My Rey

My Rey
Tuntutan Aneh


__ADS_3

Maira sampai di rumah Oomnya dengan perasaan berdebar-debar apalagi mengetahui bang Gozalinya ada di rumah sana. Bang Gozalinya? Astaga, Mai, ngadi-ngadimu ketinggian.


"Assalamualaikum" sapa Maira kepada semua orang di dalam rumah.


"Wa'alaikum salam" balas semua orang.


Maira mencium punggung tangan Abi dan Dara lalu mencium pipi papa dan mamanya seperti kebiasaannya.


"Bang Goz nggak dicium Mai?" goda Gozali mengingat dulu waktu kecil Maira suka mencium pipi Ghani dan Gozali setiap mau pulang.


"Iiihhh nggak ah bang! Mai udah Gedhe jadi ga mau cium Abang."


"Lho dulu waktu kecil, kamu mesti cium pipi Abang sama mas Ghani kalau mau pulang" kekeh Gozali yang entah kenapa ingin menggoda adik sepupu angkatnya.


"Ih Abang nih! Mai tuh baru datang kalee!" omel Maira sambil mencium pipi Rhea.


"Berarti kalau nanti pulang, pipi Abang dicium dong?" Gozali mengerling ke arah Maira yang wajahnya memerah.


"Mamaaaa! Bang Gozali nakaaaaallll!" rengek Maira.


"Goz, jangan kamu goda adikmu! Nangis susah Oom tar" omel Antasena.


"Lho kenapa?"


"Nanti minta dibeliin baju biar berhenti nangisnya" keluh Antasena.


"Ya ampun Mai, kamu kayak balita aja sih! Manja banget!" gelak Gozali.


"Mamaaaa!" wajah Maira semakin memerah. Hatinya kesal dibilang manja sama pria incarannya.


"Mai, kalau kamu kayak gitu, nanti nggak dapat yang kamu incer lho" goda Rhea.


"Mbak Rhea!" delik Maira yang langsung berubah jadi galak ke kakaknya.


"Lho Maira incer siapa?" tanya Duncan.


"Ada deh!" ucap Rhea rahasia.


"Paling ketua senat" komentar Abi.


Maira semakin menundukkan kepalanya. Yang aku incer itu yang duduk di sebelah Oom Abi.


***


London, Inggris


Edward sedang memeriksa semua laporan dari restauran dan perusahaan yang dipegangnya ketika Bram masuk membawakan sebuah berkas.


"Boss, ada masalah."


Edward mendongakkan kepalanya menatap salah satu tangan kanannya.


"Masalah apa Bram?"


Bram melampirkan beberapa lembar kertas dan Edward mulai membacanya.


"Joseph Miller menuntut Sam Denver?"


"Iya boss. Joseph Miller, walikota New York ayahnya Stanley Miller yang menabrak nona Rhea menuntut Sam karena kecerobohan dalam mengemudi."


"Kecerobohan mengemudi? Anaknya yang mabok! Alkohol di dalam darahnya melebihi ambang normal. Ghani dan temannya James Park dan Tyson memliki semua data dan berkasnya! Anaknya yang menabrak! Sam dan Rhea hampir mati!" Edward mengamuk.


"Boss tenang dulu, ingat tensi."

__ADS_1


"F***!!!"


"Boss, aku sudah menyiapkan semua hasil CCTV pada saat kejadian. Aku dan Bryan menyimpan semua data untuk berjaga-jaga."


"Bagus! Bilang sama si Miller, akan kami lawan!"


***


"AAAPPAA? Bapaknya si Stanley menuntut Sam?" Stephen langsung memijit pelipisnya.


"Itulah Steve, aku minta tolong bela Sam dari orang brengsek itu."


"Tenang Bro, aku dan Neil yang akan turun langsung. Bryan dan Bram punya semua rekaman kejadiannya?"


Edward tertawa. "Kamu meremehkan mereka?"


"Haaaiissshhhh aku lupa kalau kakakku mantan mafia."


***


Abi dan Dara terkejut ketika Edward menghubungi bahwa Joseph Miller menuntut Sam Denver sebagai biang kecelakaan itu.


"Dasar sarap! Anaknya yang mabuk kok nyalahin mobilnya Rhea? Jelas-jelas mobilnya Rhea maju pelan setelah lampu hijau! Malah anaknya yang brengsek itu yang ngebut padahal lampu sudah merah!" Abi marah besar.


Mereka tidak ada yang menuntut keluarga Miller karena lebih fokus untuk kesembuhan Rhea dan Sam. Pula, uang bagi kedua keluarga bukan masalah ditambah Stanley sendiri tewas di tempat.


"Dia tidak terima anaknya yang bersalah dan mati disana."


"Orangtua pekok!" umpat Abi.


"Pekok? Maksudmu ayam?" tanya Edward tidak mengerti.


"Ayam itu petok, kalau pekok itu artinya idiot."


"Jadi gimana nasib Sam, mas Edward?" tanya Dara.


"Stephen dan Neil yang akan membela Sam. Bryan dan Bram sudah mempersiapkan semuanya jadi kita sudah siap maju perang."


"Kalau si Joseph kalah di pengadilan, apa yang kalian tuntut?" tanya Dara.


"Yang jelas uang. Bukan buat kita tapi buat Sam karena sejak kecelakaan itu, Sam harus memakai kursi roda dan tidak bisa bekerja meskipun akhirnya dia mau bekerja di showroom mobil di perusahaan punya Abi dan Duncan sebagai supervisor."


Edward memandang kedua orang sahabatnya.


"Selain itu aku juga menuntut agar dia mundur sebagai walikota New York karena dia sudah memberikan contoh buruk di masyarakat dan membersihkan nama Sam Denver."


"Apa kamu yakin bisa membuat Joseph Miller turun dari jabatannya?" tanya Abi.


"Hei, aku masih punya koneksi di New York dan cukup untuk jadi sekutuku" kekeh Edward.


"Yang jelas, kamu harus berhati-hati Ed."


"Tentu saja."


***


"Halo bang Duncan" sapa seorang pria di seberang ponsel.


"Abian, kamu sibuk nggak?" tanya Duncan kepada Abian putra dari Bryan yang sudah seperti sepupunya sendiri.


"Masih benerin program game dengan Joshua Akandra, suami Miki Al Jordan. Kenapa bang?"


"Aku minta tolong, hack semua data pribadi Joseph Miller dan keluarganya."

__ADS_1


"Joseph Miller? Bapaknya Stanley Miller yang menabrak Rhea?"


"Bingo! Hack semua, cari aibnya. Sam Denver, sopir Rhea, anak buah Dad dituntut karena membuat Stanley mokat."


Abian mengumpat. "Sam nanti dibela Oom Stephen kan?"


"Info dari Dad, Sam akan dibela oleh Oom Stephen dan Neil."


"Aku hubungi Joshua dulu. Dia jago kalau cari aib orang" gelak Abian.


"Aku hubungi Miki dulu soalnya bakal meminjam suaminya" kekeh Duncan.


***


"Assalamualaikum" suara merdu terdengar di telinga Duncan.


"Wa'alaikum salam M."


"Apa kabar D. Rhea gimana?" tanya Miki Al Jordan Akandra sepupu Duncan.


"Alhamdulillah Rhea sudah ingat meskipun belum semuanya."


"Alhamdulillah."


"Duo J dan M gimana?" tanya Duncan soal kedua keponakan kembarnya, Josephine dan Marissa.


"Haduh, benar-benar bikin aku pusing D! Untung Abang Joshua sabar ngadepin anak-anaknya yang bar-bar." Miki tergelak.


"Perempuan Pratomo kan memang terkenal bar-bar."


"Aku nggak lho D! Tanya sama bang Joshua."


"Kamu memang nggak, tapi Tante Shanum iya."


"Haaaiissshhhh aku lupa kalau mommy suka ngehajar Daddy. Ohya ada apa D?"


"Aku pinjam Joshua sebentar, boleh?"


"Mau dibawa kemana suamiku?"


Duncan pun menceritakan apa yang terjadi pasca kecelakaan yang dialami Sam dan Rhea, termasuk dia mau meminta bantuan yang dibutuhkan. Joshua adalah orang yang bisa melakukannya dengan rapih.


"Abang masih mengajar, D. Nanti kalau sudah pulang, akan aku sampaikan."


"Thanks M. You're the best!"


"La Mia Famiglia, D. Salam buat Rhea. Segera kamu halalkan D."


"Insyaallah. Doanya ya M."


"Always."


Duncan menutup panggilannya ke Miki. Lalu menelpon Daddynya.


"Halo Dad. Aku sudah meminta bantuan Abian dan Joshua."


***


Yuhuuu Up siang Yaaaa


Thank you for reading and support


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2