My Rey

My Rey
Mau Apa Dia? - Season 2


__ADS_3

Pagi ini meja makan keluarga Blair penuh, yang biasanya cuma bertiga, kini berenam. Meskipun nanti Joshua kembali ke Tokyo dan Arjuna terpaksa harus pulang ke London karena ada urusan perusahaan papanya.


Levi sendiri masih malas pulang ke Tokyo gara-gara ribut dengan papanya masalah harus mengambil alih usaha artist agency padahal dirinya lebih suka bekerja di dunia science.


"Vi, apa kamu ikut ke perusahaan saja sama aku?" tawar Kaia daripada Levi sendirian di rumah manyun.


"Boleh deh!" sahut pria tampan itu.


"Papamu masih ribut minta kamu urus perusahaan entertainment nya?" tanya Duncan.


"Masih lah Oom. Aku kan nggak tertarik soal manajemen artis sebangsanya, itu dunia papa mama, bukan duniaku."


"Paling kalau kamu nggak mau urus, perusahaan itu dijual sama papamu" komentar Joshua.


"Baguslah soalnya biar papa dan mama pensiun. Capek lho ngurusin artis, mana kadang ada yang bikin skandal. Kena cokok berita gosip, harus meredam issue. Bukan passionku" ucap Levi sambil memasukkan bakwan jagung ke mulutnya.


"Apalagi kalau artismu kencan ketahuan Dis**patch. Gegeran dah!" kekeh Arjuna.


"Ah malas banget! Kencan ajah nggak boleh sama fans!" keluh Levi.


"Sudah sudah, biar nanti Tante Rhea bilang sama mamamu. kalau kamu masih betah di New York." Rhea mencoba menengahi.


"Kalau wisuda harus manggil papa mamau lho, Vi" sambung Duncan. "Kapan kamu wisuda?"


"Bulan depan."


"Awas kalau kamu nggak ngundang papa dan mamamu! Mau jadi anak durhakim?" ancam Duncan.


"Aku jadi anak durjaksa sajalah" balas Levi cuek.


"Nggak sekalian durpengacara?" sambung Kaia.


"Ya ampun malah makin ngaco" keluh Rhea.


***


Seminggu ini Levi dan Kaia asyik membuat percobaan yang akhirnya disetujui oleh NTSB ( National Transportation Safety Board ) mengenai mesin yang akan dikembangkan oleh Boeing. Dibantu oleh para peneliti dari MB Enterprise dan Giandra Otomotif Co, mereka semua saling mendukung agar mesin baru ini bisa dipakai meluas ke semua pesawat buatan Boeing.


Dua anak berbakat dan cerdas ditambah bagian dari keluarga besar membuat semua orang bersemangat apalagi Kaia dan Levi juga tidak segan menerima masukan dari para ahli yang ada.

__ADS_1


Kaia selalu ingat pesan Opa Edward dan Ogan Abi.


"Kamu mungkin memang cerdas tapi masih ada yang lebih cerda dan berpengalaman dari kamu. Ilmu yang kita peroleh tapi tidak ada di bangku sekolah adalah pengalaman. Jangan anti kritik karena dengan begitu kamu tahu bahwa kamu diperhatikan dan paculah kritik untuk membuat dirimu lebih baik lagi."


Dan Kaia pun mengikuti jejak papinya yang selalu baik pada bawahan hingga mereka pun nyaman bekerja tapi papi Duncan juga bisa tegas dan kejam bila ada yang berani macam-macam.


Aidan adalah fotocopy sang papi dan terkadang Rhea harus membuat Aidan mengerem jika sudah mulai kejam dengan pegawai nya yang berulah.


"Ya ampun bang, bisa nggak sih darah mafiamu nggak nurun ke Aidan?" keluh Rhea ketika mendengar Aidan mengamuk ketika ada yang korupsi di restaurannya.


"Namanya gen mau diapain? Tapi aku dukung Aidan seperti itu biar nggak pada macam-macam. Dikira Aidan anak kecil jadi mereka bisa seenaknya. Hohoho, jangan remehkan klan Blair!" jawab Duncan waktu mendengar istrinya ngedumel.


Kaia memang tidak sekejam Duncan dan Aidan tapi dia bisa membuat orang yang kurang ajar stress akibat yang dia serang adalah psikologis nya. Hukuman yang paling dia suka dengan orang-orang yang berkhianat, meletakkan apel diatas kepala orang itu dan dia memanahnya.


Kaia memang fotocopy sang Oma Yuna.


***


Levi sedang berjalan menuju vending machine yang ada di lantai enam tempat laboratorium yang sedang melakukan percobaan mesin rancangan Kaia ketika melihat Rhett O'Grady keluar dari lift menuju laboratorium bersama dengan asistennya James dan Duncan Blair.


Ngapain si Butler kemari?



"Oom Duncan. Rhett" sapa Levi yang hari itu memakai kaos setelah melepas jas laboratorium nya.


"Kalian masih bekerja?" tanya Oom Duncan.


"Masih tapi aku keluar dulu ambil coke." Levi menunjukkan kaleng cokenya.


"Dimana Kaia?" tanya Rhett yang membuat Duncan dan Levi melongo.



"Kai di lab. Apa mau aku panggil?" tawar Levi.


"Panggil saja." Rhett menatap Levi.


Kayaknya bakal gegeran nih! Levi pun berjalan masuk ke dalam lab dimana Kaia sedang mengecek blue print bersama para ilmuwan disana.

__ADS_1


"Kaia! Kamu dicari Rhett O'Grady." Levi langsung memanggil dari pintu.


Kaia menoleh. "Butler?" Kaia berpamitan kepada para orang disana.


"Ngapain dia kesini?"


Levi hanya mengedikkan bahunya sambil meminum cokenya.


Kaia pun keluar dari lab itu dan menuju ke tempat Duncan dan Rhett sedang melihat laboratorium milik MB Enterprise.


"Papi" sapa Kaia. "Rhett But...eh O'Grady."


Duncan menatap Kaia. "But?"


"Butler, Mr Blair. Kaia suka memanggil saya Rhett Butler seperti di novel Gone with the wind. Bukankah begitu Scarlett O'Hara?" senyum Rhett.


"Oh astaga." Duncan pun tersenyum.


"Mr Blair, apakah saya bisa berbicara berdua dengan putri anda?" pinta Rhett sopan.


Kaia dan Levi melongo dan saling berpandangan. Mau apa dia?


Duncan menatap Rhett dan Kaia. "Silahkan Rhett, kamu bisa gunakan ruangan Kaia."


Kaia menatap tajam ke Rhett yang hanya dibalas senyuman smirk pria Irlandia itu.


Tampaknya aku harus bersiap-siap melakukan judoku.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Lanjut besok lagi...


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2