
Duncan dan Rhea kini berada di rumah sakit Bellevue, tempat dulu Rhea dirawat pasca kecelakaan. Duncan sudah menghubungi dokter Savitri, rekan kerja Mamoru untuk memeriksakan kondisi Rhea yang dia harapkan sekarang berbadan dua.
"Kok kita ke dokter obgyn, bang?" tanya Rhea ketika keduanya menunggu di ruang tunggu.
"Abang cuma mau memastikan kamu hamil atau nggak soalnya kalau hamil terus kamu nggak tahu lalu kita berangkat ke Tokyo, ada apa-apa, Abang nggak bisa memaafkan diri Abang, Rey" jawab Duncan.
Mata indah Rhea membola. "Abang sampai segitunya?"
"Abang ingin kita punya banyak anak, Rey. Abang anak tunggal karena mommy termasuk susah hamil setelah melahirkan Abang. Pengen rumah ramai dengan anak-anak seperti kalau kita kumpul dengan para sepupuku. Mau tahu alasan Abang setiap libur natal pasti pulang ke Jakarta? Selain bisa ketemu kamu, Abang nggak sendirian di rumah. Di Jakarta bisa ketemu mama Dara, Ghani, Gozilla..."
"Bang Gozali" ralat Rhea sambil cekikikan.
"Iya, Gozali, papa Abi biarpun julid tiap hari tapi Abang nggak kesepian seperti di London. Kalau musim panas, Abang mengambil kelas musim panas agar cepat selesai sekolahnya."
"Jadi Abang ini mengajak Rhea untuk mengecek apa sudah ada junior kita disini?"
Duncan mengangguk. "Dokter Savitri orang Padang, Rey, temannya Mamoru. Abang rasa lebih nyaman jika bisa bertemu dengan orang sebangsa setanah air."
Rhea hanya memeluk lengan kekar suaminya. "Terimakasih Abang." Duncan mencium pucuk kepala istrinya.
"Abang sayang dan cinta banget sama kamu Rey dan Abang tidak mau terjadi apapun padamu" bisik Duncan. Rhea mengangguk.
"Mrs Duncan Blair" panggil seorang perawat.
Duncan dan Rhea pun berdiri dan berjalan masuk ke ruang praktek dokter Savitri.
"Halo. Kamu pasti sepupunya Mamoru ya" sapa seorang wanita berusia 30 tahunan mengenakan hijab. Wajahnya khas wanita Indonesia.
"Iya, saya Duncan dan ini istri saya Rhea" jawab Duncan.
"Ayo silahkan duduk. Kita pakai bahasa Indonesia saja ya? Aku capek bahasa Inggris" senyum dokter Savitri.
Rhea tersenyum. "Kangen bahasa gaul ya dok."
"Ho oh!" jawab dokter Savitri yang membuat kedua wanita itu tertawa.
"Baik mbak Rhea, aku manggil gitu saja ya. Gimana nih? Mau program hamil atau malahan sudah hamil? Kata Moru, sepupunya satu ini sampai menghitung kapan kalian absen" cengir dokter Savitri yang membuat Rhea mendelik ke arah suaminya.
"Ya Allah Abang! Segitunya dihitung?"
"Kan aku pengen segera punya anak, sayang" Duncan menatap Rhea dengan wajah tidak bersalah. "Moru kok ember banget denganmu dok?"
Dokter Savitri tertawa. "Aku dan Moru seperti kakak adik karena Moru bilang punya sepupu yang namanya sama denganku namun dia lebih memilih menjadi guru di Solo"
"Iya, Savitri kami adik mas Panji Pratomo dan dia lebih suka bekerja menjadi guru SMA dibanding ikut di perusahaan keluarga" jawab Duncan.
"Waktu kita menikah, Savitri nggak datang ya bang?" tanya Rhea.
"Savitri kan lagi sibuk urus ujian semester sayang, jadi nggak bisa cuti."
"Baik mbak Rhea, misal nih kalau kita USG dan ada debay di dalam, apa yang mbak Rhea dan mas Duncan khawatirkan?" tanya dokter Savitri.
__ADS_1
"Lusa kami itu jadwal terbang ke Tokyo, karena sepupu kami hendak menikah. Kalau kami tidak bisa datang, mereka pasti akan kecewa."
"Begitu. Yuk kita periksa" ajak dokter Savitri kepada Rhea untuk tiduran di tempat pemeriksaan.
Dokter Savitri dibantu oleh seorang suster lalu membuka perut mulus Rhea yang bewarna putih dan memberikan gel disana.
Pelan dokter Savitri menggerakkan alat transduser USG di atas perut Rhea dan Duncan pun dengan serius mengamati layar monitor di dekat dokter cantik itu.
"Well mbak Rhea, selamat ya. Ada satu titik di dinding rahim mbak" senyum dokter Savitri.
Duncan dan Rhea melongo.
"Maksudnya Rey hamil dok?" tanya Duncan.
"Iyes usianya lima Minggu dan semuanya sehat. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah."
"Lho mas Duncan muslim?" tanya dokter Savitri kaget.
"Iya dok, Alhamdulillah saya muslim" cengir Duncan.
"Astaghfirullah, saya kira bukan" senyum dokter Savitri. "Tapi memang keluarga Moru kan muslim semua tapi mas Duncan bule banget jadi aku kira nggak. Maaf ya mas."
"Nggak papa kok dok. Santai saja." Duncan membantu Rhea turun dari tempat periksa.
"Kandungan Rey gimana dok?" tanya Duncan ketika keduanya sudah duduk di depan meja dokter Savitri.
"Iya dok, pakai pesawat pribadi."
"It's okay kok semuanya. Saya kasih vitamin dan penguat kandungan saja. Pola makan dijaga, jangan terlalu capek. Oh sebelum bertanya apa boleh berhubungan suami-istri, boleh tapi jangan tiap hari. Seminggu tiga kali lah dan pelan ya mas. Ini kan masih tri semester pertama" senyum dokter Savitri yang sukses membuat kedua suami istri di hadapannya memerah.
Duncan dan Rhea masih berkonsultasi dengan dokter Savitri dan setelahnya berpamitan.
***
Duncan tak henti-hentinya mencium perut rata Rhea begitu keluar dari ruang praktek yang membuat istrinya risih.
"Abang, malu ah!" bisiknya antara bahagia dan malu.
"Yuk jalan-jalan. Abang pengen jalan-jalan santai denganmu" ajak Duncan.
"Ayo tapi jangan bikin aku capek-capek ya."
Ketika mereka sedang berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, Rhea tidak sengaja melihat dokter Alexandra Cabbot.
"Bang, itu Alexandra bukan?" tanyanya sambil menunjuk seorang gadis cantik yang sedang menunggu di resepsionis. Duncan pun menoleh.
"Yuk kita sapa" ajak Duncan yang tahu Rhea sangat penasaran dengan gadis yang disukai kakaknya.
"Selamat pagi dokter Alexandra" sapa Duncan.
__ADS_1
Alexandra mendongak. "Oh Mr Blair" sapanya. "Kamu adiknya Ghani ya?" senyum Alexandra ke arah Rhea.
"Iya, aku Rhea" ucapnya sambil mengulurkan tangannya yang disambut oleh Alexandra dengan hangat.
"I'm so glad you're okay. Ghani sampai kayak orang gila tahu kamu kecelakaan."
"Nggak hanya mas Ghani, bang Duncan juga" senyum Rhea ke arah suaminya. Alexandra menatap interaksi keduanya dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan.
"Mbak Alexandra nggak pernah ketemu mas Ghani?" tanya Rhea. "Maaf kalau aku manggil dengan sebutan mbak karena aku manggil mas ke mas Ghani."
"Nggak papa, Rhea. Aku sudah lama nggak komunikasi Ghani semenjak dia pindah ke Quantico." Alexandra menatap Rhea sendu.
"Oh. Aku juga sih, kayaknya mas Ghani memang sibuk disana" ucap Rhea.
"Kalian kesini dalam rangka apa? Check ulang bahunya kah?"
"Nggak mbak, aku dan bang Duncan memeriksakan kandungan ku. Alhamdulillah kami diberikan kepercayaan memiliki anak" senyum Rhea bahagia.
"Wah syukurlah!" Alexandra memeluk Rhea spontan dengan hangat. "Selamat ya! Aku ikut senang mendengarnya."
"Terimakasih mbak. Ohya boleh kita tukaran nomor ponsel?" tanya Rhea.
"Sure of course!"
Rhea dan Alexandra mengobrol sebentar lalu berpisah karena Alexandra harus menemui seseorang disana.
"Aku rasa mbak Alexandra masih ada rasa dengan mas Ghani" ucap Rhea ketika keduanya berada di mobil.
"Aku rasa iya, Rey. Bagaimana matanya selalu sendu jika membicarakan G. Ada rindu disana yang dia tidak bisa ungkapkan meskipun mereka lebih mirip Tom and Jerry kalau ketemu."
Duncan menghentikan mobilnya di sebuah pinggiran tebing.
"Ayo turun" ajaknya.
"Kita menikmati sunset disini" ucapnya sambil mendekap Rhea di pinggir pagar kayu.
Duncan tak henti-hentinya mencium kepala istrinya.
"Terimakasih sayang. Ada Duncan junior di dalam rahimmu. Love you forever my Rey."
Rhea semakin memeluk tangan suaminya. "Love you forever bang D."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️