My Rey

My Rey
Menemukan Bukti - Season 2


__ADS_3

Kaia mengecek dalam pesawat dengan teliti dan menemukan sebuah anting milik Oma Yuna yang terjatuh berada di bawah kursi. Gadis itu langsung menangis menemukan anting trinity Cartier yang merupakan hadiah ulang tahun dari Opa Edward. Rhett yang bingung kenapa Kaia menangis hanya bisa memeluk gadis cantiknya.


"Ssshhh... Sudah sayang" bisiknya. "Kamu menemukan apa?"


Kaia masih sesenggukan ketika memperlihatkan anting yang hanya sebelah.



"Ini anting Omaku... Selalu dia pakai kalau pergi dengan opa karena ini hadiah ulang tahun sewaktu Oma ultah yang ke 24 tahun."


Rhett memeluk erat Kaia sembari mencium pucuk kepala gadis itu. "Simpanlah." Kaia mengangguk dalam pelukan Rhett.


"Apa kamu masih mau menyelidiki kabin dan kokpit? Kalau nggak sanggup..."


"Aku sanggup Rhett!" ucap Kaia keras kepala sambil menyimpan anting itu di dalam dompet Louis Vuitton nya yang diambilnya dari tas selempang miliknya.


"Tas mu sinikan. Biar aku yang bawa." Rhett meminta tas Louis Vuitton itu dan setelahnya dengan santainya diselempangkan ke tubuhnya. "Jangan menangis Z. Oma Yuna pasti senang kamu yang menemukan antingnya" ucap Rhett sambil menghapus air mata Kaia dengan lembut.


Kaia terpesona dengan sikap Rhett yang benar-benar gentleman namun berusaha menepisnya, lalu berbalik untuk meneliti lagi.


"Panel masker oksigen nggak turun otomatis" gumam Kaia yang kemudian mencari kerusakan lainnya. Setelah dirasa bagian kabin sudah semua, Kaia menuju kokpit.


"Sayang mesinnya terbakar dan sudah tidak bisa menyala. Duh gemaaaasss! Rasanya ingin mencabut mesin di kokpit ini!" Kaia menatap kokpit yang sudah rusak di beberapa tempat.


Rhett hanya menggelengkan kepalanya. "Nggak semudah itu Z."


"Berharap kan boleh Rhett" ucap Kaia sambil manyun.


Cup!


Rhett memberanikan diri mengecup bibir manyun itu yang membuat Kaia melotot.


"Apa yang..." suara Kaia menghilang ketika Rhett menciumnya bahkan Melu*mat bibir nya yang bewarna peach. Tangan Rhett memeluk tubuh langsing itu dan tangan kirinya kini menahan kepala Kaia agar tidak melepaskan ciumannya.


Rhett melepaskan ciumannya dengan masih memeluk Kaia. "Ya Tuhan, Z! Kalau tahu rasa bibirmu sangat manis..."


Kaia mengerjap-kerjapkan matanya. Apa tadi? Rhett menciumku? Oh my God! He's a good kisser. Bangun Kai! Tendang dia, pukul dia! Ayo Kai bangun! Jangan malah bengong! Kaia masih tidak bisa bereaksi.


"Z... ?" tanya Rhett memandang Kaia dengan mesra. "Are you okay?"


Kaia memandang Rhett. "Apa tadi itu Rhett?" Ya ampun bener kata Aidan. Aku zonk soal cinta-cintaan!


"Tadi? Tadi itu sesuatu yang sangat indah, Z" senyum Rhett yang sekarang menempelkan dahinya ke dahi Kaia. "I love you Z."


"Hah?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kaia.


Rhett tertawa kecil. "Ya ampun Z! Kamu benar-benar menggemaskan!"


"Tunggu! Itu apa?" Kaia berusaha melepaskan pelukan Rhett. Matanya menatap ke sebuah panel kayu yang berada di belakang Rhett.


"Apa Z?" tanya Rhett sambil melepaskan pelukannya meskipun hatinya masih belum rela.

__ADS_1


Kaia mengambil swiss army yang ada di dalam tasnya yang sekarang dibawa Rhett lalu mencongkel sebuah kotak yang ada di dekat pintu masuk kabin. Ketika berhasil membukanya, gadis itu menjerit senang.


"Yes! Aku menemukannya! Levi! Ada pengacau pesawat yang disimpan di dalam kotak milik awak kabin" Gadis itu membawa ponsel dari sana untuk ditunjukkan kepada Levi.


Rhett melongo. Kenapa tidak kepikiran sampai kesana. Gadis itu memang nggak peka soal asmara tapi soal ketelitian nomor satu.


Levi, Gary dan James melongo melihat Kaia membawa sebuah ponsel.


"Kamu dapat dari mana?" tanya Levi.



"Kalian tahu kan kalau di pintu masuk Gulfstream ada sebuah kotak kecil yang biasanya tertutup rapat dan hanya bisa dibuka dengan pisau? Aku tadi menemukan posisi kurang rapat biarpun beberapa milimeter. Inilah sumber masalahnya!" Kaia tersenyum senang.


"Ponsel ini sudah mati lama. Bagaimana kalau kita ke rumah Oom Abian sekalian memeriksa hasil kalkulasi aku dan Gary." Levi menatap ponsel yang ditemukan oleh Kaia.


"Kalian mau kemana?" tanya Rhett yang datang menyusul.


"Ke rumah Oom Abian" jawab Levi. "Dia sepupu papa-papa kami dan seorang hacker."


"Dimana dia tinggal?" tanya Rhett.


"Boston!" seru Kaia dan Levi bersamaan.


***


Abian menyambut para keponakannya dengan sumringah. Pria berkacamata dan bertattoo itu memang memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah istrinya Titania meninggal tiga tahun lalu. Sekarang Abian tinggal bersama dengan putranya, Bryan, yang berumur 15 tahun.


"Halo Kai, Levi!" ucapnya sambil memeluk keduanya hangat. Bryan yang ikut keluar pun menyambut kedua kakaknya dengan hangat.



"Ya ampun Bry, tambah ganteng ajah!" puji Kaia sambil memeluk Bryan.


"Iya dong, masa Bry nggak boleh seganteng papa" kekehnya. "Kak Levi, kok kakak masih tinggi sih?"


"Eh bocil, elunya aja yang belom sunat!" balas Levi asal.


"Eh udah ya! Liat aja nanti Bry nyalip kak Levi!"


"Ayo masuk, nggak usah berantem. Halo aku Abian, Oomnya Kaia dan Levi" sapa Abian sambil mengulurkan tangan kepada Rhett yang disambut pria itu.


"Rhett O'Grady." Abian terkejut.


"Cucu Paman Patrick? Wah, senang bertemu denganmu Rhett."


"Perkenalkan ini asistenku James dan itu Gary, perwakilan dari Gulfstream yang sudah hampir empat tahun."


Abian mengangguk. "Mari silahkan masuk."


Kaia dan Levi sudah berada di dalam sambil bercanda dengan Bryan. Seorang pelayan sudah menyiapkan minuman untuk para tamunya.

__ADS_1



"Maafkan jika rumah Oom nuansanya maskulin" kekeh Abian.


"Memang istri Oom kemana?" tanya Rhett.


"Meninggal dunia tiga tahun lalu terkena leukemia" jawab Abian sendu.


"I'm so sorry" ucap Rhett tulus.


"It's okay Rhett." Abian menatap putranya. "Bry, sudah pesan pizza?"


"Sudah pa. Paling sebentar lagi datang."


"Kalian semua menginap sini ya?" ucap Abian. "Agar bisa bekerja dengan optimal nanti malam."


"No problemo" ucap Levi. "Aku kan anak Pramuka yang selalu siap dengan semua situasi mendadak." Pria tampan itu menunjukkan duffle bag Balenciaga nya.


"Haaaiissshhhh dasar Levi" kekeh Abian. "Yuk, Oom tunjukkan kamar-kamar kalian."


***


Kaia menatap Bryan yang sedang bermain game di laptop nya. "Bry, sekolah gimana?"


"Lulus dong! Besok musim panas aku masuk MIT" cengir Bryan.


"Wah jadi adik kelas Levi dong! Ambil jurusan apa?"


"Ilmu komputer lah! Nggak jauh-jauh dari ajaran papa" kekeh Bryan. "Aku kan bakalan mengambil alih perusahaan papa dan Oom Yuki suatu saat nanti."


"Kalau Tante Tania dan Opa Bryan masih ada, pasti bangga sama kamu Bry."


Bryan memeluk Kaia. "Aku sering kangen mama, mbak tapi nggak berani bilang papa. Nanti papa sedih."


"Tante Tania dan Opa Bryan kamu kirim doa setiap selesai ibadah."


"Selalu mbak."


Kaia membalas pelukan Bryan, adik kesayangannya.


"Nggak usah lama-lama pelukannya."


Kaia dan Bryan terkejut.


"Rhett?"


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2