NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 18. Intisari Kehidupan


__ADS_3

Akhirnya Nagini tiba di sebuah rumah beaar yang beberapa bulan lalu ia datangi tanpa sengaja. Dengan wujud silumannya ia leluasa masuk melalui lubang kecil di bawah pintu rumah besar tersebut. Setelah masuk kedalam rumah tersebut dia lalu merubah dirinya kembali ke bentuk semula. Dengan tatapan tajam ia melihat dengan seksama segalanya yang ada disana.


Namun, tidak satu pun yang menarik perhatiannya. Dia juga tidak menemukan hal yang paling mengejutkan disana. Ia hanya memandang lukisan Baba disana. Ia tampak heran ada lukisan Baba disana. Namun, tidak ada apa pun hal yang menyangkut tentang Baba ada disana.


"Aku merasa heran sekali...jelas-jelas ini adalah lukisan Baba...tetapi, mengapa semua tampak tidak jelas? Tidak ada jejak darinya, atau satu pun bukti tentangnya...lalu, dimanakah dia? Dan, untuk apa ia meminta Mani Merah milikku?"


Ucapnya pada diri sendiri.


Segudang pertanyaan mengalir di benak Nagini. Lalu, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan masa depan. Di dalam penglihatannya ia melihat benda bersinar terang putih bersih menyala. Lalu, diperebutkan oleh banyak orang. Ia terkesiap,


"Ha, Intisari Kehidupan? Ternyata banyak orang yang mengincarnya, untunglah ada padaku...jadi aman untuk sementara waktu...aku harus segera pergi dari sini...dan, aku harus menyembunyikan ini di tempat aman...ini benar-benar berbahaya."


Ucapnya lagi.


Intisari Kehidupan ialah air yang bersinar terang. Dan, kekuatannya mampu membangun kembali Dunia Ular yang sempat hancur karena peristiwa alam.


"Aku mendapatkannya dengan susah payah...tidak akan kubiarkan mereka semua memilikinya dan menggunakan kekuatannya untuk kejahatan...jika itu sampai terjadi, maka keseimbangan alam akan terganggu...aku harus pergi sekarang...tetapi, Baba....??? Akh, sudahlah. Nanti saja aku urus dia."


Ucapnya akhirnya.


Setelah berpikir demikian maka segera saja Nagini lenyap begiu saja entah kemana. Dengan membawa Intisari Kehidupan yang ada di dalam tubuhnya. Ia melesat terbang di udara lalu turun ke bumi menjelma menjadi ular siluman. Kemudian berjalan menyusuri pedalaman hutan yang angker. Kedatangannya di hutan disambut oleh beberapa makhluk siluman lainnya.


Bukan saja makhluk siluman ular. Tapi, berbagai jenis siluman lainnya yang telah lama berdiam di tempat itu. Namun, para siluman itu tidak berani untuk berhadapan dengannya atau pun menghadang laju perjalanannya. Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya ia menemukan tempat yang pas untuk menyimpan Intisari Kehidupan di hutan pedalaman itu.


"Bagus! Ini tempat yang bagus sekali untuk menyimpan Intisari Kehidupan disini...di bawah kerak bumi hutan pedalaman ini."


Ucapnya penuh ketenangan.


"Aku harus segera menyembunyikannya disini. Lalu, setelah itu aku menjalankan rencana berikutnya."


Katanya lagi.


"Menemukan Baba, dan Mani Merah milikku."


ucapnya dengan yakin. Lalu, ia pun menengadahkan wajahnya ke atas dan berkata...


"Wahai dunia bawah tanah terbukalah...."


Teriaknya lantang.


"Braakkkk."


Lalu, terbelahlah tanah yang dipijak oleh Nagini. Tampak dari retakan tanah tersebut membentuk susunan anak tangga yang menuju dunia bawah tanah. Nagini, tersenyum melihat dunia bawah tanah terbuka. Segera, tanpa pikir panjang lagi ia pun masuk ke dalam dunia itu dengan menuruni anak tangga yang jumlahnya ratusan ribu itu.

__ADS_1


Tak sulit bagi Nagini untuk melakukan hal tersebut. Sebab memang dia Dewi Ular yang sanggup memasuki dunia mana saja. Ia dapat merubah dirinya menjadi seekor ular kecil dan menuruni anak tangga tersebut. Sesampainya di bagian kerak bumi, suasana tampak sunyi mencekam.


Dan, udara begitu tipis untuk dihirup. Ia memandang kesana kesini, dan tiba-tiba sesuatu yang tak kelihatan wujudnya itu menyerangnya. Terjadilah pertarungan sengit diantara keduanya. Keduanya sama-sama kuat dan sama-sama imbang dalam hal kesaktian.


"Boleh juga ilmumu...!"


Ucap Nagini kepada lawannya beradu ilmu kesaktian.


"Hmm...siapa kau yang berani masuk wilayah kekuasaanku...!!!"


Katanya dengan nada marah.


"Aku Dewi Ular! Namaku, Nagini! Lalu, siapa kau...!!!"


Balas Nagini balik bertanya.


"Hrrghhh....aku eyang Sri Kantil alias Ular Suci, namaku Candrika."


Jawabnya kemudian.


"Sudah lama aku tidak bertemu tamu yang mengejutkan begini...sanggup menghadapiku selama berhari-hari dan berjam-jam."


Katanya tiba-tiba dan penuh senyum. Melihat Sri Kantil tersenyum membuat Nagini menjadi heran dan berpikir.


Bisik hatinya.


Sri Kantil yang mengetahui keheranan Nagini berkata...


"Kau memiliki aura yang luar biasa, Dewi Ular!"


Katanya.


"Dan, kau memiliki sesuatu yang istimewa...Intisari Kehidupan!"


Katanya lagi. Begitu Intisari Kehidupan disebut seketika membuat Nagini terkejut.


Bagaimana, dia mengetahui tentang Intisari Kehidupan milikku?


Bisik hatinya lagi. Sri Kantil semakin tersenyum dengan wajah yang riang. Mengetahui keheranan Dewi Ular.


"Kau tidak perlu heran, aku juga tahu bahwa kau ingin...menyimpannya disini? Di duniaku?"


Tebaknya. Tebakan Sri Kantil benar-benar tepat.

__ADS_1


"Bagaimana kau tahu?"


Tanya Nagini.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas...simpanlah benda suci itu disini, dan aku akan menjaganya."


Balasnya.


"Apa aku bisa percaya padamu?"


Ucap Nagini penuh ragu.


"Apa kau tidak percaya kepadaku?"


Kata Sri Kantil.


"Tentu saja, kau menyerangku tiba-tiba...apa kau pikir, aku akan percaya begitu saja? Hah...?"


Ucap Nagini.


Mendengar kata-kata Nagini membuat Sri Kantil hampir saja tertawa. Dengan senyum dikulum ia pun menjawab keraguan serta rasa takut di hati Nagini.


"Aku ini Ular Suci, tugasku ialah menjaga benda suci seperti Intisari Kehidupan. Kau paham???"


Katanya lagi tersenyum.


"Baiklah, aku paham...akan kuberi kau tanggung jawab untuk menjaganya."


Ucap Nagini kemudian. Dan, Sri Kantil mengiyakan lalu menerima Intisari Kehidupan milik Dewi Ular tersebut.


"Akan kujaga dengan baik, dengan nyawaku nyai?"


Ucap Sri Kantil kemudian.


"Baiklah, aku pergi!"


Ucap Nagini kemudian yang segera menghilang bersama sapuan kabut tipis yang ia ciptakan untuk segera keluar dari dunia bawah tanah tersebut. Nagini tidak ingin berlama-lama di dunia bawah. Sebab, ia masih memiiki satu tugas lain yang harus segera ia laksanakan.


Ia harus menciptakan Intisari Kehidupan palsu. Untuk mengecoh semua musuh-musuhnya. Agar, musuh-musuhnya tidak mengetahui kalau Intisari Kehidupan yang asli sudah tidak berada lagi pada dirinya. Agar musuhnya tidak dapat mengetahui bahwa Intisari Kehidupan berada di tangan Eyang Sri Kantil, sang Ular Suci penguasa dunia bawah.


Bersambung...


NAGINI, DEWI ULAR.

__ADS_1


__ADS_2