
Duncan sudah sampai di New York menggunakan kursi roda akibat kecelakaan yang terjadi pada saat menemui Rain. John dan George yang menjemputnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana pria tinggi besar itu harus terdampar di kursi roda yang didorong oleh Javier.
"Boss? Bisa duduk juga di kursi roda?" goda George.
"Gak sopan lu, George" sahut Javier sambil nyengir.
"Kalian memang makhluk-makhluk durjana!" umpat Duncan.
"Rain selamat kan D?" tanya John.
"Alhamdulillah Oom. Ryoma juga sudah mulai membaik tapi tetap saja Eiji bikin dia naik darah" kekeh Duncan.
Keempatnya kini masuk ke dalam mobil Range Rover dan pulang menuju mansion Duncan.
***
Rhea tampak bahagia melihat suaminya kembali meskipun dengan kondisi babak belur akibat kecelakaan.
"Alhamdulillah Abang dah pulang. Javier, apa kabar?" Rhea memeluk pelan suaminya.
"Baik Rhea. Maaf ya kami agak lama di Jakarta karena harus menunggu dua pria bergips diijinkan pulang."
"Pria bergips?" tanya Rhea.
"Suamimu dan Joshua lah. Parah Joshua, sebelah kiri tubuhnya kena gips" kekeh Javier.
"Rain gimana? Apa sudah membaik?" tanya Rhea penasaran.
"Sudah tapi Oom Ryu melarang Jeremy menemuinya bahkan sekarang Jeremy harus menghadapi pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan klannya meskipun yang salah Glenn. Jeremy juga mendapatkan tuduhan melakukan pembunuhan meskipun membela diri karena dia membunuh Glenn."
"Kasihan Rain" gumam Rhea.
"Kenapa?" tanya Duncan.
"Kalau kekasihnya harus dipenjara."
Duncan dan Javier langsung mendelik. "Jeremy bukan kekasihnya Rain!"
"Belum." Rhea tersenyum manis.
"Berani Jeremy mengambil Rain, hadapi kami semua!" geram Duncan.
"Dia akan berani menghadapi kalian" jawab bumil cantik itu.
"Kenapa bisa begitu Rey?" tanya Duncan.
"Karena orang jatuh cinta akan melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Contohnya, ini nih yang lagi duduk di kursi roda" goda Rhea. "Cinta bisa membuat orang berbuat gila dan Jeremy punya bakat gila untuk menghadapi kalian semua. Percaya padaku."
"Jika Rain berani memilih Jeremy, bersiaplah dia untuk keluar dari keluarga!" kali ini Javier yang berkata.
"Kenapa? Bukankah papa Edward juga seorang mafia? Tapi kalian semua menerimanya" sahut Rhea.
"Karena Jeremy sudah mencelakakan anggota keluarga dan itu tidak bisa ditolerir!" kali ini Duncan yang bersuara. "Ada peraturan tidak tertulis di keluarga kami, Rey. Kami boleh berantem, ribut, akur, Gesrek tapi jika ada orang di luar keluarga kami berani menyentuh dan mencelakakan bahkan hampir membunuhnya, jangan harap bisa diterima di keluarga kami!"
"Apa kamu lupa? Jeremy yang menembak Gozali?" sambung Javier.
"Dan Gozali adalah bagian dari keluarga" timpal Duncan.
Rhea menatap suami dan sepupunya lalu menatap John. "Benarkah itu Oom?"
__ADS_1
John mengangguk. "Memang itu faktanya."
Rhea hanya menghela nafas panjang.
***
Duncan tiduran di kasurnya yang hampir tiga Minggu dia tinggalkan.
"Enaknya bisa kembali tidur di kasurku" ucapnya sambil mengernyitkan dahinya akibat kakinya terasa ngilu.
"Masih sakit bang?" tanya Rhea melihat kaki suaminya yang masih digips.
"Cuma ngilu sih. Mungkin sebulan lagi bisa dipakai jalan."
Rhea mengelus bekas luka di dahi Duncan. "Abang jadi tambah syerem ada luka begini. Benar-benar tampak seperti mafia."
"Lho Abang kan memang keturunan mafia" kekehnya.
"Rain bisa menembak bang?" Rhea penasaran mendengar cerita dari Valora.
"Kami sekeluarga bisa menembak Rey hanya saja keahlian kami hanya dipakai pada saat dibutuhkan seperti saat-saat kemarin."
"Apa mas Ghani bunuh penjahatnya bang?" tanya Rhea mengingat abangnya bukan tipe pembunuh.
"Ghani hanya membela dirinya Rey. Membunuh atau dibunuh. Abang mungkin akan melakukan hal yang sama jika disana."
"Kok kalian bisa bekerja ala militer begitu?"
Duncan mengelus perut istrinya yang mulai sedikit membuncit. "Kamu percaya nggak kalau Abang dan para sepupu ikut hell week Navy Seal?"
"Haaaahhhh?" Rhea terkejut. "Kapan bang?"
"Sejak Abang kuliah pernah kan Abang nggak bisa dihubungi seminggu? Nah, Abang ikut Navy Seal."
Duncan nyengir. "Eiji, Ryoma, Javier. Asal tahu, kakak kesayanganmu yang slengean itu bertahan sampai selesai."
Rhea melongo.
***
Hari berganti dan sekarang Duncan sudah melepaskan gips nya dengan catatan dia belum boleh berlari di treadmill jadi dia memutuskan untuk berenang guna menggantikan acara gymnya.
Kehamilan Rhea sudah memasuki tri semester kedua dan dirinya sudah bisa masuk dapur tanpa muntah-muntah lagi. Dirinya bahagia bisa memasak makanan kesukaannya dan si jabang bayi membuat dirinya semakin semangat makan. Tak heran dirinya mulai berisi.
"Sayaaanggg" panggil Duncan.
Rhea pun menoleh dan hanya menghela nafas panjang.
"Bang, pakai baju dulu kenapa?"
"Lupa bawa!"
Rhea menyiapkan sarapan buat keduanya. Hari ini mereka memutuskan untuk memeriksakan kandungan Rhea di dokter Savitri.
Duncan tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anaknya dan usia kandungan Rhea sudah memasuki Minggu ke 21.
Edward dan Abi sendiri sedang bertaruh. Edward mengatakan bahwa cucunya adalah laki-laki sedangkan Abi mengatakan perempuan.
__ADS_1
"Bang, papa sama Daddy taruhan apa sih?" tanya Rhea sambil menyantap fuyung hai buatannya.
"Kalau baby boy, papa harus membelikan Koenigsegg Agera sedangkan baby girl, Daddy harus membelikan Bugatti Chiron."
Rhea hanya menggelengkan kepalanya. "Mending duitnya buat beli peralatan bayi atau disimpan buat tabungan."
Duncan tersenyum karena terkadang Rhea lupa betapa kayanya dirinya.
"Soal itu aku sudah mempersiapkan sayang. Jangan khawatir."
"Terkadang aku lupa betapa kayanya kalian."
"Rey, papamu juga kaya raya lho" kekeh Duncan.
"Mungkin karena mommy selalu mengajarkan hidup sederhana jadi aku tidak pernah merasa kaya banget" kekeh Rhea.
"Yuk dihabiskan, kita ke rumah sakit."
***
Duncan dan Rhea menunggu di kursi antrian. Meskipun memiliki kekuasaan namun Rhea tetap meminta mereka sesuai aturan saja.
Keduanya kini sedang melihat desain kamar bayi. Dua pengawal tampak berjaga-jaga mengawal pasangan suami istri itu.
"Kalau mau netral ya broken white tapi nanti kan ketahuan jenis kelaminnya apa" ucap Rhea.
"Aku cuma khawatir ayah-ayah kita. Ini ponsel ku isinya bertanya jenis kelamin melulu!" sungut Duncan.
Rhea terbahak.
Akhirnya giliran keduanya masuk ke ruang praktek dokter Savitri.
"Baby sehat banget, aktif juga ini" ucap dokter Savitri sembari mengerakkan transduser nya. "Berat sesuai. Masih mual nggak mbak Rhea?"
"Alhamdulillah nggak dok. Sudah bisa masak dan makan normal setelah kemarin hampir dua bulan nggak bisa masuk dapur."
"Alhamdulillah. Mau tahu jenis kelaminnya?"
***
Duncan dan Rhea tersenyum bahagia setelah mengetahui jenis kelaminnya dan si baby sehat semua.
"Bang, telpon calon opa gih!" cengir Rhea.
"Assalamualaikum. Dad? Bugatti Chiron buat papa Abi ya!"
"AAAPPAA? Dad kalah taruhan?" teriak Edward.
"Sorry" gelak Duncan.
"Haaaddeeh!"
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaaa
Dah tahu kan jenis kelaminnya Anaknya Rhea
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️