NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 77. Pasukan Ular


__ADS_3

Di lapangan yang begitu luas. Suasana yang sepi dan mencekam tampak Deviandra dikelilingi pasukan ular Nagadhini yang ditugaskan untuk membawanya kembali ke istana. Akan tetapi, Deviandra menolak dan tidak ingin kembali.


"Tuan putri, harus segera kembali ke istana...ini perintah dari nyai Nagadhini ibu anda."


Ucap kepala pasukan tersebut.


"Tidak mau! Dan, aku tidak akan kembali."


Ucap Deviandra tegas.


"Oh, begitu...tuan putri tidak ingin kembali...dunia manusia bukanlah dunia kita tinggal...seharusnya tuan putri tahu itu."


Ucapnya lagi.


"Ck, itu bukan urusanmu."


Ucap Deviandra.


"Itu menjadi urusanku, tuan putri...sebab nyawa kami ada di tangan Nagadhini...oleh sebab itu, anda harus ikut kami pulang."


Ucap kepala pasukan tersebut.


"Lancang! Siluman hina! Kau hanyalah siluman kecil, tetapi kau berani berkata seperti itu kepadaku, siapa yang memberimu hak untuk mengurusi urusanku!"


Ucap Deviandra marah.


"Nyai Nagadhini yang memberiku hak!"


Ucap kepala pasukan tersebut.


"Kurang ajar! Mulutmu memang harus di hajar!"


Ucap Deviandra yang kemudian langsung menyerang kepala pasukan dan ribuan prajurit siluman kecil bawahan Nagadhini. Dan, seluruh makhluk siluman kecil bawahan tersebut pun juga menyerang Deviandra.


"Kalian, memang harus diberi pelajaran!"


Ucap Deviandra lagi sambil terus menyerang para semut kecil tersebut. Dan, pertempuran tidak terelakkan pun terjadi. Deviandra dikeroyok oleh seluruh pasukan suruhan Nagadhini. Akan tetapi, ia tidak takut karena ia dan Nagadhini sudah berakhir dan ia tidak ingin kembali ke sisi ibunya yang haus kekuasaan serta kekuatan tersebut.


Saat pertempuran yang tidak seimbang tersebut terjadi disana. Di kejauhan, sepasang mata istimewa melihat pertempuran tersebut. Dan, ia pun bergumam.


"Sungguh pertempuran yang tidak seimbang, dimana banyak ular kecil memangsa ular besar...bukankah harus melakukan sesuatu agar seimbang?"


Ucap Aisha yang kemudian mengeluarkan sesuatu dari telapak tangannya. Sebuah sinar keemasan mewarnai telapak tangan Aisha. Dan, kemudian sinar itu pun menembus langit dan tidak lama kemudian muncullah ribuan ular kecil. Yang kemudian berubah bentuk menjadi manusia dan memberi hormat kepada Aisha.


"Hormat kepada, nyai Dewi."


Ucap kepala pasukan tersebut serentak diikuti oleh seluruh barisan prajurit ular.


"Hormat kalian kuterima, bangunlah."


Ucap Aisha.


"Terima kasih, nyai Dewi."


Ucapnya.


"Apa ada gerangan kiranya, nyai Dewi memanggil kami?"


Ucap kepala pasukan tersebut.


"Kalian lihat pertempuran disana?"


Ucap Aisha sambil menunjuk tempat pertempuran yang sedang berlangsung.


"Ya, nyai Dewi...kami melihatnya."


Ucap kepala pasukan tersebut.


"Kalian bantu wanita yang sedang bertempur dengan ribuan ular kecil tersebut."


Ucap Aisha.


"Baiklah, nyai Dewi...sesuai perintah anda!"


Ucap kepala pasukan yang kemudian segera membantu Deviandra. Ia bersama pasukan ular kecil menyerang para ular kecil bawahan Nagadhini.


Dan, pertempuran dengan sesama bangsa ular pun semakin menjadi-jadi. Deviandra terkejut ketika ia mendapat bantuan dari ribuan pasukan ular dari Aisha.


Apa! Tidak mungkin! Siapa, yang membantuku?

__ADS_1


Ucap Deviandra dalam bathin. Deviandra sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. Ia bingung, akan tetapi ia merasa lega akhirnya ada yang membantu dirinya. Dan, tiba-tiba Aisha muncul dan menyapa dirinya.


"Apa, kau sudah merasa lega?"


Tanya Aisha dari belakang. Deviandra menoleh dan ia terkejut.


"Kau?"


Ucapnya.


"Ya, aku...siapa lagi?"


Ucap Aisha.


"Jadi, kau yang menolongku?"


Tanya Deviandra.


"Ya, memangnya ada orang lain lagi yang membantumu?"


Balas Aisha.


"Tidak, bukan itu...tetapi, terima kasih kau telah membantuku."


Ucap Deviandra.


"Ya, katakan kepadaku...siapakah mereka itu?"


Tanya Aisha.


"Mereka adalah pasukan siluman ular ibuku."


Balas Deviandra.


"Ibu? Siapa, ibumu?"


Tanya Aisha.


"Nagadhini."


Balas Deviandra. Mendengar nama Nagadhini disebut membuat Aisha sangat terkejut.


Ucap Aisha terkejut.


"Ya, Nagadhini...ibuku."


Ucapnya mantap.


Ini tidak mungkin, kan? Nagadhini memiliki anak? Dengan siapa, padahal yang kutahu Nagadhini hanya menginginkan Zham...kalau Deviandra putrinya...berarti dia adalah keponakanku!


Ucap Aisha dalam bathin.


"Lalu, apa masalahnya sampai terjadi hal seperti ini."


Tanya Aisha lagi.


"Ceritanya sangat panjang sekali, nanti aku ceritakan kepadamu...lalu, kau bagaimana kau bisa berada disini."


Balas Deviandra.


"Itu? Begini ceritanya...


Ucap Aisha sambil menceritakan kembali hal yang terjadi sampai akhirnya ia membantu Deviandra.


FLASHBACK


Setelah beberapa jam pelajaran berlalu akhirnya jam istirahat pun tiba. Seluruh siswa dan siswi sangat senang dapat keluar pada saat jam istirahat. Dan, tiba-tiba saja Aisha melihat seseorang di atas atap sekolah sedang memperhatikan keadaan sekitar sekolahnya. Seolah sedang mencari sesuatu.


"Disini, tidak ada aura tuan putri! Ini benar-benar, gawat...jika, masih belum ditemukan juga maka terpaksa harus kembali dan memberikan laporan."


Ucap sang kepala pasukan tersebut.


"Dan, sudah pasti hukumannya adalah hukuman yang sangat berat yang akan aku dan pasukanku terima...bagaimana ini!"


Ucapnya lagi.


"Lebih baik mencarinya di tempat lain saja."


Ucap kepala pasukan tersebut kemudian segera pergi dari sekolah tersebut. Aisha yang memperhatikan seseorang yang ternyata adalah bangsa siluman tersebut pun langsung pergi untuk mengejarnya.

__ADS_1


Sangat mencurigakan! Harus dikejar!


Ucap bathinnya. Dengan kecepatan tinggi Aisha pun mengejar bangsa siluman tersebut. Ternyata, setelah mengejarnya Aisha melihat aura siluman telah mengumpul begitu pekat ke satu titik.


Sedang berkumpul dan mulai mengejar seseorang di depan sana. Aisha memperhatikannya dengan seksama, setelah ia memperhatikannya Aisha dapat melihat jelas bahwa orang itu adalah Deviandra.


Seorang bangsa siluman yang sama seperti dirinya. Sedang, berada dalam masalah dan dikejar oleh ribuan pasukan siluman ular. Setelah, satu seruan dari salah satu pasukan siluman ular tersebut membuat dirinya berada dalam masalah.


"Bukankah, itu Deviandra?"


Ucap Aisha terkejut.


"Pantas saja dia tidak masuk sekolah, rupanya seperti ini."


Ucap Aisha lagi yang kemudian terus mengikuti dari belakang ke arah mana pasukan tersebut terus mengejar Deviandra. Sampai akhirnya pengejaran tersebut berakhir di sebuah lapangan yang luas.


FLASHBACK SELESAI


"Begitulah, yang terjadi...aku mengikuti mereka mengejarmu sampai kesini."


Ucap Aisha.


"Oh, jadi begitu."


Ucap Deviandra.


"Ya, begitulah."


Ucap Aisha. Dan, saat itu pertempuran tersebut pun dimenangkan oleh pasukan ular Aisha.


"Nyai, kami sudah membunuh mereka semua."


Ucap kepala pasukan siluman ular tersebut.


"Bagus! Kerja yang sangat bagus sekali...segeralah kalian kembali."


Ucap Aisha kemudian menyimpan kembali pasukan ularnya ke dalam telapak tangannya.


"Masalah sudah selesai."


Ucap Aisha.


"Ya, tetapi semua ini...ibu pasti akan tidak akan tinggal diam."


Ucap Deviandra.


"Aku tahu."


Ucap Aisha.


"Tampaknya kau sangat mengenal betul ibuku."


Ucap Deviandra.


"Hegh! Siapa yang tidak mengenal dirinya...siluman ular paling licik dan serakah."


Ucap Aisha.


"Apakah, ibu sangat jahat? Sehingga, kau pun berkata seperti itu tentangnya."


Ucap Deviandra.


"Aku merasa kau pun sudah tahu bagaimana ibumu itu...jika, tidak kau tidak mungkin lari ke dunia manusia...dan para bawahan ibumu tidak mungkin mengejarmu sampai kesini."


Ucap Aisha.


"Kau benar sekali dan apa yang kualami memang seperti yang kau katakan itu."


Ucap Deviandra.


"Lalu? Apa, kau mau membaginya sedikit denganku."


Ucap Aisha yang kemudian membuat Deviandra berpikir untuk menceritakannya atau tidak. Sebab, sebenarnya ia masih ragu dengan Aisha. Dan, ia juga tidak tahu motif Aisha sehingga membantunya sampai seperti itu.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover

__ADS_1



__ADS_2