
Arya yang tadinya hendak kembali ke Jakarta, harus terbang ke Boston demi kedua kakaknya yang berada disana. James menjemput pria tampan itu dan membawanya ke rumah Abian.
Sesampainya di rumah Abian, Arya mulai merasakan hawa tidak enak disana ditambah wajah H2C, harap-harap cemas di wajah Kaia, Levi dan Abian.
This is not good situation.
"Oom Abian" sapa Arya ramah sambil mencium punggung tangan sobat papanya. Abian memang tidak memiliki hubungan darah dengan klan manapun namun dia sudah menjadi bagian keluarga McGregor dan Blair.
"Arya, gimana kabar?" tanya Abian.
"Ya begini deh masih musuhan sama kompor" cengir cowok tinggi itu.
"Payah lu kak, cowok nggak bisa akur sama kompor" sindir Bryan.
"Reseh lu bocil!" sahut Arya sambil memiting leher Bryan main-main. "Eh bocil, kok lu tambah tinggi?"
"Iyalah! Bisa masak sendiri, makan sendiri and sudah sunat itu membantu pertumbuhan" jawab Bryan sarkasme.
"Haaaiissshhhh!" umpat Arya.
"Kaia, Levi. Kusut amat tuh muka. Lu berdua kagak tidur?" tanya Arya baru sadar mata panda kedua sepupunya.
"Arya, tolong duduk dulu." Abian meminta semuanya duduk di sofa. Rhett yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum melihat Arya.
"Sudah sampai Ya?" tanya Rhett.
"Iya nih. Makasih dah minta James jemput aku." Rhett hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Kaia.
"Ya, Oom mau tanya serius. Bisa kan?" Abian menatap Arya dengan wajah serius.
"Insyaallah bisa Oom. Soal apa?" jawab Arya.
"Kapan kamu bertemu dengan Thomas dan Louisa O'Grady di Jakarta?" tanya Abian pelan-pelan tapi penuh penekanan.
Arya hendak bertanya ada apa tapi melihat suasana disana tampak tegang, membuatnya mengurungkan pertanyaannya.
"Aku agak lupa Oom tapi aku cek di agenda digital ku karena aku ingat harus menemani mama ke salon sebelum ke tempat papa. Sebentar." Arya mengambil Ipad-nya dan mengeceknya.
"Aku ketemu dengan mereka pada tanggal 24 Juni, dua tahun lalu" jawab Arya membaca agendanya. "Ini ada notenya."
"Dua tahun lalu? Beneran Ya?" tanya Kaia.
"Serius Kai, ini ada notenya. Bertemua dengan tamu papa dari Dublin bernama Thomas dan Louisa O'Grady di hotel Mulia Jakarta pukul 19.00."
Seketika wajah semua orang di ruangan itu langsung sumringah membuat Arya kebingungan. "Ada apa ini?"
__ADS_1
"Dia tidak punya alibi!" teriak semua orang.
Rhett memeluk Kaia yang juga dipeluk Levi.
"Woooiiii! Ini ada apa? Gue disuruh terbang kesini hanya buat ditanyain itu? Siapa yang nggak punya alibi?" Arya jengkel diacuhkan semua orang.
"Thanks Arya, kesaksian mu membuat Oom lega" senyum Abian.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Arya sekali lagi.
Abian, Kaia, Levi dan James bergantian cerita disambung oleh Gary, Bryan dan Rhett. Arya langsung melongo tidak percaya.
"Kalian serius? Serius?" pelotot Arya.
"Serius Arya Putra Ramadhan!" seru Levi.
"Astaghfirullah Al adzim" Arya beristighfar. "Oom Abian, serius Oom pesawat milik John O'Grady bisa di hack?"
Abian menatap putra Gozali Ramadhan itu. "Kamu nggak percaya? Ayo ikut Oom!" Abian berdiri dan diikuti oleh Arya.
Arya melotot tidak percaya ketika Abian dengan gampang menyalakan pesawat Gulfstream G650 milik Rhett yang masih berada di hanggar.
"Makanya, kamu tuh kita ajak kesini untuk membuktikan bahwa Louisa O'Grady adalah dalang semua itu."
"Oom butuh bantuan apa?" tanya Arya.
"Mengingat kamu pernah bertemu dengan Louisa O'Grady, Oom pengen bisa masuk ke dalam HPC milik klan O'Grady baik milik Rhett yang di Boston ataupun yang di Dublin. Di Boston, Oom besok bisa kesana dan Rhett sudah mengijinkan. Kalau di Dublin, Oom butuh kamu."
Arya mengangguk. "Biar aku rundingan sama papa Oom. Soalnya papa juga nggak percaya pesawat Opa Edward kecelakaan begitu saja mengingat papa tahu bagaimana John O'Grady bukan tipe orang yang mau pakai pesawat bekas."
"Papamu kenal dengan John O'Grady?" Abian terkejut.
"Kenal Oom. Kan John O'Grady adalah senior papa di Oxford, bahkan papa banyak belajar dari John tentang bisnis pengawal pribadi. Namun papa memang tidak terlalu suka dan kenal dengan Thomas O'Grady dan Louisa. Kata papa, Louisa manipulatif orangnya. Hanya saja, aku dan papa nggak menyangka sampai sebegini nekadnya."
Abian menatap Arya. "Oom akan menelpon papamu untuk segera datang ke Boston. Masalah ini sangat serius."
***
Kaia merasa lega setelah mengetahui Louisa O'Grady tidak memiliki alibi pada saat pesawat opanya mengalami kecelakaan namun dia juga harus tahu dimana Louisa saat kecelakaan itu terjadi.
"Rhett, selain ahli di bidang IT, apakah Louisa bisa menerbangkan pesawat?" tanya Kaia kepada pria yang sedang tiduran di sofa. Jujur Rhett merasa ngantuk sekarang setelah ketegangan itu menghilang.
__ADS_1
"Hhmmm" ucapnya dengan mata terpejam. Kaia hanya bisa mendelik melihat Rhett tertidur dengan sebuah boneka milik Bryan yang tertinggal di sofa.
Kaia sendiri pun merasa ngantuk dan akhirnya tiduran di sofa ruang tamu. Tak lama dia pun tertidur. Levi yang melihat sepupunya tertidur pun mengambilkan selimut dan menyelimuti gadis itu. Pria berambut hitam itu mengelus kepala Kaia lembut dan pergi menuju kamarnya karena dia sendiri butuh tidur.
James dan Gary pun tertidur di sofa masing-masing sampai Abian keluar dari ruangannya dan terkejut semua orang tertidur nyenyak.
"Oom tampaknya juga butuh tidur. Kamu juga Ya, kita semua istirahat dulu. Mau tidur di kamar mana ada banyak kamar kosong disini." Rumah Abian Smith memiliki enam kamar tidur, satu dipakai Abian, satu kamar Bryan dan satunya dipakai Levi. Arya akhirnya memilih satu kamar di lantai dua di pojok dan memutuskan tidur disana.
***
Kaia terbangun dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul dua siang. Gadis cantik itu pun bangun dan menuju kamarnya di lantai dua. dan segera melakukan sholat dhuhur.
"Kai" sebuah suara mengagetkan Kaia yang baru saja menyelesaikan sholatnya.
"Astaghfirullah Arya" Kaia memegang dadanya dan dirinya masih mengenakan mukena.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Arya.
"Kok kamu tidur sini? Ini kan kamarku, Ya" ucap Kaia sambil melepaskan mukenanya.
"Aku asal ajah masuk kamar dan langsung tertidur."
Arya turun dari tempat tidur dan duduk di sebelah Kaia. "Are you okay?"
Kaia mengangguk. "Lega lebih tepatnya karena tahu apa yang terjadi. Marah, karena tahu kenapa bisa terjadi. Dendam, karena tahu siapa pelakunya."
"Apa yang akan kamu lakukan jika semuanya terbukti selain yang kamu dapatkan sekarang?" tanya Arya.
"Aku akan bakar tubuhnya sesuai dengan yang diderita oleh Oma Yuna, baru setelah itu aku serahkan ke polisi." Mata biru Kaia berkilat penuh dendam dan amarah.
"Kamu mengerikan Kai."
"Mereka yang membuatku seperti ini!" desis Kaia.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1