My Rey

My Rey
Permintaan Rhea


__ADS_3

Rhea dan Duncan tiba di Heathrow setelah dua Minggu berada di Jepang. Maira sudah pulang sendiri ke Jakarta dengan tiket dibayarkan oleh Eiji. Mereka semua berjanji akan berkumpul kembali di Tokyo pada saat Eiji menikah dengan Ayame.


Kini di London, Duncan dan Rhea perjalanan dari bandara menuju mansion Blair. Ini kali kedua Rhea ke mansion milik keluarga suaminya, terakhir ketika dia masih kecil kesana.


"Wah berapa tahun Rhea nggak kemari ya bang" ucap Rhea sambil melihat pemandangan kota London waktu malam karena mereka tiba dari Tokyo jam tujuh malam.


"Terakhir kamu kesini kan usia enam tahun kalau nggak salah terus kita naik London Eye, ke museum Sherlock Holmes, lihat Harry Potter, terus main bareng Javi dan Valora" ucap Duncan sambil mengusap kepala istrinya.


"Hu um. Kata Daddy, Abang modus minta beliin piano sama papa Edward" kekeh Rhea.


"Iisshhhh, papa Abi mah julid!" omel Duncan.


"Kalian memang kocak" gelak Rhea. Duncan tersenyum melihat wajah istrinya yang semakin cantik menurutnya.


"Love you my Rey" bisik Duncan sambil mencium pipi Rhea.


"Love you too Bang" balas Rhea sambil mengusap wajah suaminya.


***


Yuna memeluk menantunya dengan hangat ketika mereka sampai di mansion.


"Duh mantu mama tambah cantik saja!" ucap Yuna. Rhea dan Duncan memang sengaja memanggil para mertua berbeda agar tidak keliru dengan orang tua kandung.


"Iyalah tambah cantik! Disayang, dicintai, dikeloni... Adduuhhh!" Duncan mengusap kepalanya yang dikeplak Daddynya.


"Yang boleh lemes mulutnya cuma Daddy! Kamu nggak boleh!"


"Haaaahhhh? Dad tuh apa-apaan sih? Kalau aku gegar otak gimana?" omel Duncan kesal.


"Lebay! Kamu mulai ketularan Eiji!" komentar Edward sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah.


"Mom! Lihat kelakuan suamimu!" protes Duncan.


Yuna merangkul Rhea mengajak masuk menantunya yang cekikikan dari tadi. "Suami mom itu Daddymu juga! Tanpa benih dari Daddymu, kamu nggak bakalan brojol!"


Rhea terbahak mendengar ucapan kacau mertuanya.


"Astaghfirullah! Kenapa ini berdua makin tua makin Gesrek sih!" Duncan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Keempatnya kini berada di meja makan dan Yuna sudah membuat masakan kesukaan menantunya, udang asam manis dan brokoli saus putih.


"Wah, terimakasih mama masak makanan kesukaan Rhea" ucap Rhea berbinar-binar.


"Mama tanya mommymu jadi mama masakin deh."


Duncan cemberut melihat menu meja makan. "Kenapa cuma makanan kesukaan Rhea yang ada? Rawonku mana?"


Edward menatap putranya. "Nggak nyambung Duncaaaannn! Masa udang asam manis sama rawon?"


"Sudah, besok mommy masakin rawon satu panci Gedhe!" sahut Yuna.


"Haaaahhhh!" keluh Duncan manyun.

__ADS_1


"Ohya D, Minggu depan Rhea ulang tahun. Apa kamu sudah siapkan kadonya?" tanya Edward.


"Sudahlah! Jauh-jauh hari malah" sahut Duncan sambil memasukkan brokoli ke dalam mulutnya.


"Kamu tuh harus kasih kado spesial kayak Dad dulu waktu awal menikah dan mommymu ulang tahun."


Rhea antusias mendengarkan cerita papa mertuanya. "Memang papa kasih kado mama apa?" tanyanya.


"Busur dan panah sama pistol Glock warna rose pink" cengir Edward.


"Haaaahhhh? Serius ma?" tanya Rhea sambil menatap Yuna yang mengangguk. "Keren!"


Duncan melongo. "Kamu bilang itu keren?"


"Keren lah bang. Anti-mainstream banget kadonya."


Duncan hanya tersenyum kecut sedangkan Edward tersenyum bangga.


***


Ini kali pertama Rhea masuk ke dalam kamar Duncan meskipun dulu pernah kemari, tapi saat itu Rhea memilih tidak mau masuk ke dalam kamarnya.


"Whoah! Khas Abang banget!"



Duncan mengerenyitkan alisnya. "Maksudnya gimana?"


"Cowok banget! Serba monochrome, kayu dan dark" kekeh Rhea.


Rhea menoleh kan wajahnya ke arah suaminya. "Kok malah punyaku yang diingat?"


"Iyalah. Abang juga tahu ukurannya dadamu" kekeh Duncan sambil menciumi leher Rhea. "Jadi kalau pesan Victoria Secret, gampang lah!"


"Astagaaaaa Abang tuh ya!" wajah Rhea memerah sambil memukul lengan kekar Duncan.


Duncan menggendong Rhea ke tempat tidurnya.


"Bikin bocah yuk!" godanya.


"Bang, bikin bayi dulu bukan langsung bocah. Ada prosesnya itu. Jadi menurut ilmu biologi yang Rhea Pela... Mmmmm" bibir Rhea langsung ditutup oleh bibir Duncan yang tanpa ragu Melu**matnya.


"Nggak usah ngomong teori, langsung praktek ajah!" gumam Duncan sambil melucuti semua pakaian Rhea.


***


Rhea mengusap-usap dada dan perut roti sobek milik suaminya dengan gerakan posesif yang disukai Duncan. Jari-jari lentik itu seperti memainkan melodi di tubuh kekar yang selama ini hanya bisa dipandang. Keduanya sedang mengatur nafas setelah tadi keduanya ber**cinta panas.


"Abang bisa menembak?" tanya Rhea


"Abang kan sudah nembak kamu jadi istri Abang" goda Duncan.


"Iisshhhh! Tembak beneran!" cebik Rhea.

__ADS_1


"Lhaaaaa yang tadi barusan? Dah ditembak berapa kali?" goda Duncan dengan wajah jahilnya.


"Astagaaaaa! Abaaaannnggg! Bukan itu!" hardik Rhea dengan wajah merah padam seperti lobster.


Duncan terbahak. Dia senang sekali menggoda istrinya yang memiliki tubuh aduhai dan semakin membuatnya kecanduan ingin selalu memegang, menyentuh, menikmatinya setiap saat.


"Maksud Rhea, pakai senjata api kayak mama" ucap Rhea manyun.


"Itu bibir dikondisikan, Rey. Nanti Abang Lum**at lagi, kasih French Kiss lho."


"Jawab dulu pertanyaan Rhea!"


Duncan menghela nafas panjang. Meskipun dia punya lisensi menembak tapi dia tidak ingin Rhea tahu dan ketakutan mendengar dirinya biasa latihan menembak.


"Abang bisa, Rey. Malah Abang punya lisensi menembak internasional. Apa kamu tahu, Abang selalu bawa pistol Walter PPK mirip punya James Bond kemana-mana?"


Rhea membelalakan matanya. "Waktu kemarin Abang di rumah, Abang juga bawa?"


Duncan mengangguk. "Abang anak Edward Blair, pengusaha jadi wajar Abang bawa senjata untuk melindungi diri meskipun Abang bisa bela diri juga."


"Dad tahu?"


Duncan menggeleng. "Yang tahu hanya Ghani karena pada saat itu dia nggak sengaja melihat Abang membereskan pistol saat hendak beberes pindah ke kamarmu."


"Terus mas Ghani gimana?"


Duncan tersenyum. "Ghani cuma bilang 'Keren' soalnya pistol yang dia pegang Glock dan SIG. Katanya dia juga pengen punya pistol model punya Abang."


Rhea bangun dan menaikkan tubuhnya diatas perut suaminya.


"Rhea tahu mau minta apa besok ulang tahun!" senyum liciknya keluar dan membuat Duncan berdebar-debar menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir istrinya yang saat ini dalam kondisi polos.


"Aaa...apa? Jangan aneh-aneh deh Rey!"


"Pengen belajar menembak! Kayaknya seru!" kekehnya. Duncan langsung menepuk jidatnya. Sudah kuduga! Benar-benar mirip mommy!


"Kalau lainnya gimana Rey?" bujuk Duncan.


Rhea tidak menjawab namun tangan nakalnya mulai bergerilya "Kabulkan atau Abang cuti seminggu?"


Astaganagaaa! Istriku kenapa makin kesini makin mirip mommy?


Duncan hanya bisa mengangguk lemah. Rhea pun tersenyum dan kemudian memberikan sentuhan yang membuat Duncan tidak bisa menolaknya.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Maaf hari ini cuma dua chapter


Insyaallah besok agak banyak


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2