
Matahari menyembul di ufuk timur. Nagini saat itu masih belum bangun karena, kemarin malam ia masih memikirkan semua kemungkinan bahwa, Zham masih ingat dengan dirinya. Sehingga, membuat dirinya kelelahan lalu membuatnya tertidur larut malam. Ditambah lagi, dengan perasaannya terhadap Ankara. Semakin, ia bertambah bingung dengan semua perlakuan yang diberikan oleh Ankara kepada dirinya.
Sementara Nagini sedang tertidur pulas, Ankara tiba-tiba datang ke kamar Nagini. Ia melihat Nagini masih tertidur pulas sedangkan matahari telah bangun dari tidur panjangnya. Langsung saja, ia membangunkan Nagini yang masih tertidur. Ankara membuka semua jendela yang menutupi ruangan kamar tersebut. Sehingga, sinar matahari pun menerpa wajah cantik Nagini yang masih tertidur pulas.
Sesaat kemudian, Nagini membuka matanya karena merasakan silaunya cahaya matahari yang menyinari wajah cantiknya. Ankara yang menyaksikan itu semua, ia hanya tersenyum saja. Sedangkan, Nagini yang perlahan membuka kedua matanya ia langsung melihat wajah Ankara disana. Nagini sangat terkejut melihat kehadiran Ankara di dalam kamar pribadinya.
"Ankara...apa yang kau lakukan di kamarku...apa kau mengintipku...
Ucap Nagini sambil melemparkan bantal ke arah Ankara. Mendapatkan serangan bantal dari Nagini tersebut, Ankara dengan cekatan langsung menangkap bantal tersebut.
"Mengintip? Mana mungkin, Naghi...ck...sedari tadi aku melihatmu...karena kau sedang tertidur pulas...apa itu tidak boleh...
Ucap Zham sambil tersenyum.
"Tentu saja tidak boleh...kau bukan kekasihku...jadi kau tidak boleh melakukan hal ini kepadaku...
Ucap Nagini dengan wajah marah. Melihat wajah marah Nagini. Ankara perlahan mendekatinya, Nagini perlahan menjauh. Akan tetapi, Ankara menarik tangannya. Sehingga, kini membuat wajah mereka berdua berhadapan. Lalu, Ankara berbisik di telinga Nagini.
"Kalau begitu, jadikanlah aku kekasihmu, Naghi...
Ucap Ankara sambil tersenyum dan melepaskan tangan Nagini. Nagini yang mendengarkan bisikan Ankara di telinganya untuk sesaat darahnya berdesir. Nagini menatap wajah Ankara yang masih saja tersenyum kepada dirinya. Melihat senyum Ankara yang seakan-akan mengejek dirinya membuat Nagini menjadi kesal.
"Mengapa kau tersenyum-senyum begitu, Ankara...
Ucap Nagini.
"Tidak apa-apa, Naghi...hanya saja melihatmu kesal seperti ini sungguh kau terlihat sangat lucu...
Ucap Ankara.
"Apa...lucu katamu...
Ucap Nagini meradang.
__ADS_1
"Sudahlah, Naghi...saat ini aku tidak ingin berdebat denganmu...bangunlah...lalu sarapan pagi...dan segera datang ke ruang tamu...karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh ibu dan kakak...
Ucap Ankara memberitahu. Mendengar kata-kata, Ankara sejenak Nagini terdiam.
Mengapa Ankara berkata begitu? Ia bilang ibu dan Zham menunggu di ruang tamu...ada sesuatu yang ingin dibicarakan...tapi apa...
Ucap Nagini dalam hati. Nagini menarik nafas lelah. Ia merasa ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan oleh keluarga tersebut. Sehingga, keluarga tersebut mengundangnya ke ruang tamu untuk mengikuti pembicaraan tersebut. Bergegas ia bangun lalu mandi kemudian sarapan pagi setelahnya, ia pun langsung pergi ke ruang tamu dimana seluruh anggota keluarga sedang berkumpul.
Nagini berjalan perlahan mendekati ruang tamu. Ketika, ia sampai di ruang tamu mata Nagini tanpa sengaja bertemu dengan mata, Zham. Untuk sesaat mereka saling menatap dalam kebisuan, Ankara yang melihat hal tersebut menjadi cemburu. Ia pun kemudian terbatuk-batuk untuk mengalihkan pandangan Nagini dan Zham. Ternyata, hal yang dilakukan Ankara tersebut sukses membuat keduanya langsung menoleh ke arahnya.
"Ankara, mengapa kau terbatuk-batuk seperti itu...apa kau sakit, nak?"
Tanya bu Retno yang mendengar suara Ankara tadi sedang terbatuk-batuk dengan sengaja.
"Tidak, Bu...tenggorokanku tadi terasa kering, bu...jadi tadi aku terbatuk-batuk...
Jawab Ankara.
"Baiklah, kalau begitu...semua anggota keluarga sudah berkumpul...mari kita buka pembicaraan penting ini...
Sungguh aku tidak mengerti apa yang sesungguhnya yang ingin ibu katakan kepada kami semua...
Ucap Nagini dalam hati. Sementara, bu Retno sudah mempersilahkan Zham untuk bicara. Melihat hal tersebut, membuat Nagini menjadi semakin penasaran.
"Zham ayo segera katakan kepada Ankara dan Naghi...
Ucap bu Retno.
"Baiklah bu, Ankara...Naghi...kakak sengaja mengumpulkan kalian semua hari ini...sebab kakak ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian berdua...
Ucap Zham.
"Apa itu kakak?"
__ADS_1
Tanya Ankara penasaran begitu pun Nagini.
"Sebenarnya keluarga kita sudah melamar Lovita untuk menjadi istri, kakak...
Ucap Zham. Ankara yang mendengar semua itu ia merasa senang dan gembira. Sedang, Nagini yang mendengar hal tersebut ia merasa terkejut lalu tiba-tiba saja mengalirlah dua bulir dari pelupuk matanya. Ia terpukul dan shock.
"Apa! Apa itu benar, kak...kakak akan segera menikah? Wah, aku senang kak...selamat kak...
Ucap Ankara sambil memeluk kakaknya dengan erat. Sedangkan, Nagini segera pergi ke kamarnya. Melihat hal tersebut membuat semua yang ada di ruangan tamu tersebut menjadi heran. Terlebih, bu Retno ia merasa Nagini kalau Nagini tidak setuju dengan rencana pernikahan Zham dan Lovita. Ia merasa kalau Nagini telah jatuh cinta kepada Zham.
Lalu, Ankara ia ingin segera menyusulnya. Akan tetapi, Zham mencegahnya. Akhirnya, Ankara hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan hati dan perasaan Nagini yang sedang terluka parah. Sedang Nagini, di dalam sana di dalam hatinya ia terluka parah. Ia menangis tersedu-sedu tanpa tahu harus berbuat apa.
"Mengapa, Zham...mengapa kau lakukan hal ini kepadaku...
Ucap Nagini.
"Bertahun aku menunggu...berharap kau kembali untukku...hiks...tetapi apa yang terjadi...tidak sekali pun kau melihat diriku...yang kau lihat hanya wanita itu saja...bukan aku...sesungguhnya, apakah kau masih mengingatku atau tidak...mengingat cinta kita...hiks...mengingat masa indah kita berdua dahulu...kau melupakanku begitu saja...ketika kau kembali...hiks...tetapi kenyataannya kau melupakanku...kau mengkhianati cinta kita...
Ucapnya dengan airmata yang berlinang. Ia benar-benar menderita sekali dengan semua keadaan tersebut. Perasaannya benar-benar hancur. Hatinya benar-benar terluka. Sungguh penantiannya selama seribu tahun berakhir dengan pengkhianatan. Nagini benar-benar rapuh dan mudah hancur. Sungguh ia lemah dalam hal perasaan. Sungguh ia tidak sanggup menerima semua kenyataan ini.
Nagini menangisi Zham dan juga pengkhianatan yang dilakukan oleh Zham terhadap dirinya. Nagini menangisinya sampai membuat airmatanya tidak dapat mengalir lagi dan matanya juga membengkak akibat terlalu banyak menangia. Ia menderita, dan ia hanya menatap di kejauhan dari jendela kamarnya. Lama, ia tenggelam di dalam lamunan panjangnya. Sampai, Zham datang menemui dirinya ia pun tidak tahu.
Lama, Zham mematung menatap tubuh Nagini yang diam membisu serta matanya yang membengkak karena kebayakan menangis. Sungguh, terasa sakit di hati Zham, melihat wanita pujaannya menderita. Namun, apa boleh buat ia harus melakukan hal tersebut demi mendapatkan kembali Mani merah milik Nagini, yang direbut oleh Baba. Zham, sudah merencanakan segalanya ketika ia terbangun kembali dari tidur panjangnya.
Ia sudah menyusun rencana sedemikian rupa bersama Ankara. Ankara mendukung semua rencana Zham, kakaknya untuk mendekati salah satu dari anak cucu keturunan Baba. Zham, ingin mengetahui dimana keberadaan Baba dengan Mani merah milik Dewi Ular. Artinya, Zham tidak kehilangan memorinya bersama dengan Nagini. Zham dan Ankara sengaja melakukan itu semua demi mendapatkan kembali Mani merah dari tangan Baba.
Ankara juga sengaja menjauhkan Nagini dengan Zham. Karena, ia tidak ingin semua rencana yang telah mereka susun menjadi berantakan karena kehadiran Nagini yang bisa saja merusak rencana mereka berdua. Sebab, itu Ankara sengaja melakukan hal tersebut juga Zham sengaja melukai Nagini, meski ia pun terluka karena telah menyakiti Nagini saat itu. Ketika, ia sedang berkencan dengan Lovita. Zham, tahu kalau Nagini mengikuti mereka sampai ke restoran.
Dan, Zham juga tahu jika Nagini pun mempunyai dendam terhadap Lovita. Untuk itu ia mencegah Nagini menyakiti Lovita dengan cara memukul tubuhnya dengan sapu agar Nagini tidak dapat menyakiti Lovita. Peristiwa tersebut benar-benar membuat Zham menderita. Ia tidak tahan melihat bahu Nagini yang memar saat ia mengintip Nagini sedang tidur tertelungkup di atas kasur. Ia menangis dan tidak sanggup melihat Nagini terluka lebih lama lagi. Akhirnya, ia pun segera berlalu dari sana dan mengunci dirinya di dalam kamar.
Sesungguhnya ku tidak bisa melihatmu terluka, sayang...namun aku terpaksa melakukannya...demi cintaku kepadamu...demi memperbaiki kesalahan yang telah kulakukan...maka aku rela melakukan apa pun untukmu...meski hal yang kulakukan nanti menyakiti dirimu...tetap saja perasaanku tidak akan pernah berubah untukmu...sayang...
Curahan hati Zham untuk Nagini.
__ADS_1
Bersambung...
NAGINI, DEWI ULAR