
Duncan dan Rhea berencana menemui Claudia Berroa dan suaminya Richard di restoran mereka Claudy's Kitchen. Pada saat keduanya menikah di Jakarta, Claudia dan Richard hanya bisa ber video call dan tidak bisa datang ke Jakarta.
Sekarang setelah mereka kembali ke New York, Duncan mengajak ke restauran favorit Rhea. Sesampainya disana, Claudia dan Richard sudah heboh menyambut mereka di depan pintu restauran.
"Oh my God! Ternyata kamu kesini sudah membawa keponakan buat kami?" seru Claudia sembari memberikan ciuman ke pipi bumil itu.
"Iya Clau, maaf baru bisa datang" ucap Rhea.
"It's okay! Aku tahulah rasanya menjadi pengantin baru" kekeh Claudia.
Richard memeluk Duncan sambil menjabat tangannya. "Congrats little bro. Bagaimana? Rhea ada keluhan?"
Duncan hanya mendesah kesal. "Dia minta camilan khas Indonesia tapi aku tidak menemukan di Asia market sampai menangis Rey."
Richard tertawa. "Akhirnya gimana?"
"Aku minta tolong dengan sepupuku yang berada di Jakarta untuk membuatkan dan aku mengirimkan pesawat beserta asistenku untuk mengambilnya."
"Kau gila D! Pesawat dari New York ke Jakarta bisa 24 jam!"
"Demi si jabang bayi, Bro. Apalagi Rey tidak bisa masuk dapur karena bakalan muntah-muntah" keluh Duncan.
"Padahal Rhea suka memasak ya D?"
"Suka banget. Ternyata ibu mertuaku waktu hamil kakaknya Rey seperti itu, tidak bisa masuk dapur sampai usia kandungan enam bulan."
"Poor Rhea" kekeh Richard.
Duncan dan Rhea sangat menikmati pertemuan dengan Claudia dan Richard yang sudah seperti saudara sendiri. Rhea menghabiskan banyak ayam buatan Claudia.
"Bumil kelaparan?" tanya Claudia sambil tertawa.
"Salahkan si baby yang selalu membuatku kelaparan" jawab Rhea.
"Aku rasa anakmu laki-laki deh!" ujar Claudia.
"Kenapa bisa begitu?"
"Kalau di Peru, wanita hamil makan banyak kemungkinan laki-laki."
Duncan pun teringat ucapan Dara waktu hamil Ghani, dia juga makan banyak dan ngidam cireng. Apakah baby boy on the way?
***
Duncan dan Rhea sedang asyik nonton televisi di ruang tengah ketika Steve, seorang pengawalnya datang untuk memberi laporan hasil pengamatan.
Rhea hanya menganggukkan kepalanya ketika Duncan meminta ijin mengurus sesuatu yang berhubungan dengan Gozali.
Dan kini Duncan berada di ruang kerjanya bersama Steve segera menyalakan layar monitor dan tampak wajah Joshua dan Gozali.
"Bagaimana bro?" tanya Duncan.
"Salah seorang anak buahku melihat seseorang yang mirip Jeremy Eagle McCloud" ucap Gozali.
"Dimana?"
"Toko kue Maliqa."
"Rain!" seru Duncan dan Joshua bersamaan.
***
Setelah mengetahui Jeremy sering menemui Rain, Duncan menyuruh anak buah Gozali untuk selalu memantau pergerakan Rain Reeves putri Ryu Reeves.
Joshua dan Duncan belum bisa memberitahukan kepada Oom Ryu dan Tante Giselle bahwa putrinya berada dalam bahaya. Hanya saja kedua Cogan itu meminta agar pengawal bayangan keluarga Reeves memberikan update setiap saat.
Dan laporan terbaru membuat Duncan dan Joshua panik. "Dia kenal Rain!" seru Duncan.
"Bagaimana ini D? Hasil gambar yang dikirimkan oleh anak buah Gozali menunjukkan bahwa Rain mengenal pria itu!"
__ADS_1
"Aku akan coba hubungi Ghani, semoga dia mendapatkan jawaban."
"Tunggu, Rain sekolah dimana waktu SD?" tanya Joshua.
"Setahuku di Sekolah Dasar Bintang Internasional. Kalau tidak salah. Sebentar aku tanya Tante Giselle."
Duncan menelpon Tante Giselle menanyakan SD Rain dan memang benar dia sekolah di SD Bintang Internasional.
Joshua segera mencari data siswa dua puluh tahun lalu. Wajahnya memucat ketika bisa mendapatkan info.
"D, Panji Elang Samudera ternyata kakak kelas Rain."
Duncan langsung lemas mendengarnya.
"Kita tidak bisa membawa pergi Rain. Pria dingin psycho begitu akan terus mencari Rain. Aku takut terjadi sesuatu dengan Oom Ryu dan Tante Giselle jika Rain kita sembunyikan."
Joshua menatap Duncan. "Satu-satunya jalan, Rain harus dikawal ketat tapi tidak mencolok."
"Benar, takutnya Jeremy tahu kita tahu bisa celaka Rain nanti."
"Menurut mu, pria ini suka dengan Rain tidak?" tanya Joshua.
Duncan menatap mata Jeremy yang menatap Rain penuh cinta, seperti dirinya jika menatap Rhea.
"Dia jatuh cinta dengan Rain."
Joshua melongo. "Gawat jika Rain juga jatuh cinta padanya."
"Kita harus bicara dengan Rain."
"D, tampaknya kita harus ke Jakarta. Diam-diam saja dulu. Kita ajak Rain bicara bertiga."
"Aku akan bicarakan dengan Rey. Dia lebih aman di New York daripada ikut kita ke Jakarta."
"Aku akan ambil cuti seminggu. Alasan masuk akal, menengok Gozali. Aku tidak mau Miki cemas."
"Kita bertemu di Jakarta. Aku akan meminta Oom John di rumah menjaga Rey."
***
Duncan menemui Rhea yang sedang asyik menikmati biskuit asin dan teh mint herbal.
"Bagaimana bang?" tanya Rhea concern.
"Abang harus ke Jakarta, Rey. Ternyata orang itu mendekati Rain."
Rhea terkesiap. "Astaghfirullah! Lalu Rain gimana?"
"Abang minta kamu jangan cerita kepada siapapun. Soal Rain dan Jeremy, hanya Abang, Joshua dan kamu yang tahu."
Rhea mengangguk, paham ini situasi yang penting dan berbahaya.
"Abang hati-hati. Jangan lupa bawa PPK."
"Thank you istriku" ucap Duncan sambil mencium pipi Rhea.
"Lindungi Rain."
***
Tanpa sepengetahuan Duncan, Joshua terbang lebih dahulu ke kota Solo menuju Delanggu menemui appanya yang sekarang hidup bersama pengawalnya Husein.
"Papa Rudy tahu kamu pulang son?" tanya Yudhi sambil menyerahkan pistol Glock dan pistol PPK permintaan Joshua.
"Tidak appa. Aku langsung berangkat ke Jakarta lewat jalur darat saja. Sengaja agar tidak kena razia senjata."
"Siapa yang berani dengan menantu Al Jordan nak?" kekeh appa Yudhi.
"Aku hanya berjaga-jaga appa."
__ADS_1
"Hati-hati son. Lindungi adikmu."
"Baik appa." Joshua memasukkan semua peralatan penting termasuk dua rompi peluru yang akan diberikan kepada Duncan nanti.
Joshua dan seorang pengawal milik Hiroshi bernama Jimmy yang bisa dipercaya berangkat ke Jakarta menggunakan mobil Innova milik appanya.
***
Rain menikmati kopi seperti biasanya dan merasa terkejut melihat sebuah mobil Innova plat AD parkir di depan tokonya.
Tumben ada orang Solo kemari.
Betapa terkejutnya Rain ketika yang turun adalah kedua kakak sepupunya, Duncan dan Joshua.
"Wah abang-abangku. Ada angin apa kemari?" goda Rain ramah melihat kehadiran keduanya.
Duncan tidak menjawab apapun namun dia memeluk Rain.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Duncan, Joshua pun memeluk Rain.
"Tidak apa-apa bang." Rain pun duduk diikuti oleh kedua abangnya.
"Kamu kenal Panji Elang Samudera?" tanya Joshua tanpa basa basi.
"Kenal. Dia teman aku waktu SD. Kenapa bang?"
"Kamu jangan dekat-dekat dengan dia lagi!" pinta Duncan.
"Kenapa bang?" tanya Rain bingung.
Duncan melihat keempat pegawai Rain. "Mbak-mbak sekalian, bisakah kalian pergi dulu? Kami hendak berbicara serius?"
"Baik mas. Kami akan ke warung sebelah" ucap Tini yang memang melihat situasi tegang di kedua pria tampan itu. Keempatnya segera menuju warung mang Asep.
Setelah dirasa aman, Duncan memberikan berkas kepada Rain.
"Panji Elang Samudera alias Jeremy Eagle McCloud adalah mafia, ketua klan McCloud di Inggris Raya. Dialah yang menembak mati politisi yang ramai diberitakan. Dialah yang menembak Gozali kakak Rey."
Joshua menegang setelah Jimmy mengatakan Elang datang melalui earpiece. Duncan pun mendengar nya.
"Siapkan pistolmu D" bisik Joshua. D hanya memberikan kode oke.
"Abang nggak bohong kan?" tanya Rain dengan wajah terluka.
"Kapan Abang pernah bohong padamu, Rain?"
Klenting! Suara bel pintu berbunyi.
"Rain? Ada apa?"
"Halo Jeremy" sapa Duncan dan Joshua.
"Duncan Blair. Joshua Akandra." Elang menatap Rain yang melihatnya dengan wajah marah dan airmata nya mengalir.
Sial! Dia sudah tahu!
Bersambung di Elang Untuk Rain Chapter 9
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️