
Ghani hampir memukul layar monitor iMac nya karena gagal mencari tahu siapa ketua Dark Eagle.
Brengseeeekkkk!
Merasa kesal, pria berusia 25 tahun itu menuju pantry untuk membuat kopi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan membuat matanya membola.
Mas Ghani, mbak Alexandra baru saja dari rumahku. Aku cuma bisa bilang sabar ya. Kalian sama-sama saling mencintai kok. Fokuskan saja pendidikan dan pekerjaan mas Ghani di Quantico dan FBI. Love kalian berdua.
Ghani tersenyum. Thanks adikku.
Mood Ghani mulai bagus lagi dan dia membuat kopi dulu sebelum mulai hunting lagi.
***
Duncan dan Abian berjibaku di ruang IT milik MB Enterprise. Sengaja Abian terbang dari Boston ke New York demi membantu Gozali.
"Kalian bisa menemukan?" tanya Gozali yang berada di layar satunya sedang melakukan panggilan zoom. Sama dengan Duncan dan Abian, Gozali pun sekarang berada di apartemennya yang penuh dengan layar monitor dan peralatan canggih. Semenjak kecolongan, Gozali semakin memperketat screening kliennya.
"Belum Goz." Abian masih berkutat dengan database dari dunia haram.
Ting!
"Ghani" sapa Abian yang memencet tombol dan tampak wajah Ghani disana.
"Halo G" sapa Duncan dan Gozali bersamaan.
"Hi guys. Sudah dapat info?" tanya Ghani.
"Masih membongkar data haram dulu G" sahut Abian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Aku sudah dapat" jawab Ghani.
Ketiga cogan disana langsung menoleh ke arah Ghani.
"Siapa?" tanya Duncan penasaran.
"Jeremy Eagle McCloud."
"What?" seru Gozali. "Apanya klan McCloud?"
"Cucu satu-satunya Samuel McCloud."
Duncan, Abian dan Gozali hanya saling berpandangan.
***
"Bagaimana bisa?" tanya Duncan.
"Aku bacakan hasil bongkar databese FBI sekalian aku minta tolong dengan teman di interpol. Samuel McCloud memiliki seorang anak laki-laki bernama Bradley tapi dia kabur ke Indonesia menjadi dosen karena tidak mau menjadi bagian mafia. Di Jakarta dia bertemu dengan seorang mahasiswinya dan mereka menikah memiliki satu anak bernama Jeremy Eagle McCloud."
__ADS_1
"Benar kan aku bilang, dia pasti ada darah Indonesia" sahut Joshua yang akhirnya ikut bergabung sepulangnya dari mengajar.
"Lalu? Apakah dia bersekolah di Jakarta?" tanya Duncan yang surprise adanya cucu klan McCloud.
"Sebentar, aku masih mencocokkan datanya." Ghani mengutak-atik datanya dan menggelengkan kepalanya. "Tampaknya dia memakai nama Indonesia di Jakarta, aku akan menyelidiki lebih dalam lagi."
"Setidaknya kita sudah tahu namanya" ucap Gozali.
"Nggak sia-sia kamu terdampar di Quantico" kekeh Joshua.
"Ternyata nama itu sudah masuk daftar hitam FBI dan Interpol namun hingga sekarang belum ada yang berhasil menangkapnya."
"Apa Bradley McCloud masih hidup, G?" tanya Duncan.
"Bradley McCloud meninggal karena kecelakaan lalulintas sekitar 13 tahun lalu. Jika kalkulasiku tidak salah, Jeremy Eagle McCloud, seumuran denganku sekitar 25 tahun."
Duncan mengusap wajahnya kasar. Semuda itu sudah berani membunuh orang tanpa berkedip. Psycho!
"Akan kita bongkar nama aliasnya jika memang dia memakai nama Indonesia." Joshua mulai menggunakan search engine di semua bandara di Indonesia. "Tapi harus menunggu karena lama."
"Tak apa. Kita istirahat dulu saja. Lanjut besok" ucap Abian.
"Selamat istirahat semua" pamit Duncan karena di New York sudah malam sedangkan di Tokyo dan Jakarta sudah siang.
***
Duncan masih belum bisa memejamkan matanya memikirkan kenekatan klan McCloud masuk ke Jakarta dan membunuh seorang pejabat negara. Meskipun sekarang situasi kondusif tidak ada insiden, bahkan pihak kepolisian tidak bisa mengungkapkan pelaku pembunuhan, tetap saja Duncan khawatir.
Entah kenapa perasannya terasa tidak enak, seolah merasakan akan ada peristiwa besar terjadi. Duncan menoleh ke arah Rhea yang sudah terlelap.
Duncan memeluk istrinya yang menggumam khas orang tidur.
"Love you my Rey" bisik Duncan yang dijawab gumaman tidak jelas Rhea.
***
Edward hanya diam mendengarkan laporan yang diberikan Abian kepadanya. Dirinya memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan para klan dunia hitam area Inggris Raya karena dia lebih mementingkan bisnisnya.
"Apa kamu yakin Bian?" tanya Edward sambil membaca laporan yang dikirimkan via email. Meskipun Edward sudah mendengarkan laporan tapi dia juga tetap membaca laporan tertulis.
"Yakin Oom. Info itu kami dapatkan dari Ghani."
Edward menaikkan sebelah alisnya. "Ghani?"
Abian mengangguk yang tampak di layar monitor. "Ghani membongkar data di FBI dan meminta bantuan dari Interpol juga."
Edward tersenyum smirk. "Nggak salah dia memilih ikut FBI karena memang sangat membantu kita."
"Oom nggak membantu kepolisian Indonesia?" tanya Abian.
"Oom Gala sudah pensiun Bian, jangan diganggu. Oom tidak yakin mereka bisa menemukan cucu Samuel karena mereka sangat lihai untuk menghindari radar polisi. Kamu tahu, jaman Duncan McGregor hidup, satu-satunya klan Skotlandia yang sulit ditangkap adalah klan McCloud."
__ADS_1
"Apakah klan McGregor pernah ditangkap?" tanya Abian.
"Sering!" Edward terbahak. "Bukan karena kita lemah tapi karena kita bermain cantik."
"Astaga kalian orang-orang tua itu ya."
"Semoga Joshua bisa menemukan nama samaran yang dipakai Jeremy Eagle McCloud di Jakarta dan semoga juga dia masih disana."
"Mereka berurusan dengan keluarga yang salah meskipun secara tidak sengaja" geram Abian.
"Keluarga besar kita tidak pernah mengusik keluarga siapapun tapi kalau ada yang mencubit, jangan harap bisa keluar dengan selamat."
Abian merinding mendengar ucapan Edward.
Macan tidurnya bangun bro!
***
Ghani membuka matanya dan kepalanya agak sedikit berat karena semalaman berusaha mencari informasi di semua sekolah di Jakarta yang celakanya tidak semua terkomputerisasi terutama data murid dua puluh tahun lalu.
Sedikit terhuyung, pria tampan itu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi menyegarkan tubuh dan otaknya.
Suara notifikasi terdengar di komputer canggihnya namun Ghani tidak mendengar karena terhalang suara shower yang mengalir.
Usai mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya, Ghani melihat notifikasi yang dia dapat. Matanya membola melihat nama yang muncul disana selain nama yang sudah dihapalnya.
Gotcha!
***
Joshua terbangun tengah malam setelah per**cintaan panasnya dengan Miki. Dirinya merasa lapar dan hendak turun ke dapur.
Merasakan ada gerakan di sebelah, Miki pun membuka matanya meskipun separuh. "Abang mau kemana?" tanyanya dengan suara serak melihat suaminya memakai celana piyama nya tanpa baju.
"Lapar mau cari makanan" bisik ayah dua anak itu sambil mencium kening Miki lalu mengambil ponselnya di nakas.
"Hhhmmm. Kayaknya mommy nyimpan bento deh. Dipanaskan saja di microwave."
"Oke." Joshua berjalan menuju pintu kamar dan membukanya pelan begitu juga saat menutupnya. Miki pun terlelap kembali.
Dengan santai Joshua menuju dapur mansion namun suara notifikasi dari ponsel yang dibawanya membuatnya masuk ke ruang kerjanya yang dibuat khusus.
Sebuah nama muncul disana. Joshua tersenyum penuh kemenangan.
Dapat kau!
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️