My Rey

My Rey
Berbaikan


__ADS_3

Hari Minggu ini merupakan family time bagi keluarga Giandra. Dara dan Rhea dibantu oleh para pelayan sengaja memasak enak-enak untuk ucapan syukur kembalinya sebagian besar ingatan Rhea. Menurut rencana, Minggu depan mereka akan berkunjung ke beberapa panti asuhan untuk membawakan sumbangan dan syukuran kesembuhan Rhea.


Dara dan Diana adalah donatur rutin beberapa panti asuhan di Jakarta dan kebetulan Rhea mulai sembuh, Nadya hamil anak pertama setelah tiga tahun menanti. Tentu saja kedua hot mommy itu ingin berbagi kebahagiaan bagi putri mereka masing-masing.


"Mbak Nadya itu anaknya Tante Diana ya mom?" tanya Rhea sembari mengaduk-aduk santan di kolak agar tidak pecah menggunakan tangan kirinya.


"Hu um. Tante Diana itu istrinya Oom Stephen adiknya Oom Edward, kandung. Punya dua anak kembar, Nadya dan Neil. Nadya sudah menikah tiga tahun lalu dengan dokter Arga, anak temannya Tante Diana. Kalau Neil baru saja menikah dengan sekretarisnya, Aurora."


"Mereka sering kesini kah mom? Soalnya Rhea melihat banyak foto-foto mereka."


"Sering banget waktu kalian kecil lalu Nadya dan Neil dikirim ke asrama di Swiss oleh Oom Stephen. Nadya lulusan sarjana geologi dan bekerja di perusahaan pengilangan minyak. Kerjanya mbak mu satu itu keliling dari kilang satu ke kilang lain. Kalau Neil memilih sama dengan Oom Stephen menjadi pengacara."


"Assalamualaikum."


Rhea dan Dara menoleh ke arah suara, tampak Naina sudah berada di depan pintu dapur.


"Dik Naina" sapa Dara tersenyum.


"Halo mbak Dara." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.


"Rhea, ini Tante Naina, adiknya mommy. Istrinya Oom Antasena." Rhea menghampiri Naina dan mencium punggung tangannya dengan tangan kanan.


"Aduh Rhea, nggak usah dipaksakan kalau bahunya masih sakit." Naina mencium pipi keponakannya.


"Nggak papa Tante, pelan-pelan masih bisa kok." Rhea tersenyum manis.


"Ya Allah ponakan Tante yang cantiknya begini, nyaris Tante kena serangan jantung dengar kamu kecelakaan. Alhamdulillah Allah sayang sama kamu, sayangku." Naina memeluk Rhea hangat.


"Alhamdulillah Rhea juga mulai pulih ingatannya" sahut Dara.


"Rhea ingat Tante nggak?" tanya Naina.


"Tante kan yang suka benarin lafal bahasa Inggris Rhea kan? Dosen linguistik di Universitas swasta di Jakarta. Benar?"


Naina langsung menangis. "Ya Allah, Alhamdulillah keponakanku kembali ingatannya."


Rhea terharu mendengar ucapan tantenya.


"Sehat-sehat terus ya sayang. Kapan menikah sama Duncan?"


"Nunggu rambut Rhea panjang dulu Tan."


"Kenapa memangnya?" tanya Naina bingung.


"Kata bang Duncan, kalau menikah sama Rhea dengan rambut pendek gini, kayak menikah sama anak ABG" adu Rhea sambil cemberut.

__ADS_1


Naina terbahak. "Astaga anaknya mbak Yuna tuh yaaa."


***


Duncan dan Gozali sekali lagi duduk berdua karena permintaan Gozali. Keduanya duduk di tepi kolam renang setelah tadi melakukan renang pagi. Gozali sendiri sudah mandi dan berganti baju sedangkan Duncan masih menikmati barjemur usai berenang.



"Bang, aku mau bicara."


Duncan menatap pria tampan di hadapannya, pria yang menjadi rivalnya sejak kecil.


"Kamu mau bicara apa Goz?" tanya pria yang memiliki tubuh roti sobek itu santai.


"Soal dik Rhea. Aku sudah memutuskan untuk melepaskan" ucap Gozali pelan namun Duncan mendengar nada sedih disana.


"Apa kamu yakin Goz?" tanya Duncan memastikan.


Gozali menengadahkan kepalanya keatas menatap langit biru yang cerah.


"Aku yakin bang. Aku sudah bicara dengan bapak juga dan bapak sebenarnya tahu kita kemarin bertengkar."


Duncan terkejut Abi mendengar keributan mereka berdua.


Duncan mendengarkan Gozali dengan serius.


"Karena aku sangat mencintai dik Rhea, maka aku melepaskannya bang. Dik Rhea memang milik Abang apalagi ingatannya mulai kembali dan semua yang diingatnya adalah bersamamu bang. Dik Rhea tidak memiliki ingatan yang spesifik akan diriku karena aku sendiri mengambil jarak, mencintai dia dari jauh dan dengan diam."


Gozali tertawa miris.


"Maafkan aku Goz tapi memang aku sudah mengklaim Rhea sebagai milikku bahkan Dad sendiri sudah meminang Rhea sebagai istriku sejak dia masih kecil sampai-sampai Oom Abi hampir menghajarnya" ucap Duncan.


"Iya bang. Aku tahu itu dan aku tidak mau terjadi perpecahan dalam keluarga kita bang. Aku akan menjadi anak tidak tahu diri kalau sampai melakukan hal itu."


"Terkadang cinta itu membuat kita bodoh, tapi cinta juga membuat kita berpikir lebih dewasa. Terimakasih Goz atas pengertiannya." Duncan menepuk bahu Gozali.


"Jika Abang berani menyakiti dik Rhea, maka aku akan mengambilnya."


"Jika Abang berani menyakiti Rey, selain Abang bakalan tinggal nama, Abang juga nggak rela kamu mengambilnya."


"Dasar posesif!" umpat Gozali sambil tertawa.


"Hei, Abang sudah posesif sama Rey sejak dia masih di awang-awang" kekeh Duncan.


"Kita berbaikan bang?"

__ADS_1


"Absolutely!"


***


Abi dan Antasena melihat kedua orang di pinggir kolam renang saling bercakap-cakap hangat hanya bisa tersenyum. Abi bangga keduanya bisa menyingkirkan ego masing-masing dan saling menghormati dan menyayangi layaknya seorang saudara.


"Kayak kita ya mas dulu" kekeh Antasena menikmati teh wasgitel favoritnya.



Kedua hot Daddy itu berada di sofa ruang tengah yang pemandangannya langsung menuju kolam renang.


"Aku tahu dulu kamu ngincer Adara tapi memang Adara untuk mas" balas Abi sambil tertawa.


"Jodoh itu datangnya juga kita nggak tahu gimana kan?" sahut Antasena sembari menikmati jadah goreng di meja makan.


"Iya. Allah itu selalu bekerja dengan misterius. Lho Ta, Maira kemana? Kok nggak ikut kalian?" Abi baru sadar kalau adik sepupunya datang cuma berdua dengan Naina.


"Maira ada workshop di kampusnya padahal dia sudah aku bilang konsentrasi di skripsinya malah asyik kegiatan kampus."


"Maira usia berapa ya Ta?"


"Tahun ini, 19 tahun. Aku kagum sama anakku sendiri, cerdasnya bukan main, sudah mau skripsi saja."


"Dia cerdas itu bukan darimu Ta karena mas tahu gimana. Itu karena gen nya Naina yang bagus" kekeh Abi. Setelah melihat anak angkat dan calon menantunya berbaikan, beban di hatinya menjadi hilang bahkan menjadi kelegaan luar biasa sehingga dia bebas seperti sediakala untuk menggoda keluarganya.


"Yaelah mas! Durjana sekali sama adikmu ini! Janganlah nistain aku!" omel Antasena kesal.


"Meskipun kita sudah mulai tua, tapi menistakan adik itu membuat awet muda lho."


"Iya, mas Abi bahagia nistain aku tapi akunya yang nyesek ini!"


Abi tertawa.


Sunday gak jadi Bloody Sunday. Alhamdulillah.


***


Yuhuuu Up maning Yaaaa


Thank you for reading and support


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2