My Rey

My Rey
Apa Yang Sebenarnya Terjadi?


__ADS_3

Duncan terbangun dengan badan terasa sakit semua dan baru menyadari dirinya berada di rumah sakit. Dipegangnya kepalanya terbalut perban dan bahunya pun ditutup dengan gips, begitu juga kakinya.


FUCEEEKKK!!!


Rain!


Rasanya dia ingin bangun mencari adik sepupunya itu namun untuk bangun pun dia tak mampu. Untuk pertama kalinya dia merasa kesal tidak berdaya.


Duncan menoleh ke kanan dan ternyata Joshua dirawat di kamar yang sama. Kondisinya pun tidak beda jauh dengannya, wajah tampannya yang biasanya mulus, penuh dengan luka-luka seperti kena pecahan kaca. Tangan kiri dan kaki kirinya digips.


Suara pintu dibuka membuat Duncan menoleh dan tampak Dara dan Abi disana. Jangan ditanya bagaimana wajah ibu tiga anak ( Gozali termasuk ya ) yang super cemas penuh air mata.


"Astaghfirullah menantu mama" bisiknya disela isakannya. Dara lalu mengelus wajah Duncan.


"Maaf Ma" bisik Duncan lemah.


"Aku lihat Joshua dulu" bisik Abi. Wajah pria paruh baya yang masih tampan itu tampak begitu tegang.


"Apa yang terjadi nak? Mama dikabari Gozali kalian kecelakaan. Jangan bilang kalian terlibat dalam baku tembak dan kejar-kejaran kemarin!"


Kemarin? Kemarin?


"Ma, aku pingsan semalaman?" Duncan menatap Dara.


"Iya D. Kamu dan Joshua parah ternyata. Kalian terkena gas yang membuat pingsan lama dan dokter sampai tidak perlu menambahkan obat bius karena kalian dan Jimmy benar-benar pingsan."


"Jimmy bagaimana ma?"


"Jimmy di kamar sebelah. Selain benjol dan kaki kanan patah, lainnya baik-baik saja."


Suara pintu terbuka dan tampak Miki Al Jordan masuk dan terkesiap melihat suaminya.


"Ya Allah bang. Apa yang terjadi?" tanya Miki yang harus terbang dari Tokyo tengah malam untuk sampai ke Jakarta pagi. Wajah cantiknya tampak begitu cemas melihat kondisi suaminya yang babak belur.


"Kami hendak membawa Rain pergi, namun mereka tidak melepaskan kami dengan mudah. Akhirnya Rain dibawa oleh mereka" ucap Duncan dengan wajah bersalah.


"Sayang..." bisik Joshua yang membuat Miki menatap wajah suaminya tersenyum.


"Aku disini bang. Kok tahu aku datang?" Miki mencium bibir Joshua sekilas tanpa malu dilihat orang banyak.


..."Bau parfummu aku hapal. Hanya kamu yang memakai parfum opium yang baunya spesifik" senyum Joshua....


"Selamat pagi. Saya lihat pintu terbuka jadi kami masuk saja" ucap seorang dokter. "Saya periksa dulu ya bapak-bapak."


Dokter itu secara bergantian memeriksa Duncan dan Joshua.


"Mr Blair, untuk sementara harus istirahat selama sebulan guna membuat bahu dan kaki anda yang kami pasang pen bisa menyambung kembali patahannya. Begitu juga dengan Mr Akandra, tangan dan kaki anda harus istirahat sebulan" Dokter itu tersenyum. "Baik, saya permisi dulu." Lalu dokter dan dua perawatnya pergi meninggalkan semua orang yang berada di kamar rawat.


"Sial! Patah sebelah kiri semua" omel Joshua. "Tapi waktu itu aku nggak kerasa apa-apa."

__ADS_1


"Adrenalin bro" jawab Duncan.


Suara ketukan di pintu membuat semua orang menoleh. Tampak Gozali, Ryu dan Giselle datang. Kedua orang tua Rain itu tampak shock dengan fakta yang terjadi pada putrinya. Gozali yang masih memakai kruk hanya nyengir melihat dua saudaranya harus memakai gips.


"Welcome the gips family" cengirnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang ibu dan bapak.


"Duncan, Rain kok bisa kenal orang itu?" tanya Giselle.


"Dia teman sekolah Rain waktu SD Tante."


Giselle kembali teringat waktu Rain SD sering ngobrol dengan bocah bule setiap dia terlambat menjemputnya.


"Ya Allah, teman yang selalu ngobrol sama Rain waktu SD itu?" seru Giselle.


"Apa maksudnya ma?" tanya Ryu yang wajahnya tampak menua setelah mendengar kabar putrinya diculik.


"Aku kan terkadang terlambat menjemput Rain waktu SD dan setiap aku terlambat, Rain selalu bersama anak itu. Ketika lulusan, Rain malah membuatkan brownies untuknya sebagai hadiah."


"Tante ingat namanya?" tanya Joshua.


"Rain cuma bilang namanya Eagle."


Duncan dan Joshua saling memandang.


Elang.


***


Bekerjasama dengan kepolisian Indonesia Dan interpol, Ghani memprioritaskan pencarian Rain. Kepala BAU memberikan kebebasan pada Ghani untuk bekerja bersama timnya, apalagi yang menjadi korban penculikan adalah anggota keluarga terpandang.


Semakin dalam Ghani menyelidiki bersama para rekan seniornya, semakin tampak bahwa bukan Jeremy Eagle McCloud sebagai tersangka penculikan. Gozali dan pihak kepolisian membantu dengan memberikan semua CCTV pada saat kejadian. Ghani bersyukur mobil Innova yang sekarang hancur dipasang berbagai macam kamera disana. Termasuk bisa mengambil gambar penculik Rain dari kamera tempat Duncan duduk yang dipasang diatas pegangan sisi atas.


Ghani dan Amy Joe Russell, seniornya yang ahli psikoanalisis dan biasa dipanggil AJ, mengetahui bahwa postur tubuh penculik Rain dan Jeremy berbeda.


"Kamu lihat ini G, lebar bahu orang ini dengan Jeremy yang berada di CCTV toko kue berbeda jauh. Pria ini mempunyai lebar bahu tiga centi lebih lebar dari Jeremy dan itu sudah aku kalkulasi dengan ketebalan jas yang dipakainya" ucap AJ.


"Menurutmu mereka orang berbeda?"


"Totally different! Jeremy aku bisa hitung tingginya 185cm, sekamu. The unsub atau pria ini tingginya hanya 180 namun memiliki body lebih lebar dan besar dibandingkan Jeremy."


"Damn! Siapa orang itu!"


"Aku rasa orang ini adalah Glenn McCloud." AJ menatap Ghani yakin.


"Bagaimana bisa yakin?"


AJ memperlihatkan beberapa foto Glenn. "Aku sudah sepuluh tahun memprofiling unsub, G. Dan aku bisa mengatakan ini adalah Glenn McCloud. Dia punya bekas luka di bibir, sedangkan Jeremy tidak ada."


Sebenarnya apa yang terjadi disini?

__ADS_1


***


"Glenn McCloud di Jakarta?" seru Edward.


"Iya Oom. Ghani dan AJ berhasil memprofiling semua" jawab Ghani.


"Sebenarnya apa yang terjadi G?"


"Ghani belum tahu Oom."


"Jadi siapa yang menembak Gozali sebenarnya? Jeremy atau Glenn?"


"Oom ingat nggak. Gozali bilang orang yang menembak politisi itu memakai topeng elang yang sama dengan menculik Rain?"


Edward mengangguk. "Lalu?"


"Apakah kita menuduh orang yang salah? Karena Gozali tidak bisa melihat siapa di balik topeng itu dan hanya bisa mengetahui bahwa dia orang Inggris karena bisa berbahasa Welsh?"


Edward tercenung. Masuk akal.


"Duncan dan Joshua juga tidak bisa melihat ketika dia melepaskan topengnya di mobil lewat rekaman satelit."


"G, Oom minta tolong selidiki dengan tepat."


"Tapi Oom, aku rasa Jeremy memang menembak kaki Gozali tapi bukan dia pembunuh politisi itu. Ada dua orang pemimpin klan disana. G melihatnya ada masalah internal antara Jeremy dan Glenn."


Edward menatap anak besannya yang semakin hari tampak semakin matang dan kesukaannya dengan dunia detektif sangat berguna di saat-saat seperti ini.


"Thank G. Hati-hati."


"Suruh Duncan pulang Oom. Rhea bisa panik kalau kelamaan ditinggal."


Edward tersenyum kecut. "Tampaknya Rhea akan menghajar habis D karena pulang-pulang babak belur."


Ghani terbahak.



Yang kangen babang Ghani 👆👆👆


Bersambung di Elang Untuk Rain Chapter 10


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2