
Ankara dan Nagini segera kembali ke dunia manusia setelah, Zham berkomunikasi bathin dengan Ankara. Yang menyuruh Ankara segera kembali bersama Nagini karena ibu mereka bu Retno sangat khawatir dengan keadaan Ankara dan Nagini. Sebab, Nagini dan Ankara sudah berhari-hari tidak kembali dikarenakan sesuatu hal yang sedang terjadi di Dunia Ular.
Nagini diserang oleh Kala Abang beserta pengikutnya atas perintah Nagadhini. Dan, Ankara datang menolong Nagini sebab Ankara merasakan bahwa Nagini sedang dalam keadaan bahaya. Jadi, Ankara datang ke Dunia Ular untuk mencari keberadaan Nagini. Setelah bertemu, ternyata Nagini sedang bertarung dengan Kala Abang. Siluman Kalajengking yang dulu pernah dikalahkan oleh Ankara.
Ankara menolong Nagini dan menyelamatkan nyawanya. Setelah, berhasil menyelamatkan Nagini. Ankara mengatakan jati dirinya yang sebenarnya kepada Nagini. Bahwa ia pun sama seperti Nagini, Ankara adalah seekor siluman ular Emas. Ia adalah adik dari Pangeran Ular, Zham. Ankara menceritakan segalanya kepada Nagini. Tentang hal yang telah terjadi kepada Zham, kakaknya setelah pertarungan dengan Baba.
Yang membuat Zham tertidur selama seribu tahun lamanya juga perubahan yang terjadi terhadap tubuh Zham yang perlahan-lahan mengalami proses perubahan wujud antara wujud siluman ke wujud manusia. Sekaligus proses kehilangan kenangan indah Zham dan Nagini. Semuanya hilang begitu saja akibat kekuatan seruling sakti Baba. Sedangkan, Baba menghilang bagaikan ditelan bumi. Tidak tahu ada dimana gerangan semenjak ia merebut Mani merah milik Dewi Ular.
Dan, saat ini Baba kembali untuk menagih janji Nagadhini dahulu. Janji Nagadhini bahwa Nagadhini setuju menikah dengan Baba apabila Baba berhasil merebut Intisari Kehidupan. Akan tetapi, begitu Baba berhasil merebutnya meski benda sakti tersebut bukanlah benda sakti yang diminta oleh Nagadhini. Baba menghilang selama seribu tahun, tidak ada satu pun kabar darinya.
Ternyata, Baba menghilang karena ia sedang melakukan sesuatu. Baba, melakukan ritual dengan Mani merah untuk merubah wujud manusianya ke wujud siluman. Baba melakukan semua itu demi cintanya kepada Nagadhini, meski Baba tahu ia hanyalah alat bagi Nagadhini demi tercapainya niat serakah Nagadhini. Akan tetapi, Baba sudah memiliki rencana lain untuk mendapatkan Nagadhini sepenuhnya.
Tidak tahu rencana apakah yang sedang disusun Baba, sehingga di hari perburuan tersebut Baba tidak ikut campur. Baba ternyata pergi ke dunia manusia untuk melihat keadaan anak cucu keturunannya. Baba sangat bahagia melihat seluruh keluarganya masih hidup dan saat ini keluarganya sedang merencanakan hari besar untuk salah satu anggota di dalam keluarga tersebut.
Acara pertunangan dan pernikahan antara Lovita dan Zham. Rencananya acara pesta tersebut akan segera berlangsung tidak lama lagi. Seluruh anggota keluarga tersebut sedang mempersiapkan segalanya. Mereka sudah banyak menghubungi keluarga terdekat untuk turut memeriahkan acara tersebut. Dan, Baba sudah memiliki satu rencana cerdik dalam pikirannya. Yaitu, ia akan hadir dan berada bersama dengan keluarganya.
Ia ingin mendekati Zham agar ia lebih mudah mendapatkan Intisari Kehidupan milik Nagini. Sebuah benda sakti yang banyak diperebutkan oleh banyak siluman karena kesaktiannya. Terbesit dalam pikiran Baba ia ingin mendapatkan Intisari Kehidupan milik Dewi Ular lalu memberikan benda sakti tersebut kepada Nagadhini. Sosok siluman ular pertama yang diciptakan oleh sang Pencipta di muka bumi. Dan, sekarang Baba sedang memulai rencananya tersebut. Sementara itu, Ankara beserta Nagini sudah sampai di rumah keluarga bu Retno.
"Akhirnya kita sampai...
Ucap Ankara kepada Nagini.
"Ya, kita kau benar sekali...kita sudah sampai...
__ADS_1
Ucap Nagini mengulang kata-kata Ankara.
"Ayo, kita masuk...
Ucap Ankara sambil menggandeng tangan Nagini secara tiba-tiba. Membuat Nagini terkejut lalu menepis tangan Ankara yang ingin menggandeng tangannya.
"Ankara jangan melangkah terlalu jauh...sudah cukup semuanya...dan jangan coba-coba menyentuhku sembarangan...apalagi menggandeng tanganku!"
Ucap Nagini kepada Ankara dengan nada tinggi. Ankara yang mendengar Nagini berkata seperti itu membuatnya terkekeh geli.
"Naghi...Naghi...kau ini sungguh mirip petasan...selalu meledak sembarangan tanpa kenal waktu...lihat sebentar lagi ibu akan membuka pintu karena terkejut mendengar suaramu...
Ucap Ankara.
"Terserah...
"Ankara...Naghi...kalian sudah kembali?"
Tanya bu Retno ketika membuka pintu rumahnya.
"Sudah bu...
Jawab Ankara dan Naghi bersama-sama. Bu Retno tersenyum lalu ia mengajak Ankara dan Naghi masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo mari masuk...
Ucap bu Retno kemudian. Lalu, Ankara dan Naghi pun segera masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah terlihat Zham sudah duduk di kursi tamu. Saat, Zham melihat kedatangan Ankara dan Naghi ia sangat senang. Ia lalu memeluk Ankara sebab sudah dua hari mereka tidak bertemu. Setelahnya, Zham ingin memeluk Naghi akan tetapi tidak jadi karena Ankara mencegahnya. Ankara merasa cemburu, jika Zham menyentuh Nagini. Hal tersebut terlihat jelas dari sorot tajam mata ular Ankara yang tiba-tiba saja berubah ketika Zham ingin memeluk Nagini.
Sangat jelas Ankara tidak suka. Dan, Nagini ia merasa kecewa karena Zham tidak jadi memeluk dirinya. Padahal, Nagini merindukan pelukan hangat dari Zham, kekasihnya. Nagini tahu bahwa Ankara yang mencegah Zham untuk memeluk Nagini. Oleh sebab itu, ia jadi kesal terhadap Ankara. Kemudian, ia segera pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.
Ankara mengetahui kemarahan Nagini, Ankara pun mengejarnya sampai ke dalam kamarnya. Dan, disana terjadi pertengkaran kecil diantara mereka berdua.
"Nagini...
Panggil Ankara. Nagini tidak peduli terhadap panggilan Ankara. Ia diam dan tidak mendengarkan Ankara. Melihat kebisuan Nagini Ankara tidak tahan. Ia pun lalu menyentuh tangan Nagini lalu menariknya dalam pelukannya. Nagini terkejut bukan main mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ankara. Lama mereka saling menatap dalam kebisuan. Entah mengapa, Nagini diam saja ketika Ankara memperlakukannya dengan cara seperti itu.
Tidak seperti biasanya, Nagini bersikap seperti itu. Nagini seakan menerima Ankara memperlakukannya seperti itu. Padahal tadi, ketika hendak memasuki rumah tersebut Nagini menolak Ankara menggandeng tangannya. Tetapi, kini diam saja ketika Ankara berbuat begitu terhadapnya. Tatapan, tajam mata Ankara menusuk jantung Nagini. Nagini terpesona oleh tatapan mata Ankara yang tajam. Dan, untuk sejenak ia terlena oleh mata ular yang tajam tersebut.
Sementara, degup jantung Ankara berdebar semakin kencang. Ia menahan hasratnya sendiri agar tidak menyakiti Nagini. Ia memendamnya walau niat ingin menikmati bibir ranum tersebut begitu besar. Sungguh ia tidak ingin bersikap kurang ajar terhadap Nagini. Karena, ia tidak ingin membuat citra buruk di hadapan Nagini. Akan tetapi, semakin lama ia menahan ia semakin tidak dapat menahannya. Sekali saja, ia ingin mencium bibir indah tersebut..
Secara perlahan, ia mulai memajukan kepalanya untuk dapat mencium bibir indah tersebut. Lagi, dan semakin dekat lalu nafasnya semakin memburu. Nagini yang mendapat perlakuan tersebut hanya diam saja tidak berkutik. Karena, ia mulai merasakan perasaannya terhadap Ankara mulai tumbuh secara perlahan-lahan. Ankara sudah semakin dekat dan...
"Cup...
Sebuah kecupan mendarat di kening Nagini. Nagini terkejut, karena ia mengira Ankara akan mencium bibirnya tetapi ternyata bukan. Ankara tidak melakukannya. Ankara hanya mengecup keningnya. Alhasil, hal tersebut menimbulkan perasaan aneh di hati Nagini. Ia merasa heran terhadap Ankara. Ia tidak habis pikir mengapa Ankara melakukan hal tersebut. Nagini menatap Ankara dengan tatapan bingung. Sedangkan, Ankara ia hanya tersenyum sambil melepas pelukannya dan ia mengusap lembut rambut Nagini.
Nagini ingin bertanya kepada Ankara. Tetapi, Ankara memberi satu isyarat agar ia diam dan tidak banyak bertanya-tanya kepada Ankara. Sementara, itu ada sepasang mata tengah mengintip kemesraan mereka berdua. Mata itu tidak lain adalah mata Zham. Perlahan, Zham mengepalkan kedua tangannya. Pertanda, bahwa ia tidak suka melihat kedekatan Nagini dengan Ankara.
__ADS_1
Bersambung...
NAGINI, DEWI ULAR