
Ankara terkejut ketika ia mendapati kakaknya memergokinya memegang obat salep untuk luka memar di bahu Nagini.
"Obat ini untuk...
Ucap Ankara, akan tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya. Ankara bingung harus menjawab apa pada kakaknya. Sementara, Zham masih menunggu jawabannya. Akhirnya, ia pun berterus terang pada kakaknya kalau obat itu untuk Nagini yang sedang terluka.
"Untuk Naghi, kak...
Ucap Ankara.
"Untuk, Naghi! Apa, Naghi terluka?"
Tanya Zham.
"Bahunya, kak memar...
Jawab Ankara.
"Apa! Berikan salepnya...biar kakak yang mengobatinya...
Ucap Zham.
"Ck, mengapa jadi begini...
Ucap Ankara bicara tak jelas.
Zham berlalu meninggalkan Ankara sambil membawa obat salep untuk Nagini. Ankara yang melihat itu serasa hatinya panas. Bisa-bisanya, kakaknya perhatian pada wanita yang ia suka.
Ahh, kakak sialan! Beraninya, dia mengambil kesempatan dariku...
Ucap hati Ankara.
Lalu, Ankara pun mengikuti langkah kaki Zham menuju kamar Nagini. Dimana, Nagini terbaring dengan posisi telungkup. Zham langsung masuk begitu pula dengan Ankara.
"Naghi! Apa, yang sesungguhnya sudah terjadi kepadamu...mengapa, kau terluka begini...
Ucap Zham tiba-tiba panik.
"Zham...
Ucap Nagini begitu menyadari kalau Zham masuk ke kamarnya.
Dasar, laki-laki sialan! Bukankah kamu yang memukulku? Hanya, demi wanita manusia menjijikkan itu! Cih...
Ucap hati Nagini.
"Ayo, biar aku obati lukamu...
Ucap Zham.
Apa? Mengobatiku? Cih...aku tidak mau! Lebih baik Ankara saja yang mengobatiku...
Ucap hati Nagini lagi.
"Tidak, Zham? Biar Ankara saja yang melakukannya...Ankara, tolonglah...bahuku sakit sekali...
Ucap Nagini menolak kebaikan hati Zham. Zham diam tidak mengerti. Sedangkan, Ankara tersenyum senang.
__ADS_1
"Kakak? Biar, aku saja yg mengobati bahu Naghi. Lebih baik, sekarang kakak bantu ibu di dapur...
Ucap Ankara mengusir kakaknya secara halus.
"Aku diusir?"
Ucap Zham.
"Bukan diusir, kak? Tapi, Naghi tidak mau kakak yang mengobatinya...jadi, kakak ke dapur bantu ibu...
Ucap Ankara tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu...
Balas Zham akhirnya. Zham segera keluar dari kamar Nagini. Ia menemui ibunya di dapur. Sedang, Ankara ia bagaikan mendapat rezeki banyak. Langsung, saja ia bergerak cepat. Ia membuka pakaian Nagini. Ia menarik resleting baju Nagini hingga terlihatlah bahu Nagini yg memar membiru. Ankara melihat bahu yg memar dan warnanya menjadi biru.
"Astaga, Naghi! Bahumu ini sepertinya, memarnya sudah dari kemarin...memangnya, kemarin kamu kemana? Bukannya, kamu kemarin di kamar saja?"
Ucap Ankara panjang lebar.
"Ke...kemarin? Kemarin, aku...! Aahh...
Ucap Nagini merasakan sakit di bahunya.
"Sudahlah, tidak usah dijawab dulu. Aku akan mengoleskan obat salep ini di bahumu...kalau, sakit tahan ya, sayang?"
Ucap Ankara.
Sayang?
Ucap hati Nagini.
Ucap Ankara dalam hati.
"Iya, Ankara! Aku akan menahan rasa sakitnya."
Ucap Nagini.
Lalu, Ankara mengoleskan obat tersebut ke bagian tubuh Nagini yg sakit. Dengan, lembut dan perlahan hingga tak menimbulkan rasa sakit di tubuh Nagini. Nagini merasakan sentuhan familiar ini sebelumnya. Seperti, sentuhan kekasihnya dulu Zham. Sewaktu mereka masih bersama. Dan, sebelum pergi meninggalkan dirinya selama seribu tahun dalam penantian untuk pertemuan kembali.
Sentuhan ini benar-benar familiar sekali...Ankara, mengapa kamu bisa memiliki sentuhan lembut seperti dirinya...
Ucap Nagini dalam hati menangis sedih.
Isak tangis Nagini terdengar oleh Ankara. Ankara terkejut mendengarnya. Ia menghentikan kegiatannya memberi obat pada tubuh Nagini.
"Naghi, kau menangis?"
Tanya Ankara. Nagini terkejut sekali mendengar pertanyaan Ankara.
"Apa??? Em...? Ti...tidak...Ankara? A....aku...tidak menangis?"
Jawab Nagini
"Kau bohong, Naghi? Jelas-jelas, aku mendengarnya...katakan, kepadaku apa yg membuatmu menangis...
Ucap Ankara. Nagini diam tidak menjawab. Bagaimana, ia menceritakan hal yg membuatnya menangis. Itu sama saja dengan membongkar jati dirinya sendiri pada Ankara.
__ADS_1
"Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya padaku...
Ucap Ankara kecewa. Padahal, ia ingin sekali mendengar suka duka Nagini. Berbagi bersama layaknya sepasang kekasih. Tetapi, ternyata tidak. Ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa orang yang disukai Nagini bukanlah dirinya. Bisa jadi kakaknya sendiri, Zham. Ankara menyerah. Lalu, ia pergi keluar dari kamar Nagini.
Tapi, saat ia hendak keluar dari kamar Nagini. Nagini menarik tangannya. Alhasil, tubuh Ankara jatuh di atas tubuh Nagini. Dan, hidung Ankara menyentuh luka memar di tubuh Nagini. Saat itulah, Ankara mencium bau yg terasa amis di tubuh Nagini. Ankara terkejut. Ia merasakan sesuatu yg sama dengan dirinya.
"Bau ini! Naghi, mungkinkah kau sama denganku?"
Ucap hati Ankara.
Namun, ketika hidung Ankara menyentuh luka memar itu. Seketika, luka memar itu hilang tanpa bekas karena ketika hidung Ankara mencium bau amis tersebut. Hidung Ankara mengeluarkan hawa penyembuh dan membuat luka memar itu hilang. Nagini merasakan luka memarnya sudah hilang dan ia sudah tidak kesakitan lagi.Tetap, tubuh Ankara masih menimpa tubuhnya. Nagini meminta Ankara untuk bangkit dari atas tubuhnya.
"Ankara? Bisakah, kau bangun dari atas tubuhku?"
Nagini meminta.
"Ehh? Iya....iya....aku akan bangkit. Oh, ya? Tunggu, sebentar biar aku yg menaikkan resletingnya dulu."
Ucap Ankara kemudian menaikkan resleting baju Nagini.
"Terima kasih, Ankara? Sekarang, lukaku sudah sembuh sepenuhnya. Obat salep apa yg kau beri itu?"
Ucap Nagini.
"Oh, ini adalah obat salep untuk luka memar. Ibu membelinya di apotik...
Ucap Anakara
"Oh"
Balas Nagini pendek.
Tidak mungkin lukaku demikian cepat sembuh hanya karena obat salep buatan manusia...aku merasa lukaku sembuh karena sesuatu...sejenak aku merasakannya sedikit...meski, aku tidak tahu apa itu? Ankara? Siapa, kamu yang sebenarnya...
Ucap Nagini dalam hati.
"Naghi, hari ini kamu beristirahat saja...tidak perlu membantu pekerjaan ibu...soal pekerjaan, biar aku sendiri yg akan membantu ibu...
Ucap Ankara. Nagini menjadi bingung dengan perubahan sikap Ankara. Menurutnya Ankara sudah banyak berubah. Dan, ia tidak tahu apa yang membuat sikap Ankara tiba-tiba berubah terhadap dirinya.
Baik sekali dia...biasanya...dia akan marah-marah kepadaku...mengapa sekarang ia bersikap manis kepadaku?
Ucap Nagini dalam hati lagi.
"Naghi, aku keluar dulu...kamu istirahat saja dulu...
Ucap Ankara.
Nagini menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ankara tersenyum melihatnya. Dan, disana dibalik pintu kamar Nagini. Zham yg sedari tadi mengintip dan melihat semua yg terjadi disana. Saat ia melihat Ankara akan keluar. Cepat-cepat, dia akan melangkahkan kakinya dari sana untuk menemui Nagini.
Bersambung....
-NAGINI, DEWI ULAR-
Foto visual Ankara
__ADS_1
Foto visual Zham