NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 76. Aura Pasukan Ular


__ADS_3

Setelah membebaskan Anna dari tawanan siluman rubah ekor sembilan. Aisha, Richard dan Anna segera kembali ke dunia manusia. Dan, permasalahan tentang siluman rubah ekor sembilan tidak akan diungkit atau diceritakan kepada siapa pun.


Untuk menjaga timbulnya dendam baru antara bangsa manusia dan siluman rubah. Jadi, Aisha memasang segel di antara perbatasan kerajaan siluman ekor sembilan dan dunia manusia.


"Kau memasang, segel?"


Tanya Anna.


"Iya, mencegah agar hal buruk yang tidak diinginkan terjadi."


Balas Aisha.


"Jadi, begitu."


Ucap Anna.


"Ya, sekarang lebih baik jika kita segera kembali ke rumah...aku takut nanti ibu akan mencari kita."


Ucap Aisha kepada Anna dan Richard.


"Baiklah, masalah sudah selesai kan?"


Ucap Richard. Dan, Aisha menganggukkan kepalanya. Akhirnya, mereka bertiga kembali ke rumah Alina. Saat, mereka bertiga sampai Alina sudah menunggu mereka bertiga di halaman rumah.


Alina memeluk Aisha, putrinya. Alina bertanya kepada Aisha kemana saja ia pergi sampai tidak pulang ke rumah semalaman.


"Ibu, aku tidak pergi kemana-mana...aku hanya berjalan-jalan saja bersama teman-temanku."


Ucap Aisha tersenyum.


"Itu benar, bu Alina."


Ucap Anna.


"Oh, begitu? Kupikir, Aisha pergi entah kemana...ibu sangat khawatir sekali."


Ucap Alina.


"Ibu, jangan khawatir...aku baik-baik saja...ada mereka berdua yang menjagaku."


Ucap Aisha.


Menjaga apanya? Justru dialah yang menjaga aku dan Richard.


Ucap Anna dalam hati.


"Oh, ya sudah...aku ucapkan terima kasih kepada kalian berdua...kalian telah menjaga Aisha dengan baik."


Ucap Alina.


"Terima kasih kembali, bu? Untuk ibu dan Aisha yang sudah bersedia menampung kami disini."


Ucap Richard sambil tersenyum. Alina pun merasa lega mendengar kata-kata Richard.


"Baiklah, kalau begitu...mari masuk! Ibu sudah siapkan sarapan pagi kalian...bukankah kalian harus berangkat sekolah?"


Ucap Alina.


"Terima kasih, bu...ayo, sebaiknya kita cepat...nanti bisa terlambat."


Ajak Aisha lagi. Kemudain, mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Untuk bersiap-siap berangkat sekolah di pagi hari. Sementara, itu para anak buah yang dikirim Nagadhini untuk mencari Deviandra pun tiba di desa dimana Aisha dan teman-temannya tinggal.


Tatapan mata itu begitu tajam. Menatapi jalanan yang mulai ramai oleh suara bising kendaraan. Banyak manusia yang lalu lalang bersama dengan segudang aktivitas mereka di pagi hari. Demikian juga, dengan Aisha, Richard dan Anna.


Mereka pun sudah berangkat ke sekolah. Di tengah jalan sangat terasa sekali aura bangsa siluman ular berkeliaran disana sini. Aisha dan Richard merasakannya.


"Aura ini, mengapa memenuhi udara di pagi hari ini?"


Ucap Aisha.


"Ya, kau benar sekali."

__ADS_1


Ucap Richard.


"Aku juga merasakannya."


Ucap Anna.


"Ini benar-benar tidak beres...siluman ular berkeliaran di dunia manusia."


Ucap Aisha.


"Apakah, si serakah itu ingin berbuat onar lagi?"


Ucap Richard.


"Si serakah mana yang kau maksud, Richard?"


Tanya Anna.


"Siapa lagi, kalau bukan Nagadhini."


Balas Richard.


"Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan...tidak mungkin ia bertindak begitu cepat...sebab, bukan perkara mudah untuk melepaskan segelku yang terpasang di Peta tersebut."


Ucap Aisha.


"Lalu? Apa, ini Aisha?"


Ucap Anna.


"Sudahlah, saatnya nanti kita juga akan tahu...sekarang kita harus cepat."


Ucap Aisha mengajak Anna dan Richard untuk segera sampai di sekolah. Mereka mempercepat langkah kaki mereka masing-masing agar segera sampai di sekolah.


Sesampainya di sekolah, suasana sekolah yang ramai pun ternyata tidak bisa menyembunyikan aura bangsa siluman ular yang memenuhi ruang udara. Aisha memperhatikan darimana aura tersebut berasal akan tetapi satu suara lonceng yang berbunyi menghentikan aksinya.


Sudah lonceng...lebih baik nanti saja aku menyelidikinya.


"Kau masih tetap merasakannya?"


Tanya Richard.


"Ya, dan kurasa ini bukanlah aura milik Nagadhini...tetapi aura milik para anak buah siluman."


Balas Aisha sambil berjalan beriringan di sisi Richard.


"Dan, menurutmu apakah hal tersebut dapat mengancam manusia?"


Ucap Richard.


"Bisa saja, akan tetapi akan kucari tahu lebih detilnya lagi."


Ucap Aisha.


"Baiklah, nanti aku dan Anna akan ikut serta."


Ucap Richard.


"Sebaiknya, Anna jangan dilibatkan...akan sangat berbahaya bagi dirinya...dan, dia baru saja mengalami hal buruk...bagaimana, kita berdua saja."


Ucap Aisha.


"Oke, kalau begitu."


Ucap Richard yang kemudian melangkah cepat masuk ke dalam ruang kelas. Di belakangnya Aisha menyusul lalu diikuti oleh Carla dan Nona yang tetap memandang sinis Aisha dari belakang. Sedangkan, Anna sudah terlebih dulu memasuki ruang kelas.


Dan, tidak lama kemudian proses belajar mengajar dimulai. Selama, proses belajar mengajar Aisha memperhatikan keadaan sekeliling ruang kelas. Dan, ia tidak melihat Deviandra di dalam ruangan kelas tersebut. Perlahan ia menarik nafas lelah.


"Dimana anak baru itu?"


Ucapnya.

__ADS_1


"Siapa, yang kau cari Aisha?"


Tanya Richard.


"Deviandra, dia tidak masuk sekolah."


Balas Aisha.


"Mungkin dia sakit."


Ucap Richard.


"Mana ada siluman sakit, Richard?"


Ucap Aisha.


"Yah, mungkin saja Aisha."


Ucap Richard sekenanya.


"Sudahlah, Aisha...mungkin saja dia sedang sibuk mengurus sesuatu."


Ucap Richard lagi.


"Mungkin saja."


Ucap Aisha kemudian fokus kembali dengan pelajaran yang diterangkan oleh seorang guru di depan kelas.


......................


Sementara itu...


Deviandra sedang berjalan menuju sekolah. Tiba-tiba, saja aura siluman ular menguar memenuhi ruang udara. Deviandra terkejut melihatnya.


"Aura ini tidak biasa."


Ucapnya.


"Ini...ini aura pasukan ular milik ibu!"


Ucap Deviandra.


"Bagaimana, ini...aku tidak ingin kembali ke kerajaan itu lagi...ibu sangat kejam kepadaku...lebih baik aku menghindar dulu."


Ucap Deviandra kepada dirinya sendiri kemudian segera pergi dari sana. Akan tetapi, baru saja ia hendak pergi tiba-tiba saja ribuan pasukan ular bergerak ingin menangkap dirinya.


"Itu, dia."


Ucap salah satu anak buah pasukan ular tersebut.


"Cepat! Tangkap dia."


Ucap salah satu anak buah pasukan ular tersebut sambil mengejar Deviandra. Akhirnya, aksi kejar-kejaran pun terjadi. Para manusia yang melihat hal tersebut pun menjadi panik.


"Gawat! Ini semua adalah ulah ibu."


Ucap Deviandra melarikan diri kemana saja dan terus berlari. Ia sama sekali tidak ingin ditangkap oleh pasukan ular ibunya. Dan, tidak ingin kembali ke kerajaan yang dipimpin oleh Nagadhini.


Deviandra tidak ingin lagi terlibat dalam aksi kejahatan yang dilakukan oleh Nagdhini bersama dengan para pengikutnya. Apalagi, menuruti keinginan Nagadhini yang ingin bersekutu dengan Iblis demi kejayaan dan bertambah kuat.


Sungguh Deviandra tidak ingin lagi terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan Nagadhini dan kelompoknya. Tetapi, sekarang ia harus berusaha mati-matian demi dirinya sendiri. Karena, ia tidak memiliki seseorang yang dapat menolongnya dari kondisi tersebut.


Dan, aksi kejar-kejaran tersebut akhirnya berhenti di sebuah tempat di lapangan luas terbuka. Di tempat sepi, sunyi dan mencekam. Disana Deviandra berhadapan dengan ribuan pasukan ular kiriman dari Nagadhini yang berusaha untuk membawanya kembali ke dunia ular.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover


__ADS_1


__ADS_2