NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 18. Kecurigaan Nagini Tentang Baba


__ADS_3

Setelah Nagini menyimpan Intisari Kehidupan di dunia bawah. Nagini pun segera pergi dan kembali ke dunia atas. Sekarang rencana selanjutnya ialah menciptakan Intisari Kehudupan palsu dan menyimpannya di dalam tubuhnya.


"Intisari Kehidupan sangat berbahaya...jika sampai jatuh di tangan orang yang berwatak jahat...aku akan menciptakan yang mirip seperti itu...bukan asli tapi sangat mirip...sehingga mereka sendiri tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu."


Ucapnya pada diri sendiri.


"Aku butuh tempat sunyi untuk menciptakan yang palsu, Istana? Tidak, tidak Istana bukanlah tempat yang aman, aku butuh tempat yang aman."


Katanya lagi. Kemudian, ia pun segera pergi dari tempat itu. Menyusuri jalanan dengan tubuh kecilnya. Meski, ia telah menyimpan Intisari Kehidupan pada Ular Suci Candrika, dia tidak boleh lengah.


"Intisari Kehidupan tidak boleh diketahui keberadaannya oleh siapa pun...tidak boleh dimiliki oleh siapa pun...karena itu bukanlah benda biasa."


Ucapnya.


"Kekuatannya dapat menghancurkan alam apabila digunakan di jalan yang tidak baik...tetapi bila digunakan untuk hal yang baik maka ia akan berguna bagi kehidupan...memeliharanya sampai bumi ini hancur nanti."


Ucapnya lagi.


Sambil tetap menyusuri jalanan matanya terus mencari-cari tempat aman. Ketika matanya sedang melihat-lihat tempat yang aman untuk menciptakan Intisari Kehidupan, tiba-tiba saja ada bangsa siluman lain yang menghadang langkahnya. Ia terkejut luar biasa. Namun, ia bersikap tenang kembali sedia kala. Melihat siluman lain di hadapannya Nagini tidak gentar sama sekali.


"Siapa kau?"


Tanya Nagini.


"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau, dan sedang apa kau di wilayah kekuasaanku."


Balas sosok bangsa siluman tersebut.


"Aku Dewi Ular namaku Nagini."


Ucap Nagini.


"Oh, jadi kau Nagini sang pemimpin para Ratu Ular."


Ucap sosok siluman tersebut.


Ya, aku Dewi Ular itu...lalu kau?


Nagini balik bertanya.


"Perkenalkan aku nyai Bajing Ireng...penguasa seluruh siluman Bajing yang menetap di hutan ini...salam kenal dariku, nyai."


Balas siluman yang memperkenalkan dirinya adalah siluman Bajing Ireng.


"salam kenal kembali...apa kiranya yg sedang nyai Dewi lakukan disini?"


Tanyanya.


"Aku sedang mencari tempat sunyi di hutan ini untuk bersemadi."


Balas Nagini.


"Oh, jadi nyai Dewi ingin bersemadi disini?"


Ucap Bajing Ireng.


"Ya, aku ingin bersemadi di hutan ini."


Ucap Nagini.


"Di hutan ini banyak tersedia tempat untuk bersemadi nyai...silahkan nyai Dewi...pilih tempat yang mana saja."


Ucap Bajing Ireng.


"Apakah aman?"


Tanya Nagini.


"Tentu saja aman, nyai Dewi."


Jawab Bajing Ireng.


"Baiklah terima kasih."


Ucap Nagini.

__ADS_1


"Terima kasih, kembali nyai."


Ucap nyai Bajing Ireng dengan santun. Setelah mendengar penjelasan dari nyai Bajing Ireng segera Nagini mencari tempat untuk bersemadi dan menciptakan Intisari Kehidupan palsu untuk disimpan kembali di dalam tubuhnya. Setelah menemukan tempat yang cocok ia pun segera melakukan ritual bersemadi untuk menciptakan Intisari Kehidupan palsu.


Mula-mula ia duduk bersila dan kedua tangannya ia letakkan di atas paha. Lalu, ia merapal mantra dalam bahasa jawa halus yang hanya bisa ia pahami sendiri saja. Dan, tak lama kemudian muncullah setetes air berpendar cahaya putih. Cahayanya sungguh sangat menyilaukan pandangan mata siapa pun yang melihatnya.


"Selesai sudah, ini adalah Intisari Kehidupan Palsu...akan ku simpan di dalam diriku."


Ucapnya lagi. Nagini menyimpan Intisari Kehidupan yang palsu di dalam dirinya. Lalu, setelah itu ia pun bergerak kembali meninggalkan hutan itu setelah sebelumnya ia berpamitan kepada nyai Bajing Ireng untuk segera pergi ke tempat tujuan berikutnya.


Nagini hendak pulang kembali ke istana yang telah lama ia tinggalkan. Ia sangat rindu dengan ibunya. Dan, ia ingin segera bertemu dengan ibunya Archa Sevadha. Dengan langkah pasti kembali ia menyusuri hutan belantara untuk segera sampai di Istana Dewi Ular. Perjalanan panjang ia lalui tanpa kenal rasa lelah. Akhirnya, ia sampai juga di Istana Dewi Ular. Dengan serta merta ia pun lalu mencari ibunya.


"Ibu...., Ibu...., Ibu...., dimana dia?"


Ucapnya sembari ia celingak celinguk kesana kemari. Matanya menyisir setiap ruangan dan lorong istana tersebut. Salah satu penjaga yang ia temui ia tanya dimana ibunya berada.


"Penjaga, dimana ibuku."


Tanya Nagini.


"Ampun nyai Dewi hamba...tidak tahu dimana nyai Archa berada."


Jawab penjaga tersebut.


"Apakah, benar kau tidak tahu?"


Tanyanya lagi.


"Tidak, nyai...hamba tidak tahu."


Jawab penjaga tersebut.


"Ck, pergilah."


Ucap Nagini menyuruh sang penjaga pergi. Nagini gusar ia tidak menemukan ibunya dimana pun. Namun, samar-samar ia mendengar percakapan dua orang di lantai bawah tanah. Sang Dewi Ular sanggup mendengar pembicaraan seseorang meski itu hanya dibawa hembusan angin. Secepatnya ia segera menuju lantai bawah tanah. Siapa tahu kiranya ibunya yang ada di bawah sana tidak tahu sedang melakukan apa.


"Suara ini sepertinya aku mengenalnya dengan baik... mirip suara Baba si keparat itu...apa dia sudah kembali...dan apa yang dia lakukan di Istanaku ini...apa dia mencari Intisari Kehidupan?"


Ucapnya pada diri sendiri.


"Ah...tidak, jangan sampai Intisari Kehidupan juga menjadi miliknya, itu akan sangat berbahaya."


"Ibu..., ibu disini...ya aku disini...aku mencari ibu kemana-mana tadi."


Ucap Nagini.


"Kau, baru pulang?"


Tanya Archa Sevadha.


"Ya, ibu aku baru saja pulang...aku sangat rindu pada ibu."


Balas Nagini.


"Oh anakku, ibu juga rindu denganmu...mari kita bicara di taman keputren sambil duduk kita makan makanan enak disana."


Ucap Archa Sevadha.


"Ya, baiklah...mari bu?"


Nagini mengajak ibunya. Sesampainya di taman keputren Istana, Nagini banyak berbincang dengan ibunya Archa Sevadha. Banyak hal yang ia ceritakan dan ia ungkap kepada ibunya. Termasuk pertemuannya dengan Zham yang sekarang Zham adalah manusia. Bukan bangsa ular lagi.


"Jadi, kau sudah bertemu dengannya?"


Tanya Archa Sevadha.


"Sudah, bu."


Balas Nagini.


"Lalu, apa dia masih ingat denganmu?"


Tanya Archa Sevadha lagi.


"Entahlah, ibu aku tidak tahu."

__ADS_1


Balas Nagini lagi.


"Mengapa, kau tidak tahu? Apa dia tidak mengenalimu?"


Pertanyaan bertubi-tubi terus diberikan oleh Archa Sevadha kepada Nagini.


"Tidak ibu, dia tidak mengenaliku."


Ucap Nagini.


"Nagini itu adalah hal yang harus kau selidiki...mengapa setelah terlahir kembali dia tidak mengenalimu...padahal kau adalah kekasihnya."


Ucap ibunya.


"Tetapi, ia sudah punya kekasih ibu...mana mungkin dia akan mengenaliku lagi."


Ungkap Nagini hingga membuat ibunya yang sedang makan kudapan jadi tersedak.


"Uhuk...uhuk, ibu hati-hati, minum dulu bu."


Ucap Nagini sambil menyodorkan segelas air putih kepada Archa Sevadha.


"Ke...kasih? Bagimana itu mungkin anakku...bukankah dia sudah berjanji padamu akan kembali lagi padamu."


Ucap Archa Sevadha.


"Ya ibu, tapi itu dulu...sekarang berbeda...zaman pun berubah tidak lagi seperti dulu."


Ucap Nagini sedih.


"Bersabarlah, nak? Mungkin cepat atau lambat dia akan mengingatmu."


Ucap Archa Sevadha sambil mengelus kepala Nagini.


Mudah-mudahan saja ibu...oh ya, ibu apakah ibu tidak merasakan sesuatu...ketika di ruang bawah tanah tadi, bu...sesuatu?"


Ucap Nagini.


"Tidak, nak? Memangnya sesuatu, sesuatu seperti Baba."


ucap Archa Sevadha.


Begitu mendengar nama Baba disebut seketika membuat wajah ibunya pucat.


Gawat! Apa, dia mengetahui Baba?


ucapnya dalam hati.


"Hem, tidak nak? Bukankah dia sudah menghilang beratus tahun...dan bahkan hingga saat ini kita tidak pernah tahu dimana dia berada."


Balas Archa Sevadha menjelaskan.


"Ibu, dengan Mani Merah milikku dia bisa berbuat apa saja...bahkan ia bisa saja menjadi seperti kita."


Ucap Nagini.


"Apa, maksudmu Nagini?"


Ucap Archa Sevadha.


"Maksudku ibu dia bisa saja menggunakan Mani Merah...untuk merubah wujudnya yang manusia menjadi makhluk siluman, ibu."


Ucap Nagini meyakinkan Archa Sevadha.


"Itu tidak mungkin, nak? Sudah tidak usah kau pikirkan."


Ucap Archa Sevadha.


"Tetapi, bu?"


Ucap Nagini masih berusaha meyakinkan Archa Sevadha.


"Ibu, sudah kenyang...sekarang ibu mau istirahat dulu...kau segera selesaikan makanmu."


Ucap Archa Sevadha lembut. Archa Sevadha meninggalkan Nagini di taman keputren istana. Nagini benar-benar tidak habis pikir dengan ibunya. Ibunya yang sekarang tampak berbeda. Tidak seperti biasanya sikap dan sifat dari ibunya itu. Nagini merasa ibunya menyembunyikan sesuatu darinya. Dan, Nagini pun bertekad ia akan membuka semua tabir itu. Tentang ibunya dan tentang Baba.

__ADS_1


Bersambung...


NAGINI, DEWI ULAR.


__ADS_2