
"Aaaarrrggghhhh.....!!!"
Cintamani menjerit kesakitan merasakannya. Sedangkan, Nagini tiada rasa kasihan sedikit pun pada Cintamani. Karena, Cintamani sudah membuat dirinya sangat marah. Kini, tidak ada yang menolong Cintamani dari amukan Nagini. Cintamani sedang menunggu ajalnya. Dan, Ankara merasa bergidik ngeri melihat Nagini mengamuk pada Cintamani. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya ada di posisi Cintamani. Sudah pasti ia akan gosong dengan rasa sakit yang terasa amat sangat menyakitkan.
"Argh...sakit...tolong, ampuni aku nyai...hamba bersalah."
Rintih Cintamani.
"Hm? Mengampunimu? Kamu adalah makhluk yang sangat sombong dan suka menyakiti makhluk lainnya...hukuman ini adalah hukuman yang pantas bagimu!"
Ucap Nagini.
"Nyai Dewi, tolonglah hamba...hamba berjanji hamba akan memperbaiki diri dan tidak akan menyakiti lagi...arghhh...sakiiiiitttttttt!!!"
Ucap Cintamani.
Saat yg bersamaan ayah dari Cintamani pun hadir disana. Ia langsung berlutut di hadapan Dewi Ular yg sedang murka.
"Nyai Dewi, moho ampuni anak hamba...dia sudah mengaku salah."
Ucap Ragapati.
"Paman Ragapati! Paman tidak perlu berlutut begitu...bangunlah, paman...aku tidak tega melihat orang tua seperti paman berlutut untuk orang seperti dia!"
Ucap Nagini.
"Tidak, nyai...jika, nyai tidak mengampuni nyawa anak hamba...hamba akan tetap berlutut di hadapan anda."
Ucap Ragapati.
"Paman? Akh, sudahlah...berdirilah, paman...aku akan mengampuni anakmu. Cintamani! Hari ini, karena ayahmu aku akan mengampunimu."
Ucap Nagini.
"Te...terima kasih, nyai Dewi."
Ucap Cintamani.
Dalam sekejap, api bercampur racun yg membakar seluruh tubuh Cintamani pun padam. Cintamani kembali ke bentuk semula. Demikian, juga dengan Nagini. Nagini juga sudah kembali ke bentuknya.
"Hamba mengucapkan terima kasih kepada, nyai."
Ucap Ragapati.
"Tidak perlu, berterima kasih paman? Oh, ya? Ini pedang milik paman...aku kembalikan."
Ucap Nagini.
Nagini mengeluarkan pedang tersebut dari dalam tubuhnya. Dan, menyerahkannya kembali pada pemilik aslinya. Ragapati menerimanya dan menyimpannya kembali di dalam tubuhnya.
"Tapi, meskipun aku memaafkan Cintamani...namun dia harus tetap dihukum."
Ucap Nagini.
"Dihukum, nyai?"
Ucap Ragapati terkejut.
"Ya, maafkan aku Cintamani...aku harus melakukan hal ini padamu...aku harus memberimu hukuman setimpal atas perbuatanmu."
Ucap Nagini.
"Apa?"
Ucap Cintamani yang sama terkejutnya dengan ayahnya.
__ADS_1
"Aku harus mencabut kekuatanmu...dan, juga aku harus menurunkan posisimu yg seorang Ratu harus di gantikan sementara oleh adikmu."
Ucap Nagini.
"Lalu, kau harus pergi bertapa di gunung Rinjani untuk merenungkan kesalahanmu...jika, kau bisa menggetarkan hatiku...maka, aku akan kembalikan lagi posisimu sebagai Ratu...sekaligus mengembalikan lagi kekuatanmu."
Ucap Nagini.
"Nyai, hukuman itu terlalu berat...hamba tidak sanggup."
Ucap Cintamani.
"Kau harus sanggup, Cintamani. Dengan begitu maka semuanya bisa kembali lagi ke keadaan semula."
Ucap Nagini.
"Nak, bersabarlah! Semuanya akan baik-baik saja."
Ucap Ragapati.
"Aku yg sekarang adalah makhluk lemah...bagaimana jikalau nanti...da bangsa lain yang menggangguku."
Ucap Cintamani.
"Maka aku akan datang menolongmu...jangan, khawatir...pergilah!"
Ucap Nagini.
"Baiklah, kalau begitu..hamba mohon pamit, nyai."
Ucap Cintamani.
Nagini menganggukkan kepalanya. Dan, Cintamani kembali ke bentuk ular Siluman. Ia pergi menuju gunung Rinjani berada dan bertapa disana untuk merenungkan semua kesalahannya. Ragapati merasa sedih akan hal yang menimpa putrinya. Tetapi apa boleh buat semua itu harus ia relakan bagaimana pun juga. Karena, Cintamani telah melakukan kesalahan.
"Bersabarlah paman...seemuanya akan segera berlalu."
Ucap Nagini.
Ucap Ragapati.
"Pergilah paman."
Ucap Nagini.
Ragapati segera berubah menjadi ular dan dia kembali ke tempat asalnya. Ankara yg sedari tadi mengintip semua kejadian itu akhirnya ia bisa bernafas lega. Masalah telah selesai. Lebih lega lagi setelah ia mengetahui siapa Naghi yg sebenarnya. Yang ternyata adalah Nagini sang Dewi Ular. Nagini tahu Ankara sedari tadi bersembunyi disana. Ia menyuruh Ankara segera keluar dari sana.
"Keluarlah! Kau tidak perlu bersembunyi lagi."
Ucap Nagini.
Ankara kaget. Ternyata Nagini tahu bahwa ia bersembunyi sedari tadi. Ankara keluar dari tempatnya bersembunyi.
"Ternyata kau memang hebat Naghi...eh...salah...Nagini, Dewi Ular...pantas saja kau memiliki aura yg sangat berbeda dengan para ratu ular...tidak kusangka kau adalah pemimpin tertinggi dari mereka semua."
Ucap Ankara.
"Apa, kau sudah selesai bicara...kau membuatku jadi ingin muntah...jangan beritahu tentang diriku yang sebenarnya kepada Zham dan juga ibu...jika tidak...
Ucap Nagini.
"Jika tidak, apa sayangku?"
Ucap Ankara.
"Cih, menjijikkan."
__ADS_1
Ucap Nagini.
Nagini benci jika Ankara merayu dirinya.
"Aku akan membunuhmu."
Ancam Nagini.
"Haha, baiklah nyai?"
Ucap Ankara.
"Apakah, mereka masih tidur?"
Tanya Nagini.
"Masih...mereka masih tidur, sayang?"
Balas Ankara.
"Syukurlah."
Ucap Nagini.
"Pertarungan tadi benar-benar sangat dahsyat. Aku takut mereka mengetahui pertarungan itu dan mengetahui jati diriku yg bukan manusia. Aku takut mereka akan membenciku. Dan, aku tidak mau itu terjadi."
"Jangan khawatir, sayang? Mereka tidak akan bangun sampai ayam berkokok di pagi hari...hehe."
Ucap Ankara.
"Hah? Bagaimana, kau tahu tentang hal itu?"
Ucap Nagini.
"Rahasia."
Ucap Ankara.
Ankara meninggalkan Nagini disana.
"Ck, menyebalkan...rahasia apaan...huh."
Ucap Nagini.
Nagini sangat kesal pada Ankara. Sebab, Ankara bermain rahasia padanya. Memang, saat pertarungan itu berlangsung. Ankara sudah menyirep ibunya dan Zham agar tidak terbangun sampai mereka mendengar suara ayam berkokok besok pagi. Jadi, mereka tidak akan mendengar apa pun lagi jika sudah kena sirep.
.
.
.
.
.
.
Besok harinya....
Nagini pergi ke rumah Lovita. Ia ingin menyelidiki tentang keturunan Baba, orang yang sudah membunuh kekasihnya hanya demi Manni miliknya yg berharga.
"Aku harus tahu tentang Baba, apakah Baba masih hidup atau sudah mati. Atau, benarkah Lovita itu keturunannya. Jika, benar begitu. Maka, aku harus membunuhnya. Satu per satu keturunan Baba, mereka harus mati!!!"
Api dendam menyala dan berkobar di dalam hati Nagini. Ia bertekad akan menghabisi keturunan Baba seluruhnya sampai tidak tersisa satu pun. Demi membalaskan dendam kekasihnya yg telah tiada dan demi penantian panjang dirinya selama seribu tahun. Dalam tangis penuh rindu dan kesepian karena sang kekasih telah pergi meninggalkannya setelah menyerahkan Manni miliknya kepada Nagini.
__ADS_1
Bersambung.....
NAGINI, DEWI ULAR