
Tengah malam pukul 01.00 dini hari...
Dua pasangan suami istri sedang melesat di tengah malam menuju Selatan dimana Aisha sedang menunggu mereka di depan halaman rumah. Tidak lama mereka pun sampai disana. Kedua pasutri itu pun menjejakkan kakinya di bumi. Aisha menyambut kedua pasutri tersebut.
"Salam hormat kami berdua, nyai."
Sapa Cintamani dan Joko membungkukkan tubuh.
"Kuterima salam kalian berdua, bangunlah!"
Balas Aisha.
"Ada hal penting apa yang membuat kalian datang kesini."
Tanya Aisha.
"Nyai Dewi, maksud kedatangan kami berdua berkenaan dengan pesan Pangeran Ankara, nyai...ini lihatlah."
Ucap Cintamani sambil menyerahkan sepucuk surat bertuliskan aksara jawi kuno. Aisha menerimanya, lalu membaca isi surat dari Pangeran Ankara. Matanya membulat manakala ia membaca surat dari Ankara tersebut.
Kedua pasutri tersebut yang melihat kekhawatiran terlukis di wajah Aisha hanya bisa saling pandang saja. Setelah, Aisha selesai membaca surat dari Pangeran Ankara ia menarik nafas lelah. Cintamani yang penasaran pun bertanya.
"Apa isi surat tersebut, nyai...mengapa nyai begitu tampak khawatir."
Tanya Cintamani.
"Akan terjadi masalah besar...dan seluruh dunia dalam bahaya."
Jawab Aisha.
"Apa! Nyai, bolehkah saya melihat isi surat dari Pangeran Ankara?"
Pinta Cintamani.
"Ini, bacalah dan berikan saran kalian...apa yang harus kita lakukan."
Jawab Aisha sambil menyerahkan surat tersebut ke tangan Cintamani. Cintamani pun menerimanya dan membacanya. Raut wajahnya pun berubah ketika ia membaca surat tersebut.
"Nyai! Ini benar-benar bahaya."
Ucap Cintamani.
"Apanya yang bahaya?"
Tanya Anna yang tiba-tiba saja ada disana dan sedari tadi hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan ketiga ular siluman tersebut. Ketiganya pun menoleh ketika mendengar suara Anna. Cintamani terkejut melihat Anna dan begitu sebaliknya dengan Anna.
"Kau?"
Ucap Anna dan Cintamani bersamaan.
"Bagaimana kau ada disini!"
Ucap Anna sambil menghunus pedangnya.
"Haish! Kau bertanya padaku? Lalu, bagaimana aku menjawabnya? Jika, kau menghunus pedangmu seperti itu kepadaku!"
Ucap Cintamani. Anna yang mendengar kata-kata Cintamani pun kembali menyarungkan kembali pedangnya.
"Nah, begitu lebih baik."
Ucap Cintamani.
"Baik, sekarang bicara."
Ucap Anna.
"Dia disini karena aku yang memanggilnya."
Ucap Aisha tiba-tiba memotong pembicaraan antara Anna dan Cintamani.
"Kau yang memanggilnya?"
Tanya Anna. Cintamani yang melihat Anna berbicara tidak sopan ia menjadi marah ketika melihat tingkah laku Anna yang dinilai tidak sopan kepada Aisha.
"Hei, bicara yang sopan! Dia lebih tinggi dibandingkan dirimu."
Balas Cintamani.
__ADS_1
"Apa! Lebih tinggi dariku? Apa maksudnya?"
Ucap Anna.
"Dia itu...
Ucapan Cintamani terpotong karena Aisha tiba-tiba menyela kata-kata Cintamani.
"Cintamani, tidak usah diributkan lagi...kelak ia akan mengetahuinya sendiri...sekarang penyelesaian dari masalah ini...bagaimana kalian akan bertindak!"
Ucap Aisha menenangkan Cintamani.
"Iya, baiklah nyai...masalah ini sesungguhnya tersebar dan terdengar di kalangan bangsa siluman ular...namun, saat itu kami belum memastikan kebenarannya, nyai...tetapi kemarin Pangeran Ankara memanggil kami dan menyerahkan sepucuk surat untuk diberikan kepadamu...kami berpikir pasti hal tersebut ada hubungannya."
Ucap Cintamani.
"Lalu, katakan kepadaku...apa rencanamu dan suamimu...agar mereka yang berhati jahat dan serakah tidak mendapatkannya."
Tanya Aisha.
"Saat ini kami belum memiliki rencana, nyai...nyai, jika memang anda memiliki rencana...katakanlah kepada kami."
Balas Cintamani. Anna menarik nafas lelah.
"Kalau menurutku, lebih baik jika membiarkan mereka saling rebut Peta itu...setelah, pihak yang menang yang mendapatkannya maka saat itu juga kita bergerak...sebentar lagi gerhana bulan akan terjadi tidak lama lagi, kan?"
Ucap Aisha.
"Iya, nyai."
Ucap Cintamani.
"Kalau begitu, cepatlah kalian berangkat sekarang."
Ucap Aisha.
"Baik, nyai Dewi?"
Ucap Cintamani segera pergi dari tempat tersebut bersama dengan suaminya. Sedangkan, Anna setelah kepergian sepasang pasutri tersebut. Ia pun segera berbicara dengan Aisha.
"Katakan kepadaku yang sejujurnya, siapakah kau ini yang sebenarnya Aisha? Mengapa, kau berhubungan dengan kedua siluman tadi."
Tanya Anna.
Jawab Aisha.
"Oh, jadi kau tidak ingin memberitahuku?"
Tanya Anna.
"Tidak!"
Jawab Aisha.
"Kurang ajar, kau Aisha...aku bertanya kepadamu...tetapi kau tidak memberi jawaban kepadaku...apa yang sesungguhnya yang kau sembunyikan dariku, Aisha."
Ucap Anna.
"Tidak ada yang kusembunyikan darimu...ini lihatlah isi surat tersebut."
Ucap Aisha sambil melemparkan surat dari Ankara kepada Anna. Anna menangkap surat tersebut dan membacanya tetapi ia tidak mengerti dengan tulisan aksara jawi kuno.
"Hap."
"Apa ini, Aisha! Tulisan aksara jawi kuno...aku tidak bisa membacanya."
Ucap Anna setengah marah.
"Bodoh! Itu sudah aku terjemahkan dalam bahasa indonesia...bacalah tulisan di bawahnya."
Ucap Aisha sambil melipat tangan di dada. Anna pun membaca tulisan kecil di bawah tulisan aksara tersebut. Ia sangat terkejut ketika ia sedang membaca tulisan tersebut.
"Ini...ini...tentang gerhana bulan dan Peta Alam Semesta? Dan, bahaya bagi seluruh makhluk hidup di seluruh dunia...apa maksudnya, Aisha?"
Ucap Anna.
"Bodoh! Kau memang tidak mengerti apa pun...semua itu berhubungan dengan iblis!"
__ADS_1
Ucap Aisha.
"Apa! Iblis?"
Ucap Anna terkejut.
"Ya, kau benar-benar tidak tahu masalah ini Anna...bagaimana mereka dapat melatihmu menjadi seorang ksatria tangguh tetapi tidak memberitahumu berita besar dan berbahaya ini."
Ucap Aisha.
"Sungguh, aku tidak tahu Aisha."
Ucap Anna.
"Sepertinya mereka memang tidak ingin kau dan Richard terlibat...mereka ingin menyelamatkan nyawa kalian berdua."
Ucap Aisha.
"Bagaimana, kau tahu itu Aisha?"
Ucap Anna.
"Karena, aku memiliki mata yang istimewa ini."
Ucap Aisha sambil menunjukkan matanya kepada Anna. Dan, dalam sekejap Anna dapat mengetahui pembicaraan antara Adam dan tetua pemburu. Tetapi, hanya sebentar lalu kemudian bayangan tentang hal tersebut segera menghilang begitu saja. Anna terkejut.
"Apa! Bagaimana, mungkin?"
Ucap Anna.
"Ka...kau memiliki anugera istimewa Aisha...anugerah yang tidak biasa."
Ucap Anna.
"Tentu saja, karena aku memilikinya sejak zaman dahulu."
Ucap Aisha memberitahu sambil berlalu meninggalkan Anna dengan sejuta keheranannya.
......................
Sementara itu di sisi lain...
Baba telah sampai di rumahnya yang sederhana. Disana ia bertemu kembali dengan Adam. Dan, saat ini mereka berdua sedang mengobrol.
"Jadi, apakah kau sudah bertemu dengan mereka?"
Tanya Adam.
"Ya, sudah...dan sebentar lagi kita semua akan bergerak."
Balas Baba.
"Kapan, kita akan bergerak?"
Balas Adam.
"Tunggu aku mendapat sinyal dari mereka...aku akan menghubungimu...bersiap-siaplah."
Ucap Baba.
"Baiklah, aku akan menyampaikan hal ini kepada tetua."
Ucap Adam.
"Ya, sekaligus sampaikan salamku kepada sang tetua."
Ucap Baba.
"Ya, baiklah."
Ucap Adam, kemudian ia pun segera pulang ke rumahnya. Untuk memberitahukan hal yang baru saja dibicarakan dengan Baba. Sekarang, Adam baru merasa tenang karena masalah yang sedang ia hadapi sudah menemukan cara penyelesaiannya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1