
Sekolah Chandra Kirana adalah merupakan salah satu sekolah yang paling difavoritkan oleh berbagai kalangan. Sebab, di sekolah ini sudah banyak melahirkan para siswa maupun siswi yang sukses dan berbakat di bidang apa pun. Makanya, Aisha memilih bersekolah di sekolah Chandra Kirana selain dekat dengan rumahnya. Sekolah Chandra Kirana sangat bagus dalam hal mendidik para siswa dan siswinya.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa sekolah Chandra Kirana memiliki sisi kelam yang tidak diketahui oleh banyak orang. Sebab, kekuatan uang orang kaya selalu berhasil menutupi segalanya. Dan, itulah yang sekarang sedang terjadi di sekolah tersebut. Dimana pembullian kerap terjadi di sekolah tersebut, kepada para siswa dan siswi kurang mampu atau lemah dalam hal ekonomi namun berprestasi dalam segala bidang dalam hal pelajaran yang diberikan di sekolah.
Hal paling utama yang membuat pembullian terjadi adalah kecemburuan para siswa maupun siswi terhadap para siswa dan sisiwi yang lebih pintar atau memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan, perebutan pasangan sering terjadi di lingkungan sekolah padahal belum waktunya untuk berpasang-pasangan. Dan, hal tersebutlah yang terjadi kepada Aisha. Setelah, kejadian ketika ia menabrak Carla dan Nona sejak itu Aisha sering menjadi korban pembulian Carla dan Nona.
"Apa, kau pikir mudah hanya dengan meminta maaf saja? Hah...!"
Ucap Carla kepada Aisha sambil menjambak rambut Aisha sehingga kepala mendongak ke atas menatap Carla yang saat itu sedang menyiksanya.
"Lalu, apa yang aku harus aku lakukan jika a...aku tidak meminta maaf...
Ucap Aisha.
"Heh...!"
Ucap Nona pendek sambil menampar pipi Aisha.
"Plakk...
"Ahhh...sakit...
Jeritnya merasakan sakit pada bagian pipi yang ditampar oleh Nona tadi.
"Meminta maaf saja tidak cukup tahu!"
Ucap Nona dengan mata melotot.
"Lalu, apa kalau bukan meminta maaf kepada kalian...
Ucap Aisha.
"Tentu saja, kau harus melakukan sesuatu untuk kami...bukan begitu Carla...
Ucap Nona sambil main mata kepada Carla.
"Ya, itu benar...
Balas Carla.
"Apa itu?"
Tanya Aisha dengan kepala tetap mendongak ke atas. Carla dan Nona saling pandang kemudian keduanya menjawab...
"Kau harus mengerjakan PR kami sehabis pulang sekolah...bagaimana...
Ucap Nona dan Carla.
"Apa! Aku tidak mau!"
Ucap Aisha.
"Heh! Mau tidak mau...kau harus mau!"
__ADS_1
Ucap Carla kemudian sambil menarik rambut Aisha lebih keras lagi. Dan, membuat Aisha semakin menjerit menahan rasa sakit.
"Arrghh...I...iya...akan kukerjakan...lepaskan...rasanya sakit sekali...
Ucap Aisha dengan berteriak. Karena, suara Aisha begitu kerasnya sehingga terdengar sampai keluar dari ruang toilet tersebut. Melihat hal tersebut langsung saja Carla menutup mulut Aisha.
"Ssttt...diam...
Ucap Carla. Nona pun berkata kepada Carla untuk menyudahi menyiksa Aisha. Sebab, suara keras Aisha tadi terdengar sampai keluar ruangan tersebut. Sehingga, membuat beberapa siswa dan siswi berlari menuju ruangan toilet tersebut.
"Carla, sudah hentikan! Lihat, suaranya sudah mengundang mereka semua...
Ucap Nona kepada Carla.
"Ya, baiklah...
Ucap Carla sembari melepaskan tangannya dari rambut Aisha.
"Ingat! Jangan, sampai semua orang di sekolah ini mengetahui tentang hal ini...jika tidak...maka hari-harimu di sekolah ini akan tamat...
Ucap Carla mengancam Aisha. Dan, Aisha pun mengangguk tanda setuju ia tidak akan menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Setelah itu Carla dan Nona keluar dari ruangan tersebut. Lalu, Aisha pun menangis terisak disana sepeninggal Carla dan Nona. Sementara, itu di luar ruangan toilet tersebut para siswa maupun siswi berdesakan ingin masuk ke dalam toilet.
Akan tetapi, Carla dan Nona mencegah mereka semua dengan mengatakan bahwa...
"Ada apa, di dalam toilet?"
Tanya mereka.
Perintah Nona kepada para siswa dan siswi tersebut.
"Huuuu...
Ucap para siswa dan siswi bersorak. Dan, langsung membubarkan diri. Sedangkan, dua pasang mata sedang mengawasi keadaan sekolah tersebut. Juga, mengawasi semua kejadian yang mengawasi Aisha. Sejenak, keduanya pun mengobrol perihal hal yang baru saja terjadi kepada Aisha tersebut.
"Apa, perlu kita tuntaskan masalah tersebut?"
Ucap salah satunya.
"Tidak perlu, hal seperti ini bukanlah tugas kita...
Ucap salah satunya lagi.
"Aku tidak sanggup melihat keadaannya begitu...dahulu ia sangat kuat dan tidak pernah sekali pun kumelihat air matanya...tetapi hari ini...darahku seakan mendidih melihatnya seperti itu...
Ucap salah satu dari dua pasang mata tadi.
"Bersabarlah, suatu saat nanti ia akan menyadari siapa dirinya...
Ucap salah satunya meyakinkan yang satunya.
"Berapa lama lagi...
Balasnya.
__ADS_1
"Saat bulan purnama penuh...tepat ia berusia tujuh belas tahun...tepat di malam kelahirannya...ia akan menyadari siapa dirinya...
Ucap yang satunya.
"Dan, itu tidak lama lagi bukan?"
Ucapnya sambil tersenyum. Dan, senyumannya disambut anggukan kepala rekannya.
"Dan, aku tidak sabar lagi...melihat api kemarahan terpancar dari sorot matanya yang tajam...
Ucap sang rekan.
"Yah, aku juga tidak sabar mendengar suara desisannya memecah kesunyian malam...
Ucap yang satunya kemudian. Setelahnya mereka pun segera pergi dari sekolah tersebut. Mereka tidak ingin berlama-lama disana. Karena, mereka takut tidak dapat mengendalikan diri dan membuat kerusuhan di sekolah tersebut. Yang, akhirnya akan membuat para pemburu siluman datang dan menjadi musuh mereka.
Mereka tidak ingin berurusan dengan para pemburu siluman. Sebab, hal tersebut tidak akan baik bagi keberlangsungan hidup bangsa siluman. Mereka juga akan malu apabila sampai ras bangsa siluman musnah di tangan para pemburu siluman yang sejatinya anggotanya adalah manusia.
...****************...
Aisha pulang ke rumahnya dengan mata yang sembab. Alina yang saat itu sedang menunggu kepulangannya ke rumah melihat ketika ia melihat sekilas mata Aisha yang sembab. Alina yang mengetahuinya pun jadi bertanya kepada Aisha tentang apa yang terjadi.
"Aisha, mengapa dengan matamu...sepertinya bengkak? Kau habis menangis ya?"
"Tanya Alina.
"Tidak, bu...hanya rindu ayah dan ibu...itu saja...
Jawab Aisha berbohong.
"Ya Allah, Aisha...yang ibu pikir telah terjadi sesuatu kepadamu...ternyata kau rindu ayah dan ibumu, ya?"
Ucap Alina.
"Iya, bu? Ya sudah, malam ini kita berdua berdo'a untuk mereka berdua ya, sayang? Agar, mereka berdua bahagia disana...
Ucap Alina menenangkan Aisha lalu memeluknya. Dan, Aisha pun terisak dalam pelukan Alina.
"Ibu tahu bagaimana perasaanmu, Aisha...ibu tahu tentang kerinduanmu terhadap orang tuamu...akan tetapi kau harus tahu bahwa ada aku di sisimu...meskipun ku bukan orang tua kandungmu...tetapi anggaplah aku sebagai seseorang yang dapat menerangi jalan hidupmu...anggap aku sebagai sahabatmu...baik itu disaat kau bersedih atau disaat kau bahagia...
Ucap Alina menghibur Aisha. Dan, Aisha menganggukkan kepalanya. Sungguh ia merasa damai dalam pelukan Alina meskipun Alina bukan ibu kandungnya. Pelukan Alina bagi dirinya merupakan obat yang mampu membuatnya tenang dan nyaman.
Ibu...meskipun kau bukan ibu kandungku...tetapi kau sangat menyayangiku dan mengasihiku...ku sangat bahagia dapat menjadi anakmu...tetapi, maaf ibu ku tidak dapat mengatakan kepadamu tentang segalanya, bu...sebab ku tidak ingin kau menangis untukku dan bersedih karenaku...ku hanya berharap agar badai ini segera berlalu dan agar ku dapat tersenyum lagi...
Ucap Aisha di dalam hati sambil terisak. Lalu, dua bulir pun menetes dari kedua pelupuk matanya. Membasahi pakaian ibunya. Dan, ibunya sangat paham akan hal tersebut. Alina membiarkan Aisha tetap berada dalam pelukannya lebih lama lagi.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1