan keringat dingin muncul di dahinya.
"Jangan-jangan tunanya Rey yang bikin Kaia nggak cocok" gumam Duncan yang panik melihat putrinya memegang perutnya. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
Rhea memapah Kaia untuk berjalan keluar rumah menuju mobil sedangkan Duncan memanggil Trevor untuk menyiapkan mobil.
***
Rhett dan Kieran menatap Aidan yang sedang memperhatikan beer dan whisky pabrikannya. Adik Kaia itu memakai outfit chef-nya karena sekarang dia sedang berada di bar nya yang di Dublin.
Aidan dengan teliti melihat beer dan whisky di hadapannya. Dia pertama menilai whisky milik Rhett dari baunya. Whisky yang bagus tidak tercium bau alkohol yang tajam. Aidan tersenyum tipis ketika mencium bau whisky buatan kakak iparnya. Lalu dengan pelan, mencicipinya dan sekali lagi tersenyum tipis karena lidah nya tidak terasa alkohol tajam yang membuat mati rasa.
__ADS_1
"Whisky mu lolos, Rhett" ucap Aidan. Rhett tersenyum senang.
Aidan lalu menatap dunkel atau beer hitam yang paling pekat. Dia mencium bau dan mencobanya sedikit. Pria tampan itu pun tersenyum tipis.
"Dunkelmu lolos Rhett" ucap Aidan.
"Syukurlah!" balas Rhett.
"Yuk ke kantor ku. Kita bicara bisnis sekarang."
***
Kaia, Rhea dan Duncan melongo. Sakit perutnya Kaia bukanlah gara-gara sandwich tuna melainkan ada jabang bayi yang mulai tumbuh di rahimnya.
"Sudah berapa Minggu dok?" tanya Duncan antara bahagia dan tidak percaya.
"Ini sudah jalan delapan Minggu Mr Blair. Saya harap Mrs O'Grady istirahat dulu karena kandungannya masih rentan dan setahu saya, Mrs O'Grady banyak pekerjaan ya?" ucap dokter wanita itu.
"Saya memang masih menyelesaikan proyek Boeing saya dok" ucap Kaia.
"Saya minta sementara anda menjauhi pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Kasihan jabang bayinya meskipun sehat tapi saya tidak mau terjadi apapun apalagi ini merupakan cucu pertama keluarga Blair" senyum dokter yang sudah paruh baya itu.
"Proyek Boeing biar diurus sama Levi usai dia selesai di Tokyo. Kamu istirahat!" tegas Duncan sok galak yang membuat Kaia manyun.
"Manut ya sayang demi anakmu dan Rhett" bujuk Rhea lembut. Dia tahu putrinya kalau sudah berurusan dengan pekerjaannya tidak bisa disuruh berhenti.
***
"AAAPPAA? Mbak Kaia hamil?" seru Aidan. "Aku nggak tahu ponsel Rhett hidup atau nggak tapi dia masih disini."
Aidan bergegas mencari kakak iparnya. "Rhett!"
Pria Irlandia itu pun menoleh. "Kenapa Aidan? Masih ada yang harus diselesaikan?"
"Kamu harus pulang ke New York! Sekarang!" usir Aidan.
"Memangnya ada apa? Apa Z baik-baik saja?"
"Mbakku nggak baik-baik saja! Dia hamil anakmu!" ucap Aidan sarkasme. "Pulang sana! Cepetan! Biar disini aku urus dengan Kieran!"
Rhett melongo. "Hamil? Z ku hamil?"
"Iya bambaaaaannggg! Kakak gue hamil anakmu! Pulang cepetan! Malah bengong!"
__ADS_1
***
Rhett berlari di koridor rumah sakit setelah Trevor yang menjemputnya memberitahukan kamar rawat inap Kaia. Ketika sampai di depan pintu kamar, sayup-sayup terdengar suara Rhea dan Kaia tertawa.
Rhett mengetuk pintu kamar dan membukanya pelan. Kaia menyambut suaminya dengan senyuman lebar.
"Hai sayangku" sapa Rhett sambil tersenyum dan pria itu menghampiri Rhea lalu mencium punggung tangan mami mertuanya.
"Alhamdulillah kamu sudah datang. Mami tinggal ya Kai, kan sudah ada Rhett." Rhea mencium pipi putrinya lalu memeluk menantunya. "Selamat ya Rhett, selamat menjadi papa."
"Terimakasih mami" ucap Rhett.
"Trevor masih di depan?" tanya Rhea.
"Masih mami, kan nunggu mami" jawab Rhett.
Rhea mengangguk. "Mami tinggal dulu ya."
Sepeninggal Rhea, Rhett duduk di sebelah Kaia dan memegang tangan istrinya.
"Ya ampun sayang. Aku tidak menyangka bahwa ada anak kita di dalam rahimmu" Rhett mencium perut Kaia yang masih datar.
"Aku juga nggak menyangka karena aku sibuk jadi tidak memperhatikan siklus periode ku" senyum Kaia.
"Alhamdulillah kita diberi kepercayaan memiliki anak" ucap Rhett. "Istirahat dulu jangan memikirkan proyek mu. Biar Levi yang urus sementara."
"Papi juga bilang begitu apalagi papi semangat mau dapat cucu jadi tadi kupingku risih dengar wejangan papi. Dan kamu" Kaia menatap Rhett judes "jangan tambahkan wejangan lagi!"
"Nggak sayang, aku hanya menambahkan cinta dan sayangku padamu" kekeh Rhett.
"That's what I like Mr O'Grady."
Rhett mencium bibir Kaia lembut.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
__ADS_1
Ada yang mau ceritanya Bara ngga?