
Gozali lalu mendatangi Eiji dan Maira yang sedang berhadapan dan tanpa sadar menarik Maira untuk turun dari panggung.
"Abang! Kok main tarik aja sih!" jerit Maira kaget.
"Goz! Jangan kasar-kasar woi!" teriak Eiji sebal melihat Gozali asal main tarik tangan gadis itu.
Namun yang diteriaki seolah menulikan telinganya dan tetap menarik Maira keluar gedung. Eiji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Umpan lambung udah dapat tinggal satu lagi yang belum.
Eiji melihat ke arah balik panggung, tampak Ayame menatapnya sedih dan berbalik ke dalam. Umpan lambung kedua pun sudah kena.
***
"Bang! Bang Gozali! Abaaaannnggg!" teriak Maira sembari menyentakkan tangannya.
Gozali kemudian berbalik melihat pegangannya disentak oleh Maira.
"Abang tuh kenapa sih? Main tarik-tarik aja! Sakit tahu tangan Mai!" omel gadis itu sambil cemberut mengusap-usap pergelangan tangannya yang mulai memerah apalagi kulitnya yang putih, membuat semakin tampak.
Gozali merasa bersalah melihat pergelangan tangan Maira memerah.
"Maaf. Maafkan Abang, Mai" Gozali mengusap pergelangan tangan itu. "Ayo ke mobil Abang, ada salep kok!"
"Nggak usah bang! Mau capek! Mai mau pulang saja!" Maira pun berjalan ke mini Cooper nya.
"Mai! Maira!" panggil Gozali namun Maira mengacuhkannya. "Humaira Harsaya!"
Maira menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Apa sih bang? Mai capek! Mai nggak ngerasa salah apa-apa, main ditarik saja sama Abang! Kenapa sih bang?"
Gozali terdiam memandang Maira tanpa mengatakan apa-apa.
"Abang nggak mau menjawab? Ya sudah! Abang bisa jawab kalau sudah berani!" Maira lalu masuk ke dalam mini Cooper nya dan melajukannya meninggalkan Gozali yang masih terpaku disana.
"Abang ga ikhlas kamu dicium sama Eiji, Mai" ucap Gozali lirih.
***
Eiji menyelesaikan latihannya dengan para murid Yamaha yang akan mendampinginya besok. Tanpa mereka sadari, sudah masuk pukul enam sore.
"Ya, latihan hari ini selesai. Besok kita sudah mulai pertujukan dan saya harap kita bisa menampilkan seperti latihan terakhir tadi." Eiji memandang masing-masing murid itu.
"Kita pulang sekarang dan istirahat yang cukup karena besok hari yang sangat penting." Para guru kemudian membimbing para murid itu untuk bersiap pulang dan beberapa orang tua sudah pada datang menjemput.
Eiji masih berbincang dengan beberapa kru dan panitia disana lalu memutuskan masuk ke ruang ganti. Sembari berjalan menuju ruang ganti, Eiji membuka ponselnya dan melihat notifikasi dari akun Ig story Ayame.
Lelahnya... Mengharapkan yang tidak bisa diharapkan.
Eiji hanya tersenyum smirk. Lalu dia membuka pintu ruang ganti dan tampak Ayame sedang bersandar di sofa, wajahnya tampak lelah.
__ADS_1
"Kamu nggak pulang?" tanya Eiji.
"Nunggu kamu lah!" jawab Ayame.
"Aku mau sholat Maghrib. Kamu udah?" Ayame menggeleng. "Ayo, sholat bareng. Aku yang jadi imam."
Ayame melongo, hatinya berdebar-debar mendengar kalimat 'aku yang jadi imam'. Semoga menjadi kenyataan ya Allah.
"Malah bengong! Ayo, nanti segera habis waktunya." Eiji kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Ayame segera menyiapkan semua perlengkapan sholat. Setelah Eiji keluar dari kamar mandi gantian Ayame yang masuk untuk berwudhu. Eiji menunggu Ayame sembari menyandarkan kepalanya di tangannya yang diletakkan di meja tempat berias besok.
"Astaghfirullah Al adzim. Kamu ngagetin saja" seru Ayame yang kaget dilihatin oleh Eiji.
"Udah? Ayo siap-siap sana pakai mukena." Eiji pun turun dari kursinya dan bersiap menjadi imam. Bismillahirrahmanirrahim, semoga ini akan menjadi seterusnya, menjadi imam mu Aya.
Keduanya pun melaksanakan sholat Maghrib bersama. Ayame nyaris mencium tangan Eiji ketika mereka selesai sholat.
"Astaghfirullah Al Adzim. Maaf, kebiasaan sama papa" bisiknya dengan wajah memerah lalu menarik tangannya. Eiji hanya tersenyum.
Sedikit lagi Aya... Sabar ya. Sebentar lagi aku halalkan kamu.
Gozali mengetuk pintu ruang ganti yang terbuka sedikit dan melihat Ayame sedang membereskan semua bawaannya bersama dengan Eiji.
"Sudah Mr Gozali. Mari kita pulang" senyum Ayame.
Gozali hanya mengangguk dan ketiganya berjalan menuju Rubicon Gozali. Eiji memang meminta kepada panitia untuk fleksibel karena dia akan bersama bodyguardnya.
***
Duncan, Abi dan Javier pulang dari perusahaan dengan wajah lelah. Pertemuan alot dengan seorang klien dari Korea Selatan membuat mereka harus adu argumentasi. Berkat kecerdasan Duncan dan Javier, akhirnya klien itu mau menanamkan saham di perusahaan Abi.
"Ya Allah capeknyaaaa" keluh Abi sembari duduk di sofa. Tak lama Dara lalu datang membawakan teh herbal hangat untuk suaminya.
"Capek mas? D? J? Kenapa wajah kalian?" tanya Dara kepada calon menantu dan keponakannya.
"Ketemu klien menyebalkan tapi akhirnya kita yang menang" kekeh Javier.
"Kalian sudah pada sholat Maghrib?" tanya Dara.
"Sudah Tante tadi di kantor bersama-sama Oom Anta, pak Jun dan beberapa pegawai yang masih di kantor." Duncan yang menjawab.
"Ya sudah, kalian semua mandi dulu. Sebentar lagi makan malam siap. Ayo mas, mandi dulu" ajak Dara.
"Mandiin" rengek Abi.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Mas! Emang kamu bayi?" Dara menepuk paha Abi. "Udah ayo ke atas." Abi pun menurut mengikuti istrinya yang berjalan menuju lantai dua.
Duncan dan Javier hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak di rumah, nggak disini, para suami pasti bucin sama istrinya" kekeh Javier.
"Oom Jammie juga sama kah kayak Dad dan Oom Abi?" tanya Duncan.
"Sama saja! Biarpun mama bar-bar begitu tapi sama papa ngopeni banget makanya papa bucin banget." Javier pun melirik ke arah sepupunya. "Bukannya kamu dan Rhea sama saja?" kekehnya.
"Hu um." Wajah Duncan melembut jika membicarakan tunangannya padahal tadi begitu dinginnya saat bertemu klien.
"Udah ah! Aku mau mandi! Gerah!" Javier melepaskan jasnya lalu menuju kamarnya yang berada di bawah. Javier menyapa Rhea yang tampak turun dari lantai dua untuk menuju ke dapur.
"Abang nggak mandi?" tanya Rhea menghampiri Duncan.
"Mandiin?" goda Duncan.
"Astaga! Abaaaannnggg! Belum boleh!" Rhea memukul bahu Duncan sebal.
"Kalau udah halal, boleh kan Abang minta dimandiin kayak Oom Abi ke Tante Dara" Duncan menaik turunkan alisnya.
"Kalau sudah halal, boleh ngapa-ngapain abangku sayang" kekeh Rhea.
"Sip! Abang mandi dulu!" Duncan mencium pipi Rhea lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi.
Rhea pun menuju dapur untuk membantu menyiapkan makan malam bersama Bu Mirna dan Susi. Rhea tidak ada masalah membantu para pelayan karena Dara selalu mendidik anak-anaknya untuk tidak tergantung dengan pelayan karena sebagai bekal mereka untuk mandiri. Gozali dan Ghani bisa masak karena ajaran Dara meskipun masakan yang simpel.
Rhea mendengar suara pintu utama dibuka dan terdengar dua suara cowok disana.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Kak Eiji, bang Goz. Alhamdulillah dah pulang. Bersih-bersih dulu gih, kita siap-siap makan malam" ucap Rhea.
"Iya dik."
"Iya Rhea."
Kedua pria tampan itu lalu masuk kamar masing-masing. Rhea mengernyitkan dahinya.
Kenapa mereka berdua seperti habis bertengkar?
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Meskipun hidung meler dan kepala munyer tetaplah posting tapi mungkin lambrota n kagak crazy up
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️