
Nagadhini kembali ke kerajaannya dalam keadaan luka parah. Ia pun segera mengurung diri untuk melakukan pengobatan di dalam ruangan khusus di dalam ruangan pribadinya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nagadhini untuk menyembuhkan luka dalamnya. Setelah, selesai ia pun segera pergi menuju tempat rahasia dimana ia menyimpan Peta Alam Semesta.
Akan tetapi, ia sangat terkejut ketika ia mengetahui bahwa Peta tersebut sudah tidak ada lagi disana. Ia sangat marah dan memanggil seluruh prajurit kerajaan.
"Kurang ajar! Petanya hilang...siapa yang sudah berani mencurinya! Prajurit!"
Teriaknya keras memenuhi seluruh ruangan istana. Para prajurit pun datang tergopoh-gopoh memenuhi panggilannya.
"Mohon, ampun nyai! Ada apa gerangan nyai memanggil kami semua?"
Ucap salah satu dari prajurit.
"Kurang ajar! Bodoh!"
Ucap Nagadhini marah.
"Menjaga istana saja kalian tidak bisa...kalian lihat? Lemari penyimpanan Peta kosong...dimana Petanya!"
Ucap Nagadhini marah. Dan, para prajurit itu pun terdiam dan hanya menundukkan saja kepalanya.
"Kalian diam? Tidak bisa bicara?"
Ucap Nagadhini.
"Lebih baik, kalian lenyap!"
Ucap Nagadhini mengerahkan kekuatannya dan membunuh semua prajurit disana.
"Ampun, nyai...aarghh."
Teriak mereka bersamaan dengan rasa sakit yang mencabik-cabik tubuh mereka. Dan, mereka pun akhirnya binasa di tangan Nagadhini yang kejam.
"Mereka memang pantas untuk lenyap!"
Ucap Nagadhini.
"Siapa, yang telah berani menerobos istanaku dan mencuri Peta...apakah, Nagini? Kurasa, tidak mungkin!"
Ucap Nagadhini.
"Pasti ada siluman lain yang melakukan semua ini...sehingga, para prajuritku pun tidak mengetahui siapa siluman tersebut."
Ucap Nagadhini.
Aku harus segera menyelidiki hal ini...dimulai dengan menyelidiki dari istana ini...siluman ini begitu licik...memanfaatkan situasi istana yang kosong dan mencuri Peta...aku harus tahu siapa dia?
Ucap Nagadhini dalam hati. Kecolongan disaat ia tidak berada di istana benar-benar merupakan pukulan berat baginya.
Sebab musuh menganggapnya adalah seseorang yang mudah untuk disinggung. Nagadhini benar-benar marah. Sementara itu, disebuah gua yang sepi. Deviandra sedang duduk bermeditasi untuk memulihkan diri.
Setelah, ia terkena pukulan tenaga dalam dari ibunya. Deviandra ditolong oleh Aisha dan membawanya ke gua tersebut untuk pengobatan.
Ia membuang nafas dan mengambil nafas beberapa kali. Semua itu ia lakukan agar energi murni dalam tubuhnya menyebar dan memperbaiki sel-sel tubuh yang telah terluka akibat pukulan Nagadhini.
Dan, tidak lama kemudian akhirnya Deviandra pun telah pulih sepenuhnya. Lalu, Aisha pun muncul bersama Richard mengunjungi Deviandra. Sekaligus, memastikan keadaan Deviandra.
"Aisha?"
Sapa Deviandra.
"Deviandra."
Ucap Aisha. Deviandra memeluk Aisha dengan hangat.
"Kau sudah pulih?"
Tanya Aisha.
"Sudah"
Balas Deviandra.
"Baguslah, kalau begitu...aku membawakanmu makanan ini...makanlah."
Ucap Aisha sambil memberikan makanan yang ada dalam keranjang yang ia bawa dari istana.
"Terima kasih."
Ucap Deviandra.
"Hei, sikap kalian ini seakan mengesampingkan aku."
Ucap Richard tiba-tiba membuat keduanya menjadi tertawa geli.
"Hahaha...baiklah, aku sampai melupakanmu."
__ADS_1
Ucap Aisha.
"Ayo, kemarilah."
Ucap Aisha manja.
"Oh, jadi begitu? Kalian berdua berpacaran?"
Ucap Deviandra yang akhirnya mengerti.
"Ya, kau benar sekali."
Ucap Aisha.
"Dan, itu sudah berlangsung lama sekali."
Ucap Richard.
"Oh, ya?
Ucap Deviandra.
"Berapa lama?"
Ucap Deviandra lagi.
"Ribuan tahun, bukankah begitu Aisha."
Ucap Richard. Dan, Aisha menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, bukankah kau sudah lama berhubungan dengan bibi Aisha?"
Ucap Deviandra.
"Ya."
Balas Richard.
"Itu berarti, bukankah kau juga adalah pamanku?"
Ucap Deviandra.
"Kalau kau ingin memanggilnya begitu...silahkan saja, Deviandra...aku tidak keberatan."
Ucap Aisha mempersilahkan.
Ucap Deviandra dengan wajah ceria.
"Ingat! Kau harus tetap merahasiakan hal ini...jangan memanggil kami dengan panggilan itu disaat ada orang lain...sebaliknya, jika tidak ada orang lain maka hal itu diperbolehkan."
Ucap Aisha.
"Aku paham, bibi."
Ucap Deviandra.
"Bagus! Sekarang, lanjutkan makanmu...aku keluar sebentar...Richard, tolong temani dia sebentar."
Ucap Aisha.
"Baiklah."
Ucap Richard. Lalu, Aisha pun segera keluar dari dalam gua. Di luar gua, ia menatap langit yang cerah.
"Langit begitu cerah hari ini...belum ada tanda-tanda siluman itu membuka segelku yang kupasang di Peta."
Ucap Aisha. Saat pertarungan antara Ankara dan siluman tersebut. Aisha dapat merasakan aura segel yang ia pasang di Peta. Dan, ia mengetahui dengan pasti bahwa siluman tersebut sengaja mencuri dokumen istana untuk membuka segel tersebut.
"Siluman itu benar-benar kuat...dapat mengetahui segel yang kupasang di Peta...ini membuktikan bahwa, musuh semakin hari semakin bertambah."
Ucap Aisha.
"Aku harus bergerak cepat! Jika, sampai ia dapat membuka segel maka kehancuran akan melanda dua dunia."
Ucap Aisha lagi. Kemudian, Aisha pun segera memusatkan perhatiannya dan memanggil Cintamani dan Joko Asmoro. Dalam sekejap saja, sepasang pasutri tersebut muncul di hadapan Aisha.
"Salam hormat kami haturkan kepada, nyai Dewi."
Ucap sepasang pasutri tersebut membungkukkan badan.
"Salam kalian aku terima, bangunlah."
Perintah Aisha.
"Terima kasih, nyai."
Ucap Cintamani.
__ADS_1
"Ada apa gerangan, nyai Dewi memanggil kami."
Ucap Cintamani bertanya.
"Ada tugas untuk kalian berdua."
Balas Aisha.
"Tugas apa itu, nyai?"
Tanya Joko Asmoro.
"Ada pencuri menerobos istana kita...dan, dia mencuri dokumen istana yang berisi tentang cara membuka segel."
Ucap Aisha menjelaskan.
"Apa! Istana kecolongan? Nyai, bagaimana ini bisa terjadi...bukankah, istana dijaga oleh gusti pangeran Ankara?"
Ucap Cintamani terkejut.
"Ya, akan tetapi seberapa ketat pun penjagaan istana tetap saja kecolongan...sebab, musuh kita semakin kuat."
Ucap Aisha.
"Tentu saja, nyai...bagaimana mungkin, dengan penjagaan ketat istana dapat diterobos begitu saja...jika, musuh lebih kuat dari dugaan kita."
Ucap Joko Asmoro.
"Oleh karena itu, aku menugaskan kalian untuk menemukan pencuri itu...sisir seluruh wilayah kekuasaan istana...temukan dan bunuh dia...ambil Petanya."
Perintah Aisha.
"Baik, nyai...kami akan melaksanakan perintah!"
Ucap Cintamani dan Joko Asmoro.
"Eh? Peta? Nyai, bukankah Peta berada di tangan Nagadhini."
Ucap Cintamani seakan mengingat sesuatu.
"Ya, kau benar! Pencuri itu juga menerobos istana Nagadhini dan mencuri Peta...aku merasakan segel yang kupasang di Peta."
Ucap Aisha.
"Jadi, begitu? Baiklah, nyai...kami berangkat dahulu."
Ucap Cintamani dan Aisha pun menganggukkan kepalanya saja. Lalu, Cintamani dan suaminya pun segera pergi untuk melaksanakan perintah dari Aisha.
"Apa, sudah selesai?"
Ucap Richard tiba-tiba.
"Richard?"
Ucap Aisha terkejut, Richard tersenyum.
"Ya, begitulah...sudah selesai."
Ucap Aisha.
"Masalah ini semakin rumit saja."
Ucap Richard.
"Tidak rumit, jika kau bersama dengan orang yang selalu mendukungmu."
Ucap Aisha.
"Ya, kau benar."
Ucap Richard dan ia pun mencium kening Aisha.
"Kau selalu menjadi yang terbaik...disaat kau memutuskan untuk melakukan sesuatu."
Ucap Richard.
"Semua ini juga karenamu dan dukungan orang-orang yang selalu setia kepadaku."
Ucap Aisha.
"Ya, tentu saja."
Ucap Richard dan mereka berdua pun tertawa dalam kegembiraan hubungan serta cinta kasih mereka berdua. Deviandra melihat segalanya. Dan, ia merasa turut bahagia melihat bibi dan pamannya dapat bersama setelah melewati banyak rintangan dan halangan selama ini.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
__ADS_1