
Di ruang kerja Abi sudah duduk enam orang pria disana. Abi, Edward, Ghani, Duncan, Antasena dan Stephen berada di sofa bernuansa abu-abu. Hari ini adalah hari kedua setelah acara ijab Duncan dan beberapa anggota keluarga sudah pulang ke negara masing-masing.
Di rumah Abi hanya tinggal Raymond, Gozali, Maira dan Rhea selain Dara dan Yuna. Raymond sendiri sedang berbahagia karena berhasil mendapatkan nomor ponsel Valora.
"G, daddy mengajak kita semua berkumpul karena ada yang ingin kami bicarakan, penting."
Ghani menatap ayahnya. "Soal perusahaan kah Dad?"
Abi mengangguk. Ghani menghela nafas panjang.
"G juga ada yang hendak bicarakan. G dalam waktu dua tahun ke depan akan bergabung dengan FBI di Quantico sebagai utusan dari NYPD."
Kelima pria disana terkejut. "Itu karier yang bagus bro" puji Duncan.
"Iya karierku bagus tapi kehidupan pribadiku berantakan" keluh Ghani.
"Alexandra?" tanya Abi. Ghani mengangguk.
"Dia tidak mau menungguku selama dua tahun."
Duncan menatap sedih ke kakak iparnya. "Why she doesn't want to wait for you?"
"Dunno bro."
"Apakah kamu sekarang sudah berpacaran dengan Alexandra?" tanya Edward.
"Belum. Masih penjajakan cuma aku tidak mau menikah hanya karena aku emosi dan egois. Haaaahhhh, sudahlah! Kalau memang bukan jodoh, mau dipaksakan tetap saja nggak bakalan nyatu." Ghani menatap wajah ayahnya dengan senyum getir.
Abi memegang pundak anaknya. "Kamu masih muda G, masih 25 tahun, masih banyak cewek lain disana."
"Mungkin memang Alex bukan jodohku, Dad." Ghani tersenyum dibuat-buat. "Oke, Dad dan para Oom mau membicarakan apa?"
Abi dan Duncan saling bercerita tentang rencana perusahaan dan Antasena pun mendukung akan keputusan merger sementara selama Ghani masih menolak mengurus perusahaan.
"G nggak masalah perusahaan dipegang Oom Anta dan D kalau dad mau pensiun karena jujur untuk saat ini, G belum ada keinginan untuk terjun ke perusahaan Daddy."
"Are you sure G?" tanya Duncan. "Karena itu perusahaan milikmu dan Rey. Suatu saat kamu memintanya kembali, akan aku kembalikan."
"Yep. Aku masih mencintai pekerjaanku sekarang" ucap Ghani tegas.
"Kalau begitu biar Oom Stephen dan Neil yang mengurus semua legalitas."
"Jangan sedih G soal Alex. Bawa saja dalam doa kalau memang dia jodohmu, dia akan bersamamu dua tahun yang akan datang." Edward menepuk bahu Ghani.
__ADS_1
"Thanks Oom."
***
Seminggu pun berlalu...
Duncan dan Rhea sedang bersiap-siap untuk pergi ke Kyoto untuk berbulan madu sedangkan Abi merasa sepi sekarang karena rumah sudah ditinggal oleh pasukan huru hara.
"Mas kenapa?" tanya Dara sembari membawakan teh herbal buat suaminya.
"Sepi sekarang padahal kemarin aku pusing lihat kekacauan tapi ternyata lebih memilih lihat mereka ribut daripada sepi begini." Abi menyeruput tehnya.
Dara tertawa. "Kemarin mas sambat rusuh, sekarang sambat sepi. Benar-benar deh!"
"Mana Rhea habis bulan madu langsung ke London dan New York terus tinggal disana." Abi memandang pintu kamar Rhea yang terbuka sedikit. "Benar katamu, Adara. Mau Rhea sudah menikah, tetap saja aku menganggapnya bayi cantikku."
Dara mengusap-usap bahu suaminya. Abi sendiri semakin berumur semakin sensitif karena ditinggal ketiga anaknya yang memiliki kehidupan sendiri namun Dara bersyukur Gozali memutuskan tinggal di Jakarta.
"G dan dik Rhea tinggal di Amerika. Kasihan bapak dan ibu hanya berdua di Jakarta lagipula Maira kan disini jadi jangan khawatir karena Gozali nggak kemana-mana" ucap anak angkatnya pada saat Ghani berpamitan pulang ke New York dengan Raymond.
"Gozali di Jakarta kok mas. Lagipula dia akan menikah dengan Maira jadi mas nggak usah khawatir sepi karena Gozali akan sering ke rumah sesuai janjinya."
Abi meletakkan kepalanya di bahu istrinya. "Apa kita harus pindah ke Amerika juga supaya tidak jauh dari G dan Rhea?"
"Mas bisa urus tanaman nanti kayak almarhum bapak mertua" kerling Abi yang membuat Dara terbahak.
"Mas Abi, wong kamu nggak suka tanaman kok gaya" kekeh Dara. "Mas, kalau kita pindah, kita harus memikirkan banyak hal."
Abi mengangguk. Jika mereka pindah ke Amerika, sudah dipastikan mansion pasti dijual, semua pelayan dipensiunkan meskipun nanti diberikan kompensasi tinggi. Benar kata Adara, jika kita pindah harus memikirkan orang-orang yang sudah ikut dengan kita lama.
Duncan dan Rhea turun dari lantai dua dengan membawa empat koper besar dan Abi semakin sedih saja melihatnya.
"Princess, beneran ini Daddy ditinggal?" Abi pun manyun. Rhea tertawa melihat Daddynya merajuk lalu memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya sebelum Duncan.
"Dad kan bisa ke New York kalau Selo." Rhea memeluk lengan ayahnya.
"Apa Dad ikut pindah ke New York sekalian ya" gumam Abi.
Duncan tertawa. "Di New York nggak ada ketoprak bang Miun lho Pa." Duncan hapal kesukaan ayah mertuanya yang selalu cari ketoprak langganannya dekat kantor.
"Iya ya. Haaaahhhh, galau Daddy" keluh Abi sembari mengusap kepala Rhea.
"Mas, mbok sudah. Rhea kan sudah jadi milik Duncan. Jangan digondeli gitu" kekeh Dara.
__ADS_1
"Iya, Daddy gondeli mommy saja. Kan enak berduaan" goda Rhea.
"Ya udah, kami berangkat ya pa ma" pamit Duncan sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya. Rhea pun melakukan hal yang sama.
"Mom, sehat-sehat ya. Dad, jangan makan aneh-aneh. Ohya, aku tahu kalau yang mengambil es krim ku Daddy!" Rhea mengedipkan sebelah matanya.
"Lho itu punyamu tho?" tanya Abi belagak tidak tahu.
Keempatnya kini berada di teras rumah sembari menunggu pelayan memasukkan koper-koper itu ke dalam mobil Range Rover milik Abi yang akan mengantarkan ke bandara.
"Ish Daddy mah gitu!" cebik Rhea sebal.
Abi dan Dara tertawa sedangkan Duncan memeluk istrinya yang masih sok ngambek.
"Hati-hati ya, selamat berbulan madu. Jangan lupa kasih kabar sesampainya di Kyoto" ucap Dara sambil memeluk putri dan menantunya.
"Jaga Rhea ya D. Kalau kamu sampai menyakiti..."
"Pa, insyaallah aku tidak akan pernah menyakiti Rey. Mendapatkan dia saja susahnya minta ampun terutama ijin papa masa aku tega sih nyakitin" kekeh Duncan.
"Kalau begini, flashback pada bermunculan ya D. Ingat kamu sama papa gegeran rebutan mamamu" senyum Abi.
"Sampai sempat viral ya Pa" balas Duncan.
"Pria tuh aneh. Kemarin sempet julid sekarang akur" ucap Dara.
"Namanya respek!" jawab keduanya kompak.
Dara dan Rhea melongo lalu tertawa.
"Yuk udah siang, bisa-bisa pilotnya Daddy ngomel kelamaan nunggu."
Siang ini di mansion Giandra tinggalah Abi dan Dara bersama dengan para pelayan melepaskan kepergian Duncan dan Rhea yang berangkat bulan madu dan setelahnya pindah ke New York.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1