My Rey

My Rey
Langkah Awal - Season 2


__ADS_3

Duncan, Rhett, Gozali, Arya dan James berangkat ke London menggunakan pesawat Gulfstream milik Duncan ditambah empat pengawal pria itu. Kaia dan Rhea sengaja tinggal di Boston bersama dengan Abian dan Bryan, sedangkan Levi harus mengikuti wisuda di MIT. Eiji dan Ayame datang sehari sebelum Duncan terbang ke London.


Di London, Duncan dan rombongan menanti Neil Blair yang naik pesawat komersil. Semenjak sang papa pensiun, Neil lebih memilih menjual pesawat pribadinya dan pergi dengan pesawat komersil.


Para pria-pria berbeda usia itu menunggu Neil dengan sabar hingga pesawat yang membawa sepupu Duncan itu mendarat dari Jakarta.


Neil menghampiri ke keluarganya dan melakukan briefing singkat di lounge VIP di Heathrow tepatnya di plaza premium lounge. Kini keenam pria tampan itu duduk di beberapa sofa dan membuka berbagai dokumen.



"Kita langsung ke Dublin atau gimana D?" tanya Neil.


"Kita istirahat dulu di mansion Blair baru besok paginya kita ke Dublin. Biar para pengawal berangkat dulu membawa mobil-mobil kita jadi sesampainya di Dublin, kita sudah ada kendaraan."


Gozali memerintahkan para pengawal pilihannya untuk mempersiapkan diri. Semua sudah di briefing oleh CEO berwajah dingin itu.


***


Rombongan sampai di Mansion Blair, peninggalan Edward Blair yang sekarang ditinggali oleh Aidan Blair. Para pelayan yang menyambut rombongan tuan besarnya sudah biasa dengan kehadiran para pria-pria itu. Aidan sendiri memutuskan pulang ketika papinya menelpon untuk beristirahat di mansion.


"Kalian tuh bisa nggak sih datang nggak mendadak?" omel Aidan yang datang dari restaurannya. Pria tampan perpaduan Duncan dan Rhea itu tampak mengenakan Coat coklatnya.



Duncan tersenyum. "Bukan papi lah namanya kalau nggak mendadak, boy!" Aidan memeluk sang ayah hangat lalu menyalami Gozali dan Neil.


"Hi Ya. Ikut lagi ma bokap?" ledek Aidan.


"Iya nih!" ucap Arya sambil memeluk sepupunya.


Aidan lalu menyalami Rhett. "Jadi mau nikah sama kakak gue? Yakin?" goda Aidan.


"Yakin lah! Kan aku sudah tidur bareng dengan Z" jawab Rhett cuek.



"Whoah! Seriously? Oh my God! Kalau emang begini, kamu wajib nikahi kakakku" gelak Aidan.


Semua pria disana duduk di ruang tengah yang penuh dengan sofa. Aidan menatap ayahnya dengan wajah penuh tanya.

__ADS_1


"Kalian berombongan ini kesini sebenarnya ada apa sih?" tanya pria tampan itu.


Duncan, Rhett dan Arya menceritakan apa yang mereka selidiki selama ini dan membuat rahang Aida. mengeras. Sungguh dia tidak menyangka bahwa kecelakaan kedua opa dan omanya merupakan kecelakaan yang disengaja karena sebenarnya yang diincar adalah kedua orangtuanya Rhett.


"Jadi papi mau ke Dublin untuk mencari bukti konkret bahwa mereka yang bertanggung jawab?" tanya Aidan.


"Yes boy. Makanya kami semua mempersiapkan segalanya. Ohya jangan bilang ke Arjuna dan Jeremy. Kamu tahu kan bagaimana mereka." Duncan menatap putranya.


"Oom Ghani tau Pi?" tanya Aidan yang dijawab dengan gelengan papinya.


"Oke. Penyadapnya sudah dipasang dimana saja?" tanya Aidan.


Masing-masing menunjukkan dimana Abian meletakkan penyadapnya. Aidan nyengir. "Oom Abian memang the best!"


"Kalian mau makan apa, aku masakkan. Siapa mau membantu silahkan tapi aku melarang keras Arya masuk dapur dan berdekatan dengan kompor!" ucap Aidan.


"Memang kenapa boy?" tanya Duncan.


"Anggap saja Arya \= Kompor berarti musibah!" gelak Aidan yang diberikan wajah manyun Arya.



"Oalah" kekeh Duncan.


"Are you sure Mr O'Grady?" goda Aidan.


"Absolutely!" Rhett tersenyum misterius.


***


Pagi ini rombongan sudah sampai di Dublin Airport setelah menempuh waktu satu jam an dari London. Duncan menempatkan satu pengawalnya untuk stay di pesawat guna mencegah kejadian seperti Daddynya.


Para pengawal sudah bersiap dengan kendaraan yang sebelumnya dibawa dari London. Lima Range Rover bewarna hitam dan abu-abu berjalan beriringan menuju pabrik beer milik klan O'Grady.



Setelah menempuh waktu satu jam, rombongan itu sampai di sebuah pabrik beer yang termasuk besar. Duncan dan Gozali sendiri tidak habis pikir bagaimana mereka bisa nyaris bangkrut.


Setelah menemui penjaga keamanan, mereka diijinkan masuk. Seorang sekretaris datang menghampiri Duncan dan Rhett yang turun terlebih dahulu lalu disusul Gozali, Neil dan Arya. James sendiri berada di mansion Blair bersama dengan Aidan ikut memantau.

__ADS_1


"Mari ikut saya Mr Blair, Mr O'Grady." Sekretaris Louisa O'Grady merasa bingung karena Rhett ikut dalam rombongan itu. Padahal menurut info, Duncan hanya datang bersama Neil Blair, sepupunya yang juga pengacara perusahaan MB Enterprise.


Duncan dan Rhett sampai di sebuah pintu kayu besar dan si sekretaris pun membuka pintu dobel itu. "Mr Blair sudah tiba."


Thomas dan Louisa O'Grady sumringah mendengarnya apalagi Duncan termasuk tepat waktu dari jam yang dijanjikan bahkan lebih cepat lima menit. Namun wajah sumringah keduanya menghilang ketika Rhett tampak berjalan di samping Duncan.


"Mr Duncan Blair. Apa kabar?" sapa Thomas O'Grady setelah menata kekagetannya.


"Thanks God I'm fine. Bagaimana dengan anda Mr O'Grady? Mrs O'Grady?" sapa Duncan ramah. "Ohya maaf hari ini saya membawa rombongan, ini pengacara saya yang juga sepupu saya Neil Blair. Anda-anda masih ingat dengan ipar saya Gozali Ramadhan dan putranya Arya Ramadhan bukan?" Duncan mengenalkan rombongannya satu persatu.


"Mr Ramadhan! Akhirnya kita bertemu lagi ya" sapa Thomas kepada Gozali.


"Iya, akhirnya bisa bertemu lagi setelah dua tahun ya di Jakarta?" kekeh Gozali dengan sikap sok akrab. "Arya, ingat kan waktu di hotel Mulia?"


Arya mengangguk. "Apa kabar Uncle? Aunty?"


"Dan ini anda semua mengenalnya kan?" tanya Duncan ke arah Rhett O'Grady.


"Iya, dia adalah entah anak atau cucu haram dari ayah mertuaku Patrick O'Grady. Ngapain kamu ikut Duncan Blair? Jangan bilang kamu sudah menjual pabrik bajamu ke Mr Blair?" ucap Louisa sinis.


Untung Kaia tidak ikut! Bukan sesuatu hal yang tidak mungkin jika saat ini sepupuku sudah melempar wanita ular itu dengan Zippo. Arya tersenyum jahat.


"Aku tidak akan pernah menjual pabrik baja John O'Grady ke siapapun, Bibi!" tekan Rhett.


"Rhett O'Grady adalah calon menantuku karena dia sudah dijodohkan dengan putriku Kaia oleh paman Patrick O'Grady sejak 22 tahun yang lalu." Duncan menatap dingin ke arah suami istri O'Grady yang melongo.


"Tidak mungkin!"


"Oh sangat mungkin. Paman Patrick bahkan meminta langsung kepadaku dan almarhum mommyku ketika kami bertemu di New York. Dan nanti setelah proses pemberian dana segar pabrik beer dan whisky O'Grady, putriku dan Rhett akan segera menikah disini, di Dublin."


Thomas dan Louisa O'Grady menatap Rhett dengan penuh kebencian.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


- Sebenarnya ide bikin cerita ini gegara nonton House of Gucci bagaimana si menantu perempuan yang serakah ingin memiliki semua kekuasaan Gucci -


__ADS_2