My Rey

My Rey
Hamil atau Nggak?


__ADS_3

Hari ulang tahun Rhea dirayakan oleh kedua orangtuanya dan kedua mertuanya dengan makan malam di mansion Blair. Rhea akhirnya mengurungkan niatnya untuk melakukan latihan menembak setelah mendapatkan pelototan dari Abi dan Dara.


"Princess, cukup kaum pria saja yang memegang senjata api, kamu nggak usah!" ucap Abi yang merinding melihat putri cantiknya memegang pistol.


"Tapi mama Yuna boleh dad bahkan papa Edward kasih kado ulang tahun pistol Glock warna rose pink" ucap Rhea dengan wajah memelas.


Abi langsung menatap tajam ke arah besannya yang malah asyik membaca koran pagi.


"Besan durjana benar deh kamu Ed!" desis Abi kesal.


"Rhea, kalau mama Yuna itu sejak usia enam tahun sudah belajar menembak dan memanah jadi sudah biasa. Kalau kamu kan belum pernah, lagi pula bahu kamu juga masih harus dijaga dulu kan?" bujuk Yuna.


Rhea menatap Duncan meminta pembelaan dari suaminya tapi pria itu hanya melengos. Awas ya kamu bang!


"Rhea, denger mommy. Jari jarimu itu lebih cantik untuk memainkan tuts piano, bukan pelatuk pistol" rayu Dara.


"Baiklah, mom." Rhea memang tidak bisa membantah ucapan mommynya karena paham Dara pasti tahu yang terbaik.


Duncan bisa bernafas lega. Bisa kacau kalau Rey mengenal senjata api. Mata birunya menatap mata Dara seolah mengucapkan terimakasih yang dijawab senyuman tipis mama mertuanya.


Dan acara ulang tahun Rhea pun hanya diisi dengan makan malam, berjalan-jalan keliling London dan nonton Opera di Royal Opera London.


***


Pagi ini Rhea dan Duncan sampai di bandara JFK New York. Setelah dua Minggu di London, waktunya Duncan kembali ke pekerjaannya. Keduanya segera menuju mansion Blair di New York dengan pengawalan para bodyguard yang berjumlah empat orang.


Menikah dengan pria dari keluarga yang terkenal memang memiliki resiko dan Rhea tahu itu. Sejak dia pindah ke New York kuliah dulu, dia juga tahu selalu ada pengawal bayangan yang mengikuti dirinya beraktifitas. Hanya saja disaat dia mengalami kecelakaan, dia memang meminta hanya dengan Sam Denver karena hanya sebentar.


Kini sekembalinya ke New York, Rhea belum memikirkan untuk bekerja kembali di Broadway dan dia tahu pasti sudah ada penggantinya. Rhea tahu kehidupan seniman di Broadway sangatlah keras. Skill mu menurun, langsung ada penggantimu yang lebih baik.


Saat ini yang ingin Rhea nikmati adalah kehidupan berumahtangga bersama dengan pria yang sudah mencintainya sejak masih dalam perut, berharap akan ada Duncan junior atau Rhea junior. Rhea sudah mengutarakan pada Duncan kalau dirinya tidak akan menunda memiliki anak dan tentu saja Duncan bahagia mendengarnya.


***


"Good morning" bisik Rhea di telinga Duncan yang tidur tengkurap. "Bang, ayo bangun. Nanti terlambat masuk kerja lho."


Rhea berbaring di sebelah suaminya sambil menatap wajah tampan miliknya. Jari lentiknya mengusap rambut pirang Duncan.


"Good morning, my Rey" bisik Duncan parau khas masih ngantuk. Mata biru itu pun akhirnya terbuka dan Rhea pun menahan nafas menatapnya. Entah sudah berapa lama mereka menikah, namun Rhea selalu berdebar setiap ditatap oleh Duncan seperti itu.



"Masyaallah" bisik Rhea yang terdengar oleh Duncan.


"Kenapa? Abang cakep ya?" goda Duncan. "Baru sadar Bu? Selama ini kemana saja?"

__ADS_1


Rhea tertawa. "Abang lama-lama kayak kak Eiji."


"Ohya ngomong-ngomong anak slengean itu Minggu depan menikah ya dengan Ayame" ucap Duncan sambil membalikkan tubuhnya hingga terlentang.


"Nggak kerasa Rhea sudah sebulan di New York" ucap istrinya.


"Kamu bosan setiap Abang tinggal kerja?" Duncan memposisikan tubuhnya miring dengan kepalanya disangga oleh tangan kekarnya.


"Nggak lah. Rhea menikmati kok. Ada piano, ada pelayan yang bisa Rhea ajak masak mencoba berbagai resep."


Tangan kanan Duncan terulur menuju perut Rhea yang rata. "Si jabang bayi belum tumbuh ya?"


Rhea mendelik. "Bang, baru tiga bulan merit. Rhea baru dapat tamu bulan lalu."


Duncan mengerenyitkan alisnya. Rasanya aku belum pernah absen lebih seminggu kecuali awal nikah tapi setelah di London, hampir tiap hari kami melakukan.


"Yakin kamu dapat tamu bulanannya bulan lalu?" tanya Duncan.


"Iya. Yakin" jawab Rhea tegas. "Kan jadwal Rhea dapat Minggu depan."


Duncan hanya tersenyum. Semoga perhitungan ku salah.


"Ya udah, Abang mandi dulu soalnya mau menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kita ke Tokyo."


Duncan mencium pipi Rhea dan sejurus kemudian dia mengangkat tubuh langsing istrinya yang memekik kaget.


"Mandi bareng lah!"


"Tapi aku sudah mandi baaaannnnggg" rengek Rhea.


***


Duncan membuka kalender digitalnya dan mulai berhitung. Dia memberikan tanda kapan Rhea mendapatkan tamu bulanannya.


"Pertama kali dapat tepat sehari sesudah ijab, lalu setelah Kyoto, dia dapat sekitar lima hari. Setelah itu, kami nyaris berbuat setiap hari" gumam Duncan yang selalu memberikan tanda di kalendernya.


Dalam hatinya dia bersorak karena kemungkinan Rhea hamil besar tapi dia berpikir lagi kalau memang istrinya hamil muda, berarti tidak boleh pergi dengan perjalanan jauh seperti ke Tokyo.


"Kalau nggak datang ke Tokyo bisa manyun Rey" gumam Duncan lagi.


"Pokoknya ke dokter dulu deh!"


Benar-benar hari ini Duncan pusing antara urus pekerjaan dengan memikirkan kemungkinan Rhea hamil.


George masuk ke dalam ruangan bossnya yang masih galau mode on.

__ADS_1


"Boss? Kenapa?" tanya asistennya itu.


"Ah elu mah masih jomblo mana ngerti soal beginian yaaa" gumam Duncan lagi masih nggak jelas.


"Astaga Boss! Kalau nistain mbok jangan nanggung. Eh?"


Duncan melirik. "Duduk George, aku mau telpon seseorang dulu."


"Boss, jangan telpon yang nggak-nggak ya" ucap George asal.


Mata biru Duncan menatap tajam asistennya ketika dia melakukan panggilan telepon.


"Assalamualaikum, Moru."


"Wa'alaikum salam, D. Ada apa?" tanya Mamoru Al Jordan.


"Bro, kamu ada rekomendasi dokter obgyn bagus di New York?" George mendelik. Nona Rhea hamil?


"Apa Rhea hamil D? Sama siapa?" kekeh Mamoru.


"Brengsek lu! Sama gue lah! Secara gue kan lakinya!" umpat Duncan kesal.


"Iyain ajah deh. Memang Rhea sudah terlambat periodnya?"


"Aku selalu menghitung Moru dan sebulan ini aku nyaris jarang absen dengan Rey" jawab Duncan apa adanya.


"Oh my God" gelak Mamoru.


"Kamu akan merasakannya dengan Ingrid kalau kamu sudah menikah besok M!" gerutu Duncan sebal.


"Aku ada dokter obgyn kakak kelasku dulu, namanya dokter Savitri. Dia dokter asal Indonesia, orang Padang yang menikah sama dokter Thomas orang Amerika. Aku kasih nomor kontaknya, kamu bisa janjian sama dia."


"Thanks M" ucap Duncan.


"Anytime, D. Semoga kabar baik ya, aku tambah keponakan lagi."


"Aamiin."


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2