NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 91. Memanfaatkan Siluman Ular Air


__ADS_3

Istana Raja Siluman...


"Mohon, ampun gusti! Kami sudah menyisir seluruh wilayah kerajaan...tetapi, kami tidak menemukan nyai Nagadhini dimana pun."


Ucap ketua prajurit.


"Hegh! Kalian, memang bodoh! Mencari seekor siluman saja tidak becus."


Ucap Raja Siluman marah.


"Kami mohon ampun, gusti."


Ucap ketua prajurit bersama dengan para prajurit lainnya.


"Kalian, memang pantas dihukum!"


Ucap Raja Siluman. Dan, para prajurit seluruh tubuh mereka gemetar ketika Raja Siluman mengatakan akan menghukum mereka semua. Namun, saat yang tepat Deviandra datang ke aula istana dan berbicara dengan lembut kepada ayahnya.


"Ayahanda, jangan terlalu kejam...mereka sudah berusaha untuk mencari ibu...tetapi, belum juga menemukannya."


Ucap Deviandra.


"Ibu juga memiliki kesaktian yang tinggi...bagaimana, mungkin mereka dapat menemukannya dengan mudah?"


Ucap Deviandra.


"Untuk itu, jangan limpahkan kesalahan ini kepada mereka ayahanda...mohon, ayahanda mempertimbangkannya kembali."


Ucap Deviandra akhirnya menenangkan Raja Siluman.


"Baiklah, kalau begitu...menimbang mereka sudah berusaha dan bekerja keras...namun, belum berhasil...ayahanda, tidak akan memberi mereka hukuman."


Ucap Raja Siluman.


"Apa, kalian sudah dengar? Ayahanda Raja, tidak akan menghukum kalian...sekarang, kalian bebas dan kembalilah bertugas seperti biasa."


Ucap deviandra.


"Terima kasih, gusti putri, yang mulia gusti Raja...kami mohon pamit."


Ucap keseluruhan prajurit tersebut.


"Pergilah."


Ucap Raja Siluman.


Tidak kusangka, ternyata putriku sudah bisa menganalisis suatu masalah...dan, dia juga dapat mengambil keputusan dengan bijaksana...kumerasa sudah saatnya menyerahkan tahta kerajaan kepadanya.


Ucap Raja Siluman dalam hati.


"Ayahanda? Apa, yang sedang ayahanda lamunkan?"


Ucap Deviandra.


"Tidak! Ayahanda hanya sedang berpikir...untuk menyerahkan tugas dan tanggung jawab ini kepadamu, putriku?"


Ucap Raja Siluman.


"Ayahanda, ananda masih dalam tahap belajar...ananda masih belum pantas."


Ucap Deviandra merendah.


"Mengapa, tidak pantas?"


Ucap Aisha tiba-tiba hadir disana. Deviandra menoleh dan ia melihat Aisha sudah hadir disana.


"Bibi!"


Sapanya terkejut.


"Deviandra, semakin hari kau bertumbuh semakin baik."


Ucap Aisha.


"Apa-apaan, bibi? Aku memang sudah besar."


Ucap Deviandra.


"Haha...iya...iya...ah...gusti Raja."


Ucap Aisha memberi hormat membungkukkan badan.


"Nyai! Tidak perlu sampai seperti itu...berdirilah."


Ucap Raja Siluman.


"Silahkan, nyai...duduklah."


Ucap Raja Siluman.


"Terima kasih, gusti Raja."


Ucap Aisha.


"Nyai, ada apa gerangan nyai Dewi datang ke istanaku ini."


Ucap Raja Siluman.


"Bukan sesuatu hal yang darurat, gusti...hanya ingin menemui Deviandra...dan, ingin memberi tahu satu hal."


Ucap Aisha.


"Apa itu, bibi?"

__ADS_1


Ucap Deviandra ingin tahu.


"Mengenai ibumu, Nagadhini."


Ucap Aisha tiba-tiba.


"Ibu? Ayahanda?"


Ucap Deviandra.


"Putriku, Deviandra...masalah ini kelihatannya begitu rumit...pergilah, ke kamarmu...ayahanda ingin berbincang dengan bibimu."


Perintah Raja Siluman. Dan, Deviandra pun mengerti apa maksud dari ayahandanya. Ia pun segera menyingkir dari sana. Setelah, Deviandra pamit undur diri. Raja Siluman dan Aisha pun mulai terlibat dalam perbincangan serius.


"Apa! Nagadhini melukai ibunda, nyai?"


Ucap Raja Siluman terkejut.


"Ya, tetapi untung saja dia selamat."


Ucap Aisha.


"Syukurlah...lalu, bagaimana dengan wanita sialan itu."


Ucap Raja Siluman.


"Dia berhasil dengan gulungan Peta serta membawanya pergi."


Ucap Aisha.


"Apakah, tidak ada yang mengejarnya?"


Tanya Raja Siluman.


"Tidak, saat itu aku sedang panik...aku tidak mengejarnya...yang kupikirkan hanyalah nyawa ibuku."


Balas Aisha.


"Ya, tentu saja...jika, aku diposisimu...pasti yang kukhawatirkan adalah keluargaku sendiri."


Ucap Raja Siluman.


"Lalu, bagaimana dengan kelanjutan masalah ini."


Ucap Raja Siluman.


"Untuk sementara ini...biarkan saja dahulu...aku ingin lihat kesenangannya ini bertahan berapa lama?"


Ucap Aisha.


"Oh, begitu...baiklah, aku akan mengikuti pernainan nyai Dewi saja."


Ucap Raja Siuman.


Ucap Aisha.


"Baiklah, nyai Dewi."


Ucap Raja Siluman. Setelah, Aisha pergi dari istana Raja Siluman. Tiba-tiba, saja Deviandra muncul disana di hadapan ayahandanya.


"Ayahanda? Apa, dibicarakan bibi Aisha dengan ayahanda."


Tanya Deviandra.


"Deviandra putriku, perlukah ayahanda menjawab pertanyaanmu?"


Balas Raja Siluman.


"Perlu, ayahanda."


Ucap Deviandra.


"Yang, ayahanda bicarakan bersama dengan bibimu...


Ucapan Raja Siluman terpotong.


"Mengenai ibu, bukan?"


Ucap Deviandra.


"Ya, benar...mengenai ibumu."


Ucap Raja Siluman.


"Kelakuan ibu yang demikian tega dan kejam...melukai, ibunda bibi...hanya demi gulungan Peta?"


Ucap Deviandra.


"Kau sudah mengetahui segalanya."


Ucap Raja Siluman.


"Ya, ayahanda aku sudah mengetahuinya."


Ucap Deviandra.


"Sifat ibunda, yang demikian memang tidak akan pernah berubah."


Ucap Deviandra lagi.


"Putriku, kau pasti sangat kecewa terhadap ibundamu."


Ucap Raja Siluman.

__ADS_1


"Meskipun, begitu ayahanda...ibunda tetaplah ibuku."


Ucap Deviandra.


"Ya, dia tetap ibundamu."


Ucap Raja Siluman menenangkan hati dan perasaan Deviandra.


"Lalu, ayahanda...apa rencana berikutnya bibi."


Tanya Deviandra.


"Bibimu berkata kepada ayahanda...untuk menonton saja dahulu...apa, yang akan dilakukan oleh ibundamu."


Balas Raja Siluman.


"Tetapi, ayahanda...bukankah hal tersebut hanya akan membuat masalah semakin besar."


Ucap Deviandra.


"Ayahanda, tahu bukan ibunda bagaimana?"


Ucap Deviandra.


"Mau bagaimana lagi, bibimu yang menginginkan hal ini terjadi...mungkin saja, dia memiliki rencana lain."


Ucap Raja Siluman.


"Mungkin saja, ayahanda."


Ucap Deviandra.


Aku tidak tahu...apa yang direncanakan oleh bibi...mudah-mudahan saja, rencana bibi berhasil...dan dapat menundukkan ibunda yang kejam.


Ucap Deviandra dalam hati.


Ingin aku berkunjung ke istana Dewi Ular...apakah, ayahanda akan memberi izin?


Ucapnya lagi dalam hati.


"Ayahanda! Bolehkah, ananda berkunjung ke istana Dewi Ular?"


Pinta Deviandra.


"Tentu saja, boleh...pergilah dengan beberapa dayang istana beserta pengawal istana...dan, bawakan hadiah untuk bibimu."


Ucap Raja Siluman.


"Terima kasih, ayahanda."


Ucap Deviandra. Dan, Raja Siluman hanya menganggukkan kepalanya saja. Berangkatlah, Deviandra ke istana Dewi Ular. Bersama dengan beberapa dayang serta beberapa pengawal istana sambil membawa hadiah untuk Aisha.


Di sisi lain, sebuah gua...


Tampak Nagadhini sedang menimang-nimang gulungan Peta Alam Semesta di tangannya. Sesekali, suara tawanya memenuhi ruangan gua.


"Hahaha...tidak kusangka...begitu mudahnya untuk mendapatkan Peta sekaligus melepaskan segelnya."


Ucap Nagadhini.


"Benar sekali, nyai...nyai sudah berhasil mendapatakannya...sedikit lagi langkah, maka nyai pasti akan menjadi orang yang paling kuat dimuka bumi."


Ucap Siluman ular air.


"Tentu saja...dan saat itu tidak ada satu pun kekuatan...yang dapat menandingiku...bahkan Dewi Ular sekali pun!"


Ucap Nagadhini sombong.


"Lalu, nyai...kapankah kita akan bergerak...mencari dan menemukan peti Iblis."


Ucap Siluman ular air.


"Menurutmu, kapan waktu yang terbaik."


Ucap Nagadhini meminta saran.


"Menurut hamba, lebih cepat lebih baik nyai."


Ucap Siluman ular air.


"Bagus sekali! Siluman ular air...kau memang cerdas!"


Ucap Nagadhini memuji.


"Terima kasih, nyai."


Ucap Siluman ular air.


"Ternyata, memilikimu di sampingku...adalah hal yang terbaik."


Ucap Nagadhini.


"Tidak sia-sia, aku memiliki bawahan cerdas sepertimu."


Ucap Nagadhini lagi. Dan, Siluman ular air pun tersenyum saja mendengar kata-kata yang terus saja dilontarkan oleh Nagadhini.


Terlenalah untuk sesaat...Siluman ular air...nanti, setelah aku selesai menggunakanmu...maka, aku akan mengirimmu kembali ke dasar sungai ular...agar kau tidak bisa kembali ke daratan lagi.


Ucap Nagadhini dalam hati. Ternyata, Nagadhini memiliki niat jahat kepada Siluman ular air setelah ia selesai menggunakannya. Ia ingin menenggelamkan Siluman ular air di dasar sungai ular. Dan, berharap Siluman ular air tidak akan bisa kembali lagi ke daratan. Sungguh licik Nagadhini, ia meminjam kekuatan siluman lalu setelah puas maka ia akan menghancurkannya begitu saja.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR

__ADS_1



__ADS_2