
Gozali datang ke rumah orangtuanya pada sore hari karena Dara memintanya untuk makan malam bersama. Tentu saja Gozali tidak bisa menolak permintaan ibunya yang selalu mencintainya meskipun dirinya bukan anak kandung.
"Assalamualaikum" sapa Gozali ketika sudah masuk rumah.
"Wa'alaikum salam" sapa semua orang di ruang tengah. Gozali pun berjalan menuju ke ruang tengah yang ternyata sudah ada Antasena, Naina dan Maira selain keluarga Giandra.
"Bapak, Ibu" Gozali mencium punggung tangan kedua orangtuanya. "Oom, Tante." Lalu hanya mengusap kepala Rhea sayang, bersalaman dengan Duncan dan menganggukkan kepalanya kepada Maira yang memerah wajahnya.
"Makasih ya Goz, semalam sudah menemani Maira" ucap Antasena setelah Gozali duduk di sofa dekat dengan Rhea sementara gadis itu malah bersandar di bahu Duncan.
"Sama-sama Oom, berasa jadi mahasiswa lagi sayanya" gelak Gozali.
"Apaan!" cebik Maira.
"Lho memang kenapa sayang?" tanya Dara.
"Kemarin bang Duncan bilang jangan bawa dirinya karena bakalan ngusirin laron... eeehhh bawa bang Gozali sama saja! Teman-temanku pada ngerubuti bang Gozali, akunya dicuekin!" Maira cemberut yang membuat semuanya tertawa.
"Tapi Abang kan nggak ninggalin kamu dik" kekeh Gozali yang mengingat Maira cemberut semalaman.
"Iya tapi aku kan risih bang, diikuti kayak bebek!"
"Ya maaf kalau semalam bikin kamu nggak nyaman" senyum Gozali yang membuat Maira kebat-kebit jantungnya.
"Abang sih kecakepan jadinya banyak yang pengen nempel! Padahal Abang kan punya Mai" celetuk Maira tanpa sadar.
"HAAAAHHHH?"
Maira langsung menutup mulutnya.
Astaghfirullah Al Adzim. Aku ngomong apaan sih?
Abi, Dara, Rhea dan Duncan tertawa, Antasena melongo, Naina tersenyum, Gozali terdiam sedangkan Maira merasa dirinya ingin menghilang.
***
Kedua keluarga itu melakukan sholat Maghrib berjamaah di mushola yang dibuat oleh Abi dan sebagai imam adalah Gozali. Usai sholat, mereka pun menuju ke meja makan karena Dara, Rhea dan pak Hasan sudah menyiapkan banyak makanan untuk disantap.
"Mas, kemarin aku ketemu dengan Neil Blair untuk membahas kontrak kerjasama dengan perusahaan yang baru berdiri milik Javier Arata."
"Javier?" tanya Duncan.
"Iya, kamu kenal D?" tanya Antasena.
"Kenal lah Oom, Javier itu sepupuku" kekeh Duncan.
"Owalaahhh. Dia anaknya siapa D? Soalnya sepupumu kan banyak."
"Javier itu anaknya Tante Vivienne dan Oom Jammie Arata. Dia orangnya kalem kok Oom tapi tegas, nggak kayak adiknya, Valora, bar-bar.
Tapi meskipun Javier sepupuku, kalau soal bisnis tetap profesional. Kalau misal ada yang tidak sreg di Oom Anta, it's okay kalau tidak mau kerjasama" lanjut Duncan lagi.
__ADS_1
"Aku setuju dengan D. Besok Senin kita pelajari bersama ya D kontrak dari Javier." Abi menatap calon menantunya.
"Baik Oom. Besok kita pelajari."
"So, Maira. Kenapa kamu bilang bang Goz itu milik mu?" goda Abi ke Maira yang hanya diam saja sambil menunduk. Kini Maira duduk di sebelah mamanya sedangkan Gozali berada di seberangnya.
"Oom Abiiii..." rengek Maira dengan wajah memelas.
"Sejak kapan Mai?" tanya Gozali dalam.
"Eh? Apanya?" tanya Maira.
"Suka sama Abang?" tanya Gozali yang sukses membuat Maira semakin memerah wajahnya.
"Iisshhhh! Abang nyebelin!" cebik Maira yang rasanya ingin pulang karena malu.
"Sudah, sudah. Goz, jangan kamu goda Maira, kasihan nggak bisa makan nanti" kekeh Dara.
Maira menatap Tante Daranya dengan tatapan terimakasih membelanya.
"Ayo makan dulu. Soal Maira kita bahas nanti setelah makan." Abi pun menyendokkan nasi dan capjay nya ke dalam mulutnya.
"Kok masih mau dibahas Thow Oom" bisik Maira lirih.
***
Antasena dan Naina sangat antusias mendengar Duncan dan Rhea akan menikah kurang dari dua bulan lagi.
"Rencananya mau diadakan dimana? Jakarta, New York atau London?" tanya Antasena.
"Kok pulang negara?" tanya Rhea.
"Lha masa pulang kampung? Kan mereka pada di luar negeri ya jadinya pulang negara lah!" Rhea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan asal tunangannya.
"Mau undang berapa orang?" tanya Naina.
"Kalau semua keluarga besar Pratomo, Blair, McGregor, Al Jordan kumpul saja itu udah satu kompleks" gelak Duncan.
"Aku hanya ingin Keluarga saja yang hadir mom" jawab Rhea.
"Tapi Daddy kan banyak rekan bisnis, Duncan juga sama, sayang" bujuk Abi.
"Iya sih" Rhea tidak mau egois karena Daddy dan Duncan memang pengusaha yang memiliki banyak kolega dan pemegang saham.
"Nanti kalau nggak mau capek di pelaminan, sepatunya boleh kok diganti Converse. Keren tuh atas pakai gaun pengantin bawahnya Converse" cengir Duncan.
"Boleh bang? Kalau gitu Rhea mau!"
"NGGAK BOLEH!" seru Dara dan Naina.
"Ish, mommy sama Tante Naina mah gitu. Atau gini saja, di pelaminan udah disimpan tuh sepatu jadi kalau Rhea capek tinggal ganti! Kan difoto nggak kelihatan juga" senyum gadis itu.
__ADS_1
"Gitu juga bisa" ucap Duncan setuju.
"Setidaknya Rhea masih pake sepatu, Adara, daripada nyeker" kekeh Abi yang tidak paham masalah sepatu saja membuat para emak-emak rumpi.
"Rencananya mau pakai adat apa?" tanya Naina.
"Ijab pakai kebaya, resepsi santai saja lah internasional biar ga ribet" jawab Rhea. "Pengennya sih garden party biar bisa ketemu banyak tamu, makanya Rhea maunya pake Converse pas resepsi biar ga capek."
"Kita pikirkan lagi soal konsep" ucap Dara.
"Benernya Rhea cuma ijab saja dah cukup nggak usah pake resepsi, yang penting sah secara agama dan hukum negara. Cuma dihadiri keluarga besar dah seneng tapi kan Daddy, Oom Edward dan Duncan banyak relasi ya." Rhea menatap Duncan sambil tersenyum terpaksa.
Abi dan Dara hanya saling memandang. Yang penting memang ijabnya bukan resepsinya.
"Rhea, nanti biar mommy dan Daddy bicarakan lagi ya?" Dara mengusap kepala putrinya yang duduk tak jauh darinya. Rhea hanya mengangguk.
***
Maira memutuskan untuk tidak ikut duduk di ruang tengah dan memilih duduk di tangga sambil melihat pemandangan halaman belakang rumah Oom Abinha yang asri.
Saking asyiknya melamun, Maira sampai tidak menyadari bahwa Gozali sudah ada di dekatnya sedang membawa jeruk dan bersandar di jendela.
"Maira" panggil Gozali.
Maira masih tidak merespon.
"Maira!" panggil Gozali sekali lagi.
"Eh iya Abang!" Maira tersentak dan lagi-lagi dirinya seperti merasa jantungnya lari 100 meter.
Ya Allah! Si Abang kenapa disitu? Bikin Mai deg-degan ini!
"Sejak kapan Mai?" tanya Gozali.
"Sejak...kapan... Apanya bang?" Maira balas bertanya.
"Sejak kapan Mai suka sama Abang?"
Maira menganga dan semakin lama wajahnya semakin memerah. "Sejak Mai ... Umur 16 tahun" bisiknya.
Gozali menghela nafas panjang.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️