My Rey

My Rey
Back to New York


__ADS_3

Duncan dan Rhea akhirnya memutuskan untuk pulang ke New York setelah mendapatkan kabar dari Abi dan Dara bahwa Gozali sudah membaik membuat keduanya pun bernafas lega.


Ghani akhirnya mengetahui kejadian yang menimpa sahabat sekaligus saudara angkatnya mengatakan pada Duncan akan mencarinya dengan database di FBI.


"Don't worry D, akan aku carikan informasi dari Quantico tentang siapa yang melakukan pembunuhan itu" ucap Ghani setelah mengetahui kejadian itu. "Jadi yang diincar itu si politisi tapi Gozali apes disana."


"Kira-kira begitulah G" jawab Duncan. Semenjak Duncan menikah dengan Rhea, Ghani mengubah panggilannya karena dia adalah kakak istri Duncan.


"Meskipun tetap saja usaha pembunuhan ke Gozali mereka itu meskipun konteksnya pembelaan diri."


"Mereka sudah menyentuh bagian keluarga Blair dan itu tidak bisa dimaklumi, G!" tekan Duncan.


"Sabar, D. Rhea lagi hamil, tolong kamu ingat itu. Aku tidak mau adikku kenapa-kenapa karena kamu terluka" jawab Ghani. "Kita tetap menyelediki secara diam-diam dan tetap waspada jika ada pergerakan."


"Oke. Kamu selidiki dari FBI sedangkan aku dan Joshua tetap menyelidiki dari sini dengan cara kita."


"Just be careful, D. Jaga adikku."


"She's my priority, G. Don't worry."


***


Ghani tercenung di meja tempatnya bekerja. Otak cerdasnya berpikir keras siapa orang yang berani melakukan pembunuhan dengan dingin di depan mata Gozali.


Gila! Dia benar-benar punya nyali!


Seberani-beraninya Ghani, dia tidak akan melakukan hal seperti itu di negara orang.


Suara notifikasi di ponselnya berbunyi.


Jangan lupa makan. - Mom


Ghani tersenyum tipis melihat isi dari notifikasi itu.


Andaikan itu yang mengirimkan pesan dirimu, Al, aku akan sangat bahagia. Tapi kamu sudah memutuskan dan aku juga sudah memutuskan. Memang kita bukan jodoh, Alexandra Cabbot.


Ghani awalnya ingin segera menikahi Alexandra namun mengingat bekerja di FBI lebih ketat dan bisa lembur melebihi di NYPD, membuat Ghani mengurungkan niatnya.


Buat apa menikah tapi aku sibuk terus dan tidak bisa menghabiskan waktu bersama Al dan membuat hubungan lebih buruk. Kami berdua sama-sama sibuk.


Ghani menghela nafas panjang. Sekarang dia harus berkonsentrasi dengan kasus yang sedang dihadapinya ditambah penyelidikan pembunuhan yang memakan korban saudara angkatnya. Semangat G! Bahkan Sherlock Holmes pun memilih melepas Irene Adler.


Ghani mulai membuka berkas dan mempelajari kasus yang baru saja diserahkan oleh bossnya.


***


Duncan sudah kembali bekerja seperti biasanya dibantu oleh George dan John yang sudah dianggap seperti pengganti ayahnya. John awalnya adalah pengawal kakeknya, lalu menjadi asisten ayahnya. Pria berusia 70 tahun itu masih energik dan tetap bersemangat menghadapi hari.


"Oom J, gimana selama aku tinggal? Ada kabar seperti apa yang aku pinta?" tanya Duncan di kursi kebesarannya di ruang kerjanya.


"Para sahabat di New York memang pernah mendengar Dark Eagle itu sempalan dari klan McCloud hanya saja mereka tidak tahu siapa dibalik Glenn McCloud karena klan McCloud dikenal paling tertutup dibanding klan kita atau para sahabat."

__ADS_1


"Apa jaman grandpa masih berkecimpung, pernah terjadi gesrekan?"


John menggeleng. "Mr McGregor malah berteman baik dengan Mr Samuel McCloud. Mereka sebaya tampaknya."


"Apa Samuel McCloud punya keturunan?"


"Seingatku ada anaknya satu tapi tidak jelas. Samuel menutup rapat-rapat akan keluarganya. Maklum bisnis mereka lebih parah dari bisnis kita waktu itu."


"Semua yang haram-haram?" selidik Duncan.


"Begitulah" sahut John.


Duncan tercenung. Semenjak grandpanya pensiun, semua bisnis haram memang mereka tinggalkan dan melanjutkan bisnis halal dan resmi serta mengembangkan hingga besar seperti saat ini.


"Samuel McCloud masih hidup?"


John menggeleng. "Meninggal dunia akibat serangan jantung tujuh tahun lalu."


"Lalu siapa Glenn McCloud?"


"Adiknya tapi dia sama kejamnya dengan Samuel." John menatap Duncan. "Jangan usik mereka, D jika tidak mau pertumpahan darah."


Duncan hanya mengangguk. Aku hanya ingin tahu siapa yang menembak Gozali. Itu saja!


***


Rhea sedang memainkan piano ketika Steve, pengawal rumah datang menemuinya.


Rhea menghentikan permainannya. "Siapa namanya. Steve?" tanya bumil itu.


"Doctor Alexandra Cabbot. Ini kartu namanya."


Rhea melihat kartu nama itu. "Suruh dia masuk, Steve."


Tak lama Alexandra Cabbot pun masuk mengenakan Coat tebal berwarna putih.


"Ayo mbak, silahkan duduk." Rhea mengambil posisi di sofa panjang sedangkan Alexandra di seberangnya.



"Nice house, Rhea" puji Alexandra sembari mengagumi interior rumah milik Duncan dan Rhea.


"Terimakasih. Ini sih Abang yang desain, dia suka warna black and white." Rhea tersenyum pada Alexandra.



Seorang pelayan membawakan makanan dan minuman bagi keduanya.


"Terimakasih Maria" ucap Rhea.


"Terimakasih" ucap Alexandra.

__ADS_1


"Sama-sama nyonya" jawab Maria seorang wanita Hispanik yang sudah ikut dengan Duncan sejak tiga tahun lalu.


"Ayo mbak, diminum dulu teh nya. Ini teh khas kota Solo tempat mommy ku berasal" ucap Rhea. "Mungkin agak aneh bagi orang New York tapi buat orang Jawa sepertiku ini paling sedap sedunia."


Alexandra tersenyum dan mencoba teh wasgitelnya. Wajahnya langsung berubah. "Ya ampun, ini enak banget, beda sama teh sachet yang biasa aku minum."


"Itu dari beberapa teh yang ada di Solo dijadikan satu plus ada takarannya. Kalau mau, aku bisa membuatkannya buat dibawa pulang. Nanti aku kasih tahu cara pembuatannya."


Alexandra menatap Rhea. "Boleh?"


Rhea tertawa. "Bolehlah! Anggap saja lagi promo minuman khas Solo."


"Kamu baik banget, Rhea. Nggak heran Ghani juga menjadi pria baik."


"Mbak sudah ketemu Daddy? Daddy mah heboh."


Alexandra mengangguk sambil tersenyum. "Mr Giandra baik sekali orangnya bahkan dia yang bilang padaku panggilan kesayangan Ghani di rumah itu G."


"Mbak Alexandra kangen mas Ghani?" tembak Rhea.


Alexandra menatap sendu ke arah Rhea. "Banget!"


Rhea pindah ke tempat Alexandra duduk dan memeluknya. Hormon bumil yang gampang melow sangat mempengaruhi.


"Mas Ghani juga mbak" jawab Rhea.


"Aku yang terlalu gengsi untuk menghubungi G" jawab Alexandra.


"Kalau Mbak memang sayang dan cinta sama mas Ghani, buang gengsi mbak. Kalian berdua tuh benar-benar deh! Sama-sama gengsi!" omel Rhea gemas.


Alexandra tersenyum kecut kena Omelan gadis yang setahun lebih muda darinya tapi sedang mode emak-emak lagi ngomel.


"Asal mbak tahu, mas Ghani akan milih mbak kalau nggak dapat pesan dari mbak seperti itu. Kalau memang mbak mau menunggu, tunggulah mas Ghani. Bang Duncan menungguku seumur hidupku mbak, dia sudah meminta ku sejak aku dalam perut mommy."


Alexandra mendelik. "Benarkah?" Rhea mengangguk.


"Cinta bisa datang secepat komet Halley tapi bisa juga harus menunggu seperti gajah hendak melahirkan. Kalau Mbak Alexandra dan mas Ghani memang bersabar, dua tahun tidak akan terasa lama."


Alexandra menatap Rhea. "Terimakasih atas supportnya, Rhea."


"Mas Ghani bukan tipe orang gampang jatuh cinta tapi sekalinya jatuh cinta, dia akan selalu menjaganya. Jika orang yang dikasihinya membuatnya sakit, dia akan memendamnya sendiri."


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2