My Rey

My Rey
Humaira Harsaya


__ADS_3

Rhea dan Duncan nyengir melihat Maira memerah wajahnya bagaikan kepiting rebus sedangkan Gozali bingung melihat ketiga orang disana dengan sikap berbeda.


"Dik Rhea, memang Abang mau diajak kemana?" tanya Gozali.


"Bukan aku, bang tapi dik Maira" kekeh Rhea semakin semangat menggoda adiknya.


Gozali hanya ber'oh' ria lalu menatap Maira yang malah menunduk.


"Dik Maira mau ajak Abang kemana?" tanya Gozali.


"Mai, kalau ditanya orang, kepalanya diangkat dong!" goda Duncan.


Maira langsung melirik judes ke tunangan Kakak sepupunya yang langsung membuat Duncan dan Rhea tertawa terbahak-bahak.


Dara yang membawa camilan ke halaman belakang pun bingung melihat anak-anaknya pada ramai.


"Ini ada apa kok pada heboh?" tanya Dara.


"Ibu" sapa Gozali sambil mencium punggung tangan Dara dan mencium pipi ibunya.


Dara kemudian duduk di sebelah Maira yang masih menunduk.


"Lho Maira kenapa sayang?" tanya Dara sambil memeluk keponakannya.


"Maira mau ada acara di kampus sampai malam, tapi papa nggak kasih kalau sendirian terus Mai minta ijin sama mbak Rhea mau pinjam Bang Duncan semalam doang tapi kata bang Duncan tar malah Mai ngusirin laron" cebik Maira.


Dara dan Gozali tertawa. "Benar lah kata abangmu, nanti kamu yang susah ngusirin laron" kekeh Dara.


"Lhooo kalian pada di belakang Thow?" tanya Abi yang baru saja selesai sholat Dhuha. Maira pun bergeser agar ke pojok sofa agar Dara bisa duduk di tengah dan Abi di sebelahnya.


"Ada ramai-ramai apa ini?" tanya Abi. Dara pun menceritakan keadaan Maira. "Lho biasanya Iwan yang ngawal kamu Mai."


"Iya, tapi mas Iwan lagi disuruh papa ke Surabaya. Makanya Mai mau pinjam bang Duncan."


Abi tertawa. "Memang abangmu boneka apa kok dipinjam-pinjam."


"Habis, kalau nggak ada pengawal, Mai nggak boleh pergi sama papa." Maira memanyunkan bibirnya.


"Ya udah pergi sama bang Goz aja dik" ucap Gozali yang membuat Maira melongo tidak percaya.


"Bang Goz nggak sibuk apa?" tanya Maira dengan hati berdebar-debar.



"Iya Goz, adikmu ditemani saja" dukung Abi.


"Kan aku tadi dah bilang" kekeh Rhea.


"Abang lagi santai kok. Ya udah jam berapa Abang jemput ke rumah?" tanya Gozali.


Maira tersenyum lebar. "Jam setengah tujuh ya bang."


"Dress code nya?" tanya Gozali lagi.


"Bebas kok bang." Gozali mengangguk.


***


Abi dan Dara menikmati acara weekend bersama keempat anak mereka di halaman belakang dan masing-masing selalu bercerita tentang apapun kepada sepasang suami-istri yang masih saja mesra meskipun Abi sendiri sudah berusia 58 tahun dan Dara 52 tahun.


"Jadi dua bulan lagi kalian berencana untuk langsung menikah saja D?" tanya Abi kepada Duncan yang memberitahukan rencananya dengan Rhea.


"Iya Oom. Lagipula saya dan Rey sudah tunangan juga jadi ngapain lama-lama. Dua bulan kan cukup buat persiapan plus rambutnya Rey pasti sudah panjang jadi saya nggak kayak nikah sama anak ABG" kekeh Duncan yang mendapat keplakan di pahanya oleh Rhea yang melotot judes.

__ADS_1


Gozali memandang adik angkatnya dan kekasihnya dengan perasaan sedih namun dia berusaha untuk bisa legowo apalagi dia sudah berjanji pada Abi untuk tetap menjaga persaudaraan.


Rhea tampak bahagia dengan Duncan jadi memang mereka berjodoh.


"Mom dan Daddymu sudah tahu D?" tanya Dara.


"Mom sih sudah cuma Dad kan kemarin masih sibuk urusannya di New York jadi belum klik."


"Oom sih nggak masalah kalian menikah dua bulan lagi, lebih cepat lebih baik kan apalagi kalian sudah mengalami banyak kejadian yang tidak mengenakkan."


"Berarti Rhea nanti ikut ke New York sama kamu ya D?" tanya Dara.


"Iya lah mom. Kan Rhea harus ikut Abang kalau sudah menikah." Rhea menyandarkan tubuhnya di dada kekar Duncan.


"Bisnis mu gimana Goz?" tanya Abi ke Gozali yang menatap sendu dengan kemesraan Rhea dan Duncan.


"Alhamdulillah lancar pak. Semakin banyak yang mempercayai memakai jasa keamanan dari tempat Gozali."


"Syukurlah!" Abi menatap Gozali dengan bangga.


"Kamu berarti bentar lagi wisuda dong Mai?" tanya Dara.


"Iya aunty, skripsi tinggal sidang Minggu depan. Kalau lulus, wisuda besok April."


"Mau kerja dimana Mai?" tanya Abi.


"Mau liburan dulu Oom, Mai pengen refreshing" cengir gadis berambut panjang itu.


"Ke Jepang saja Mai. Abang ada banyak saudara disana, yang sebaya kamu juga ada" usul Duncan. "Ada Masayuki, adiknya Miki. Ada Valora anaknya Tante Vivienne juga."


"Lho Valora di Jepang D?" tanya Dara.


"Iya Tan. Oom Jammie frustasi liat anaknya 11-12 sama mamanya" kekeh Duncan.


"Emang Valora ngapain bang?" tanya Rhea.


"Astaghfirullah!"


***


Rhea masih asyik bersandar di badan Duncan sambil nonton acara tv tentang masak memasak Asian food network dan melihat cara pembuatan kebda Eskandarani.


"Tahu nggak bang, waktu mommy baru nikah sama Daddy, pertama kali ke kantor Daddy, mommy bawain makanan itu. Kata daddy enak lho."


"Itu namanya kebda Eskandarani, masakan Alexandria Mesir" ucap Duncan.


"Pintar Abang!" seru Rhea sumringah.


"Iyalah, Duncan" ucap Duncan sombong. "Besok kalau sudah menikah, kita ke Alexandria supaya kamu ngerasain langsung dari asalnya."


"Bener ya bang?" Rhea menatap Duncan dengan mata berbinar-binar.


"Kapan sih Abang ingkar janji?"


Rhea mencium pipi Duncan. "Makasih Abang."


"Apa sih yang nggak buat kamu, Rey."


***


Maira bingung di depan lemari bajunya hendak memakai apa padahal jam sudah menunjukkan pukul 18.00.


"Adduuhhh aku pakai baju apa iniii!!!" teriaknya heboh.

__ADS_1


Setelah membuat kekacauan di walk in closetnya seperti kena Twister, akhirnya Maira memilih kemeja putih yang dipadupadankan dengan best bewarna hitam dan celana jeans warna hitam. Untuk sepatunya dia memilih sepatu boot dari Doctor Marten bewarna ungu.


Maira lalu memakai make-up nya dengan cepat karena sudah terbiasa saban mau kuliah selalu acara mepet dandan.


"Ya, sudah!" Maira membereskan bajunya, menyisir rambutnya asal dengan membiarkan tergerai lalu mengambil tas selempang Prada nya.



Merasa sudah oke, wajah Maira menjadi lemas melihat walk in closet nya berantakan.


"Alamat dimarahi mama deh!" keluhnya.


"Mairaaaa, ada bang Gozali tuh!" teriak mamanya.


Maira tiba-tiba langsung gugup.


"I..Iyaaa maaaa" balas Maira.


Setelah menarik nafas dalam-dalam, Maira membuka pintu kamarnya.


Bismillahirrahmanirrahim.


Naina yang melihat dandanan putrinya langsung takjub.


"Ya Allah anak mama cantik banget! Mama tenang karena kamu sama Gozali. Jangan malam-malam ya."


"Iya ma. Papa kemana?" tanya Maira.


"Papa masih di kantor sama Neil ada urusan bentar tapi udah kasih ijin kamu pergi karena sama abangmu."


Maira tersenyum manis lalu mencium punggung tangan dan mencium pipi mamanya.


"Mai berangkat ya ma."


Maira pun menuju ruang tamu dan tiba-tiba dadanya berdesir melihat Gozali yang sedang baca majalah dengan santai.



Ya Allah, jantung Mai nggak kuat ini maaaaa!


"Ehem" Mai berdehem. Gozali pun mendongak.


"Udah siap?" tanya Gozali sambil meletakkan majalah di meja.


"Udah bang" jawab Maira.


"Pamit Tante Naina dulu." Gozali hendak masuk berpamitan dengan Tantenya.


"Nggak usah bang, Mai udah pamitin kok."


"Eh nggak boleh gitu. Tetap harus pamitan." Gozali pun masuk ke dalam untuk berpamitan dengan Naina. Setelahnya keduanya berjalan ke mobil Rubicon hitam milik Gozali.


"Kamu cantik banget dik!" puji Gozali.



Wajah Maira langsung merah padam.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu


__ADS_2