My Rey

My Rey
Rusuh Day 2


__ADS_3

Sehari sesudah ijab...


Duncan benar-benar merutuk sepupu-sepupu durjananya. Semalaman dia tidak bisa tidur bersama Rhea karena diseret untuk ngobrol dengan sederet pria tampan di rumah Abi. Mereka semua memutuskan tidur di rumah Abi yang luas meskipun harus di ruang tengah asalkan Duncan tidak bisa unboxing Rhea.


"Kalian memang durjana semua!" umpat Duncan di pagi hari yang harus tidur bersama sepupunya di futon yang sudah disiapkan oleh Eiji, Ryoma dan Masayuki.


"Bro, kamu nggak kasihan sama kita-kita yang masih jones. Elu enak-enakan unboxing, yang disini manyun lah!" protes Eiji.


"Brengsek lu pada!" omel Duncan sambil naik tangga ke kamar istrinya. Sehari sebelum ijab, semua barang-barang Duncan memang dipindah ke kamar Rhea.


Ryoma, Eiji, Masayuki, Arga, Mamoru dan Raymond tertawa terbahak-bahak melihat muka pengantin baru itu manyun.


Abi dan Dara yang baru keluar kamar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kerusuhan yang belum berakhir.


"Boys! Mandi dulu sana! Sebentar lagi sarapan" perintah Dara.


"Baik Tante!" ucap mereka kompak.


***


Rhea baru saja selesai mandi ketika melihat suaminya memasang wajah manyun masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


"Abang beneran itu tidur di bawah sama para pria?" tanya Rhea tidak percaya.


"Apa semalam kamu ada yang meluk?" Duncan balik bertanya dan Rhea menggeleng. "So? Berarti Abang di bawah kan sama pria-pria durjana itu!"


Rhea terbahak. "Sabar ya bang."


"Sabar dari Monas, Rey? Abang nunggu 22 tahun tahu!" cebik Duncan.


"Memang harus sabar unboxingnya karena ternyata Rhea dapat tamu bulanan hari ini" ucap istrinya dengan wajah memelas.


"Astagaaaaa Gusti! Benar-benar deh cobaanmu" keluh Duncan. "Abang mandi dulu saja lah!"


"Sudah aku siapkan bang air mandinya" ucap Rhea.


Duncan lalu merengkuh tubuh langsing istrinya dan Melu**mat bibir ranumnya hingga keduanya kehabisan nafas.


"Mood booster" cengir pria bule itu lalu masuk ke kamar mandi.


Rhea hanya mematung sembari mengatur nafasnya.


Ya Allah, baru dicium gitu saja udah begini rasanya. Gimana kalau diunboxing?


***


Rumah Abi dan Dara seperti tempat berkumpulnya para pria-pria tampan paripurna disana. Benar-benar gen keluarga Pratomo memiliki gen bagus untuk fisik dan otak tapi minusnya adalah kegesrekan mereka tetap top.


Para pelayan di rumah Abi pun menjadi ghibah karena kapan lagi rumah mereka dipenuhi oleh pria-pria tampan yang tidak sombong dan selalu menghargai pelayan.


"Mbak Susiiii, minta tolong kopi hitam yaaaa" rengek Eiji.


"Bikin sendiri kenapa sih? Mbak Susi juga sibuk bambaaaaannggg!" ledek Mamoru.

__ADS_1


"Woi, dasar dokter bedah satu ini! Emang elu bikin sendiri kopinya?" balas Eiji.


"Bikin sendiri lah! Tuh alatnya ada!" tunjuk Mamoru.



"Enak buatan mbak Susi! Tubruk man!" eyel Eiji.


"Susah ngomong sama lu!" umpat Mamoru.


"Den Moru, den Eiji udah nggak usah berantem" tegur mbak Susi sambil membawakan kopi tubruk hitam permintaan Eiji.


"Mbak Susi terlalu manjain anak jelek ini!" sahut Javier.


"Biarin! Wek!"


Pak Hasan dan Bu Mirna serta para pelayan sengaja memasak makanan prasmanan agar semua orang bisa mengambil suka-suka.


Abi dan Dara menikmati kerusuhan di rumahnya karena pasti setelah ini akan sepi karena Rhea dan Duncan akan terbang ke Kyoto, Ghani dan Raymond kembali ke New York, sedangkan yang lainnya kembali ke negara masing-masing.


Duncan dan Rhea turun menuju ruang makan yang mendapat ledekan dari para sepupu Duncan yang bilang belum bisa unboxing.


"Astaga, kalian yaaaa" kekeh Rhea yang merasa princess karena dikelilingi para pria tampan minus akhlak.


"Sorry Rhea, kita harus mencegah suamimu itu untuk unboxing karena kita-kita disini masih jones" ucap Ryoma.


"Makanya cari cewek!" ledek Duncan.


"Susah bro yang kayak Rhea atau Rain" keluh Ryoma yang merupakan anak Rey Reeves yang sekarang memilih bekerja di Land Rover.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam" sapa semuanya dari dalam rumah. Tampak Edward dan Yuna datang bersama Valora dan Ayame dan Eiji langsung lebay memeluk tunangannya.


"Aya-aya, aku dimarahi Moru" adunya.


"Berarti kamu memang nakal, Ji!" senyum Ayame.


"Oh Gusti, tunanganku sendiri tidak membela diriku?" Eiji memegang dadanya dramatis.


"Lebaaayy!!!" seru semuanya.


Edward pun duduk di sebelah Abi yang memegang pelipisnya dengan wajah pening.


"Welcome to our rusuh family Bi" kekeh Edward.


"Ya ampun Ed. Mereka benar-benar rusuh!" adu Abi.


***


Raymond dan Ghani sedang berada di halaman belakang menikmati sarapan di sela-sela kerusuhan di dalam rumah.


"Aku tidak menyangka adikmu menikah dengan anggota keluarga beken semua G" kekeh Raymond.

__ADS_1


"Aku sih nggak mikir kesana karena kami lebih sering ketemu Oom Edward dan Oom Stephen. Bahkan pas Oom Mike, Oom Hiro dan Oom Edo main ke rumah, aku masih dalam perut mommy" sahut Ghani. Wajah tampannya mengerut ketika tidak ada pesan di ponselnya.


"Kamu kenapa? Menunggu kabar Alexandra?" tanya Raymond.


Ghani hanya mengedikkan bahunya. "Aku sudah dapat email dari FBI yang menawarkan aku ikut pendidikan di Quantico."


"Kamu akan masuk FBI?" tanya Raymond.


"Diperbantukan oleh NYPD untuk lebih memahami ilmu kriminal. Briscoe memasukkan beberapa nama dan hanya dua yang terpilih, salah satunya aku."


"Berapa lama bro pendidikannya?"


"Setahun dan setahun lagi terjun di FBI jadi dua tahun lah." Ghani menerawang. Kesempatan ini memang bagus untuk karier nya tapi tidak untuk kehidupan pribadinya. Ghani memang sedang melakukan pendekatan dengan dokter Alexandra Cabbot namun tampaknya dokter cantik itu acuh dengannya.


"Apa kamu sudah bilang dengan Alex?" tanya Raymond yang melihat Valora melintas di ruang tengah.


"Sudah dan belum ada tanggapan." Ghani ikut melihat arah mata partnernya. "Mau mendekati Valora, Ray?"


"Dia cantik!" ucap Raymond.


"Tapi bar-bar. D cerita padaku kalau gadis itu bermasalah dengan emosinya. Sebelum dikirim ke Jepang, dia sudah mematahkan tangan teman sekolahnya yang hendak melecehkannya, bahkan masuk black list semua sekolah elit di Inggris Raya."


Raymond masih menatap Valora yang sedang tertawa dengan Rhea dan Ayame.


"Aku suka cewek yang punya prinsip."


"Maksudmu, kamu suka cewek yang nggak lemah kan Ray?" kekeh Ghani.


"Sama kan dengan dirimu, G."


Ghani melihat ponselnya dan wajahnya tersenyum tipis.


Dua tahun?


Ghani membalasnya. Iya, dua tahun.


Aku tidak bisa menunggu selama itu G.


Ghani langsung lemas. Damn!


"Bagaimana?" tanya Raymond.


"We're done, Ray."


Raymond menepuk bahu partnernya. "I'm so sorry, G."


Ghani hanya mengangguk.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2