
Nagini mengajak Baba masuk ke dalam alam Dunia Ular. Disana Nagini dan Baba berjalan beriringan, sambil sesekali melihat suasana di dalam Dunia Ular. Nagini tersenyum melihat keadaan alam Dunia Ular lebih baik jika dibandingkan saat Dunia Ular hancur karena peristiwa alam. Nagini datang lalu menyelamatkan Dunia Ular yang hancur tersebut. Ia melakukan tapa brata untuk mendapat berkat dari sang Pencipta untuk menyelamatkan Dunia Ular yang sudah hancur tersebut.
Lama ia tersenyum, sambil mengenang masa lalu ketika saat itu setelah tapa brata ia mendapatkan satu berkat dari sang Pencipta. Berupa, setetes air yang bersinar terang menyinari seluruh Dunia alam Ular. Memperbaiki kembali kehidupan alam Dunia Ular yang memang sudah hancur. Menggantinya dengan kehidupan baru yang jauh lebih baik lagi. Sebelumnya, ketika ia masih berusia muda ia berlatih dan bertapa selama kurang lebih lima ratus tahun dan mendapatkan Mani merah. Lalu, tidak lama kemudian setelah kurun waktu tersebut bencana besar pun terjadi.
Saat itu bumi masih sangat muda. Dan, membutuhkan proses yang panjang sehingga menjadi bentuknya yang sekarang. Saat itu terjadi peristiwa alam yang meluluh lantakkan kehidupan di bumi. Banyak sekali makhluk hidup yang tidak bernyawa lagi karena ganasnya peristiwa alam tersebut dan mengambil kehidupan mereka. Nagini yang mengetahui hal tersebut ia merasa iba sebab hanya dialah satu-satunya yang selamat dari peristiwa alam tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan lain bahwa ada makhluk hidup lain yang selamat selain dirinya.
Adalah Nagadhini, siluman pertama dan yang tertua di muka bumi. Ia juga selamat dari peristiwa alam yang dinilai sangat ganas tersebut. Akan tetapi, selamatnya Nagadhini tidak dapat merubah keadaan. Nagadhini meskipun selamat ia tidak melakukan apa pun demi memperbaiki kehidupan di bumi yang telah rusak karena peristiwa alam. Hanya Nagini yang saat itu begitu peduli, kepada kehidupan alam di muka bumi. Kemudian, demi memulihkan kembali kehidupan di muka bumi dan demi memperbaiki kembali keadaan alam Dunia Ular yang hancur. Nagini pun kembali melakukan tapa brata.
Ia bertapa menyerahkan dirinya kepada sang Pencipta dan berharap berkat dari sang Pencipta Langit dan Bumi. Ia bertapa tiada henti dalam kurun waktu yang lama. Lalu, akhirnya pada suatu malam turunlah dari atas langit setetes air yang bersinar terang menyinari seluruh bumi dan alam Dunia Ular. Lalu, akhirnya mengembalikan kembali alam Dunia Ular seperti sedia kala. Mengingat hal itu semua sungguh membuat ia sedikit sedih. Sebab, ternyata Nagadhini sebagai siluman ular tertua menginginkan Intisari Kehidupan yang ia pegang. Nagadhini dengan nafsu serakahnya ingin sekali memiliki Intisari Kehidupan.
Sebab, ia ingin menjadikan dirinya sebagai pemimpin Dunia Ular. Dia ingin menjadi Ratu segala Ratu Dunia Ular. Alias, ia ingin sekali menjadi Dewinya para Ratu Ular. Oleh sebab itu, ia meminta Intisari Kehidupan kepada Nagini. Akan tetapi, oleh Nagini permintaan tersebut ia tolak. Karena, Nagini mendapat amanat untuk tetap menyimpan dan menjaga Intisari Kehidupan dari orang-orang yang berniat buruk terhadap Intisari Kehidupan. Nagini tidak ingin Intisari Kehidupan dimiliki oleh orang-orang yang berhati serakah yang ingin menggunakan kekuatannya hanya demi mencapai keinginannya sendiri seperti Nagadhini.
Karena, permintaannya ditolak Nagadhini menjadi marah. Ia pun lalu menyerang Nagini dengan segenap kesaktiannya. Nagini pun tidak kalah dari Nagadhini. Nagini membalas Nagadhini dengan menggunakan seluruh kesaktiannya. Sehingga, terjadilah pertarungan yang luar biasa hebat dalam pertarungan tersebut. Dua ekor siluman ular yang tertua dan yang termuda kedua saling bertarung demi Intisari Kehidupan. Nagadhini dengan niat serakahnya dan Nagini dengan sifat welas asihnya.
Ia rela mempertahankan Intisari Kehidupan dengan nyawanya. Karena, sifat welas asihnya tersebut seluruh bangsa siluman ular di seluruh dunia pun membantunya. Mereka berdo'a kepada sang Pencipta agar Nagini selamat dan Intisari Kehidupan tidak jatuh kepada orang yang salah. Do'a mereka akhirnya didengar oleh sang Pencipta. Sang Pencipta memberikan satu senjata bagi Nagini. Yakni, wujud sempurna Nagini sebagai Dewi Ular. Nagini diberikan wujud sempurnanya yaitu seekor ular raksaasa berkepala lima. Yang memiliki bisa yang sangat mematikan. Dapat melumpuhkan Nagadhini sekaligus mengakhiri hidup Nagadhini untuk selamanya. Akan tetapi, ketika Nagini hendak menghabisinya tiba-tiba saja Nagadhini memohon pengampunan Nagini.
"Hentikan! A...aku mengaku kalah...kumohon kepadamu Nagini...aku mohon ampunilah aku...
Ucapnya tiba-tiba, ketika Nagini yang sedang mengamuk tersebut hendak menghabisinya. Akan tetapi, Nagini menolak ampunan Nagadhini.
"Ampun? Nagadhini, apa jaminannya jika aku mengampunimu...bukankah kau adalah siluman ular yang serakah? Kau tidak akan berhenti sebelum kau mendapatkan keinginanmu...lalu apa bedanya dan untuk apa aku mengampunimu, Nagadhini...
Ucap Nagini dengan sorot mata tajam penuh dengan amarah.
"Nagini...aku mengaku kalah...dan mulai saat ini aku tidak akan merebut Intisari Kehidupan lagi darimu...aku berjanji, Nagini...
Ucapnya memohon kepada Nagini. Sedang, Nagini ia masih diam mendengarkan kata-kata Nagadhini.
__ADS_1
"Bukankah, kau seekor ular berhati baik, Nagini...bukankah kau akan memberi ampunan kepada musuhmu ketika mereka sedang tidak berdaya?"
Ucap Nagadhini lagi.
"Itu memang benar, Nagadhini...akan tetapi itu hanya berlaku bagi siluman lain...sedangkan bagimu itu tidak berlaku...sebab aku mengetahui setiap rencana licikmu dengan kedua mata ularku...
Ucap Nagini.
"Apa, jadi kau mengetahuinya...
Ucap Nagadhini terkejut.
"Tentu saja, apa kau pikir aku bodoh...tidak dapat melihat rencana licikmu, Nagadhini? Apa, kau lupa Nagadhini...dalam wujudku yang seperti ini...maka aku dapat melihat sesuatu yang sedang kau rencanakan...jadi daripada kau hidup dan membuat angkara murka...bukankah lebih baik jika kau tiada?"
Ucap Nagini dengan mata melotot.
Ucap Nagadhini dengan wajah pucat pasi.
"Baiklah, aku akan mengampunimu...
Ucap Nagini.
"Benarkah?"
Tanya Nagadhini dengan bibir tersenyum bahagia.
"Tapi, dengan satu syarat...
__ADS_1
Balas Nagini.
"Syarat? Apakah, syaratnya...
Tanya Nagadhini lagi dan seketika senyumnya sirna.
"Syaratnya adalah kau harus merelakan semua ilmu kesaktian yang kau miliki sirna...sebab aku akan mengambil semua ilmu kesaktianmu agar kau tidak dapat membuat masalah lagi di alam Dunia Ular lagi...
Balas Nagini lagi. Sedangkan, Nagadhini yang mendengarkan syarat yang diajukan oleh Nagini mendadak tubuhnya lemas.
"Bagaimana! Nyawa, maka kau akan tiada dan tidak dapat menikmati hidup di Dunia Ular lagi...atau...ilmu kesaktian, aku akan mengambil semua ilmu kesaktian yang kau miliki maka kau akan memiliki kesempatan hidup di antara para ular lain tanpa kau harus menyakiti sesama ular siluman lainnya...
Ucap Nagini sambil memberi dua pilihan yang harus dipilih oleh Nagadhini. Akan tetapi, dua pilihan tersebut merupakan pilihan yang sangat sulit bagi dirinya. Sebab, ia tidak mungkin hidup tanpa ilmu kesaktian. Lalu, hal lainnya ia juga tidak ingin cepat mati di tangan Nagini. Sebab, dia masih ingin hidup dan ia masih ingin memiliki keinginan untuk dapat memiliki Intisari Kehidupan. Lama, ia berpikir akhirnya ia memilih pilihan ilmu kesaktiannya dimusnahkan dan ia dapat hidup bersama para siluman ular lainnya. Demi, nafsu serakahnya yang masih ingin memiliki dan menguasai Intisari Kehidupan.
"Baiklah, musnahkan saja seluruh ilmu kesaktianku agar aku dapat hidup berdampingan dengan seluruh para siluman ular lainnya tanpa ilmu kesaktian...
Ucapnya dengan berat hati.
"Bagus, kalau begitu bersiaplah Nagadhini...aku akn mengambil semua ilmu kesaktianmu...
Ucap Nagini. Kemudian, Nagini pun menyerap seluruh ilmu kesaktian milik Nagadhini tersebut. Dan, tidak lama kemudian setelah ia menyerap seluruhnya. Tiba-tiba, saja tubuh Nagadhini menjadi lemas kemudian ia jatuh pingsan. Hal tersebut terjadi sebab Nagini sudah menyerap seluruh kemampuannya. Dan, kini Nagadhini menjadi lemah dan hampir tidak dapat bergerak dengan bebas seperti dulu.
Setelah, Nagadhini kehilangan seluruh ilmu kesaktiannya. Nagadhini bersembunyi dari seluruh ular siluman lain yang lebih kuat darinya. Sebab, ia tidak ingin dimangsa oleh makhluk siluman lain yang lebih kuat dari dirinya. Sejak saat itu, dendam Nagadhini terhadap Nagini pun bertambah besar. Ia bersumpah suatu saat nanti ia akan menaklukkan Nagini dan merebut Intisari Kehidupan dari dirinya.
Sampai disinilah kisah itu berakhir dan Nagini tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Ketika, ia harus mengambil tindakan tegas untuk Nagadhini. Baba, yang sedari tadi memperhatikan Nagini perlahan ia pun menjadi penasaran dan bertanya-tanya. Apa yang sesungguhnya yang sedang dipikirkan oleh Nagini sehingga membuat raut wajahnya berubah menjadi sedih seperti itu. Sungguh, Baba ingin mengetahuinya. Akan tetapi, ternyata Nagini masih saja tenggelam dengan bayangan masa lalu hidupnya.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI, DEWI ULAR