
Aidan menatap pria itu dengan tatapan usil. Pengen tahu ah sampai dimana perasaan nih bule sama kakak gue yang bar-barnya minta ampun.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Aidan.
"Nggak usah basa basi deh Aidan Blair. Mana kakak kamu?" tanya Rhett to the point yang membuat Aidan terbahak.
"Sorry aku hanya ingin tahu siapa yang berani menyusul kakakku padahal baru sehari meninggalkan New York" balas Aidan. "Sebentar aku urus pekerjaan ku dulu baru aku akan ngobrol dengan mu, Rhett." Aidan pun menemui sutradara iklan agar melanjutkan pekerjaannya dan Arya pun mau mengikuti arahan sang sutradara itu.
Aidan mempersilahkan Rhett untuk masuk ke ruang kerjanya. Pria Irlandia itu melihat banyaknya foto-foto keluarga Blair.
"Siapa ini?" tunjuk Rhett kearah dua foto pria yang berwajah mirip. Rhett tahu itu Edward Blair hanya dia tidak tahu siapa pria satunya.
"Namanya Stephen Blair, adik Opa Edward. Seorang pengacara namun sudah meninggal karena serangan jantung. Sekarang kantor pengacaranya dipegang oleh Oom Neil dan sepupuku, James."
Rhett mengangguk. Dia melihat-lihat ada foto Edward bersama Abi, Yuna dan Dara sedang membuat kue, lalu Kaia kecil bersama Aidan waktu bayi. Foto Duncan McGregor sedang memangku Duncan Junior pun ada.
"Kalian benar-benar family oriented" gumam Rhett.
"Kami hanya menjaga warisan keluarga saja. Tanpa mereka, aku tidak mungkin bisa disini."
"Ngomong-ngomong, dimana kakakmu?" tanya Rhett yang tidak melihat Kaia.
"Sudah pergi dari pagi bersama Arjuna" jawab Aidan santai.
"Kemana?" Aidan mengedikkan bahunya. "Aku tak tahu, hanya bilang ke pinggiran kota London."
Mau apa Kaia sama Arjuna ke pinggiran kota London? Pasti mereka hendak berkencan.
Rhett duduk di sofa ruang kerja Aidan sambil memainkan ponselnya.
"Telpon saja kalau kangen dengan kakak ku" cengir Aidan.
Rhett menatap Aidan bingung. "Hah?"
"Look man, aku tahu kamu suka dengan kakakku kan? Tapi dia bodo amat sama dirimu meskipun Amat nggak bodo-bodo banget. Aku mau tanya, apa sih yang kamu suka dari mbakku yang bar-bar itu?" Aidan memberikan sebotol air mineral kepada Rhett yang diambil dari kulkas di ruangannya. "Jangan bilang karena fisik karena itu menunjang juga sih."
Rhett tersenyum. "Sebenarnya bukan fisik sih awal aku tertarik tapi semangatnya. Dia benar-benar percaya diri dan smart. Yah, kau benar fisik memang penunjang tapi aku suka perempuan yang selalu positif meskipun dia selalu menilai ku negatif" kekeh Rhett.
"Kakakku bukan tipe cewek yang tertarik dengan pria karena fisik. Mungkin karena dia terbiasa kumpul dengan aku dan para sepupuku yang pria-pria memiliki fisik menarik. Jadi buat dia, sudah kenyang melihat pria paripurna dan baginya tidak ada yang bisa mengalahkan papi Duncan."
__ADS_1
"Ayahmu memang pria yang menarik. Aku juga melihat bagaimana dia memperlakukan aku seperti anaknya."
"Tapi kamu belum melihat sisi gelapnya" gelak Aidan. "Hanya mami yang bisa menghandle papi."
"Apakah kamu tahu aku juga seorang mafia Irlandia?" tanya Rhett.
Aidan tersenyum. "Kami semua berdarah mafia jadi tak heran."
Rhett tersenyum tipis. "Kalian memang keluarga menyeramkan."
"Hanya orang yang bermental kuat yang bisa menjadi bagian keluarga kami. Dan jujur aku salut padamu, berani meminta kakakku pada papiku terlepas kamu diterima atau nggak oleh mbak Kaia."
Rhett menatap dalam ke Aidan. "Karena aku jatuh cinta setengah mati dengan kakakmu meskipun aku harus merebutnya dari Arjuna."
Aidan melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Astaga Rhett! Arjuna itu bukan kekasih kakakku!"
Kini giliran Rhett yang bingung. "Lalu siapa Arjuna?"
"Pernah kah mendengar Jeremy McCloud? Dia anaknya" gelak Aidan.
Rhett O'Grady melongo. Arjuna sepupu Kaia? Anak Jeremy McCloud? Astaga gadis ituuuu!!!!
***
Arjuna berteriak. "Yesss! Berhasil!"
Kaia pun langsung menuju tempat kunci password itu sudah dibetulkan Arjuna dan pengawalnya.
"Harusnya kamu kuliah di jurusan elektro bukan hukum" sindir Kaia.
"Justru aku kuliah di fakultas hukum itu untuk tahu pasal-pasal mana yang bisa meloloskan aku dari jeratan hukum, cantik" cengir Arjuna.
"Dasar sepupu psycho!" gerutu Kaia sambil memasukkan kode ulang tahun Edward Blair. Dan pintu itu pun terbuka.
Tampak sebuah bangunan yang tertutup tanaman Ivy yang merambat membuat Kaia semakin merinding. Kenapa malah kebayang film horor jelangkung sih? Emang di London ada jelangkung?
"Kai, ayo masuk!" ajak Arjuna dan lagi-lagi ada passcode di pintunya. Kaia memencet kode yang sama dan akhirnya pintu terbuka.
Arjuna, Kaia dan para pengawal terkejut melihat kondisi di dalamnya termasuk bersih meskipun ditinggal sekian puluh tahun.
__ADS_1
Para pengawal mulai menyalakan lampu dan mereka tercengang melihat isinya karena tempat itu adalah tempat latihan menembak. Arjuna dan Kaia melihat logo klan McGregor dan klan Blair disana.
"Gila! Opa buyutmu ternyata punya tempat seperti ini!" seru Arjuna yang antusias melihat arena berlatih tembak.
"Boss lihat ini" salah seorang pengawal memberikan kertas yang sudah lusuh.
Mata Kaia berkaca-kaca ketika membaca nama-nama disana. Duncan McGregor 8, Yuna Pratomo Blair 7.
"Astaga, Oma Yuna ternyata pernah bertanding dengan opa buyut" bisik Kaia.
"Omamu sama gilanya denganmu Kai" kekeh Arjuna. "Kamu pantas jadi cucunya."
Kaia menggulung kertas lusuh itu dengan rapi. Rencananya akan dia pasang di ruang kantornya.
Arjuna melihat sebuah pintu besi yang lagi-lagi terdapat passcode disana.
"Kai, coba buka dengan password mu. Aku kok merasa ada sesuatu disini" pinta Arjuna.
Kaia sekali lagi memencet tanggal lahir Edward Blair dan pintu itu pun terbuka. Betapa terkejutnya mereka semua ketika melihat di dalamnya penuh dengan senjata termasuk sebuah busur panah yang terukir nama 'Yuna Blair' disana.
"Astaghfirullah, ini koleksi Opa Edward dan Oma Yuna" bisik Kaia.
Arjuna dan Kaia memeriksa satu persatu senjata disana dan bersyukur tidak ada yang rusak parah karena tersimpan di ruangan yang suhunya terjaga.
"Tampaknya listrik disini memang dibayar otomatis jadi semuanya masih terjaga semuanya." Arjuna terkesima dengan semua koleksi Opa Edward.
Kaia sendiri lebih tertarik dengan busur milik Oma Yuna. Lalu dia menatap Arjuna.
"Mau berlatih? Sekalian membersihkan semua senjata disini?" kerling Kaia.
Arjuna tersenyum. "Kukira kamu tidak bakalan mengajakku."
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️
*Yang pengen tahu kejadian Duncan McGregor dan Yuna adu tembak, bisa baca Love in Bet*