
Minggu pagi ini Dara dan Rhea sibuk membuat kebda Eskandarani gara-gara putrinya pengen makan itu lagi setelah kemarin melihat cara pembuatannya di channel masak memasak.
Bahu Rhea sudah mulai membaik tetapi masih belum bisa digunakan sesering mungkin, hanya sesekali agar tidak kaku. Seperti kali ini dia mencoba pelan-pelan mengupas bawang dan memotong-motong.
"Bahumu gimana rasanya sayang?" tanya Dara melihat putrinya tampak santai memotong bawang bombai.
"Nggak papa kok mom. Alhamdulillah udah enakan."
"Alhamdulillah tapi ingat pesan dokter ya, jangan terlalu diforsir." Rhea mengangguk.
"Nyonya, dipanggil tuan" lapor Susi salah satu pelayan disana.
"Baik Susi. Pak Hasan sudah tahu kan resepnya?" tanya Dara kepada chef mansion.
"Sudah nyonya. Kan ada non Rhea yang juga membantu" senyum pak Hasan.
"Saya tinggal dulu."
Dara pun meninggalkan dapur. "Bapak dimana Sus?"
"Di ruang kerjanya nyonya." Dara mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerja Abi.
***
Duncan yang baru saja menyelesaikan gym, terkejut melihat gadisnya malah asyik memotong-motong ati sapi.
"Bahumu nggak papa Rey?" tanya Duncan yang masih penuh peluh dengan handuk di lehernya.
"Alhamdulillah nggak papa kok bang." Rhea memberikan senyum manisnya.
"Jangan terlalu diforsir ya sayang." Rhea mengangguk. "Abang mandi dulu."
Bu Mirna melihat interaksi sepasang kekasih itu dengan perasaan bahagia.
"Non Rhea, ibu bersyukur sekali ingatan non Rhea bisa kembali dan melihat mas Duncan bisa tersenyum lagi."
Rhea tersenyum ke arah Bu Mirna. "Rhea juga bersyukur bisa kembali lagi."
***
Dara terkejut ketika mendengar berita dari Abi bahwa Ghani tertembak, lututnya langsung terasa lemas. Abi pun segera memapah istrinya untuk duduk di sofa panjang.
"Sayang, G hanya terserempet peluru kok" ucap Abi sambil memijat kaki mulus istrinya.
"Hanya? HANYA? Mas, apapun ceritanya Ghani itu kena tembak! Kok kamu tenang-tenang saja sih? Dia itu anak kita mas!" Dara langsung emosi memikirkan keadaan putra kesayangannya. "Suruh dia pulang! Mundur dari NYPD, bekerja di perusahaan mu mas!"
Abi langsung melongo melihat istrinya kembali menjadi macan galak kalau ada yang terjadi pada dirinya ataupun anak-anaknya.
__ADS_1
"Adara, kalau kamu suruh Ghani pulang apa nggak tambah stress tuh anak. Memang sudah resikonya dia memilih pekerjaan seperti itu."
Dara melotot tajam ke Abi. "Jadi kamu mau anakmu pulang di kantong mayat?"
"Astaghfirullah, Adara. Istighfar sayang. Aku tahu kamu emosi tapi jangan sampai tercetus ucapan tidak baik begitu." Abi mengelus pipi istrinya.
"Astaghfirullah Al Adzim." Dara beristighfar berulang-ulang untuk memenangkan hatinya. Ibu mana yang tidak panik ketika mendengar anaknya celaka.
"Sekarang G dimana?" tanya Dara.
"Di rumah sakit bareng sama Raymond yang juga kena luka tembak."
Dara mendelik mendengar partner putranya pun mengalami hal yang sama.
"Sebenarnya mereka tuh ngapain kok bisa kena tembak?"
"Jadi mereka itu ikut operasi gabungan penggrebekan bandar narkoba namun karena salah satu rekan mereka kena tembak, dua anak nekad itu mencoba menolong, malah kena serempet peluru. Ghani kena di bahu, sedangkan Raymond kena di pantat" kekeh Abi membayangkan pasti nggak bisa duduk si Raymond.
Dara mengeplak bahu suaminya. "Mas tuh! Raymond kena tembak kok malah diketawain!"
"Kebayang si Raymond nggak bisa duduk seperti orang ambeien." Abi tergelak.
Dara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
***
"Tapi G nggak papa kan Oom?" tanya Duncan.
Keempatnya sekarang sedang menikmati sarapan kebda Eskandarani buatan Rhea dan Dara.
"Ghani ya Ghani cuma bilang 'Bahuku dah nggak mulus Dad tapi masih mending daripada pantat yang kena' sambil tertawa." Abi terbahak.
Dara hanya manyun. "Ya ampun Rhea, mas mu satu itu kelamaan di New York jadi Gesrek."
"Siapa yang kena tembak di pantat?" tanya Duncan.
"Raymond Ruiz, partnernya G" jawab Abi.
Rhea dan Duncan tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, kasihan banget" ucap Rhea.
***
"Rhea, Maira nggak wa kamu cerita semalam gimana sama bang Gozali?" tanya Dara usai mereka sarapan dan menikmati teh wasgitel di ruang tengah sembari nonton tv.
"Belum tuh mom. Paling masih tidur kecapekan."
__ADS_1
Di rumah sekarang hanya tinggal Dara dan Rhea karena Abi dan Duncan harus ke pelabuhan mengecek kedatangan kendaraan yang baru datang dari London.
"Mom tahu nggak kalau dik Maira itu senang sama bang Gozali lho" lapor Rhea.
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Sejak dik Maira masuk kuliah."
"Wah, tiga tahun dong mengharapkan Gozali" komentar Dara.
"Makanya kemarin aku dorong supaya bang Gozali mau menemani dik Maira sekalian pedekate lah. Menurut mommy gimana kalau bang Gozali sama dik Maira?"
Dara mengusap kepala Rhea. "Biarkan mereka menemukan jalannya. Kalau memang Gozali jodohnya Maira, pasti mereka akan bisa bersatu. Sama seperti kamu dan Duncan meskipun D super ngeyel yakin kamu jodohnya tapi ternyata memang iya. Meskipun kalian sempat mendapatkan cobaan tapi karena sudah diikat dengan benang merah, tetap saja berjodoh."
Rhea meletakkan kepalanya di bahu mommynya.
"Kalau Rhea menikah nanti, mommy dan Daddy sepi dong."
Dara tertawa. "Kalau sepi, mommy pukulin panci biar ramai."
Keduanya tergelak.
"Memang sudah alur dan siklusnya begitu. Anak perempuan pasti akan meninggalkan rumah mengikuti suaminya, imamnya, kepala rumah tangga dan kapten kapal. Biduk rumah tangga itu bagaikan sebuah kapal yang berlayar. Satu saat, laut itu akan tenang, tapi suatu ketika akan badai ombak yang menimpa.
Pesan mommy, kalau kalian ada ombak badai, selesaikan dengan kepala dingin. Misal kamu emosi dengan Duncan, tenangkan dulu hatimu baru kamu bicara baik-baik dengan D. Jangan langsung kamu ribut disaat kalian emosi, pasti akan mental bagaikan dua kubu mangnet yang sama bertemu pasti tolak menolak.
Jangan dikira kehidupan rumah tangga mom dan dad baik-baik saja, nggak sayang. Alhamdulillah selama kami menikah hampir 30 tahun, tidak ada pelakor maupun pebinor karena kami membuat tidak ada celah mereka bisa masuk."
Rhea menatap Dara. "Daddy kan bucinnya setengah mati sama mommy."
"Duncan juga bucin sama kamu lho sayang. Bersyukur kita sangat dicintai oleh pasangan kita, jangan sampai mereka kehilangan rasa cinta itu. Mommy harap, kamu dan Duncan bisa seperti mom dan dad, seperti Tante Yuna dan Oom Edward. Menua bersama, menikmati hidup bersama anak-anak nanti.
Pada perjalanannya akan ada jatuh bangun Rhea, karena hidup berumahtangga itu sekolah setiap hari karena ujiannya selalu ada dan itu tidak kita dapat di bangku sekolah. Bagaimana kita bisa melewatinya, saling berkomunikasi dengan baik pada pasangan, saling terbuka dan jujur apa adanya. Jangan menyimpan masalah karena akan menjadi bom waktu sewaktu-waktu."
Rhea mendengarkan semua nasehat mommynya dan bersyukur dia lahir di keluarga yang sangat harmonis dan terbuka untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.
"Thanks mom, you're the best!" Rhea memeluk Dara erat.
"Sama-sama anak cantiknya mommy."
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️