NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 75. Dua Kekuatan Beradu


__ADS_3

Istana rubah ekor sembilan...


Anna dibawa paksa oleh seekor siluman rubah ekor sembilan. Siluman rubah yang bernama Rudiant tersebut sesungguhnya ingin mempersembahkan Anna kepada sang Iblis. Agar, ia mendapatkan kekuatan pemberian dari sang Iblis tersebut.


"Lepaskan, aku! Mau kau bawa kemana aku!"


Ucap Anna sambil meronta minta dilepaskan.


"Hahaha...meskipun kau meronta sedemikian rupa...kau tetap tidak akan bisa lepas."


Ucap Rudiant tertawa.


"Siluman, sialan! Lihat saja, bagaimana, nanti aku akan mengulitimu hidup-hidup!"


Ucap Anna marah.


"Coba saja, jika kau bisa...itu pun jika kau nanti masih hidup."


Ucap Rudiant kepada Anna sambil tersenyum.


"Apa! Apa, yang kau ingin kau lakukan kepadaku! Bukankah, kau ingin menjadikanku pelayanmu."


Ucap Anna terkejut.


"Tadinya, aku ingin kau menjadikanmu pelayanku...tetapi, aku berubah pikiran...bukankah, lebih baik menjadikanmu persembahan?"


Ucap Rudiant.


"Apa! Persembahan? Apa maksudmu."


Ucap Anna dengan mata melotot.


"Kau tidak perlu tahu, akan tetapi karena kau akan mati maka akan aku katakan kepadamu...aku akan mempersembahkan dirimu kepada sang Iblis."


Ucap Rudiant tersenyum puas.


"Apa! Tidak...tidak...aku tidak mau! Richard! Tolong!"


Ucap Anna berteriak.


"Ck, tidak perlu berteriak...dia mungkin saat ini sedang bermesraan dengan seseorang."


Ucap Rudiant memanas-manasi Anna.


"Itu tidak mungkin! Dia, adalah rekan terbaikku...dia tidak mungkin berbuat seperti itu!"


Ucap Anna.


"Kau benar sekali, Anna...aku tidak mungkin seperti itu!"


Ucap Richard yang sudah ada di hadapan Anna dan Rudiant. Rudiant yang melihat kedatangan Richard yang secara tiba-tiba itu membuatnya terkejut.


"Lagi-lagi, cecunguk siluman kemarin...bukankah, aku sudah menghajarmu."


Ucap Rudiant.


"Cih! Itu kemarin, hari ini aku akan membalas perbuatanmu kepadaku."


Ucap Richard.


"Oh, ya? Baiklah, aku akan melayanimu."


Ucap Rudiant yang kemudian sudah berhadap-hadapan dengan Richard dan bersiap-siap untuk menyerang. Akhirnya, pertarungan pun terjadi diantara Richard dan Rudiant. Demi menyelamatkan nyawa rekannya, Richard rela berhadapan dengan siluman rubah yang termasuk dalam lima monster berkekuatan menakjubkan dalam sejarah.


Sedangkan, Aisha alias Nagini sedang mengurus prajurit siluman rubah yang tidak terhitung jumlahnya. Ia memperhatikan musuh-musuhnya tersebut yang mulai gugur satu per satu sampai tidak ada yang tersisa lagi.


Perjuangan untuk menyelamatkan Anna ini benar-benar berjalan ulet. Sebab, siluman rubah ekor sembilan ini bukanlah lawan yang mudah. Karena, mereka juga memiliki kekuatan yang sama kuatnya dengan prajurit siluman ular milik Aisha.


"Pertumpahan darah ini, memang sebanding dengan keinginan siluman itu."


Ucap Aisha sambil menyaksikan pertarungan lain yang terjadi selain pertempuran para prajurit sesama bangsa siluman. Lalu, Aisha melirik formasi yang terpasang di pintu gerbang alam dunia siluman rubah.


"Karena, formasi sialan itu yang menjadi penyebab...bukankah seharusnya musnah?"


Ucap Aisha sambil mengerahkan kesaktiannya untuk menghancurkan formasi terkutuk penjerat manusia milik siluman rubah ekor sembilan.


"Hancurlah!"


Ucap Aisha dan sekejap saja formasi tersebut pun hancur seketika. Kemudian, setelahnya Aisha pun segera menuju istana siluman rubah dan menyaksikan pertarungan tersebut dari jarak dekat.


Dan, pertarungan sengit pun masih terjadi di dalam istana. Pertarungan antara dua bangsa siluman dan Anna juga menyaksikan pertarungan dahsyat antar keduanya.


Namun, kesenjangan kekuatan di antara keduanya sangat besar. Sehingga, mengakibatkan Richard kalah di tangan Rudiant hanya dengan satu pukulan telak.


"Dhuakk."


"Akh."


Jerit Richard menahan rasa sakit akibat pukulan tersebut. Membuat dirinya mundur beberapa langkah sampai akhirnya tubuhnya ditahan oleh tenaga dalam Aisha.


"Terima kasih, Aisha!"


Ucap Richard.


"Tidak masalah, Richard."


Ucap Aisha.


"Ow, aura yang sangat kuat...ternyata kau, nyai!"


Ucap Rudiant sombong sambil berkacak pinggang.


"Hegh! Siluman rubah ekor sembilan."


Ucap Aisha.


"Richard! Mundurlah dahulu...biar aku yang menghadapinya."


Ucap Aisha tegas.

__ADS_1


"Baiklah."


Ucap Richard mematuhi kata-kata Aisha. Melihat Richard begitu patuh kepada Aisha membuat Rudiant mengejeknya.


"Ayolah! Kau bersembunyi di balik seorang gadis?"


Ejek Rudiant.


"Hmph! Jika, bukan karena Aisha yang meminta...tidak akan mungkin aku mundur."


Ucap Richard emosi.


"Oh, benarkah?"


Ucap Rudiant meremehkan.


"Cukup! Rudiant, kita termasuk lima monster berkekuatan menakjubkan...bagaimana, jika kita bertarung sekarang."


Ucap Aisha menawarkan diri untuk bertarung dengan siluman rubah. Mendengar permintaan Aisha tersebut membuat Rudiant menjadi khawatir. Sebab, Aisha bukanlah lawan yang mudah bagi dirinya.


Gawat! Bagaimana ini? Dia adalah Dewi Ular yang memiliki kesaktian yang berkali lipat dibandingkan para Ratu Ular...ini sangat berbahaya."


Ucap Rudiant dalam bathin.


"Bagaimana?"


Tanya Aisha.


"Baiklah, aku terima tantanganmu."


Jawab Rudiant. Lalu, akhirnya mau tidak mau Rudiant harus menerima tantangan dari Aisha. Di mata siluman rubah sebenarnya melawan Aisha sama saja dengan bunuh diri. Namun, apa boleh buat demi gengsinya yang termasuk dalam lima monster berkekuatan menakjubkan tidak boleh menyerah kalah begitu saja kepada Aisha. Sebab, hal tersebut akan menjadi bahan tertawaan bagi siluman lain sebangsa dirinya.


Hegh! Siluman ini memiliki gengsi juga...sudah tahu kekuatan sendiri tetapi masih juga tidak tahu diri...benar-benar.


Ucap bathin Aisha.


"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai."


Ucap Aisha yang kemudian mengeluarkan pedangnya. Saat Rudiant melihat pedang tersebut. Ia dapat merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari pedang tersebut.


Aura pedang ini sangat mengerikan...aku harus berhati-hati.


Ucap Rudiant dalam bathin. Lalu, Rudiant juga mengeluarkan pedang miliknya yang memiliki aura yang tidak kalah dengan pedang Aisha.


"Kedua pedang tersebut sama-sama memiliki aura yang sangat kuat."


Ucap Anna berkomentar.


"Kau benar sekali, An."


Ucap Richard.


"Pedang Aisha disebut pedang Seribu Gigitan Ular, yang memiliki kekuatan setara dengan seribu gigitan ular berbisa...sedangkan, pedang milik Rudiant itu adalah pedang Rubah Ekor Sembilan yang kekuatannya sama dengan jumlah ekornya."


Ucap Richard menjelaskan.


Ucap Anna lagi. Dan, pertarungan antara dua momster tersebut tidak terelakkan lagi. Aisha dengan pedang ularnya dan Rudiant dengan pedang rubahnya. Pertarungan tersebut sangat luar biasa. Ketika, kedua pedang tersebut beradu.


"Ting."


Maka, mengakibatkan gelombang besar di udara.


"Whushh."


Membuat suasana di sekitar istana menjadi tampak mengerikan. Sebab, gelombang besar tadi menciptakan fenomenan langit berubah menjadi gelap dan angin kencang yang sanggup menumbangkan pohon-pohon.


Dan, kembali dua kekuatan pedang tersebut beradu.


"Tang...ting...tang...ting."


Kali ini mengakibatkan badai petir disana-sini. Bahkan, Richard dan Anna pun harus mencari tempat untuk sembunyi dari kedahsyatan dua kekuatan pedang tersebut.


"Ah, kuat sekali...baru kali ini aku melihat kekuatan yang sebenarnya dari Aisha...benar-benar menakutkan."


Ucap Anna terkagum tiada henti.


"Kau baru menyadarinya sekarang."


Ucap Richard.


"Ya, lihat dua kekuatan pedang itu tidak berhenti mengeluarkan gelombang dahsyat."


Ucap Richard lagi sambil tetap menyaksikan dua gelombang yang berasal dua pedang tersebut. Anna pun menyaksikannya juga.


"Kira-kira, kapan pertarungan tersebut akan berakhir?"


Tanya Anna.


"Tidak tahu, kita lihat saja."


Ucap Richard. Pertarungan besar tersebut masih terjadi di antara keduanya. Dan, sampai saat ini pun belum ada yang kalah sama sekali. Tetapi, tiba-tiba saja Rudiant turun ke bawah.


"Hosh...hosh! Lelah, sekali."


Ucap Rudiant sambil tetap memegang pedangnya.


"Apa, kau sudah lelah?"


Ucap Aisha yang segera turun kembali ke tanah.


"Brakk."


Menyebabkan tanah tersebut retak. Rudiant yang menyaksikan hal tersebut tentu saja membuatnya menelan ludah. Ia merasa tingkatannya masih jauh dari Aisha.


"Lelah? Tidak!"


Ucap Rudiant yang masih tetap dengan pendiriannya. Lalu, kembali ia pun menyerang Aisha dengan kekuatan penuh pedangnya.


"Hiatt...pedang rubah ekor sembilan, sembilan ekor mematikan!"

__ADS_1


Ucap Rudiant sambil mengeluarkan jurus pedangnya. Aisha yang mendapat serangan yang secara tiba-tiba tersebut mencoba membentuk perisai untuk melindungi dirinya.


"Kurang ajar! Jurus Pedang Seribu Gigitan Ular, perisai Seribu Ular!"


"Ngung."


Ucap Aisha. Ketika, Aisha mengeluarkan jurus pedang perisai untuk melindungi dirinya seketika sinar merah yang terbentuk dari ribuan ular menyelubungi tubuhnya tepat sebelum akhirnya jurus pedang tersebut menghantam perisai seribu ularnya.


"Hah...hah."


Desah nafas Rudiant karena baru saja mengeluarkan jurus pedangnya.


"Apa, sudah selesai?"


Ucap Rudiant.


"Kurasa belum."


Ucap Aisha tiba-tiba dengan senyum percaya dirinya.


"Apa! Bagaimana, kau bisa bertahan dari jurus pedangku?"


Ucap Rudiant.


"Hanya jurus pedang rubah ekor sembilan saja, hanya menggelitik kulit tubuhku saja."


Ucap Aisha.


"Apa! Hanya menggelitik?"


Ucap Rudiant.


"Sekarang, giliranku!"


Ucap Aisha sambil mengeluarkan jurus pedang tingkat tingginya.


"Hiat! Jurus pedang Seribu Gigitan Ular, pemusnahan!"


Ucap Aisha sambil mengayunkan pedangnya dan keluarlahnya seribu ular yang sangat beracun keluar dari pedangnya dan menghantam tubuh Rudiant.


"Akh."


Rudiant tidak sempat menghindar lagi sebab, serangan Aisha sangat tiba-tiba baginya. Dan, akhirnya tubuh Rudiant terlempar jauh.


"Uhuk."


Rudiant batuk darah dan terluka parah di sekujur tubuhnya.


"Akh, sakit sekali."


Rintihnya. Aisha mendekatinya dan hendak menghabisi Rudiant. Akan tetapi, Rudiant kemudian memohon ampun kepada Aisha.


"Rudiant, kini saatnya kau mati!"


Ucap Aisha.


"Nyai, kumohon maafkan aku...ampunilah nyawaku, nyai."


Ucap Rudiant.


"Atas dasar apa aku harus mengampunimu?"


Ucap Aisha.


"Kau telah berbuat kesalahan besar dan kau hampir saja mengorbankan nyawa manusia hanya demi bertambah kuat...katakan, apakah aku harus mengampunimu?"


Ucap Aisha lagi sambil meletakkan pedangnya di leher Rudiant.


"Nyai, aku mengaku salah...aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Ucap Rudiant.


"Oh, baiklah kalau begitu berikan bukti jika kau tidak akan mengulanginya lagi."


Ucap Rudiant.


"Aku bersedia melakukan perjanjian darah denganmu, nyai."


Ucap Rudiant.


"Perjanjian darah? Apa, itu?"


Tanya Anna kepada Richard.


"Itu adalah perjanjian antar bangsa siluman yang berkaitan dengan menggunakan darah mereka sendiri...apabila mereka melanggarnya maka yang pihak yang berjanji akan menemui kematian yang mengenaskan!"


Ucap Richard.


"Oh, itu sangat mengerikan sekali."


Ucap Anna.


"Tentu saja, oleh sebab itu kalau bisa perjanjian darah harus dihindarkan karena resikonya adalah nyawa itu sendiri."


Ucap Richard. Mendengar penjelasan Richard Anna berulangkali menganggukkan kepalanya.


"Perjanjian darah? Bagus juga...cepat lakukan!"


Ucap Aisha sambil memberi perintah kepada Rudiant. Dan, Rudiant pun demi nyawanya sendiri melakukan perjanjian darah dengan Aisha. Bahwa ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi menyakiti manusia.


Setelah selesai, melakukan perjanjian darah dengan Aisha. Rudiant beserta kelompoknya yang tersisa pun akhirnya bersembunyi di dunia siluman dan tidak pernah lagi mengganggu manusia untuk selamanya.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover


__ADS_1


__ADS_2