
Kaia berjalan menuju lift sembari mengacuhkan semuanya disana termasuk kedua sepupunya dan bule Irlandia itu.
Rhett yang melihat Kaia melengos hanya tersenyum smirk lalu melihat Levi dan Arya berjalan bersama menuju lift.
"Levi, Arya" sapa Rhett ramah.
"Halo. Kamu pasti Rhett O'Grady yang diceritakan Oom Duncan. Apa kabar, saya Arya Ramadhan" sapa Arya ramah sambil mengulurkan tangannya yang disambut Rhett dengan sopan.
"Baik. Ngomong-ngomong ada apa dengan sepupu kalian?" tanya Rhett sambil mengedikkan dagunya kearah Kaia yang sedang menunggu lift karena tadi penuh dengan karyawan yang hendak masuk.
"Biasa, cewek. Hormon berantakan kalau lagi tamu bulanannya datang" sahut Levi asal padahal dia tidak tahu Kaia lagi dapat atau tidak.
Rhett menarik sudut bibirnya dengan wajah jahil. "Ayo sama-sama naik lift."
Ketiga pria itu pun sekarang berdiri di depan lift bersama Kaia yang sedang membaca pesan dari ponselnya.
Ting! Pintu lift pun terbuka.
"Kai, ayo masuk!" ajak Levi. Kaia lalu mendongakkan kepalanya tampak masih tidak memperhatikan sekitar karena pikirannya masih tertuju dengan pesan dari seseorang di ponselnya.
Sebuah tangan menyentuh pinggangnya dan menghela gadis itu masuk ke dalam lift. Kaia terpekik apalagi melihat siapa pelakunya.
"Rhett?!"
"Ayo masuk baby. Kamu kenapa malah bengong?" Hela Rhett yang membuat Levi dan Arya tersenyum simpul melihat sepupunya seperti gak konsentrasi dipeluk pinggangnya oleh pria cool itu.
Di dalam lift Rhett masih memeluk pinggang Kaia yang sepertinya tidak sadar tangan milik pria itu disana.
"Kai, are you okay?" bisik Rhett melihat wajah gadis itu seperti melamun dan mata birunya tidak tampak fokus.
Pertanyaan Rhett membuat Levi dan Arya yang berdiri di hadapan kedua orang itu menoleh ke belakang.
"Kamu nggak papa Kai?" tanya Levi cemas.
Suara lift terdengar dan pintunya pun terbuka, Kaia pun bergegas keluar dan segera masuk ke ruangannya.
"Ada apa dengan sepupumu?" tanya Rhett. "Sejak melihat ponselnya tadi tampak berubah."
"Akan aku cari tahu Rhett sebab jika dia sadar kamu memegang pinggangnya, pasti kamu sudah banak belur" ucap Levi.
***
Di dalam ruangannya, Kaia langsung menelpon Arjuna yang berbeda lima jam dari New York.
"Are you sure Jun?" tanya Kaia setelah panggilannya tersambung.
"Ini lagi aku selidiki Kai. Aku harap kamu jangan terlalu berharap kalau itu memang peninggalan Opa Edward."
Arjuna tadi memberikan pesan bahwa anak buahnya menemukan sebuah pondok di pinggiran kota London dan tampak tidak terawat. Mungkin papinya tersilap karena banyaknya properti yang mereka miliki.
__ADS_1
Apapun yang berhubungan dengan kedua opanya, Kaia sangat antusias karena berkat mereka, dia bisa seperti ini selain didikan papi dan maminya. Bagi Kaia meskipun paling perfect adalah papi Duncan, tapi memiliki kedua opa yang memberikan ilmu kehidupan, membuat Kaia menjadi pribadi yang kuat.
"Jika itu milik opa Edward, apa yang akan kamu lakukan Kaia?" tanya Arjuna.
"Akan aku ambil alih dan menjadi milikku, Jun. Kalau bangunan itu bangunan komersial, akan aku lihat bagaimana ijinnya dulu."
"Akan aku bantu Kai. Kamu tahu kan meskipun Opa Edward kadang judes dengan papa tapi dia sayang denganku dan beliau seperti opaku juga meskipun opa Ryu juga lebih menyayangiku dibanding ke papa" gelak Arjuna.
"Seperti apa yang papi pernah bilang, biasanya opa dan Oma lebih sayang dengan cucunya daripada ke anaknya sendiri" kekeh Kaia.
"Dan itu benar" sambung Arjuna. "Oke cantikku, selamat bekerja. Buat sana mesin Boeing mu."
Kaia tertawa. "Thanks ganteng."
***
Suara ketukan di pintu ruangan Kaia terdengar membuat gadis itu mempersilahkan siapa di depan itu masuk. Setelah pintu terbuka ternyata Levi dan Arya disana.
"Hai boys!" seru Kaia sumringah tampak berbeda dengan beberapa menit lalu.
Levi menutup pintunya dan keduanya duduk di kursi depan meja kerja Kaia.
"Oke cantik, apa yang membuatmu seperti orang melamun bahkan pinggang mu dipeluk oleh bule Irlandia itu sampai nggak kerasa" goda Levi.
"Apa maksudmu bule Irlandia itu memeluk pinggangku?" tanya Kaia bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya Arya.
"Aku besok ikut denganmu ke London!" putus Kaia.
"Why? Bagaimana dengan proyek dengan Boeing?" tanya Levi.
"Aku nggak lama di London bareng dengan Arya kok paling tiga sampai empat hari. Kan Arya urusannya dengan Aidan sedangkan aku dengan Arjuna." Kaia menatap kedua sepupunya. "Anak buah Arjuna menemukan sebuah bangunan yang diyakini milik Opa Edward."
Levi dan Arya melongo. "Serius? Kalian memang punya banyak properti di Inggris Raya tapi apa ada yang tertinggal di daftar kepemilikan kalian?" tanya Arya.
"Itu yang ingin aku selidiki Ya, karena papi pasti juga nggak hapal karena dulu yang mengurus opa John, opa Jack, opa Bryan dan Opa Bram."
"Kenapa tidak minta bantuan Oom Abian? Kan dia anak Opa Bryan" usul Levi.
"Aku ingin memastikan dulu saja Vi baru nanti aku minta tolong ke Oom Abian."
"Aku nggak ikut Kai, proyekmu menyenangkan jadi aku akan disini saja" ucap Levi.
"Oke. Titip papi dan mami ya Vi." Levi pun mengangguk.
***
Kaia mengetuk pintu ruang kerja Duncan dan mendengar suara bariton papinya yang mengijinkan dirinya masuk.
__ADS_1
"Papi" ucap Kaia sembari membuka pintu dan tampak disana Rhett dan papinya sedang membahas sesuatu dengan banyaknya berkas di meja. Kedua pria beda usia itu duduk di sofa dengan laptop di pangkuan Rhett.
"Apa sayang?" sahut Duncan tanpa mengalihkan perhatian dari dari berkas yang dipegangnya.
"Aku mau minta ijin pergi bersama Arya besok ke London. Jadi aku pinjam pesawat pribadi papi ya."
Duncan dan Rhett langsung menatap Kaia yang masih berdiri menatap papinya.
"Ada apa kamu ke London?" tanya Duncan.
"Ada urusan dengan Arjuna" jawab Kaia apa adanya.
Wajah Rhett langsung mengeras mendengar nama Arjuna disebutkan oleh gadis yang diincarnya.
"Urusan apa sama Arjuna?" tanya Rhett tanpa menghilangkan nada cemburunya.
"Bukan urusanmu Mr O'Grady. Ini urusan pribadi" jawab Kaia judes.
"Kaia! Nggak boleh bicara begitu dengan Rhett" tegur Duncan.
"Sorry."
"Baiklah papi kasih ijin, lagian Arya kan mau ada urusan dengan Aidan kan? Berapa lama kamu di London? Proyekmu bagaimana?" tanya Duncan.
"Max empat hari, proyek disini akan dihandel Levi dan tampaknya anak itu akan aku masukkan ke dalam proyek Boeing ku."
"Pulang dari London, kamu harus mengganti pekerjaan yang kamu tinggal empat hari. Deal Kai?" tanya Duncan.
"Deal papi. Minggu pun aku masuk kerja buat menggantikan cuti mendadak ku."
"Good. Besok boleh pergi bersama Arya nanti papi hubungi Rob, pilot papi."
Kaia tersenyum senang lalu memeluk Duncan dan mencium pipinya. "Thanks papi. Bye Mr O'Grady." Gadis itu langsung keluar ruangan Duncan dan menutup pintunya.
Rhett hanya memandang kepergian Kaia dengan wajah penasaran. Mau apa dia sama Arjuna? Kenapa Mr Blair tenang-tenang saja.
"Are you okay Rhett?" tanya Duncan polos.
"Yes, I'm fine." I think.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1