
Di malam pekat tersebut 3 sosok ular berwarna berbeda menyusuri hutan bersama-sama. Mereka adalah Ankara, Cintamani dan Joko Asmoro. Mereka bertiga sedang menuju tempat dimana dunia bawah berada. Akan, tetapi sebelum mereka sampai akhirnya mereka bertemu dengan Aisha di tengah perjalanan mereka. Ketiganya pun terkejut. Lalu, ketiganya berubah kembali menjadi manusia.
"Nagini!"
Sapa Ankara.
"Ankara?"
Balas Aisha. Aisha menarik nafas lelah.
"Jangan lagi panggil aku dengan nama itu...panggil aku dengan Aisha...itu lebih baik...
Ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu...sesuai dengan keinginanmu...tampaknya kau sangat tersiksa dengan nama itu...
Ucap Ankara.
"Ya, aku ingin melupakan segala kenangan dengan nama itu...
Ucap Aisha.
"Mengapa, kalian semua ada disini...Cintamani kau juga...
Ucap Aisha.
"Salam hormat hamba, kepada nyai Dewi Ular...
Ucap Cintamani sambil membungkuk memberi hormat kepada Aisha.
"Tidak perlu, begitu sungkan...Cintamani...selama ini kau sudah membantuku untuk menjaga diriku selama ini...untuk itu aku ucapkan terima kasih...
Ucap Aisha.
"Nyai Dewi terlalu berlebihan....nyai tidak perlu begitu, nyai...saya sudah membantu nyai sesuai dengan perintah, nyai...
Ucap Cintamani.
"Baiklah, lalu ada apa kalian semua menghadangku...
Tanya Aisha.
"Tentu saja, kami semua ingin menyambut kelahiran nyai kembali...
Balas Joko Asmoro.
"Kurasa itu tidak perlu, kalian tidak perlu...itu hanya akan memicu musuh untuk bergerak...
Ucap Aisha.
"Lalu, bagaimana nyai?"
Tanya JokoAsmoro.
"Usahakan tetap senyap, meski aku tahu dia telah mengetahui tentang kelahiranku...tetapi, alangkah lebih baik untuk tetap tenang dan diam...jangan, mencampuri urusan mereka...saatnya nanti mereka yang menentangku...mereka akan menanggung rasa sakit yang selama ini aku rasakan...
Ucap Aisha sambil mengepalkan jari-jari tangannya.
"Lalu, nyai bagaimana dengan kematian 4 pemuda tersebut? Seluruh, bangsa manusia menjadi gempar...hamba takut pihak musuh akan memanfaatkan hal ini dan memojokkan anda, nyai...
Ucap Cintamani.
__ADS_1
"Cintamani, tentunya kau apa yang harus kau lakukan jika mereka memanfaatkan situasi ini, bukan?"
Ucap Aisha dan Cintamani pun tersenyum.
"Tentu saja, nyai Dewi...nyai tentu tahu bagaimana aku bertindak sebagai Ratu Ular...
Ucap Cintamani.
"Baiklah, kuserahkan itu kepadamu...Panglima...
Ucap Aisha.
"Panglima?"
Ucap Cintamani.
"Ya, hari ini aku mengangkatmu Cintamani Manikmaya sang Ratu Ular Hijau menjadi panglima perangku...bagaimana?"
Ucap Aisha.
"Ah...terima kasih nyai, atas kemuliaan yang kau anugerahkan kepadaku...
Ucap Cintamani. Dan, semua yang ada disana terlukis rasa bahagia. Baik itu Ankara dan juga Joko Asmoro.
"Selamat untukmu, nyai...akhirnya keinginanmu terkabul untuk selalu dekat dengannya...diantara para Ratu Ular yang lain...kaulah yang paling beruntung...
Ucap Ankara.
"Terima kasih, Ankara...
Ucap Cintamani.
Ucap Joko Asmoro.
"Ini semua karena nyai Dewi...terima kasih nyai?"
Ucap Cintamani.
"Baiklah, kalau begitu kalian tetaplah ada disini untuk mengawasi...sementara aku, akan kembali ke dunia manusia...jika ada sesuatu yang mencurigakan...segera kabari aku...
Ucap Aisha segera menghilang bersama kabut yang sangat pekat. Dan, tinggallah disana mereka bertiga. Ankara, Cintamani dan juga Joko Asmoro. Mereka mendapatkan perintah dari Aisha untuk mengawasi Nagadhini yang wilayah kekuasaannya semakin meluas dan semakin kuat.
...****************...
Pagi hari di sekolah...
Berita 4 pemuda yang tewas mengenaskan meluas sampai ke sekolah Chandra Kirana. Dimana-mana, siswa dan siswi membicarakan hal tersebut. Termasuk Carla dan Nona pun juga mendengar berita tersebut. Dan, mereka berdua tampak sedang membicarakan hal tersebut.
"Kau dengar berita itu?"
Tanya Carla kepada Nona.
"Ya, aku mendengarnya...kematian mereka sungguh mengenaskan...
Balas Nona.
"Lalu, bagaimana sekarang jika mereka mati seperti itu bukankah ini sangat berbahaya? Aku takut polisi akan menangkap kita...
Ucap Carla.
"Tidak perlu takut, Carla...tenang, pengaruh ayahku sangat kuat di kepolisian...ini sangat mudah untuk diselesaikan...
__ADS_1
Ucap Nona.
"Tetapi, Nona? Apakah, itu mungkin?"
Tanya Carla.
"Itu semua mungkin saja, Carla...kau tahu? Uang selalu memiliki kuasa...
Ucap Nona tersenyum. Dan, saat itu Nona melihat Aisha dibawah sana. Ia baru saja tiba di lingkungan sekolah tersebut. Nona menatapnya dengan tatapan tajam.
Ternyata, ia tidak apa-apa! Dan, lihat senyum itu...seharusnya dia tidak tersenyum lagi dan mengunci dirinya di dalam kamar saja...tetapi, ini...dia terlihat baik-baik saja...
Ucap Nona dalam hati, lalu tiba-tiba saja Aisha mengalihkan tatapannya kepada Nona yang masih menatapnya dengan perasaan marah. Tatapan mata Aisha terasa begitu menakutkan bagi Nona yang merasakannya.
Apa ini...tatapan matanya mengapa terasa begitu menakutkan bagiku? Apa, yang sesungguhnya yang telah terjadi?"
Ucap Nona lagi dalam hati. Karena, rasa takut muncul di dalam hatinya akhirnya mengalihkan tatapan matanya kepada Richard yang saat itu berjalan di belakang bersama dengan Anna. Untuk sejenak, Anna tadi merasakan adanya aura yang mengancam menguar dari tubuh Aisha. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik.
"Aura yang menekan ini tampak sangat berbahaya bagi manusia biasa...akan tetapi aura ini, terlihat biasa saja...Aisha, sesungguhnya kau ini siapa? Sejak, kemarin malam kau menghilang lalu tadi pagi kau ada di rumah...bahkan kedatanganmu pun tidak diketahui oleh siapa pun...termasuk ibumu...
Ucap Anna dalam hati. Richard mengetahui ada sesuatu yang mengganggu Anna.
"Apa, yang kau pikirkan!"
Ucap Richard.
"Bukan urusanmu, Richard! Jangan, lagi kau mencoba membaca apa yang kupikirkan!"
Ucap Anna segera berlalu dari sana. Ia menyusul Anna yang berjalan di depan. Lalu, ia berkata sesuatu yang tidak mengenakkan kepada Aisha.
"Jangan, coba kau mengancam manusia Aisha...
Ucap Anna kepada Aisha.
"Aku rasa itu bukanlah urusanmu, Anna...ingat yang bersalah tetaplah bersalah...dan, yang benar tetaplah benar...lalu, hal itu tidak dapat dipungkiri Anna...kebenaran adalah kebenaran...kesalahan adalah kesalahan...
Ucap Aisha.
"Nyawa itu bukan mainan, Aisha...mereka juga masih memiliki orang-orang yang mereka kasihi...jangan kau pikir begitu mudah untuk menyakiti mereka...
Ucap Anna kepada Aisha seakan tahu kejadian 4 pemuda yang tewas mengenaskan kemarin malam.
"Anna, dengarkan aku baik-baik...benar atau salah itu adalah dua hal yang berbeda...itu semua tergantung bagaimana cara menyikapinya...dan, aku harap kau jangan ikut campur dengan segala urusanku...atau kau...
Ucap Aisha sambil mendekati Anna sambil berbisik di telinga Anna...
"Your death will be make you so suffering...so stop and don't make me to take your breath...
Ucapnya sambil segera berlalu pergi. Richard yang mengetahui hal tersebut tidak dapat berkata-kata ia hanya diam saja. Sedangkan, Anna dia diam bagaikan patung.
Bagaimana bisa dia jadi seperti ini...dahulu dia kukenal sebagai seorang gadis biasa yang baik hati...akan tetapi sekarang ia berganti menjadi seorang gadis yang memiiki aura yang sangat mendominasi...tidak bisa berkata tidak di hadapannya...siapakah sesungguhnya kau Aisha...
Ucap Anna di dalam hatinya. Richard pun menatap Anna sambil menghela nafas panjang. Setelahnya, ia pun segera pergi dari hadapan Anna. Ia menyusul Aisha yang lebih dulu berjalan di depannya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1