NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 40. Nagini VS Nagadhini 2


__ADS_3

Archa Sevadha dan Ratu Ular Katrina Maheswari pun segera pergi menyelamatkan nyawa Nagini yang sedang terancam. Sedangkan, Zham dan Ankara beserta Baba sudah sampai di Dunia Ular. Mereka bertiga pun segera pergi ke istana Dewi Ular. Saat itu cuaca sangat buruk. Angin bertiup kencang dari segaal arah. Menandakan ada sesuatu hal yang besar akan terjadi.


Baba memperhatikan segalanya, dan ia tampak bergidik ketakutan melihat cuaca alam siluman ular berubah, tidak seperti biasanya. Zham dan Ankara pun juga memiliki firasat yang sama. Bahwa akan terjadi sesuatu yang akan mengubah alam Dunia Ular selamanya. Baba berdiri menghentikan langkah kakinya, ia menatap seisi alam Dunia Ular. Ia melihat akan ada peristiwa buruk yang menimpa Nagini.


Acha...ini berbahaya...nyawa Dewi Ular dalam bahaya...


Ucapnya dalam hati. Zham dan Ankara pun menghentikan langkah kaki mereka setelah mereka melihat Baba menghentikan laju langkahnya. Mereka berdua pun saling pandang.


"Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh si Baba itu, Ankara...


Tanya Zham.


"Tidak tahu, kakak...semenjak sampai disini sedari tadi ia memperhatikan seluruh alam ular yang tiba-tiba berangin kencang...


Balas Ankara.


"Coba kau tanyakan kepadanya...perihal yang sedang ia pikirkan...


Ucap Zham.


"Baiklah, kakak...


Ucap Ankara. Lalu, Ankara pun mendekati Baba yang sedang terdiam.


"Baba...


Panggilnya dan Baba pun terkejut.


"Ya, Ankara...


Ucap Baba.


"Apa, yang sedang kau lakukan Baba...


Tanya Ankara.


"Perubahan cuaca di alam Dunia Ular benar-benar tidak wajar...ini merupakam tanda bahaya...


Balas Baba.


"Maksudnya?"


Tanya Ankara lagi.


"Maksudnya, ini berkaitan dengan Dewi Ular...segeralah kalian pergi menuju istana Dewi Ular...aku akan menyusul kemudian...pergilah! Nyawa Dewi Ular dalam bahaya...


Balas Baba lagi.


"Apa! Nyawa Dewi Ular dalam bahaya?"


Ucap Ankara.


"Ya, sudah cepat pergi sana...kita tidak memiliki banyak waktu...


Ucap Baba.


"Baiklah...


Ucap Ankara. Lalu, Ankara pun segera berlari menuju kakaknya.


"Kakak, ini gawat...nyawa Naghi dalam bahaya...kita harus cepat, kakak...


Ucap Ankara.


"Apa! Nyawa Naghi, dalam bahaya?"


Ucap Zham.


"Ya, kakak...


Ucap Ankara.


"Kalau begitu, ayo...

__ADS_1


Ucap Zham. Lalu, kemudian keduanya pun berubah menjadi siluman ular. Dan, langsung pergi menyusuri hutan menuju istana Dewi Ular dimana saat ini sedang terjadi pertarungan antara Nagini melawan Nagadhini. Pertarungan tersebut sangat dahsyat, karena baik Nagini maupun Nagadhini sama kuatnya. Kesaktian mereka pun sama tinggi. Sejauh pertarungan mereka belum ada yang kalah maupun menang.


"Nagini...kau semakin kuat semenjak pertarungan kita yang terakhir...apa karena Intisari Kehidupan yang sedang berada di dalam tubuhmu...


Ucap Nagadhini.


"Nagadhini, aku semakin kuat bukan karena Intisari Kehidupan tetapi karena aku terus berlatih tanpa henti...


"Ucap Nagini.


"Oh, ya? Lalu, mengapa kau tidak dapat menjatuhkanku dengan mudah...sewaktu dulu kau sangat mudah untuk menjatuhkan diriku...lalu sekarang kau tidak mudah menjatuhkanku dengan mudah...bukankah kau kau bilang kau terus berlatih tanpa henti...


Ucap Nagadhini mencoba membuat Nagini terusik.


"Nagadhini, pancinganmu memang bagus...kau mencoba untuk mengusikku...akan tetapi pancinganmu tersebut tidak berhasil...sekarang katakan kepadaku apa yang lebih penting dari semua ini...ilmu kesaktian atau Intisari Kehidupan...


Ucap Nagini.


"Wah, kau memang pintar sekali Nagini...kau dapat melihat satu trik yang kucoba mainkan disini...mata ularmu benar-benar sangat istimewa...sepertinya bukan hanya Intisari Kehidupan saja yang kuinginkan...akan tetapi mata ularmu juga...


Ucap Nagadhini yang kemudian segera menyerang Nagini kembali. Dan, kali ini serangan kesekian kalinya jauh lebih berbahaya. Juga, Nagini mengetahuinya. Serangan Nagadhini meningkat menjadi serangan yang lebih berbahaya dan dapat mencabut nyawa lawannya. Akan, tetapi Nagini sudah siaga dengan semua serangan-serangan Nagadhini demi mendapatkan mata ular Nagini.


Kali ini keserakahan Nagadhini semakin menjadi-jadi. Nagini pun tidak ingin cepat menyerah kalah dari Nagadhini. Ia tidak ingin menyerahkan kedua benda paling berharga bagi dirinya. Oleh sebab itu ia pun menyerang Nagadhini dengan semburan racun yang keluar dari bibirnya. Semburan tersebut sangat cepat keluar dari bibir Nagini sehingga mengenai tubuh Nagadhini bagian lengannya.


"Akhh...


Jerit Nagadhini kesakitan sambil memegangi lengannya. Akan tetapi, tidak sampai merenggut nyawa Nagadhini. Sebab, Nagadhini bukanlah siluman ular biasa.


"Kurang ajar kau, Nagini...kau melukai lenganku...maka kau terimalah ini...


Ucap Nagadhini, kemudian ia pun berubah menjadi seekor ular separuh bertubuh ular dan separuh lagi bertubuh manusia. Sebelumnya, ia menyimpan Mani merah milik Nagini di dalam tubuhnya. Lalu, setelahnya ia pun melancarkan serangan kepada Nagini dengan mengibaskan ekornya ke arah Nagini yang masih dalam wujud manusia.


"Graaa...


Kibasan ekor Nagadhini yang besar mencoba menghantam sasarannya. Akan tetapi, dengan gesit Nagini menghindar.


"Grrhh...


"Kurang ajar, kau Nagini...jangan menghindar saja...balaslah seranganku...


Ucapnya marah.


"Nagadhini, apakah secepat itu kau menyerah?"


Tanya Nagini dengan senyum mengejek.


"Hentikan omong kosongmu, Nagini! Lawanlah, aku dan aku dengan senang hati akan melayaniku...jangan bermain-main saja kau, Nagin!"


Balas Nagadhini dengan tatapan tajam.


"Oh, serius?"


Ucap Nagini.


"Apa?"


Ucap Nagadhini tak mengerti.


"Apa maksudmu, Nagini...


Tanya Nagadhini.


"Nagadhini, kau memang ular siluman yang bodoh...arah perkataanku sudah jelas...akan tetapi kau tidak mengerti dengan maksudku...


Ucap Nagini.


"Nagini, sudahlah...tidak usah banyak bicara...sekarang mari kita akhiri saja semua permainan kita...


Ucap Nagadhini.


"Baiklah, jika itu maumu...


Ucap Nagini. Kemudian, dalam sekejap saja ia sudah berubah menjadi seekor ular raksasa yang berwujud separuh ular dan separuhnya lagi manusia. Dan, akhirnya keduanya sama imbang di dalam pertarungan tersebut. Masing-masing menggunakan kesaktiannya. Nagini menyerang dengan semburan beracunnya. Akan, tetapi Nagadhini menghindarinya.

__ADS_1


Kembali, Nagadhini pun mengubah seluruh bentuk tubuhnya menjadi seekor ular. Lalu, ia pun mematuk Nagini. Nagini tidak dapat menghindari gerakan cepat kepala ular Nagadhini. Sehingga, ia pun terkena racun yang dimasukkan oleh Nagadhini ke dalam tubuhnya melalui patukannya. Dewi Ular pun terhuyung-huyung merasakan efek racun yang diberikan oleh Nagadhini. Dan, Nagini pun kembali ke wujud semula.


Sialan, efek racun ini benar-benar membuatku lemah...dia sengaja melakukannya sebab, ia ingin mengalahkanku dengan cara mudah tanpa harus bertarung berhari-hari...bagus sekali Nagadhini...


Ucap Nagini dalam hati. Sementara itu, ibu dari Dewi Ular pun telah tiba di arena pertarungan tersebut. Dan, menyusul kemudian Zham serta Ankara juga telah tiba. Sedangkan, Baba ia akan menyusul sebentar lagi. Mereka semua yang melihat Nagini terluka pun berlari hendak melihat keadaan Nagini. Akan tetapi, Nagini memberikan isyarat dengan menggunakan telapak tangannya agar mereka semua tidak perlu membantunya.


"Jangan mendekat! Aku dapat mengatasi ular serakah ini...


Ucap Nagini setelah ia merasakan efek racun Nagadhini yang sedang mengalir di tubuhnya dapat dikendalikan dengan mudah. Meski sempat tadi, ia terhuyung-huyung ketika ia merasakan racun Nagadhini mengaliri aliran darahnya. Lalu, kemudian bola mata Nagini pun berubah menjadi mata ular lalu kemudian wujudnya pun berubah menjadi seekor ular raksasa berkepala lima. Wujud asli yang diberikan sang Pencipta ketika, ketika ia menghadapi Nagadhini di masa lalu. Nagadhini yang melihat Nagini dalam bentuk sempurnanya ia pun tampak ketakutan.


Apa! Wujud itu lagi? Oh, tidak....Nagini dalam bentuk sempurna sangat berbahaya...dia dapat membunuhku dengan mudah...dan bisa yang ia semburkan dari lima kepalanya dapat menghabisiku dengan sangat cepat...Ini berarti aku harus menggunakan Mani merah miliknya...dengan begitu ia akan lenyap untuk selamanya...hahaha...


Ucap Nagadhini dalam hati sambil tertawa. Lalu, kemudian Nagadhini pun kembali ke bentuk semula. Semua yang ada disana merasa heran melihat hal tersebut. Nagadhini menyerah? Pikir mereka, akan tetapi sebenarnya Nagadhini tidak menyerah. Ia kemudian menengadahkan kedua tangannya ke atas langit. Dan, tidak lama kemudian Mani merah pun muncul. Melihat hal itu sungguh membuat semua yang ada disana terkejut. Nagadhini pun berseru kepada Nagadhini...


"Nagini! Lihatlah, apa yang ada di tanganku!"


Ucap Nagadhini dengan suara lantang. Nagini pun melihat apa yang ada di tangan Nagadhini. Seketika, ia pun menjadi terkejut begitu melihat Mani merah miliknya masih berada di tangan Nagadhini. Sebab tadi ia gagal merebutnya kembali dari tangan Nagadhini.


Itu Mani merah milikku, tadi aku ingin merebutnya dari tangan Nagadhini akan tetapi tidak berhasil...kurang ajar...apa yang hendak ia lakukan dengan Mani merah milikku...ah, jangan-jangan...


Ucap Nagini dalam hati sambil tersentak ketika ia mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Mani merah miliknya tersebut.


Dia sudah tahu rahasiaku...Mani merah adalah nyawaku...dan dia ingin melenyapkanku dengan menggunakan Mani merah tersebut...kurang ajar, Nagdhini...aku harus merebut Mani merah milikku...


Ucap Nagini dalam hati. Dan, Nagadhini pun tersenyum senang ketika Nagini menyadari bahwa dirinya telah mengetahui rahasia Nagini melalui tapa brata saat itu.


"Sudah sadar, Nagini...ya, percuma saja walau kau dalam bentuk sesempurna itu...sebab tetap saja kau akan musnah untuk selamanya...karena apa? Karena, aku akan melenyapkanmu dengan Mani merah milikmu ini!"


Ucap Nagadhini tiba-tiba sambil menghancurkan Mani merah milik Nagini dengan kedua tangannya.


"Hancur!"


Ucap Nagadhini tiba-tiba. Dan, Nagini pun berteriak...


"Tidak!"


Teriakannya terdengar nyaring. Lalu, semua yang ada disana pun terkejut ketika melihat hal tersebut. Sungguh mereka tidak menyangka jika hal tersebut akan terjadi. Dan, apa yang mereka lihat sungguh di luar dugaan. Perlahan tubuh Nagini mengalami kehancuran yang parah. Nagini berteriak menahan rasa sakit yang mengiris seluruh tubuhnya. Nagadhini yang melihat musuhnya tampak kesakitan ia tertawa sangat bahagia.


"Aarrrgghhh...


Teriaknya.


"Hahaha...


Tawa Nagadhini senang. Nagadhini sangat senang dan bahagia melihat tubuh Nagini pupus sedikit demi sedikit. Sehingga, mereka semua yang ada disana. Yang melihat kejadian tersebut semuanya meneteskan airmata. Mereka bersedih untuk Dewi Ular yang akhirnya menemukan akhirnya ditangan Nagadhini yang serakah.


Akan tetapi, sebelum tubuh Nagini pupus seluruhnya. Tiba-tiba, saja muncul seberkas sinar putih yang membantuk seekor ular Naga Putih Raksasa yang tiba-tiba hadir disana untuk menolong Nagini. Ular Naga Putih tersebut adalah eyang Sri Kantil alias Ular Suci atau dengan nama lain Candrika. Ia lalu membawa tubuh Nagini dan dalam sekejap mata ia pun segera menghilang.



"Bzzt...


Dan, kepergiannya tidak dapat dilihat oleh siapa pun bahkan Nagadhini sekalipun. Nagadhini terkejut ketika ia tidak melihat Nagini disana dan seekor ular Naga Putih tadi yang ada disana pun menghilang. Nagadhini sangat marah sekali, karena ia tidak dapat melihat atau pun menyaksikan kematian Nagini.


"Kurang ajar...siapa ular Naga Putih tersebut...dia membawa musuhku pergi...sialan!"


Ucapnya marah. Dan, Nagadhini meluapkan emosinya dengan melancarkan serangan-serangannya ke arah pohon-pohon yang ada disana. Kemudian setelahnya ia pun segera pergi meninggalkan istana Dewi Ular. Karena, ia tidak mau menjadi mangsa bagi seluruh siluman ular yang mendukung Nagini. Sedangkan, seluruh makhluk siluman yang mendukung Nagini pun dapat bernafas lega. Hanya Zham, Ankara beserta Archa Sevadha saja yang menangis dan bersedih ketika melihat hal tersebut menimpa Nagini.


"Hiks...anakku...Nagini!"


Tangis Archa Sevadha. Disambut dengan tangis Ankara dan Zham.


"Naghi...cintaku...kekasihku...mengapa harus begini...


Ucap Zham dengan airmata berderai.


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!"


Ucap Zham meratapi kepergian Nagini. Sungguh ia tidak terima Nagini kekasihnya tiada begitu cepat. Apalagi, Nagini tiada di tangan Nagadhini musuh besarnya. Ankara pun juga, begitu. Akan tetapi, firasat Ankara mengatakan kalau sesungguhnya Nagini belum tiada.


Tidak mungkin dia tiada...dia pasti masih hidup...dan Ular Naga Putih tadi pasti akan menyelamatkan hidupnya...aku percaya dan firasatku benar...


NAGINI, DEWI ULAR SEASON 1 TAMAT

__ADS_1


__ADS_2